Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 100: Yang Shui


__ADS_3

"Bisakah kalian membiarkanku pergi? Aku ingin menemuinya. Tolong izinkan aku pergi." Suara lemah dan menyedihkan keluar dari bibir pucat wanita itu. Derai air mata masih setia membahasi wajah pucatnya yang masih tampak cantik.


"Pertama, tolong tenanglah dulu. Bagaimana bisa kami membantumu menemukan orang yang kau maksud, sementara kau tidak mengatakan apapun kepada kami." Wanita yang tampak lebih tua di banding wanita pucat tersebut berusaha menenangkan.


"Ah, kami belum mengetahui namamu." Seakan tersadar, wanita tersebut bertanya seraya menoleh sekilas ke arah dimana seorang pria yang sedang duduk di kursi kayu.


Tidak mendapat jawaban, wanita tersebut membuka suara," Kami bukan orang jahat. Kau tidak perlu khawatir. Kau bisa memanggilku Saudari Zhisu dan dia Saudara Hongli, kami sepasang suami dan istri." Ucap wanita yang bernama Zhisu seraya menunjuk suaminya yang masih setia memandangi mereka.


"Yang Shui." Akhirnya wanita berwajah pucat tersebut berbicara lemah. Suara seraknya menunjukkan betapa banyak waktu yang ia habiskan hanya untuk menangis. "Aku bisa merasakannya, dia berada dekat denganku tadi, namun sekarang-, sekarang aku tidak merasakannya lagi." Lanjut Yang Shui tersendat-sendat. Tidak ada air mata lagi, hanya ada pandangan kosong.


Sepasang suami istri tersebut menghela nafas panjang. Mereka sama-sama terdiam, tidak tahu bagaimana cara menenangkan Yang Shui lebih lanjut. Semenjak bangun, Yang Shui hanya menangis dan meracau memanggil nama Yang Jian. Bahkan obat dan makanan yang telah disediakan tidak disentuh sedikitpun.


Setelah sekian lama membujuk, akhirnya Yang Shui hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun seolah mati rasa, Yang Shui tidak memiliki tenaga sedikitpun untuk berdiri. Mulai mengganti pakaian, memakan sedikit makanan dan obat dilayani Zhisu dengan telaten.


"Diluar sedang ada bahaya. Mungkin kita tidak bisa keluar dari tempat ini untuk sementara waktu." Hongli yang baru kembali memeriksa keadaan diluar datang dengan raut muka khawatir. "Aku tidak mengetahui pastinya, namun kondisi di luar tidak memungkinkan kita membawa Yang Shui menemui putranya."

__ADS_1


Hongli mulai menjelaskan suasana Kota Batu saat dirinya berencana membeli beberapa keperluan miliki Yang Shui. Namun dia hanya pulang dengan tangan kosong. Penyerangan yang terjadi di Kota Batu membuat Hongli akhirnya kembali ketempat persembunyian mereka.


Baik Zhisu maupun Yang Shui menghela nafas pelan. "Berapa lama aku tertidur?" Setelah dilanda keheningan yang cukup lama, Yang Shui akhirnya buka suara. Dia menatap kedua orang asing yang telah merawatnya selama ini entah bagaimana caranya.


"Kami tidak tahu pasti. Mungkin sepuluh tahun? Lima belas tahun? Entahlah, kami tidak begitu yakin?" Jawab Zhisu tenang, namun raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang tinggi. Berbeda dengan Zhisu dan Hongli, Yang Shui, dirinya hanya menghela nafas panjang. Tidak ada keterkejutan dalam raut wajahnya, seoalah dia telah memprediksi hal ini sebelumnya.


"Tidak ada yang ingin kau katakan? Atau kau tanyakan?" Tanya Hongli penasaran melihat raut tenang di wajah Yang Shui. "Sudah cukup lama ternyata." Balas Yang Shui pelan. Sama sekali tidak menjawab rasa penasaran Hongli dan Zhisu.


Setelah sekian lama terdiam, akhirnya raut wajah Yang Shui menunjukkan perubahan. Seperampat siku muncul di dahinya. Sontak saja, Yang Shui berdiri dari duduk dan memandang ke segala arah. Aktivitas Yang Shui tidak lepas dari pengawasan Zhisu dan Hongli, mengundang tanda tanya besar bagi mereka.


"Apa akhirnya kau merasakan kehadiran anakmu?" Tanya Hongli penasaran.


Sementara itu, tepatnya di depan gerbang Kota Batu yang telah rata dengan tanah, Yang Jian menegang dengan muka pucatnya. Bola matanya berputar seakan mencari sesuatu yang mengganggu pikirannya. Menghela nafas panjang, Yang Jian berusaha mentralkan kembali detak jantungnya yang mulai tidak beraturan.


Seketika saja Yang Jian berbalik dan melangkah cepat menuju bagian Timur Kota Batu, tempat yang belum terjamah pertarungan kedua kubu. Yang Jian tidak mengerti mengapa, namun langkahnya menuntun Yang Jian ke tempat tersebut.

__ADS_1


Tiba di tepi hutan. Yang Jian melihat sebuah bangunan tua yang tampak rapuh, namun bersih dan terjaga. Rasa penasaran Yang Jian membawanya ingin menjelajahi bangunan tersebut. Namun, sebelum tangan Yang Jian meraih knop pintu, suara pembicaraan beberapa orang mengusik indera pendengarannya.


Yang Jian mengendap-endap, menyembunyikan keberadaannya dari balik pepohonan yang rimbun. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Yang Jian melihat tenda-tenda megah yang berdiri tegak di balik rimbunnya pepohonan dengan jumlah yang tak sedikit.


Beberapa orang dengan jubah yang dikenali Yang Jian. Tidak salah lagi, tempat ini adalah lokasi persembunyian sementara cultivator dari Sekte Ular Sembilan dan Sekte Cakar Iblis. Cukup lama mengamati, bisa Yang Jian prediksi jika jumlah orang yang berada di sekitar markas tersebut berkisar dua puluh sampai dua puluh lima orang. Dengan tingkatan cultivator puncak warior star dan beberapa di awal cultivator master.


Sepertinya mereka begitu yakin jika lokasi persembunyian mereka sudah cukup akurat. Sehingga memberikan pengawasan yang longgar.


Melihat itu, Yang Jian menyeringai dingin. Manik birunya menatap nyalang orang-orang yang sedang berlalu lalang mengawasi tenda tersebut. Kini Yang Jian berada di salah satu dahan pohon tertinggi tidak jauh dari lokasi tenda. Tempat terbaik dalam melakukan penyerangan diam-diam.


'Saatnya menguji!' Batin Yang Jian, tiba-tiba saja sebuah busur dengan motif phoenix berwarna keemasan muncul di telapak tangan Yang Jian. Busur tanpa anak panah tersebut mengeluarkan aura pusaka bumi tahap akhir. Sejata atau pusaka memiliki tiga tingkat yaitu, pusaka warior, pusaka bumi dan pusaka langit, dan setiap tingkatannya memiliki tiga tahap yaitu, tahap awal, menengah dan akhir.


Yang Jian mulai memposisikan busur tersebut, menarik tali busur dan membidik tepat kepada dua orang cultivator yang sedang berdiri berdampingan. Seketika saja muncul qi seperti aliran air jernih membentuk anak panah. Sedetik kemudian, anak panah tersebut melesat cepat menghantam kedua orang tersebut.


Tanpa tahu siapa pelakunya, kedua cultivator aliran hitam tersebut terjatuh ketanah dengan dua lubang yang menembus jantung mereka. Darah segar mulai membasahi tanah, jelas raut wajah terkejut dari kedua mayat cultivator tersebut.

__ADS_1


Yang Jian menyeringai puas, tidak menyangka jika percobaan pertamanya terhadap jurus tersebut tidak buruk. Tanpa membuang waktu, Yang Jian mulai meluncurkan satu persatu anak panahnya, menembus jantung dan nadi setiap cultivator aliran hitam. Mereka semua terbunuh hanya dalam satu serangan akibat perpaduan antara pusaka tingkat bumi tahap akhir dan kemampuan pengendali qi Yang Jian.


Keberuntungan berada di pihak Yang Jian, tidak butuh waktu lama baginya melenyapkan semua cultivator yang tengah berpatroli di luar tenda. Setelah itu, Yang Jian melompat ke tanah. Berjalan dalam diam memeriksa setiap tenda.


__ADS_2