Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 34: Turnamen Cultivator Muda IX


__ADS_3

"Masuklah, tidak perlu berterimakasih." Terdengar suara berat di kuping Yang Jian, tidak perlu mencari tahu siapa orang nya, dia adalah dragon.


Setelah Yang Jian dapat memasuki kamar tersebut dia langsung di suguhkan dengan pemandangan seorang gadis muda berjubah biru terbaring damai di atas tempat tidur.


"Syukurlah ini belum parah." Yang Jian menghela nafas pelan, dia mulai meminumkan ramuan yang tadi dia racik kepada gadis muda tersebut. Setelah itu dia meletakkan tangan nya di atas tangan gadis tersebut untuk membantu proses penyembuhan nya.


Tidak butuh waktu lama akhirnya ramuan tersebut menyebar keseluruh tubuh sang gadis. Perlahan-lahan raut wajah gadis itu mulai cerah dan tangan nya yang semula berwarna hijau kembali ke warna semula, putih mulus seputih giok.


"Seleramu memang tinggi. Putri mahkota Kekaisaran Qin...hm tidak buruk." Goda dragon, ternyata gadis muda yang di tolong Yang Jian adalah putri Qin Lienhua.


"Hanya menjalankan amanah, jangan berfikir sembarangan." Yang Jian tidak habis pikir dengan jalan pikiran dragon, apakah menyelamatkan nyawa seseorang berarti tertarik? Kebetulan dia memiliki penawarnya jadi tidak ada yang salah dengan tindakannya.


Perlahan-lahan mata putri Qin Lienhua mulai terbuka, dia mengerjapkan matanya untuk memperjelas pengelihatan nya. Qin Lienhua mulai mengingat kejadian terakhir saat dia bertarung dengan Qin Fanfan, ingin rasanya dia berbicara sekarang namun mulut nya tertutup rapat seolah tidak dapat dibuka.


'Yang Jian? Mengapa dia disini.' Kini pengelihatan putri Qin Lienhua mulai jelas, dia melihat surai perak Yang Jian yang melambai-lambai di hembuskan angin.


Namun seperti nya Yang Jian tidak menyadari bahwa Qin Lienhua sudah sadar karena Yang Jian masih sibuk menyembuhkan Qin Lienhua.


Sesaat kemudian Yang Jian berdiri dari duduknya, dia pergi ke arah jendela dan melesat pergi menghilang di kegelapan, formasi pelindung yang tadinya terbuka sudah menutup kembali seperti semula.


Aula pertemuan merupakan ruangan khusus yang di gunakan kaisar Qin untuk membahas sesuatu yang bersifat pribadi dan rahasia, aula tersebut mirip seperti ruangan rapat namun lebih kecil. Sekeliling aula juga di lengkapi dengam keamanan yang ketat untuk mencegah adanya penyusup yang mencuri dengar.


Di dalam aula pertemuan terdapat beberapa deretan kursi dan meja panjang, di bagian depan terdapat satu kursi megah berwarna kuning emas. Dikursi tersebutlah duduk seorang pria dengan jubah kebesaran nya menatap tajam seorang pria di hadapannya.

__ADS_1


"Maaf yang mulia biar hamba yang membantu menjelaskan masalah ini." Tetua Lin melihat amarah yang terpancar jelas dari raut wajah Kaisar Qin segera mengambil langkah, dia tidak ingin masalah ini menjadi lebih buruk kalau pihak dari mereka tidak lebih dulu memberi penjelasan.


"Aku tau dia bagian mu tapi apa hal ini berkaitan dengan mu?" Amarah kaisar Qin masih memuncak, dia yang biasanya sangat menghargai Tetua Lin tidak mengindahkan ucapannya. Tetua Lin tidak tersinggung, dia juga akan bersikap demikian apabila dia yang berada di posisi sang kaisar.


"Mohon maaf atas kelancangan hamba yang mulia, tapi apa tidak sebaiknya kita mendengar penjelasan mereka terlebih dahulu. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah tetapi hanya memperkeruh keadaan." Penasihat kerajaan kaisar Qin buru-buru menengahi, dia adalah tangan kanan kaisar Qin dan telah bersamanya sejak kaisar masih menjadi seorang pangeran. Itu sebab nya penasihat kerajaan berani menyela ucapan kaisar Qin.


Terlihat kaisar Qin mengepalkan tangan nya namun tidak mengucapkan apa-apa, pandangan nya masih terpaku di satu titik yaitu di posisi dimana tetua Qin Fen berada.


Kaisar Qin memandang Tetua Lin untuk memberi tanda agar memberinya penjelasan, Tetua Lin yang mengetahui apa maksud tatapan Kaisar Qin segera mengangguk penuh hormat dan berdiri. Tetua Lin menceritakan semuanya persis seperti yang di ceritakan tetua Qin sebelumnya.


Namun belum sempat tetua Lin menyelesaikan cerita nya terdengar suara ledakan di aula pertemuan tersebut.


'Duarrr.' Lampu yang berbentuk lampu lampion yang menjadi penerangan di ruangan tersebut seketika hancur berkeping-keping.


Permaisuri Tang Rourou yang terkejut sempat berteriak histeris, dan para tetua dari pihak Sekte Naga Awan juga tak kalah terkejutnya. Berbeda dengan penasihat kerajaan, dia terlihat santai dengan posisi berdirinya di belakang sebelah kanan kaisar Qin. Jelas bahwa hal ini bukan pertama kalinya dia hadapi.


"Yang mulia." Lirih Permaisuri Tang Rourou, setelah sekian lama Permaisuri Tang Rourou kembali melihat wajah penuh amarah sang kaisar. Hal itu membuat Permaisuri Tang gemetar sambil memegang erat jubah kebesaran Kaisar Qin.


"Apa kau mencoba mendongeng?" Geram Kaisar Qin mengabaikan tatapan memohon sang permaisuri.


Tetua Lin terdiam, memang di Kekaisaran Qin posisi seorang kaisar tidak di nomor satukan karena hanya yang kuatlah yang berada di puncak. Namun Kaisar Qin bukan manusia biasa, dia juga merupakan seorang cultivator. Tetapi praktiknya masih di bawah Tetua Lin, itu sebabnya Kaisar Qin masih menahan diri untuk tidak membunuhnya.


"Kau..."

__ADS_1


"Ampun yang mulia, ada hal penting yang harus hamba sampaikan." Seorang pengawal menerobos masuk kedalam aula pertemuan dengan nafas terburu-buru menghentikan ucapan Kaisar Qin.


Kaisar Qin yang masih tersulut emosi mengangkat tangan nya hendak menyerang pengawal tersebut, namun segera di hentikan Permaisuri Tang Rourou.


"Tenanglah yang mulia, beri dia kesempatan untuk menyampaikan informasinya."


"Kuharap hal ini memang penting. Karena jika tidak... Nyawamu taruhan nya." Ancam Kaisar Qin. Pengawal yang sedang berlutut tersebut menelan ludah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Dia sekuat mungkin melawan rasa takutnya dan memberi hormat sekali lagi sebelum menyampaikan tujuannya.


"Mohon maaf yang mulia, putri mahkota sudah sadar dan dia..."


"Apa katamu? Kau mencoba menipuku!" Kaisar tidak mendengarkan semua ucapan pengawal tersebut dan langsung menyelanya.


"Ampun yang mulia, saya tidak bermaksud menipu. Putri mahkota sekarang sedang berada di luar kamar sambil berlari." Tanpa menunggu perdebatan sang pengawal dengan Kaisar Qin, permaisuri Tang segera pamit undur diri dan berlari keluar ruangan.


Kaisar Qin yang melihat tindakan Permaisuri Tang mau tidak mau keluar juga menyusul.


~~


"Putriku! Putriku, syukurlah dewa. Kau sudah sadar nak? Apa ada yang sakit? Kau masih mengenali ibumu ini kan?"


Permaisuri Tang yang melihat Qin Lienhua di taman kamarnya segera berlari dan memeluk Qin Lienhua sambil menangis. Dia memutar-mutar tubuh Qin Lienhua untuk memeriksanya sambil menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.


Kaisar Qin dan yang lain nya juga telah berhasil menyusul Permaisuri Tang, mereka menghela nafas lega saat melihat bahwa benar putri Qin Lienhua telah sadar.

__ADS_1


"Ibu, anakmu ini masih hidup." Gumam pengawal yang tadinya menerobos masuk ke aula pertemuan. Dia menghela nafas lega dan segera berjalan pelan meninggalkan taman sebelum Kaisar Qin berubah pikiran.


__ADS_2