
Sesungguhnya Chen Tianzy sudah menduga jika gadis yang bersama Kakak Tampannya memiliki identitas yang tidak sembarangan kala mendengar gadis itu menyebut namanya. Bagi Chen Tianzy, untuk mendapatkan info bukanlah hal sulit. Jika dia ingin, dia bisa saja mendapat seluruh informasi siapa saja yang dirinya inginkan.
Namun Chen Tianzy tampaknya tak ambil pusing. Namun saat mereka tengah melakukan perjalanan dan mendengar para warga menyebut nama Qin Lienhua sebagai Putri Mahkota membuat Chen Tianzy sedikit terkejut.
'Ternyata benar.' Gumam Chen Tianzy dalam hati. Chen Tianzy sedikitpun tidak menunjukkan ekspresi menyesal telah bersikap tidak sopan sebelumnya walaupun sudah mengetahui identitas Qin Lienhua.
Qin Lienhua sengaja melirik Chen Tianzy untuk melihat tanggapannya, namun sikap acuh tak acuh Chen Tianzy membuat Qin Lienhua bertambah bingung.
'Apa dia tidak mendengar sapaan para warga?' Batin Qin Lienhua heran.
Kemudian Qin Lienhua mengalihkan tatapannya kepada Yang Jian yang masih bersiap tenang. Terkadang Qin Lienhua berpikir bagaimana bisa seseorang bisa begitu sulit untuk dipahami. Yang Jian seolah membangun tembok raksasa di dalam dirinya agar tidak satupun diantara orang-orang tersebut mampu untuk menembus pertahanannya.
Yang Jian juga terlalu misterius dan sulit untuk di dekati. Tampaknya butuh usaha yang besar bagi Qin Lienhua untuk dapat berteman dengan pemuda penyelamatnya tersebut.
Qin Lienhua masih menatap lekat Yang Jian, namun pikirannya jauh berkelana. Chen Tianzy yang menyadari itu memasang wajah cemberut, dia tidak ingin gadis itu memandang kakak tampannya begitu lekat.
'Cih, apa hebatnya menjadi seorang Putri Mahkota. Jika aku ingin, aku bisa saja meratakan istanamu!' Gerutu Chen Tianzy sambil menghentakkan kakinya kesal.
Yang Jian terlihat tampak tenang dari luar, namun tidak ada satupun yang mampu menebak isi pikiran pemuda itu. Yang Jian yang memiliki tingkat kepekaan yang tinggi menyadari drama yang dilakukan dua gadis di sebelahnya.
Sesungguhnya Yang Jian memiliki pemikiran yang sama dengan Qin Lienhua, mengapa Chen Tianzy tampak tidak terganggu akan identitas Qin Lienhua, dan malah bersikap acuh seolah gelar itu tidak berarti apa-apa bagi Chen Tianzy.
Yang Jian yakin, walaupun gadis kecil itu bersikap menyebalkan, namun dirinya juga bukan orang sembarangan. Kini Yang Jian memilih diam, selagi dirinya tidak mengganggu orang-orang berkuasa yang dapat mempersulitnya. Maka Yang Jian tidak perlu memusingkan apapun.
__ADS_1
Yang Jian, Qin Lienhua dan Chen Tianzy terus berjalan. Namun tidak ada pembiraan yang keluar dari mulut ketiganya. Sampai saat tiba di depan gerbang belakang Sekte Awan Putih, tampak lima orang pemuda yang tengah terduduk ditanah sambik membungkuk lemah dan dikelilingi oleh beberapa pemuda lainnya.
Gerbang belakang adalah gerbang yang dilalui oleh orang-orang yang bertugas untuk merawat bangunan sekte, jadi para murid sekte jarang terlihat di tempat semacam ini. Namun kini sebaliknya, tampak di kerumunan tersebut memakai jubah yang sama, yaitu jubah khusus Sekte Awan Putih.
"Apa yang terjadi? Sepertinya tengah terjadi perundungan." Gumam Qin Lienhua sambil mengamati kerumunan yang tidak jauh dari posisi mereka. Yang Jian juga tampa memperhatikan kerumunan tersebut.
"Beraninya Murid Luar seperti kalian. Kalian hanya sampah di tempat ini."
"Mengapa kalian begitu besar kepala."
"Menjadi Murid Dalam? Cih, bermimpi saja."
Para murid yang mengelilingi lima murid lainnya yang terluka tebus mengejek dan tidak segan meludahi. Salah satu diantara mereka bahkan menginjak kepalanya sambil tertawa lebar.
Sementara itu, kelima murid yang dirundung tampak memiliki banyak luka di beberapa tempat, darah segar masih terus menetes dari luka mereka. Namun tidak ada rintihan kesakitan keluar dari mulut mereka.
Yang Jian mulai meraskan gejolak aneh saat melihat orang yang dirinya kenal dalam kerumunan itu, lebih tepatnya para murid yang tengah mengalami perundungan adalah Saudara Ling dan kelompoknya.
Dengan langkah tenang, Yang Jian mendekati kerumunan itu. Melihat Yang Jian mulai melangkah tanpa mengatakan apapun, baik Qin Lienhua maupun Chen Tianzy mengikuti langkah Yang Jian.
"Beraninya kau mengabaikanku." Pemuda yang paling berkuasa di tempat itu mengangkat pedangnya tinggi kemudian mengarahkan ujung pedang tepat kearah Saudara Ling.
Saudara Ling yang melihat kilatan pedang yang tepantul dengan sinar dan mengarah kepadanya bergetar ketakutan. Tubuhnya begitu lemah membuatnya sulit untuk bergerak. Saudara Ling memejamkan matanya saat pedang tersebut mulai meluncur ke bawah.
__ADS_1
'Clinggg!'
Bunyi gesekan pedang terdengar. Dua pedang yang saling beradu saling terhempas jauh.
Saudara Ling sedikit terkejut dan membuatnya membuka mata. Pemandangan pertama yang dirinya lihat adalah punggung tegap seorang pemuda dengan jubah hitam dan surai perak panjang yang berkibar indah.
Sudut mulut Saudara Ling terangkat begitu menyadari siapa pemuda itu."Senior." Gumam Saudara Ling pelan.
Kelompok Ling yang mendengar gumaman Saudara Ling pulih dari keterkejutan, keempat pemuda itu juga menatap Yang Jian yang berdiri memunggungi mereka. Rasa lega mereka dapatkan ketika melihat kedatangan sosok bersurai perak tersebut.
Qin Lienhua dan Chen Tianzy yang sebelumnya mengejar langkah Yang Jian begitu terkejut melihat Yang Jian yang tiba-tiba menghilang dan muncul tepat di dalam kerumunan. Terlebih lagi Yang Jian mampu menggagalkan serangan pedang dengan pedang lainnya. Padahal Qin Lienhua jelas tahu sekali jika sebelumnya Yang Jian tidak memegang pedang apapun.
Semua itu terjadi begitu cepat membuat Qin Lienhua tidak mampu menangkap pergerakan Yang Jian. Praktik Qin Lienhua saat ini berada pada tingkat Cultivator Puncak Warior Star. Pencapaian yang begitu luar biasa untuk anak seusianya. Bahkan Qin Lienhua masuk kedalam jajaran cultivator muda yang jenius bersama si kembar Liu dari Sekte Harimau Merah.
Walaupun usia Qin Lienhua dan si kembar Liu berbeda empat tahun. Namun mereka dimasukkan kedalam generasi yang sama.
Qin Lienhua mengamati Yang Jian, Qin Lienhua baru menyadari jika dirinya tidak mampu mendeteksi tingkat praktik Yang Jian. Hal itu membuat Qin Lienhua semakin penasaran akan sosoknya. 'Ah, dia terlalu sulit.' Batin Qin Lienhua.
Pemuda yang semula berniat mengacungkan pedangnya kepada Saudara Ling terkejut akan kemunculan tiba-tiba Yang Jian. Yang Jain bagaikan roh yang tiba-tiba datang tanpa pemberitauan apapun.
Pemuda itu belum lepas dari keterkejutannya saat menyadari punggungnya mulai mengeluarkan keringat dingin, diikuti dengan tubuhnya bergetar hebat.
Para murid yang berada di tempat itu juga bereaksi yang sama. Tubuh mereka tiba-tiba kaku dan kedinginan tanpa sebab. Hati mereka tiba-tiba saja merasa ketakutan yang luar biasa.
__ADS_1
"Lancang!"
Satu kata penuh ketegasan dan penekanan membuat suhu udara tiba-tiba menurun drastis.