
...🍁🍁🍁...
"Mbak! Sudah sampai, Mbak! Mbak Visha?"
"Eh? Kenapa, Do?"
"Sudah sampai di kantornya Mas Galang, Mbak."
"Oh, maaf. Ayo kita bawa makanannya." Visha berusaha tetap tersenyum.
Setelah mengantar makanan ke Brahms Corp, Visha terus terdiam selama perjalanan menuju kantor Galang. Ia memikirkan semua yang dikatakan Rocky padanya. Ia tak pernah menyangka jika Rocky akan mencari tahu tentang masa lalunya.
Visha berjalan gontai mendorong troli kosong. Semangatnya sudah pudar sejak ancaman yang diberikan Rocky.
"Navisha!" panggil seseorang.
"Mas Galang?"
"Sudah selesai mengantar makanan?"
"Iya, Mas. Mas mau kemana?"
"Aku ada rapat diluar kantor. Tapi tenang, aku tetap membawa nasi kotak buatanmu. Aku tidak akan makan diluar."
Visha tersenyum kecil.
"Nah, begitu baru cantik. Kau harus banyak tersenyum, Nav---" Galang membelai lembut puncak kepala Visha.
Visha kembali tersenyum. Ada rasa tak biasa yang ia rasakan.
Maafkan aku, Mas. Aku telah banyak berbohong padamu. Kau sangat baik padaku dan Ali. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikanmu.
"Setelah ini kau mau kemana?"
"Aku akan menjemput Ali di sekolahnya."
"Ah, benar juga. Ali sudah mulai sekolah ya? Kapan-kapan aku juga ingin menjemputnya pulang sekolah. Boleh kan?"
"Eh? I-iya, Mas. Tentu saja boleh."
Visha berbincang cukup lama dengan Galang. Hingga ia tak sadar ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka.
Navisha? Dan Pak Galang? Ada hubungan apa mereka berdua? Mereka nampak sangat dekat dan intim. Jangan-jangan---? Aku harus mencari tahu tentang mereka berdua.
Siska mengepalkan tangannya dan menatap Visha dan Galang dengan penuh kesinisan didalamnya.
Selama ini, Visha yang ia kenal adalah wanita yang pendiam dan tertutup.
Apa yang kau sembunyikan, Visha? Kau tidak seperti yang kubayangkan.
Siska meraih ponselnya dan mencari nama seseorang di menu kontak. Siska menghubungi seseorang.
"Halo, Erna! Ini Siska, kau masih ingat denganku? Bagaimana kabarmu?"
"............."
"Aku butuh bantuanmu. Apa kau bisa mencari tahu tentang Navisha? Iya, Navisha yang dulu pernah bekerja denganmu di Miracle Club. Kabari aku jika kau menemukan sesuatu tentangnya. Terima kasih."
...***...
Sore hari, Rocky merasa jengah dengan kesehariannya yang monoton. Aktifitasnya hanya di isi dengan pergi ke kantor dan apartemen. Kadang ia ingin kembali ke kebiasaan lamanya yaitu pergi ke club dan meminum alkohol sampai mabuk.
Tapi sekarang semua sudah berubah, dan ia harus tetap menjadi Rocky yang sudah insaf.
Tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya. Ia akan mendatangi suatu tempat terlebih dahulu sebelum kembali ke apartemennya.
.
.
.
Rocky tiba di panti asuhan Kasih Bunda. Tempat dimana Sania, mantan kekasihnya menghabiskan waktu di sore hari disini. Rocky ingin bertemu dengan Sania dan berbincang dengannya.
Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang mirip dengan seseorang yang dia kenal.
"Itu seperti----? Navisha?" Rocky menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak-tidak! Aku pasti salah lihat. Untuk apa dia ada di panti jompo?" Batin Rocky menolak kehadiran Navisha di matanya.
Kawasan panti asuhan Kasih Bunda memang bersebelahan dengan kawasan panti jompo bernama Kasih Ananda, hanya berbeda gedung saja.
__ADS_1
Rocky memicingkan mata untuk meyakinkan dirinya bahwa ia salah lihat. Tapi sosok itu memang sangat mirip dengan Navisha. Sosok itu sedang mendorong kursi roda milik seorang nenek penghuni panti jompo.
"Rocky!!!" Seseorang memanggil nama Rocky, dan itu adalah Sania.
Rocky berbalik badan dan bertemu pandang dengan Sania.
"Sania?"
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sania bingung.
"Aku---aku ingin menemuimu."
"Menemuiku? Ada urusan apa?"
"Tidak ada, hanya----"
"Kak Sania!!!" Seorang anak perempuan kecil memanggil Sania. Sania segera menghampirinya.
Rocky mengikuti langkah Sania. Ia sempat menengok ke belakang untuk memastikan apakah sosok yang mirip Navisha masih ada disana atau tidak. Dan ternyata sudah tidak ada.
"Itu berarti aku hanya berimajinasi. Kenapa juga harus dia yang muncul dalam imajinasiku? Gadis pembohong itu benar-benar membuatku muak!" Rutuk Rocky dalam hati.
Rocky kembali menatap ke arah Sania yang sedang bermain bersama anak-anak panti asuhan. Rocky tersenyum melihat keakraban diantara mereka.
Sania wanita yang cantik dan berhati baik. Sungguh ia menyesali semua perbuatannya pada Sania. Andai waktu bisa diulang, ia akan bersikap baik pada Sania ketika mereka masih bersama dulu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Suara lembut Sania membuyarkan pikiran Rocky.
"Eh? Pertanyaan?"
"Untuk apa kau menemuiku?"
"Tidak ada apa-apa. Apa aku mengganggu?"
"Tidak juga."
"Aku sedang suntuk, ingin menyegarkan pikiran."
"Dan kau datang ke panti asuhan?"
"Yaa begitulah, haha." Rocky memaksakan tawanya. "Omong-omong, kenapa kau suka datang kemari? Apa kau sangat menyukai anak-anak?"
"Kenapa tidak memiliki anakmu sendiri?"
DEG.
Sepertinya Rocky mengajukan pertanyaan yang salah. Raut wajah Sania berubah muram.
"Ma-maaf. Aku tidak bermaksud untuk---"
"Tidak apa. Aku dan suamiku----belum dikarunia momongan. Mungkin Tuhan belum percaya pada kami."
"Maaf---"
"Kau sendiri? Kenapa memilih tempat ini untuk menyegarkan pikiran? Apa kau juga menyukai anak kecil?"
"Tentu saja. Aku sangat menyukai anak-anak. Hanya mereka yang selalu bisa tertawa lepas tanpa adanya beban di hidup mereka. Dan aku ingin bisa seperti mereka."
Sania cukup terkejut dengan jawaban Rocky.
Rocky berjalan menghampiri anak-anak yang sedang bermain bola.
"Halo, anak-anak!! Ada yang mau bermain dengan Om Rocky?" tanya Rocky dengan bersemangat.
Sekumpulan anak-anak langsung menghampiri Rocky. Mereka sangat senang bertemu dengan Rocky. Mereka bertanya apakah Rocky membawa mainan seperti beberapa waktu lalu atau tidak. Rocky tak membawa mainan apapun. Ia hanya membawa beberapa permen lolly di saku jasnya. Beberapa anak berebut untuk mendapat permen dari Rocky.
Sania tertawa melihat tingkah Rocky bersama anak-anak panti. Ada rasa bahagia tak terkira didalam hatinya melihat kedekatan Rocky dan anak-anak panti.
.
.
.
Malampun tiba, Rocky mengantar Sania pulang ke rumahnya. Selama perjalanan suasana terasa sunyi. Belum ada yang memulai perbincangan.
Sesekali Sania melirik ke arah Rocky yang sedang konsentrasi menyetir.
"Umm, Rocky---"
__ADS_1
"Iya, ada apa?"
"Bagaimana dengan perusahaanmu?Apa sudah mengalami kemajuan setelah mendapatkan maaf dariku?"
Rocky tertawa mendengar pertanyaan dari Sania.
"Kenapa tertawa? Aku serius bertanya."
"Maaf-maaf. Aku juga tidak sengaja tertawa. Usahaku sudah mulai membuahkan hasil. Terima kasih."
"Syukurlah. Tapi, Rocky---aku benar-benar tidak mengutukmu."
"Aku tahu. Kau adalah wanita yang baik. Kau tidak akan melakukan hal seperti itu. Akulah yang harus disalahkan."
Tiga puluh menit terasa sangat cepat berlalu. Dan mereka sudah tiba di depan rumah Sania.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang."
"Tidak perlu sungkan. Kita----adalah teman, bukan?"
"Iya. Kalau begitu, aku permisi."
Rocky mengangguk. Tangan Sania sudah bersiap membuka pintu mobil, namun ia berhenti sejenak.
Sania berbalik badan dan menatap Rocky.
"Aku suka dengan Rocky yang baru. Aku harap kau akan terus menjadi Rocky yang seperti ini." tutup Sania diiringi senyum sebelum ia akhirnya membuka pintu mobil dan berlalu dari hadapan Rocky.
Rocky tersenyum haru mendengar kalimat terakhir Sania. Dengan senyum masih tersungging di bibirnya, Rocky menginjak pedal gas dan berlalu dari kediaman Sania.
.
.
.
Sementara itu, Visha masih terjaga dan duduk di depan meja riasnya. Ia mengulang kembali ingatannya dengan rentetan peristiwa yang terjadi hari ini.
Visha membuka tasnya dan mengambil selembar cek yang diberikan oleh Rocky.
Visha memandangi cek itu cukup lama. Pikirannya melayang entah kemana. Cek itu masih kosong dibagian nominal uangnya. Visha ingat jika Rocky memintanya untuk menuliskan sejumlah uang sebagai ganti ia harus berpisah dengan Galang.
Kenapa kau melakukan ini padaku, Rocky? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
.
.
.
Pukul sembilan malam, Rocky tiba di apartemennya dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia ingin menyegarkan tubuhnya setelah tadi bermain dengan anak-anak panti. Ia merasa letih namun merasa bahagia.
Rocky merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dengan masih menyisakan senyum dibibirnya. Ia tak bisa melupakan ucapan Sania padanya.
"Dia suka dengan Rocky yang baru." ucap Rocky dengan wajah bersemu merah.
Rocky berguling-guling kegirangan diatas tempat tidurnya. Namun kebahagiaannya tiba-tiba sirna ketika dia kembali mengingat tentang Navisha.
"Ya ampun!!! Apa yang harus kulakukan?"
Rocky kembali mengingat jika siang tadi ia memberikan selembar cek yang masih kosong pada Visha.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Bagaimana ini? Bagaimana jika dia menuliskan angka satu milyar didalam cek itu?!"
Rocky mengusap wajahnya. "Tidak! Bagaimana jika dia menulis lima milyar? Sepuluh milyar?!"
Rocky tak bisa tenang. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil air minum. Ia menghabiskannya dalam sekali teguk .
"Ya Tuhan!!! Uang dari mana sebanyak itu?!? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?"
Rocky merutuki dirinya sendiri. "Arrrggghhh!!!! Kau pasti sudah gila, Rocky!!!" teriaknya pada diri sendiri.
...🍁🍁🍁...
tobe continued,,,,,
*Note: Terima kasih yg sudah mampir ke lapak Rocky 😁😁
Dan saia mau meminta maaf jika updateannya akan sedikit terlambat karena mendahulukan story sebelah yg berjudul "99 cinta untukmu"
Untuk yg belum mampir. silahkan mampir juga ke karya saia yg lain yg ada di NT. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1
*Jangan lupa like n vote nya😘😘