
...ššš...
"Mama---sudah sampai, Ma. Mama? Mama kenapa? Apa Mama sakit?"
"Eh?"
Suara merdu Ali membuat Visha kembali ke alam sadarnya.
"Tidak, sayang. Mama tidak apa-apa."
"Dari tadi Mama hanya diam. Apa Mama sakit?"
"Tidak, sayang. Mama baik-baik saja. Sudah sampai di sekolah kamu ya?"
Visha mengantar Ali sampai ke depan kelasnya.
"Belajar yang rajin ya, sayang. Patuhi apa kata ibu guru."
"Iya, Ma."
CUP. Satu kecupan manis mendarat dipipi Ali.
Visha melambaikan tangan pada Ali. Setelah Ali memasuki kelas, Visha kembali ke dalam mobil.
"Mbak Visha kenapa? Akhir-akhir ini aku perhatikan Mbak banyak melamun. Apa ada masalah, Mbak?" tanya Edo yang mengantar Visha dan Ali dan ke sekolah.
"Tidak, Do. Jangan berpikiran negatif. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Ayo kita segera kembali ke rumah. Ibu pasti butuh bantuan kita." Visha mengalihkan pembicaraan seperti biasa.
Edo tak menanggapi lagi, karena jawaban Visha sudah mutlak tidak akan bisa dibantah lagi.
.
.
.
Rocky kelimpungan sendiri karena merasa cemas atas apa yang akan terjadi hari ini. Ia meminta Visha menemuinya dengan membawa cek yang kemarin ia berikan.
"Bagaimana ini? Aku dapat uang dari mana jika dia ternyata menulis angka sampai bermilyar-milyar?"
"Apanya yang bermilyar-milyar, Bos?" Donny masuk ke ruangan Rocky.
"Eh, kau? Kenapa tiba-tiba masuk? Tidak ketuk pintu dulu."
"Aku sudah mengetuk pintu tapi sepertinya Bos tidak dengar. Lagipula, ruangan ini bisa terlihat dari luar. Jadi aku tahu jika Bos sedang ada masalah. Benar kan?"
"Ini gawat, Don!! Gawat!!! Aku bisa rugi besar jika hari ini sampai terjadi."
"Apa yang terjadi, Bos?"
Rocky kembali tersadar jika ia tidak seharusnya melibatkan Donny dalam hal ini.
"Ah, tidak apa. Kau keluarlah!" Rocky berpura-pura bersikap tenang.
Donny keluar dari ruang kerja Rocky dan bergumam sendiri.
"Bos memang aneh. Apa dia salah minum obat?"
.
.
.
Pukul 10.30 pagi, Visha sampai di gedung Brahms Corp. Ia menuju lantai 11 untuk bertemu Maharani. Disana Visha tak mau berlama-lama karena ia harus menyelesaikan masalahnya dengan seseorang.
__ADS_1
Ia berpamitan pada Maharani dan segera menuju ke lantai 13.
TING. Pintu lift terbuka. Visha mengatur nafasnya agar terlihat tenang di depan Rocky.
Visha mulai memasuki ruang kantor RAB Cons yang ternyata sepi. Hanya ada satu orang yang duduk di ruang kerjanya.
Kadang Visha merasa aneh, perusahaan milik Rocky ini bagaikan ada dan tiada. Sekali waktu ramai oleh hiruk pikuk karyawannya. Diwaktu lain suasana kantornya mendadak horor karena tidak berpenghuni.
Visha berjalan memasuki kantor dan menata kotak nasi di meja panjang kantor seperti biasa.
Rocky menyadari kehadiran Visha di kantornya. Ia segera mengatur nafasnya dan berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
Tok Tok Tok. Visha mengetuk pintu ruangan Rocky yang transparan.
"Masuklah!" suara Rocky mempersilahkan Visha.
Kebetulan sekali suasana kantor sepi. Visha jadi lebih leluasa untuk bicara dengan Rocky.
"Apa bapak sedang sibuk?" tanya Visha.
"Tidak juga. Ada apa?" jawab Rocky dipaksakan bernada tegas. Padahal dalam hatinya sudah berkecamuk bermacam spekulasi tentang apa yang akan dikatakan Visha padanya. Hatinya cemas tak beraturan memikirkan Visha yang akan meminta uang banyak darinya.
"Saya ingin mengembalikan ini." Visha menyerahkan selembar cek yang kemarin Rocky berikan padanya.
GLEK. Rocky menelan ludah.
"Jadi, berapa uang yang kamu min----"
"Saya tidak butuh uang bapak. Ataupun uang Mas Galang." Dengan cepat Visha memotong kalimat Rocky.
"Sejak awal saya mengenal Mas Galang, saya tidak tahu jika dia adalah putra pemilik perusahaan besar disini. Saya hanya tahu jika Mas Galang adalah seorang pengusaha."
Rocky berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Setiap orang memiliki masa lalu. Entah itu baik ataupun buruk. Meskipun kehidupan masa lalu saya buruk----belum tentu jika sekarangpun hidup saya masih buruk. Tiap orang memiliki kesempatan untuk bisa merubah hidupnya. Dan seburuk apapun saya di mata bapak, saya----saya akan terus memperbaikinya agar bisa menjadi lebih baik. Jadi, saya minta tolong pada bapak untuk tidak meminta saya berpisah dengan Mas Galang. Saya akan buktikan pada bapak dan keluarga bapak, jika saya memang layak untuk jadi istri Mas Galang."
Rocky tertegun mendengar semua ucapan Visha. Ia tak bisa berkomentar apapun.
"Saya rasa sudah cukup pembicaraan kita kali ini. Saya permisi." Visha menundukkan kepala dan berlalu dari hadapan Rocky.
Visha keluar kantor Rocky, dan mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Entah dapat kekuatan dari mana ia bisa seberani itu bicara lantang di depan Rocky.
...***...
Pukul 12 siang, waktunya Ali pulang dari sekolah. Ali ditemani ibu guru menunggu kedatangan Visha di depan kelas.
Sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan sekolah Ali. Beberapa wali murid berbisik-bisik membicarakan orang yang turun dari mobil mewah itu.
Orang itu memasuki area sekolah Ali dan mulai mengedarkan pandangannya ke semua sudut sekolah. Dilihatnya Ali sedang duduk bersama gurunya.
"Papa!!!" teriak Ali pada orang berjas rapi itu.
Ibu guru yang bersama Ali cukup terkejut. Karena selama ini ia tak pernah mengetahui sosok ayah Ali.
"Jadi, ini Papa kamu, Ali?"
"Iya, ibu guru."
Ali berpamitan pada gurunya dan pergi bersama orang berjas rapi itu.
.
.
.
__ADS_1
Visha tergopoh-gopoh lari menuju ke sekolah Ali. Ia sedikit terlambat hari ini karena jalanan macet.
Visha mencari-cari keberadaan Ali di kelasnya. Namun tak ada siapapun disana.
"Kemana Ali?" tanya batin Visha.
Seorang guru menghampiri Visha yang kebingungan mencari sesuatu.
"Mamanya Ali? Ada apa datang kesini?"
"Ibu, Ali dimana? Kenapa kelasnya kosong?"
"Lho?!" Ibu guru mengernyitkan dahi. "Ali sudah pulang."
"Eh? Sudah pulang? Bagaimana bisa? Ini saya baru menjemputnya."
"Tapi tadi----Ali bersama dengan Papanya."
"Apa?!? Papa?!"
Otak Visha mendadak tak bisa berpikir. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia berlari menuju mobil.
Tangannya gemetar dan kakinya mendadak lemas.
"Tidak!!! Siapa yang sudah menjemput Ali?" tanya batin Visha berkecamuk.
Sambil melangkah cepat menuju mobil, ia meraih ponsel di sakunya. Ia ingin menghubungi seseorang. Tapi siapa?
Tiba-tiba otaknya menyebut satu nama.
"Rocky? Apa ini perbuatanmu? Kau marah karena aku menolak menerima uangmu? Tidak!!! Tolong jangan sakiti Ali. Aku tidak akan bisa hidup tanpanya. Dia adalah segalanya bagiku." teriak hati Visha.
BRUK. Visha terduduk lemas di pinggir jalan.
Edo yang melihat Visha terjatuh segera menghampirinya.
"Mbak!!! Ada apa, Mbak? Ali mana?"
Air mata Visha tak mampu lagi ia bendung. Namun otaknya masih tersadar saat ia mencoba menghubungi ponsel Rara.
TUT TUT. Nada telepon tersambung. Namun belum di jawab.
"Mbak, sebaiknya kita masuk ke mobil. Cuacanya sangat terik." Edo memapah Visha masuk kedalam mobil.
"Ada apa, Mbak?"
"Ada seseorang yang sudah menjemput Ali."
"Apa? Siapa?"
"Aku tidak tahu. Aku sangat takut, Do. Aku takut jika terjadi sesuatu pada Ali." Cerita Visha dengan berurai air mata.
"Mbak menelepon siapa?"
"Rara. Aku tak mau berpikir hal buruk, mungkin saja Rara atau siapa yang sudah membawa Ali." ucap Visha dengan menghapus air matanya.
"Bagaimana?"
Visha menggeleng. "Tidak diangkat."
"Tenangkan diri, Mbak! Ali pasti baik-baik saja." Edo segera menginjak pedal gas dan melajukan mobil dengan cukup kencang.
...ššš...
tobe continued,,,,,,
__ADS_1