Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Kamu Bukan Dia


__ADS_3

Bian mengundang kembali Visha dan Zayn masuk kedalam ruang rapat. Kini Visha bersiap mendengar tanggapan Bian mengenai presentasi yang sudah dilakukan Visha.


"Saya suka dengan konsep yang kamu buat. Saya akan membawa berkasnya lebih dulu dan mempelajarinya," ucap Bian.


"Terima kasih banyak, Pak." jawab Visha.


"Kalau begitu, mari kita makan siang dulu. Kami sudah menyiapkan hidangan kesukaanmu, Bi. Ini sebagai permintaan maaf atas kejadian kemarin." ujar Zayn.


"Tidak, Zayn. Akulah yang harus meminta maaf karena sudah membuat kalian panik. Bahkan karyawanmu ini sampai datang ke hotel tempatku menginap. Benar 'kan, Visha?"


"Eh?" Visha dan Zayn kaget bersama.


Visha hanya bisa menunduk.


"Benar kamu datang ke hotel Bian, Visha?" tanya Zayn.


"Iya, Pak. Saya hanya ingin meminta maaf saja, Pak." balas Visha.


"Sudah saya maafkan." jawab Bian singkat kemudian ia berlalu dari ruang rapat.


Zayn melirik ke arah Visha.


"Maaf, Pak..." ucap Visha lagi.


"Kenapa terus meminta maaf? Kamu tidak salah. Ya sudah, ayo makan siang dulu. Bukankah kamu harus segera pulang?"


"Iya, Pak."


Saat acara makan siang pun, tatapan Bian masih tak bisa lepas dari Visha. Visha sedang menyantap makan siangnya sendirian di meja paling pojok. Reza kemudian menghampiri Visha.


"Boleh bergabung?" tanya Reza.


"Silahkan saja."


"Kamu akan pulang ke Pekalongan?"


"Iya, aku sudah janji akan pulang."


"Bagaimana kalau aku antar? Hari ini Pak Bian akan menghabiskan waktu bersama Pak Zayn. Aku bisa pergi dengan bebas."


"Tidak perlu. Aku terbiasa naik kereta."


"Sha... Kamu masih membenciku ya?"


"Tidak, Reza. Aku benar-benar sudah melupakan semuanya."


"Kalau begitu kamu harus bersedia aku antar."


"Kubilang tidak ya tidak! Jangan memaksa, Reza!" Visha mulai kesal.


"Baik, maafkan aku..."


Lalu Visha memilih berlalu dari hadapan Reza. Ia akan bersiap untuk pulang ke rumahnya.


"Ada apa denganmu, Bi? Kenapa kau tidak seperti biasanya?" Tanya Zayn saat berada di kamar hotel Bian.


"Entahlah. Aku tidak mau membahasnya."


"Visha memang cantik dan dia wanita mandiri. Dan jujur, aku sudah mendekatinya selama setahun ini. Tapi dia masih belum mau membuka hatinya untukku. Akhirnya kami hanya berteman saja hingga saat ini." Entah kenapa Zayn ingin menceritakan kisahnya pada Bian.


"Apa dia mencintai orang lain?" tanya Bian.


"Iya. Dihatinya masih ada seseorang dari masa lalunya."


"Jadi kau bersaing dengannya?"


"Tidak. Orang itu sudah tidak ada lagi. Tapi kenangannya selalu melekat di hati Visha. Sulit sekali menghapusnya."


"..............."


"Kapan kau akan kembali?"

__ADS_1


"Mungkin besok, sebaiknya aku langsung berikan jawaban padamu tentang proyek ini. Aku tak mau kau terlalu lama menunggu."


"Terima kasih, Bian. Apa kau ingin pergi ke suatu tempat? Aku akan menemanimu."


"Tidak perlu. Aku hanya ingin beristirahat. Terima kasih atas tawarannya."


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang saja."


Zayn berpamitan dengan Bian. Sementara malam itu, Bian membuka berkas konsep yang pagi tadi di presentasikan Visha. Ia menyukai sketsa yang Visha buat. Kemudian terlintas sebuah ide dalam pikirannya.


Senin pagi, Reza sejak tadi sudah tiba di kantor Zayn Building dan menemui Lala. Reza tahu jika Lala adalah sahabat Visha di kantor.


"Apa kau mencari Visha? Dia belum datang. Dia selalu datang terlambat di hari senin. Karena dia berangkat dari Pekalongan." jelas Lala.


"Oh begitu. Oh ya, kulihat kau sangat dekat dengan Visha."


"Kenapa memangnya?"


"Kenapa suami Visha tidak mengantar jemputnya? Dia bahkan rela naik kereta setiap minggunya."


Lala berkacak pinggang. "Bukan urusanmu! Apa kau pernah mengenal Visha sebelum ini?"


"Jadi Visha tidak pernah cerita tentangku?"


"Hahaha, memangnya kau siapa? Sudahlah sana pergi, aku harus segera bersiap karena Pak Zayn sebentar lagi datang."


Reza tak punya pilihan. Sebaiknya ia bertanya pada orang lain saja.


Dan akhirnya Reza tahu dari pak satpam Zayn Building, jika suami Visha sudah meninggal. Sebenarnya tidak bisa disebut suami, tapi lebih pantas di sebuat ayah dari anak Visha. Namun tak banyak yang tahu tentang kebenaran itu.


Reza merasa prihatin mendengar kenyataan tentang Visha. Ia melihat Visha yang baru turun dari ojek, dan segera menghampirinya.


"Selamat pagi, Visha..."


"Kau? Kenapa masih disini? Bukankah harusnya kau sudah kembali ke Jakarta?"


"Jadi Pak Zayn belum memberitahumu?"


Visha menggeleng.


"Pak Bian menyetujui sketsamu. Dan dia akan langsung mengerjakan proyek ini. Jadi dia menambah beberapa hari lagi disini."


Visha nampak terdiam.


"Pak Bian memintaku untuk membawamu bertemu dengannya."


Visha mengangguk kemudian mengikuti langkah Reza.


"Saya suka sketsamu. Kita akan langsung menandatangani kontrak dengan Zayn Building," ucap Bian.


Zayn melirik ke arah Visha dan tersenyum penuh bahagia.


"Iya, Pak. Terima kasih karena sudah menerima sketsa saya," jawab Visha.


"Hari ini kita langsung tinjau lokasinya."


"Eh? Sekarang Pak?"


"Iya, karena saya harus segera kembali ke Jakarta."


"Kasihan Sania jika ditinggal lebih lama lagi. Benar 'kan bro?" Zayn menepuk bahu Bian.


Visha membulatkan matanya. "Sania? Siapa Sania yang dimaksud Pak Zayn? Apa Sania adalah istri Pak Bian?" batin Visha mulai bertanya-tanya.


"Istri Pak Bian bernama Sania Hartawan. Ini dia fotonya." Lala menunjukkan beberapa foto Sania yang di ambil dari aplikasi Gugel.


Jadi benar ini adalah Sania yang kukenal. Kenapa dunia benar-benar sempit?


"Sha? Ada apa?"


"Tidak. Aku harus segera pergi, La. Aku akan ikut meninjau lokasi proyeknya."

__ADS_1


"Hati-hati, Sha. Kudengar daerahnya sangat gersang dan panas. Sebaiknya kau bawa payung, hehe."


"Kau ini!!!" Visha bersiap melayangkan tangannya ke arah Lala.


Sesampainya di lokasi proyek, memang benar seperti yang dikatakan Lala jika daerahnya sangat gersang apalagi sekarang cuaca sedang terik.


Visha cukup terkejut karena ternyata sudah ada beberapa pekerja yang ada disana.


"Saya tidak tahu jika sudah ada pekerja disini, Pak." ujar Visha.


"Saya menghubungi mereka kemarin sore. Ternyata Zayn memang bisa diandalkan. Apalagi jika ada uang, itu lebih bisa diandalkan."


Visha berdecih. "Apa maksud ucapannya barusan?" lirih Visha.


"Kau sudah lama bekerja pada Zayn?"


"Lumayan lah, sudah sekitar tiga tahun."


"Kau tidak tertarik kepadanya?"


"Eh?"


"Kulihat kalian sangat dekat."


Percakapan apa ini? Tidak masuk akal!!! Batin Visha terus menggumam.


"Kami hanya berteman baik. Mungkin itu karena Pak Zayn tidak pernah memperlakukan karyawannya sebagai bawahan, tapi lebih sebagai partner kerja dan juga teman."


"Oh begitu. Dari mana kau dapat konsep seperti yang kau jelaskan di rapat?"


"Entahlah. Saya hanya menuangkan ide dari yang hati saya katakan."


"Kau lumayan juga." tutur Bian yang kemudian berjalan ke arah para pekerja bangunan yang sedang mengaduk semen dan pasir.


Visha seperti memutar ingatannya ke masa lalu. Ia memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Biantara.


"Pak, bapak tidak harus melakukan ini sendiri." Visha menghampiri Bian.


"Kenapa? Bukankah seorang arsitek juga adalah seorang kuli bangunan? Mereka hanya mendapat gelar itu karena memiliki uang untuk membelinya."


Visha terdiam. Pemikiran Bian sekelebat mengingatkan Visha pada seseorang. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau? Apa kau kepanasan? Kalau begitu kita berteduh kesana." ajak Bian.


Mereka berteduh di sebuah bangunan kecil seperti bekas warung.


"Saya dengar daerah sini kurang berkembang, kenapa bapak malah membangun cabang disini?" tanya Visha.


"Entahlah. Mungkin karena aku ingin disini bisa berkembang."


"Bapak yakin bisa mewujudkannya?"


"Tentu saja. Bukankah kita harus berusaha lebih dulu, baru kita lihat hasilnya."


Visha menatap pria yang berdiri di sampingnya. "Saya minta maaf, Pak."


Bian bingung mendengar permintaan maaf dari Visha. Ia memposisikan dirinya berdiri berhadapan dengan Visha.


"Maaf untuk apa?"


"Saat pertama kali kita bertemu, saya sempat bersikap dingin pada bapak."


"Oh, itu. Kau masih ingat ternyata."


"Tapi ... omong-omong, kenapa bapak bertanya begitu?"


"Bertanya apa?"


"Kenapa bapak bertanya apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Entahlah. Saya hanya merasa ... pernah bertemu denganmu..."

__ADS_1


"Eh?"


__ADS_2