Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Selamat Datang Kembali


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


-Satu Tahun Kemudian-


Visha menggerakkan kakinya cepat pertanda dirinya sedang tak tenang. Tentu saja ia sedang harap-harap cemas. Ia sedang duduk berhadapan dengan Pak Anton, dosen pembimbing di tugas akhirnya.


Pak Anton sedang membaca dengan seksama semua laporan yang ditulis Visha.


"Apakah sudah, Pak?" tanya Visha tak sabar.


"Kau ini! Tidak sabaran sekali! Kenapa? Apa ada seseorang yang sudah menunggumu?"


"Saya harus berangkat ke kantor, Pak."


"Biarkan saja bosmu itu menunggu."


"Heh?"


Sementara itu, Zayn memang benar sedang menunggu Visha. Hari ini ada rapat pagi seperti biasa.


Ia mencoba beberapa kali menghubungi Anton, yang adalah kakak iparnya. Namun panggilannya selalu ditolak.


Zayn mengumpat beberapa kali. Lala yang melihat bosnya kalang kabut, ikut menghubungi Visha juga.


Dan ternyata telepon tersambung dan Visha mengangkatnya.


"Halo, La."


"Visha!!! Kau sudah membuat Pak Zayn hampir kebakaran jenggot!"


"Tenang, La. Aku sedang menuju kesana. Jangan khawatir. Lagipula, Pak Zayn tidak memiliki jenggot. Haha. Dia hanya memiliki sedikit jambang tipis di area dagunya."


"Apa kau bilang?!"


Visha membulatkan mata. Ternyata ponsel Lala direbut oleh Zayn.


"Ma-maaf, Pak."


"Ya sudah. Cepat datang ke kantor. Klien kita sebentar lagi datang."


"Baik, Pak."


Visha menghembuskan nafas kasar.


"Hampir saja! Kenapa aku sampai bicara begitu sih? Tapi ini salah Lala. Kenapa dia memberikan ponselnya pada Pak Zayn? Aku pasti akan sangat malu bertemu dengannya."


Visha menutup wajahnya dengan tangan.


Tak lama, Visha tiba di gedung Zayn Building. Ia segera menuju ke ruang rapat.


Dan seperti hari-hari yang lalu, klien selalu puas dengan pekerjaan Visha.


Visha tersenyum penuh kebahagiaan. Zayn bisa melihat itu. Sudah setahun ini Zayn mencoba mendekati Visha. Namun masih belum ada perkembangan yang berarti. Visha masih menjaga jarak dengan pria.


"Ini..." Zayn menyerahkan sebuah undangan pada Visha.


"Undangan apa ini, Pak?"


"Acara gathering para pengusaha se-Asia Tenggara. Kau ikutlah dengan saya menggantikan Lala."


"Eh?"


"Lala tidak bisa ikut karena ada acara pertunangannya."


"Benarkah? Lala akan bertunangan?"


"Bagaimana? Kau bersedia 'kan? Penyelenggaranya adalah Brahms Corp. Dia merajai segala bisnis beberapa tahun terakhir."


Visha nampak berpikir. Hatinya mulai berkecamuk. Ia tak ingin kembali kesana. Kota yang penuh kenangan untuknya. Visha mengangguk pelan pertanda dia setuju untuk ikut.


Visha menemui Lala dengan berkacak pinggang.


"Apa benar kau akan bertunangan? Dan kau tidak memberitahuku?"


"Tenang, Sha. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Kau sudah menyetujuinya 'kan?"


"Memangnya aku bisa apa. Aku masih butuh pekerjaan ini."


"Hehe, maaf ya. Anggap saja kau sedang berlibur. Benar 'kan?" Lala menghibur Visha yang masih terlihat kesal.


Sebenarnya ini adalah rencana Zayn untuk mengganti Lala dengan Visha. Lala menyetujuinya karena ia ingin sahabatnya juga bisa moveon dari bayang-bayang masa lalunya.

__ADS_1


...***...


"Berapa hari Nduk kamu di Jakarta?" tanya Ibu Visha.


"Belum tahu juga, Bu. Mungkin sekitar tiga hari. Acaranya sih dua hari."


"Kamu hubungi Pak Leonard dan Ibu Elena juga. Usahakan mampir ke rumahnya. Mereka pasti senang jika kamu mengunjunginya."


"Kalau ada waktu ya, Bu. Aku 'kan ikut kantor, bukan pergi jalan-jalan."


"Iya, Nduk. Nanti ibu akan menghubungi mereka. Selama ini mereka selalu perhatian pada Ali. Mereka orang baik, Nduk. Jika saja ... ibu benar-benar bisa berbesanan dengan mereka..."


"Ibu..."


"Iya, iya. Sudah sana kamu tidur. Besok terlambat bangun lho!"


"Iya, Bu."


.


.


.


Keesokan paginya, Visha berpamitan pada Ali karena akhir pekan ini ia tidak bisa menemani Ali bermain. Usia Ali sudah hampir sembilan tahun, ia pasti sudah mengerti jika mamanya sibuk bekerja.


Visha naik pesawat dari Semarang menuju Jakarta. Ia duduk bersebelahan dengan Zayn. Ingatannya tertuju ke beberapa tahun silam saat ia memutuskan pindah kesana.


Banyak hal terjadi setelah kepindahannya saat itu. Tapi ini hanya perjalanan bisnis. Jadi bukan untuk tinggal. Visha harusnya tak terlalu memikirkan hal itu.


Zayn merasa tingkah Visha sedikit aneh selama di pesawat.


"Kau baik-baik saja? Apa kau mabuk udara?"


"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja." jawab Visha dengan tersenyum.


Sesampainya di Jakarta mereka berdua sudah dijemput oleh panitia penyelenggara.


Visha meremas tangannya selama perjalanan menuju Brahms Corp. Sudah tiga tahun ia meninggalkan kota ini.


Sudah selama itu juga ia tak pernah bertemu dengan Galang. Visha bingung apa yang harus ia lakukan saat bertemu Galang nanti.


Visha berusaha setenang mungkin didepan Zayn. Ia tak mau Zayn curiga padanya jika masa lalunya terhubung dengan Brahms Corp.


Di sisi tempat yang berbeda, Donny dan Yogi sedang berbincang mengenai bisnis mereka. RAB Cons yang dulu dipimpin Rocky, sekarang beralih dipegang Donny.


Saat mereka sedang berbincang, mata Donny tertuju pada dua orang yang baru saja memasuki ruangan.


"Lihat itu, Yogi!" Donny menepuk bahu Yogi.


"Apa?" tanya Yogi.


"Mantan istrimu saja sudah moveon dan sudah punya suami baru. Masa kau masih sendiri saja?" Donny menunjuk ke arah Sania yang datang dengan seorang pria.


"Ish, dasar kau! Kau sendiri juga tak punya pasangan. Tidak perlu mengejekku."


"Haha, aku akan langsung menikah jika sudah menemukan wanita yang tepat." bela Donny.


Yogi masih menatap intens mantan istrinya itu. Ia juga menatap pria yang datang bersamanya.


"Siapa pria itu, Don?"


"Wah, kau tidak tahu? Dia adalah Biantara Adiguna, pemilik Adiguna Grup. Dia pengusaha sukses asal Surabaya."


"Ooh. Jadi selama ini Sania menetap di Surabaya?"


"Yang kudengar sih begitu. Sudahlah, jangan mengorek kehidupan mantan istrimu. Dia sudah jadi mantan."


...***...


Dentuman musik terdengar keras ke semua sudut ruangan. Visha duduk dengan tidak tenang. Ia melihat sekeliling dan memperhatikan banyak orang. Tidak ada yang ia kenal satupun.


Visha juga berharap jika tak ada orang yang mengenalinya. Mungkin hanya Galang saja yang mengenalnya.


DEG.


Tiba-tiba tatapan matanya berhenti kepada seorang pria. Itu adalah Galang. Visha segera menundukkan kepalanya. Galang nampak sedang menyalami tamu undangan yang hadir satu persatu.


"Jangan-jangan dia juga akan datang kesini?" batin Visha mulai bertanya-tanya.


"Ada apa Visha?" Tanya Zayn yang melihat Visha mulai gelisah.

__ADS_1


"Pak, saya ijin ke toilet dulu ya."


Belum sempat Zayn menjawab, Visha sudah lebih dulu kabur dari tempat duduknya.


Dan seperti dugaan Visha, Galang tiba di meja Zayn, dan mereka saling bersalaman. Visha hanya memandangi mereka dari jauh dengan mengelus dada.


"Huft! Hampir saja!" gumam Visha.


"Apanya yang hampir saja?" suara seorang pria yang ternyata berdiri dibelakang Visha.


Visha berjingkat kaget dan berbalik badan.


"Donny?!" Seru Visha bahagia.


"Hai, kau datang juga kesini? Dengan siapa?"


"Dengan bosku."


"Ah, Zayn Ibrahim?"


"Iya. Bagaimana kabarmu?"


"Baik. Kau sendiri? Sudah lama sekali ya tidak melihatmu."


"Aku baik."


"Kau kenapa ada disini? Apa kau sengaja menghindari Galang?"


"Eh? Tidak! Bukan begitu..."


"Sudahlah. Aku tahu kok. Kau masih canggung untuk bertemu dengannya."


Visha menundukkan kepalanya.


"Jangan terus merasa bersalah. Apa yang terjadi antara kau dan Bos Rocky, bukan hal yang salah. Maksudku... cinta kalian. Cinta tidak bisa dipaksakan, benar 'kan?"


Visha hanya terdiam. Rasanya air matanya hampir lolos dari matanya


"Donny, aku permisi ke toilet dulu!" Visha segera melangkah pergi.


Donny hanya menatap sedih kepergian Visha.


"Terlihat jelas jika kau belum bisa melupakan Bos Rocky. Huuftt!!! Kenapa takdir begitu kejam?" Donny mengusap wajahnya.


...***...


Visha menatap dirinya di depan cermin. Air matanya tak jadi lolos. Sekuat tenaga ia menahannya. Semua orang berharap dirinya bisa menatap masa depan dan melupakan Rocky.


Namun rasanya masih terasa sulit. Ia mengeluarkan kalung dari dalam kemejanya. Di genggamnya erat liontin kalung itu. Visha menarik nafas dan menghembuskannya.


Setelah hajatnya selesai, ia segera keluar dari toilet.


BRUUUUK!!!


Visha bertabrakan dengan seseorang dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Visha jatuh terduduk.


Orang itu membantu Visha berdiri.


"Kau tidak apa-apa?"


"Iya, tidak apa-apa."


"Maaf ya."


"Iya, tak masalah. Permisi." Visha segera melangkah lagi.


"Tunggu!!" Orang itu memanggil Visha .


Visha membalikkan badan. "Ada apa?"


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya orang itu pada Visha.


Visha mengerutkan dahi. "Eh?"


...🍁🍁🍁...


^^^bersambung,,,^^^


Terima kasih utk semua yg sudah mampir ke lapak akuh 😍😍


Jangan lupa terus dukung dan beri like, komen, vote, plus klik favorit yaa😘😘

__ADS_1


...Thank You 💞💞💞...


__ADS_2