
...ššš...
Hari ini Bian merasa tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Pikirannya tertuju pada sang Papa yang kini tengah terbaring sakit di rumah sakit. Bian mendapat kabar ini dari Donny yang sekarang memantau perkembangan kesehatan papanya di rumah sakit.
Bian ingin sekali menjenguk papanya dan juga membesarkan hati mamanya agar tidak bersedih. Kemarin saat ia sempat mampir ke rumah orang tuanya, dilihatnya jika papanya baik-baik saja. Makanya kabar dari Donny benar-benar membuatnya syok.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Papa? Kemarin papa masih baik-baik saja. Apa selama ini papa menyimpan rasa sakitnya sendiri?
Dalam pikiran yang kalut, tiba-tiba ponsel Bian berbunyi. Panggilan dari Donny.
"Halo, Don. Ada kabar apa di rumah sakit?"
"Halo, bos... Visha ada disini. Dia ada di Jakarta."
"Apa?!" Bian membulatkan matanya. "Kalau begitu aku akan segera kesana."
"Jangan bos! Terlalu aneh jika bos tiba-tiba datang. Lagi pula, apa Visha mau menemui bos setelah insiden yang terjadi pada bos dan dia? Yang ada dia akan membenci bos."
"Lalu aku harus bagaimana?" Bian mengusap wajahnya.
"Bos tunggu kabar dariku saja. Mereka sepertinya akan pergi dari rumah sakit."
"Baiklah. Aku tunggu kabar darimu!"
Bian mengakhiri panggilan. Ia kembali memandangi ponselnya yang kini wallpapernya diganti dengan foto Visha. Ia tersenyum bahagia karena akan segera bertemu Visha. Ia harus menyusun rencana agar bisa bicara berdua dengan Visha.
.
.
.
Visha mengantarkan ayah dan ibunya menuju ke mobil yang akan mengantar mereka ke rumah keluarga Abraham. Namun ayah Visha mengernyit heran karena Visha tak ikut dengan mereka.
"Kau tidak ikut, nduk?" tanya Haryono.
"Tidak, pak. Visha masih ada urusan sebentar. Nanti Visha menyusul ke rumah."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya nduk."
"Bapak tenang saja, aku sudah hapal kota ini."
Kemudian mobil melaju dan Visha melambaikan tangan. Visha menyetop sebuah taksi dan menaikinya. Donny yang membuntuti Visha ikut melajukan mobilnya mengikuti taksi yang ditumpangi Visha.
Visha menuju ke sebuah tempat yang beberapa waktu lalu pernah di kunjunginya. Ia membeli bunga terlebih dulu sebelum memasuki tempat itu.
Ia menuju ke tempat peristirahatan seseorang yang amat dicintainya. Ia berjongkok agar bisa mengelus batu nisan disana.
"Apa kabar, sayangku?" Visha bermonolog.
"Aku selalu yakin jika kau selalu mengawasiku dari atas sana. Makanya aku tidak pernah bisa melupakanmu..." Kalimat Visha tertahan. Air matanya mulai luruh menuruni pipinya.
__ADS_1
"Kenapa bayang-bayangmu selalu hadir? Bahkan lewat seseorang yang tidak seharusnya hadir dalam hidupku. Dia bahkan sudah beristri." Tangisan Visha makin pilu.
"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa dia mengingatkanku padamu... Akan lebih baik jika aku bisa melupakanmu. Tapi kenapa tidak bisa?"
Visha sesenggukan di samping makam Rocky. Ia benar-benar sedih saat ini. Apalagi jika mengingat bagaimana ia menerima perasaan Zayn yang seharusnya tidak pernah ia terima.
"Aku harus bagaimana? Ini terlalu sulit untukku. Aku tidak sanggup menjalaninya... Tolong katakan padaku!" Visha memukul dadanya karena terasa amat sesak dan sakit.
"Kenapa kau harus pergi? Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa?!"
Tangis Visha amat terdengar pilu di telinga seseorang yang sedari tadi sudah melihatnya dari kejauhan. Orang itu pun ikut bersedih seperti yang dirasakan oleh Visha.
Visha mulai menenangkan diri dan menghapus air matanya. Ia melirik jam tangannya. Sudah waktunya ia kembali ke rumah. Ia tak mau ayah dan ibunya khawatir.
Visha beranjak dari makam Rocky dan berjalan keluar sebelum akhirnya ia bertemu pandang dengan seseorang yang menghadang jalannya.
"Visha...." sapa orang itu dengan suara serak karena tangisnya.
"Kenapa bapak bisa ada disini? Bapak mengikuti saya? Apa belum cukup semua yang bapak lakukan pada saya?!" Visha berteriak di depan pria yang tak lain adalah Bian. Visha kembali meneteskan air matanya.
Bian ingin menghapus air mata Visha namun dengan cepat Visha menepis tangan Bian.
"Jangan melakukan ini lagi pada saya! Jangan memanfaatkan orang yang sudah tiada untuk kepentingan bapak sendiri."
"Maafkan aku, Visha..."
"Harusnya saya tidak mencegah Pak Zayn untuk membatalkan kontrak dengan bapak. Kini saya baru menyesalinya."
Visha menaiki taksi yang tadi menunggunya.
Sementara Bian masih terpaku ditempatnya berdiri. Ia berjalan ke arah makam yang bertuliskan Rocky Abraham.
Ia memandangi makam itu dengan tangan mengepal.
"Aku janji, aku akan mencari tahu siapa yang sudah melakukan ini pada kita, Visha. Dan kupastikan mereka mendapat hukuman yang setimpal. Ini adalah janjiku padamu, Visha." gumam Bian.
"Bos..." Donny menghampiri Bian yang berdiri di pusara Rocky.
"Visha sudah pergi." ucap Donny.
Bian mengangguk. "Kau harus cari tahu siapa yang terkubur didalam sini selama ini."
"Baik, bos. Sebaiknya bos pulang. Bos terlihat lelah."
Bian pun ikut meninggalkan komplek pemakaman umum itu.
...~ ~ ~...
Malam itu, Visha tak bisa memejamkan matanya. Bayangan tentang Bian terus saja menghantuimya.
Apa sih yang diinginkan orang itu? Kenapa dia terus hadir dalam hidupku? Aku semakin membencinya.
__ADS_1
Visha membolak balikkan badannya ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya Ali sudah tertidur pulas.
Hanya kau lah penyemangat dalam hidupku... Anakku... Aku tidak akan bisa hidup tanpamu...
Visha membelai rambut Ali dan mencium keningnya pelan.
Keesokan harinya, Visha bangun sangat pagi karena memang ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Visha memutuskan untuk lari pagi keliling komplek perumahan.
Saat sedang berlari, ada seseorang yang memberinya sebuah paket.
"Mbak Visha?" tanya kurir itu.
"Iya, benar. Ada apa ya?"
"Ini ada paket untuk mbak."
"Eh? Dari siapa?"
Kurir itu tak menjawab dan langsung melajukan sepeda motornya.
Visha mengerutkan dahinya. "Apa ini?" Karena penasaran, Vishapun membukanya. Sangat aneh karena ada yang mengiriminya paket misterius seperti ini.
Visha melirik kanan dan kiri. Namun jalanan komplek masih sepi karena ini hari libur. Mungkin orang-orang lebih memilih untuk tidur lebih lama ketimbang melakukan olah raga.
Visha membuka kotak berbentuk segi empat itu yang ternyata adalah sebuah bumbu instan untuk membuat rendang dari sebuah merk produk makanan.
"Bumbu instan rendang?" Visha menautkan alisnya makin bingung. Ia melihat ada sebuah kertas yang berisi pesan. Visha mengambil kertas itu dan membacanya.
"Datanglah ke apartemen Prince Town lantai 20 kamar 2001. Tekanlah kode angka yang dulu pernah kau tekan untuk masuk ke dalamnya dan berniat untuk mencuri di kamar itu..."
"Hah? Apa ini?" Visha melihat ke sekelilingnya dan memang tak ada siapa-siapa selain dirinya di jalan itu.
Siapa yang sudah melakukan ini? Apa dia sengaja ingin mempermainkanku?
Visha membuang kotak itu kedalam tong sampah dan menyimpan bumbu instan rendang kedalam sakunya beserta kertas yang berisikan pesan aneh itu. Ia kembali berlari kecil menuju kediaman keluarga Abraham.
...ššš...
bersambung
.
.
*akankah Visha datang ke apartemen itu?
*Apa semua rencana Bian alias Rocky akan berjalan lancar?
*jangan lupa tinggalkan jejak kalian š£š£
karena kalian adalah semangatku šŖšŖš
__ADS_1
...~terima kasih~...