
...ššš...
Galang mencari waktu yang tepat untuk mengenalkan calon istrinya kepada keluarganya.
Hari ini ia akan berkunjung ke rumah Papanya, dan mengutarakan niat baiknya untuk segera menikahi pujaan hatinya.
"Galang, Papa senang kamu mampir ke rumah. Sering-seringlah datang kemari. Ajak juga adikmu saat kesini."
"Sepertinya Rocky sedang sibuk, Pa. Dia sedang ada proyek yang diberikan oleh Sania."
"Sania?! Sania mantan kekasih Rocky?" Elena ikut bergabung begitu mendengar nama mantan kekasih putranya.
"Iya, Ma."
"Bukankah dia sudah menikah? Apa mereka kembali dekat?"
"Mereka hanya berteman. Oh ya, kedatangan Galang kesini adalah karena Galang ingin mengenalkan kalian dengan calon istri Galang."
"Apa?! Calon istri?!" Leonard dan Elena terkejut bersama.
"Papa tidak pernah mendengarmu dekat dengan gadis manapun, kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah?"
"Aku sudah dua tahun ini mengenalnya. Dan aku rasa, dua tahun sudah cukup bagiku untuk melangkah ke jenjang pernikahan."
"Oh ya? Gadis dari keluarga mana yang akan jadi calon istrimu? Atau jangan-jangan anak kenalan Papa kamu?" Elena tiba-tiba bersemangat.
"Bukan, Ma. Dia hanya gadis biasa. Dan dia... sudah memiliki satu anak."
"Apa?! Apa kau sudah gila? Kau ingin menikahi seorang janda?" Elena mulai sinis.
"Aku mencintainya dan putranya. Aku tak masalah dengan statusnya. Jadi, aku mohon kalian juga bisa menerimanya dengan tangan terbuka."
"Pa..." Elena menatap suaminya yang sedari tadi belum berkomentar.
Galang menatap Papanya dengan harap-harap cemas.
"Baiklah. Undang dia untuk makan malam di rumah kita."
"Pa!!!" Elena berusaha protes.
"Tidak ada salahnya jika kita mengenal dulu seperti apa wanita pilihan Galang." Tegas Leonard.
Galang tersenyum lega mendengar Papanya setuju dengan hubungan Visha.
...***...
"Halo, Rocky..."
"Ada apa, Kak?"
"Datanglah makan malam ke rumah malam ini."
"Rumah utama?"
"Iya. Papa mengundang kita kesana. Ada hal yang ingin Papa bicarakan."
"Ah, aku malas, Kak. Paling Papa hanya akan membahas bisnisku saja dan menjatuhkanku."
"Tidak! Jangan berburuk sangka dulu. Kakak mohon kamu harus datang."
"Iya-iya, baiklah."
Sambungan telepon berakhir. Galang tersenyum menyeringai.
.
.
.
"Malam ini, Mas?"
__ADS_1
"Iya. Kita akan menemui Papa dan Mama."
"Tapi..."
"Nav... sudah saatnya kita menemui mereka. Aku yakin mereka mau menerimamu. Aku sudah bicara dengan Papa, dan dia setuju saja dengan apapun keinginanku."
"Tapi, aku tidak punya baju yang bagus untuk kupakai kesana." Visha menunduk malu.
"Oh, jadi itu masalahmu? Tenang saja. Aku akan siapkan baju untukmu. Dan kurasa kamu tetap cantik meski memakai baju apapun."
"Terima kasih, Mas."
...***...
Malam harinya di kediaman Abraham,
Galang dan Visha datang lebih awal karena mereka harus memberi kesan pertama yang bagus kepada keluarga Galang.
Visha terus mengatur nafasnya ketika baru tiba di rumah keluarga Galang. Ia memakai dress selutut berwarna maroon berlengan panjang. Rambut panjangnya ia biarkan terurai bebas dan menampilkan sisi feminim. Wajahnya ia rias natural saja agar terkesan tak berlebihan.
Galang menggenggam tangan Visha dan membawanya masuk kedalam rumah. Mereka berdua disambut oleh Bi Iroh dengan senyuman lebar.
"Mas Galang... Jadi ini calonnya?"
"Iya, Bi. Kenalkan, ini Navisha. Nav, ini adalah Bi Iroh. Dia yang merawatku sejak aku kecil."
"Salam kenal, Bi." Visha menjabat tangan Bi Iroh.
"Sebentar lagi tugas itu akan digantikan oleh Mbak Visha."
"Bibi bisa saja." Visha tertunduk malu.
"Ayo masuk! Tuan dan Nyonya sudah menunggu." Bi Iroh mengantar mereka berdua masuk.
Nampaklah Leonard dan Elena sedang duduk di ruang keluarga. Mereka berdiri ketika melihat Galang dan Visha masuk.
"Galang!" Leonard menyalami putranya dan memeluknya.
Elena memandangi Visha dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Iya, Ma. Namanya Navisha."
Visha segera menyalami Elena dan mencium punggung tangannya. Kemudian beralih ke Leonard.
"Cantik sih," ucap Elena datar.
Tak lama kemudian satu orang lagi datang dan segera menuju ke ruang keluarga.
"Rocky!!!" Seru Elena yang langsung berhambur memeluk Rocky.
"Mama! Jangan berlebihan." Rocky melepas pelukan Mamanya. "Sepertinya sedang ada tamu."
"Iya, Galang membawa calon istrinya," jelas Elena.
Rocky membelalakkan mata melihat Visha ada disana bersama Galang. Visha tak berani membalas tatapan Rocky dan mengalihkan pandangannya.
"Karena semua sudah berkumpul, mari kita makan malam dulu," ucap Leonard.
Suasana makan malam terasa khidmat. Tak ada satupun yang berbicara selama acara makan berlangsung. Hanya suara dentingan piring dan sendok yang memenuhi ruangan.
"Mama masak makanan kesukaan kamu, Rocky. Dimakan ya!" Ujar Elena mengambil beberapa potong daging ikan kakap lalu diberikan ke piring milik Rocky.
"Iya, Ma. Terima kasih."
Sesekali mata Rocky menatap ke arah Visha yang terus diam saat menyantap makanannya.
Usai makan malam, mereka kembali ke ruang keluarga di temani secangkir teh sebagai teman berbincang.
"Jadi, kapan rencananya kalian akan menikah?" Pertanyaan Leonard berhasil membuat Galang dan Visha saling melempar pandang, dan Rocky membulatkan matanya sempurna.
"Umm, aku belum menentukan tanggalnya. Tapi, aku ingin secepatnya menikahi Visha," jawab Galang.
__ADS_1
"Memangnya kalian sudah yakin?" Tanya Elena.
"Yakin, Ma. Galang mencintai Visha."
"Kamu sudah pernah menikah, benar begitu Visha?" tanya Elena lagi.
"Eh?"
"Ma, jangan menanyakan hal yang sudah lalu. Maafkan istri saya ya."
"Ah, iya. Tidak apa," jawab Visha diiringi senyum.
"Lalu kamu, Rocky! Kapan kamu akan menikah? Jangan terus bermain-main dengan perempuan-perempuan yang tidak jelas."
"Pa... Kenapa bicara begitu? Rocky sudah tidak pernah datang ke klab lagi." Elena membela Rocky.
"Aku... masih menunggu seseorang..." Ujar Rocky yang membuat semua orang disana terkejut.
"Rocky?" Elena menatap putranya dengan serius.
"Ada apa dengan kalian? Tidak ada salahnya 'kan menunggu?"
"Apa yang kamu tunggu, Rocky?" tanya Leonard.
"Aku menunggu dia menyadari perasaannya..."
DEG. Visha merasa kalimat itu ditujukan untuknya. Ia meremas dressnya.
Kenapa Rocky bicara seperti itu didepan keluarganya? Batin Visha.
"Jika menunggu adalah hal terbaik untukmu, maka lakukanlah," ucap Leonard.
"Terima kasih, Pa."
...***...
Dalam perjalanan menuju rumahnya, Visha terus terdiam. Galang sesekali melirik ke arah wanita yang duduk disampingnya.
"Bagaimana? Mereka menerimamu 'kan?"
"Eh? Ah, iya. Aku... tidak menyangka. Papamu orang yang sangat bijaksana."
"Papa memang begitu. Selalu tegas kepada kami."
"Kharismanya menurun padamu."
"Benarkah?"
"Iya."
"Lalu kapan kita akan menikah?"
"Heh?"
"Kita cari hari dan tanggal yang baik."
"................"
"Kenapa? Kamu masih belum siap?"
"Bu-bukan begitu, Mas."
"Tidak apa. Kita lakukan perlahan saja." Galang meraih tangan Visha dan menggenggamnya.
Visha merasa bimbang sekarang. Ia tak bisa lari lagi. Galang sangat mencintainya. Dan putranya membutuhkan sosok ayah seperti Galang.
Lalu bagaimana perasaannya terhadap Rocky? Haruskah ia lupakan demi kebahagiaan putranya?
...ššš...
tobe continued,,,,
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak š£š£
terima kasih š