
...ššš...
Hari ini Visha disibukkan dengan menyiapkan hantaran catering dan menatanya di dalam mobil box. Ibu Karina akhirnya menambah karyawan untuk membantunya memasak dan memasukkan makanan kedalam kotak nasi berbentuk seperti mangkok yang sudah di siapkan. Konsep catering untuk karyawan ini adalah rice bowl, yang akhir-akhir ini sedang tren di kalangan pekerja kantoran.
Kali ini pesanan bertambah seperti yang dikatakan Galang pada Visha waktu mereka bertemu beberapa hari lalu.
Seperti biasa, Visha di antar oleh Edo, mengendarai mobil box.
"Do, lain kali jangan mengajak Ali. Cukup kita berdua saja yang mengantar pesanan."
"Maaf, Mbak. Kemarin itu, Ali tiba-tiba sudah ada di mobil saja. Mbak Visha sendiri juga mengijinkan Ali untuk ikut."
"Iya juga. Aku pikir tidak akan terjadi apa-apa, tapi ternyata---"
"Ternyata apa, Mbak?"
"Eh? Tidak apa-apa. Lupakan ucapanku tadi."
Ya Tuhan!!! Aku sampai kelepasan bicara! Bagaimana jika Edo curiga? Semoga saja tidak. Mulai sekarang aku harus hati-hati dalam bicara.
"Oh ya, kita mengantar kemana dulu?" Visha mengalihkan pembicaraan.
"Ke kantor Papanya Mas Galang dulu, Mbak. Tadi Ibu bilangnya begitu."
"Oh, begitu. Baiklah."
.
.
.
.
Edo merapikan rice bowl kedalam troli yang akan di bawa oleh Visha kedalam kantor. Visha berjalan perlahan karena takut barang bawaannya tumpah. Ia menaiki lift untuk menuju ke lantai yang sudah disepakati dengan pihak kantor. Visha diminta untuk menemui seorang karyawan bernama Maharani.
TING. Lift berbunyi yang menandakan kalau Visha sudah sampai di lantai yang ia tuju. Ia melirik ke arah jam tangannya.
Tepat pukul 11 siang. Aku rasa aku tidak terlambat. Batinnya.
Visha segera mendorong troli keluar dari lift. Namun secara tiba-tiba troli yang didorongnya menabrak seorang pria yang akan masuk ke dalam lift dan mengakibatkan pria tersebut jatuh terduduk dan beberapa kotak rice bowl jatuh dan tumpah ke baju pria tersebut.
Pria itu mengaduh kesakitan dan berteriak histeris karena jasnya terkena makanan milik Visha.
"Apa ini? Gunakan matamu saat membawa barang! Lihat ini! Kau menumpahkan makanan di bajuku!"
Visha tertunduk karena takut. Ia terus meminta maaf namun yang pria itu terus mengomel pada Visha.
"Bos!!!" Seorang pria lain menghampiri pria yang terjatuh itu, dan membantunya berdiri.
"Bos tidak apa-apa?" tanya si teman pria itu.
"Kamu lihat sendiri ini! Kamu pikir aku tidak apa-apa, huh?!"
"Maaf, sekali lagi saya minta maaf, Pak." Visha menunduk sambil meminta maaf.
"Kamu pikir meminta maaf bisa membuat baju saya kembali bersih, huh?!"
"Saya benar-benar minta maaf. Saya akan bertanggung jawab." jawab Visha masih dengan kepala tertunduk. Ini adalah hari pertamanya mengirim makanan di perusahaan ini. Dan malah berakhir dengan insiden seperti ini. Bermacam kekhawatiran memenuhi hati dan otaknya.
"Kamu tahu berapa harga baju saya ini? Dan lagi, apa ini yang kamu tumpahkan ke baju saya?" Pria itu mengendus-endus bajunya yang terkena siraman kuah.
"Maaf, Pak. Itu---adalah kuah rendang."
__ADS_1
"Haish!! Ya sudah! Saya tidak mau dengar kata maaf lagi dari kamu. Donny, siapkan baju lain untukku. Aku harus meeting bersama Papa." Pria itu tak menggubris Visha lagi, dan malah meninggalkannya.
Visha merutuki dirinya yang kurang berhati-hati. Ia membersihkan sisa makanan yang terjatuh dan membuangnya ke tempat sampah. Ia segera menghubungi Edo dan memintanya membawakan kotak rice bowl yang lain.
...šš...
Ruang kantor Leonard Abraham,
"Terimakasih atas kedatangan kalian berdua. Papa senang dengan keberhasilan kalian berdua."
Leonard Abraham menghela nafas. Ia menatap dalam pada Rocky.
"Papa senang dengan keberhasilan kecil kamu, Rocky. Tapi---" Leonard melirik ke arah asistennya, Jemmy.
Jemmy menyerahkan beberapa lembar kertas pada Leonard.
Leonard menyodorkan kertas tersebut ke arah Rocky dan Galang.
"Apa ini, Pa?" Tanya Galang.
"Papa kecewa dengan kalian---"
"Apa maksud Papa? Tadi Papa bilang Papa bangga pada kami berdua." Rocky mulai angkat bicara.
"Kamu benar-benar bikin Papa malu, Rocky! Apa ada hal yang bisa kamu lakukan dengan usahamu sendiri, huh?! Kamu selalu saja merepotkan orang lain."
"Pa----"
"Ini adalah buktinya." Leonard menunjuk ke satu kertas. "Bagaimana bisa kamu membayar sewa kantormu dari uang yang kamu dapat dari kakakmu? Kamu meminta tolong padanya?"
"Pa---bukan seperti itu---" Galang membela adiknya.
"Dan proyek kamu kemarin. Itu juga adalah berkat bantuan kakakmu kan? Jawab Rocky!!"
"Tinggalkan gedung itu sekarang juga! Pindahkan kantormu kemari!"
"A-apa?" Rocky terperanjat.
"Dan kamu harus mengembalikan semua uang yang sudah diberikan Galang untuk membantumu."
"Pa, aku melakukan semuanya----" Galang terus membela Rocky.
"Cukup, Galang! Papa tidak mau dengar penjelasan darimu. Jemmy!!!"
"Iya, Pak."
"Siapkan semua berkas pengalihan saham. Saham Rocky akan dipindahkan pada Galang, untuk membayar semua hutang-hutang Rocky pada Galang."
"Pa! Jangan lakukan itu! Bagaimana dengan karyawan-karyawanku di kantor?"
"Karyawan? Memangnya berapa banyak karyawan yang ada dikantormu? 100? 200? Berapa?"
Rocky berpikir sejenak. "25 orang, Pa."
"Cih, hanya 25 orang saja. Pindahkan mereka ke lantai 13."
"Lantai 13? Apa tidak salah, Pa? Bukankah itu gudang milik Brahms Corp?"
"Sampai kamu bisa membeli gedung sendiri untuk perusahaanmu, kamu gunakan dulu gudang itu. Besok bersiaplah pindahkan semua barang-barang kantormu kesana."
".............." Galang tak bisa berkata apapun lagi untuk membela Rocky. Papanya sudah sangat marah saat ini.
"Baik, Pa." Dan akhirnya Rocky mengalah dan menuruti perintah Papanya.
__ADS_1
Galang menatap Rocky dengan iba. Sungguh ia tak menyangka kalau selama ini Leonard Abraham mengawasi gerak-gerik mereka berdua.
...šš...
Pukul lima sore, Rocky kembali ke apartemennya dengan langkah gontai. Harinya berakhir sangat berat kali ini. Ia ingin segera membasuh dirinya dengan air segar agar hati dan pikirannya juga ikut segar.
Rocky memasuki kamar apartemennya dan membuang asal sepatu yang dipakainya.
"Rocky! Akhirnya kamu pulang juga!"
"Mama? Dari mana Mama tahu kunci kombinasi kamarku?" Rocky terkejut karena mendapati Mamanya sudah ada didalam kamar apartemennya.
"Apa yang Mama tidak tahu tentang kamu, Rocky."
Rocky melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. "Ada urusan apa Mama datang kemari?" tanya Rocky tanpa berbasa-basi lagi.
Elena menghampiri putranya yang menuju dapur untuk mengambil air minum dan berhadapan dengannya.
"Apa benar kamu meminjam uang dari Galang untuk membayar sewa gedung kantormu?"
Rocky memalingkan wajah.
"Apa benar, proyek kamu kemarin juga atas bantuan Galang?" Elena terus mencecar Rocky.
Rocky masih diam tak mau menjawab pertanyaan Elena.
"Rocky! Jawab Mama! Apa semua itu benar? Kamu selalu menolak bantuan dari Mama tapi kenapa kamu malah meminta tolong pada Galang? Sekarang kamu lihat akibatnya, kamu harus memindahkan kantormu ke gudang milik Brahms Corp. Mama yakin ini semua adalah perbuatan Galang. Dia sudah merencanakan semuanya supaya kamu terus gagal. Kenapa kamu masih tidak sadar juga, Rocky? Kamu itu harusnya mendengarkan Mama, kamu harusnya----"
"Cukup, Ma!!!" Rocky membentak Elena.
"Kalau Mama datang kesini hanya untuk bicara begini, lebih baik Mama pergi dari sini."
"Rocky----"
"Hariku sudah cukup buruk, Ma. Jadi tolong jangan membuatnya bertambah buruk."
"Rocky---mulai sekarang kamu harus dengar apa kata Mama."
"Keluar, Ma!" Rocky mendorong tubuh Elena menuju ke pintu keluar kamarnya.
"Rocky! Apa yang kamu lakukan? Kamu mengusir Mama?"
"Keluar!!! Aku tidak mau dengar apapun untuk saat ini. Rocky mohon Mama keluar!"
"Rocky!!!"
BRAAKK!!! Rocky membanting pintu.
Dengan cepat ia mengganti kode kunci kamarnya.
Rocky berjalan menuju sofa, dan merebahkan tubuhnya disana. Ia mengusap wajahnya. Mencoba mengatur nafasnya yang memburu.
Satu persatu memori tentang kejadian hari ini ia ulang kembali dalam ingatannya.
"Kenapa hari ini aku sangat sial?" Gumamnya.
Lalu Rocky ingat rentetan peristiwa yang sudah membuatnya sangat sial hari ini.
"Gadis itu!!! Gadis pembawa makanan!!! Dialah penyebab dari kesialanku hari ini! Damn!!! Ini pasti gara-gara dia!!" Rocky mengepalkan tangannya kuat.
...ššš...
tobe continued------
__ADS_1