
Galang menemui Visha usai pulang dari kantornya. Ada rasa rindu yang ia pendam setelah beberapa hari tak bertemu.
Visha yang sedang menyiapkan makan malam, mengundang Galang untuk ikut bergabung.
"Mas, makan malam sudah siap. Ayo makan dulu! Ali, main dengan Mbak Rara dulu ya."
Visha menghampiri Galang yang sedang bermain dengan Ali. Mereka memang sudah akrab layaknya ayah dan anak. Namun, Visha sendiri masih tak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap Galang.
Usai makan malam, Galang berbincang dengan Visha di teras depan rumah.
"Aku dengar Brahms Corp menambah pesanan ya? Kau dan Ibu sekarang bertambah sibuk."
"Iya, Mas. Aku bersyukur meski lelah tapi ini sangat menyenangkan." jawab Visha antusias.
"Oh ya, besok kau ada waktu?" tanya Galang.
"Waktuku hanya kuhabiskan untuk mengantar pesanan, Mas." jawab Visha diiringi senyum.
"Besok rencananya aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang."
"Seseorang?" Visha mengernyitkan dahi.
"Besok aku akan ke kantor Papa karena ada evaluasi bulanan. Setelah itu, aku ingin mengajakmu makan siang dan berkenalan dengan adikku."
"Eh? Apa? Adik Mas?" ada nada cemas dalam suara Visha.
"Iya. Kau sudah bertemu dengannya bukan? Yang kau tumpahi bajunya dengan kuah rendang."
Visha tersenyum kikuk. Hatinya merasa tak tenang.
"Kenapa tiba-tiba sekali, Mas?"
"Selama ini tidak ada yang tahu soal hubungan kita. Aku rasa, sudah saatnya aku mulai memberitahu keluargaku. Dan akan kumulai dengan adikku dulu."
Raut wajah Visha berubah drastis.
"Kamu tenang saja! Jangan gugup begitu. Aku dan Rocky selalu mendukung satu sama lain. Jadi aku yakin, dia pasti akan setuju hubunganku denganmu."
"Iya, Mas." Visha memaksakan senyumnya di depan Galang.
.
.
.
Visha datang ke kantor Brahms Corp tepat pukul 10.30 seperti biasa. Ia menuju ke lantai 11 menggunakan lift. Jam-jam sibuk seperti sekarang membuat lift jarang dipakai oleh para karyawan. Alhasil, Visha hanya seorang diri di dalam lift.
TING.
Lift berbunyi dan itu pertanda ada orang lain yang akan memasuki lift.
__ADS_1
Visha terkejut melihat siapa orang yang akan memasuki lift. Itu adalah Rocky, adik dari Galang yang akan dikenalkan padanya hari ini. Rocky masih bergeming didepan pintu lift.
Untuk beberapa saat mereka berdua saling menatap dalam keheningan.
"Bapak mau masuk atau menunggu lift berikutnya?" tanya Visha pada akhirnya.
Rocky masih diam ditempatnya. Visha mengulangi ucapannya.
"Pak! Apa bapak akan masuk? Atau bapak akan menunggu lift berikutnya?" tanya Visha kembali dengan suara yang agak dikeraskan.
"I-iya." Rocky tersadar dan akhirnya memutuskan masuk ke dalam lift. Rocky menekan angka 13 pada tombol lift.
Lift kembali berjalan ke atas, namun tiba-tiba....
BRAAAKKKKK!!!!
Lift terhenti.
"KYAAA!!!! Apa yang terjadi? Kenapa liftnya berhenti? Halo!!! Ada orang disana? Tolong aku!!! Liftnya berhenti, tolong segera perbaiki!!! Ini aku, Rocky Abraham!" teriak Rocky panik pada pengeras suara di dalam lift.
"Sepertinya lift mengalami gangguan. Harap bersabar, Pak Rocky! Kami akan segera memperbaikinya." jawab seorang operator.
Rocky panik. Ia mondar mandir tak jelas di dalam lift yang sempit. Dan ia hanya berdua dengan Navisha.
"Berhentilah mondar-mandir. Itu tidak akan membuat lift ini tiba-tiba kembali jalan." ucap Visha agak kesal.
"Apa katamu?! Kau mengejekku, gadis pembawa makanan?"
"Tidak, Pak. Tapi kepanikan bapak tidak ada gunanya. Sebaiknya tenang dan berdoa saja."
"Dengar, Pak! Orang bilang untuk mengatasi kepanikan sebaiknya kita makan. Ini, sebaiknya bapak makan dulu!" Visha memberikan satu kotak salad buah pada Rocky.
"Apa yang kau lakukan? Kau ini bodoh atau idiot? Mana mungkin di situasi seperti ini aku bisa makan? Yang benar saja!" Rocky mulai kesal dengan sikap Visha.
"Dari pada bapak hanya mondar-mandir didalam lift, lebih baik bapak makan dulu. Ini!" Sekali lagi Visha menyodorkan kotak salad buah pada Rocky.
Kali ini Rocky menerima pemberian Visha.
"Duduklah disini!" perintah Visha yang sudah lebih dulu duduk dilantai lift.
Rocky melahap satu demi satu salad buah yang ada didalam kotak.
"Ini adalah makanan pencuci mulut untuk hari ini. Syukurlah jika bapak suka. Mau tambah?" tawar Visha.
"Tidak perlu! Jika aku makan satu lagi jatah salad buah ini, itu berarti ada satu orang yang tidak mendapat bagian. Aku tidak bisa melakukan itu."
Visha menarik kembali kotak salad yang akan ia berikan pada Rocky.
Tak lama ponsel Visha berdering. Dari Galang. Visha segera mengangkatnya.
"Halo, Mas..."
__ADS_1
"Visha, kau baik-baik saja?" suara Galang terdengar panik. "Aku dengar kau terjebak didalam lift."
"Iya, Mas. Tapi aku baik-baik saja."
"Tunggu sebentar lagi! Teknisi akan segera memperbaikinya."
Rocky menatap tajam ke arah Visha. Suara Galang terdengar jelas di telinga Rocky. Ia hapal suara kakaknya itu.
"Kakak!!! Cepat keluarkan aku dari sini!!!" teriak Rocky.
"Rocky?! Tenanglah! Kakak akan segera membawamu keluar."
Dan panggilan berakhir karena tiba-tiba tak ada sinyal di dalam lift.
"Halo, Kak!!! Kakak!!!" teriak Rocky yang sudah merebut ponsel Visha dari tangannya.
"Sinyalnya hilang!" ucap Rocky dengan wajah pucat. "Ini---" Rocky mengembalikan ponsel Visha.
"Tenanglah, Pak! Aku yakin kita pasti akan selamat."
"KYAAA!!!" Rocky kembali berteriak ketika lampu didalam lift ikut padam.
"Kenapa lampunya juga mati? Cepat nyalakan ponselmu!!" Perintah Rocky.
Visha segera menyalakan ponselnya dan mengaktifkan senter dari ponsel.
Rocky mengatur nafasnya yang mulai tersengal.
Visha mendekati Rocky yang berwajah pucat dan berkeringat dingin.
"Pak? Bapak tidak apa-apa?" tanya Visha. "Mereka pasti sedang memperbaikinya. Makanya mereka mematikan sambungan listrik didalam lift. Tenanglah, Pak! Tenang!"
Dan secara tak sadar Visha memeluk tubuh besar Rocky dan menepuk bahunya pelan untuk menenangkannya.
Selama beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka berdua. Rocky mulai tenang dan bisa mengatur nafasnya dengan baik.
Pelukan hangat Visha membuatnya nyaman dan merasa tenang. Sesaat Rocky terbuai dengan sentuhan hangat tangan Visha pada tubuhnya.
Namun pada akhirnya Rocky tersadar dan melepaskan diri dari pelukan Visha.
"Ma-maaf, Pak! Saya tidak bermaksud---" Belum sempat Visha menyelesaikan kalimatnya, Rocky sudah memotongnya.
"Bagaimana kau mengenal kakakku?"
"Eh?" Visha terkejut mendengar pertanyaan Rocky.
"Kau bahkan mendapat panggilan telepon darinya. Bagaimana kalian bisa saling mengenal?" Mata Rocky menatap tajam pada Visha.
"I-itu...?" Visha tidak tahu harus menjawab apa pada Rocky. Hari ini Galang ingin mengenalkan mereka berdua. Namun kini, Visha malah terjebak didalam lift bersama Rocky.
Haruskah Visha menjelaskan jika ia dan Galang memiliki hubungan spesial?
__ADS_1
...ššš...
tobe continued,,,,,