
Nyonya Meng menjelaskan bahwa mereka adalah pemimpin di desa tersebut, semacam kepala desa. Namun mereka kerap memanggilnya dengan sebutan ketua desa. Mereka terpilih bukan karena dipilih oleh masyarakat desa, namun karena mereka keluarga terkaya dan terkuat di desa tersebut.
Sehingga warga desa tunduk dibawah kepemimpinan keluarga tersebut, tunduk bukan karena menghormati pemimpinnya, namun karena rasa takut akan kekuasaan mereka. Kepemimpinan bukan karena rasa hormat yang tulus pasti akan menjadi serangan balik kepada sang pemimpin disaat terpuruk.
Yang Jian mulai memahami situasinya saat ini. Orang-orang serakah dan merasa diri sendiri paling kuat dan hebat sedang dia hadapi kali ini.
Sikap tenang dan waspada Yang Jian mampu membuat siapa saja tidak bisa membaca isi hati dan pikirannya. Yang Jian menatap sang wanita pemilik kedai, kemudian dia memiringkan kepalanya kearah kiri sambil menarik sudut bibir kanannya sedikit keatas.
"Baik, terimakasih." menarik nafas perlahan, Yang Jian mulai menyantap hidangan dihadapannya tanpa menghiraukan tatapan kesal dari meja sebelahnya.
~~
Langit malam bertambah kelam, perlahan tetes hujan mulai turun tanpa mengantri untuk menyapa tanah bumi. Semakin lama semakin banyak, namun tidak sampai hujan lebat.
Jiji yang sedang berjalan kaki mengelilingi desa kecil yang dia dan Yiyi singgahi mulai didatangi gerimis. Jiji kemudian berlari kearah sebuah pohon yang cukup besar dan rindang untuk berteduh.
Sudah kurang lebih dua jam dia mengelilingi desa, namun dia belum menemukan seorangpun yang bersedia mengulurkan tangannya untuk memberinya pekerjaan.
Perlahan-lahan Jiji mendudukkan bokongnya di akar pohon tempat dia berteduh. Menatap tetes-tetes hujan yang turun menyapa bumi. Seandainya Jiji bisa seperti hujan-hujan itu, dimana setiap tetesnya saling beriringan menjatuhi tanah.
"Mungkin aku dan Yiyi tidak akan merasa sesepi ini, mungkin kami akan memiliki teman. Atau mungkin sekarang kami masih bersama dengan ayah dan ibu. Selalu beriringan menuruni bumi, beriringin menjalani kehidupan seperti dulu."
Tanpa di sadari, setetes air bening jatuh dari sudut mata Jiji. Jiji menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sesak di dadanya. Membayangkan wajah pucat dan tubuh lemah sang adik membuat Jiji marah akan ketidakadilan yang menimpa mereka.
"Dimana lagi aku harus mencari pekerjaan? Ayah, ibu... Tolong bantu Jiji."
__ADS_1
Jiji menengadahkan kepalanya menatap langit malam. Matanya yang memerah seolah menuntut rasa sakitnya terhadap langit.
"Huft..." Sambil menarik nafas perlahan, Jiji berusaha melawan egonya. Bukannya saat nya untuk meratapi nasip, pikir Jiji.
~~
'Tok tok tok.'
"Siapa?" Walaupun sudah tahu siapa tamu yang mengetuk pintunya pagi ini, tetapi Yang Jian bersikap seolah-olah dia tidak mengetahuinya.
"Ini saya tuan muda." Nyonya Meng mengatakan bahwa makanan untuk sarapan pagi Yang Jian sudah siap dan meminta Yang Jian keluar kamar untuk makan pagi.
Setelah selesai mengisi energi untuk tubuhnya Yang Jian tidak langsung memasuki kamarnya dan meminta Nyonya Meng agar tidak mengganggunya sebelum dia sendiri yang memutuskan untuk keluar kamar.
"Aku tidak tahu berapa lama kita akan melakukan perburuan di Hutan Terlarang. Aku hanya ingin mempersiapkan diri untuk mempertahankan nyawaku."
"Jarak desa ini ke Kota Batu butuh tujuh hari perjalanan, dan yang kita lewati adalah hutan-hutan yang kita lewati seperti sebelumnya. Apa kau juga ingin mempersiapkan bekal selama perjalanan?"
"Apa aku terlihat seperti memikirkan sebuah bekal?" Yang Jian tidak habis pikir, apa dragon tidak bisa lebih serius sedikit berbicara dengannya?.
"Berhenti bercanda dragon, aku ingin melatih sebuah jurus. Jurus yang sempat tertunda aku pelajari." Yang Jian kemudian mengeluarkan sebuah kitab kuno. Kemudian mengeluarkan pedang kayu yang dia bawa saat petualangan pertamanya.
"Beri dia ruang!" Perintah dragon kepada dua raja siluman lainnya saat tahu bahwa Yang Jian ingin berlatih. Setelah bermeditasi selama sejam untuk menambah pengetahuannya terhadap jurus di dalam kitab kuno tersebut, Yang Jian berjalan ketengah lapangan kediamannya.
Dengan memantapkan hatinya, dengan tekad dan demi tujuan hidupnya perlahan-lahan Yang Jian mencabut pedang kayu tempahan Xiao Ming dari sarungnya. Dia mulai memasang kuda-kuda awal untuk memulai jurusnya.
__ADS_1
Satu, dua, tiga... Setiap satu hitungan maka satu gerakan juga tercipta. Tubuh yang seolah-olah menyatu dengan pedang membuat setiap gerakan Yang Jian tampak sempurna tanpa cela.
'Bom bom.' Bunyi ledakan akibat energi yang tanpa sengaja Yang Jian lepaskan menghantam pepohonan di sekitar kediamannya. Dragon dan dua raja siluman lainnya juga semakin mengambil jarak dari lokasi latihan Yang Jian.
Sambil memejamkan matanya, Yang Jian mulai mengulangi gerakannya. Mengetahui tanpa melihat, merasakan tanpa menyentuh. Itulah yang ingin Yang Jian pelajari sekarang.
Dia ingin seperti itu, mampu mengetahui dimana musuh dimana kawan tanpa melihat langsung, dan mampu merasakan kehadirannya tanpa menyentuh objek secara langsung. Ya insting, instinglah yang ingin dipertajam Yang Jian.
Gesekan pedang Yang Jian dengan udara di sekitarnya menimbulkan suara nyaring, tubuh yang menyatu dengan jurus membuat Yang Jian seperti tidak sedang mempelajari sebuh jurus, namun jurus itulah yang sedang mempelajari Yang Jian.
Siluman Kingkong dan siluman kalajengking menatap Yang Jian dengan takjub, bola mata mereka mengikuti setiap arah gerakan Yang Jian seperti telah terhipnotis.
"Tuan benar-benar luar biasa."
"Kau benar, ini pertama kalinya aku melihat tuan berlatih. Tidak salah kita menjadi pengikutnya."
Tanpa ada yang menyadari, diam-diam dragon juga memperhatikan Yang Jian. Dia yang biasanya tidak peduli dan selalu tidur kini membuka mata untuk menyaksikan perkembangan latihan tuan mudanya tersebut. Meski masih jauh dari kata kuat, namun perkembangan praktik Yang Jian terbilang cukup cepat. Kepiawaian Yang Jian dalam memainkan pedang menjadi daya tarik tersendiri baginya.
Dragon yakin, jika Yang Jain mempertahankan ketekunan latihannya seperti ini, bukan tidak mungkin Yang Jian akan menjadi monster di masa depan.
Yang Jian menyudahi sesi latihannya. Melihat dunia luar semakin jauh ternyata semakin menyadarkan Yang Jian pula untuk menyadari betapa kecilnya kekuatan yang dirinya miliki. Terbukti dari kepergiannya saat ini.
Yang Jian memilih pergi karena dia merasa jika dirinya lemah dan tidak mampu mempertahankan posisinya di sekte dan berujung dengan melibatkan Chang An. Pria yang berstatus Guru sekaligus kakak bagi Yang Jian.
Itu sebabnya, muncul tekad kuat dari dalam hati dan pikiran Yang Jian untuk meningkatkan kekuatan dan praktiknya. Agar tidak ada lagi yang memandang rendah dirinya dan bersikap semena-mena demi.kepuasan semata serta keserakahan demi kepentingan pribadi.
__ADS_1