Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 76: Keluarga Wang


__ADS_3

Keluarga Mu bukanlah keluarga yang memiliki reputasi yang kuat di Kota Batu, hanya keluarga pedagang kecil yang bergerak dibidang makanan saji dan memiliki tiga restoran yang cukup diminati. Keluarga Mu Juga bukan keluarga bangsawan, tetapi saat salah satu anggota keluarga, yaitu anak tertua keluarga Mu masuk menjadi murid luar disalah satu sekte menengah aliran putih membuat keluarga ini menjadi sedikit dipandang.


Putra tertua keluarga Mu bernama Weng dan putra bungsunya bernama Wang. Weng dan Wang adalah saudara kembar. Namun keduanya memiliki bakat yang berbeda, Weng yang memiliki bakat cultivator dan Wang berbakat dibidang ekonomi mengikuti jejak orangtuanya.


Karena reputasi keluarga Mu yang semakin dipandang orang membuat salah satu putranya, yaitu Wang memiliki kesempatan bertunangan dengan salah satu putri keluarga kaya raya di kota tersebut, yaitu Meimei.


Kedua keluarga telah menentukan waktu dilangsungkannya pernikahan, dan tentunya disambut hangat oleh setiap anggota keluarga. Apalagi pernikahan dua keluarga ini akan semakin menguatkan posisi ekonomi keluarga mereka di Kota Batu.


Namun sebuah insiden menimpa Wang yang menjadi awal penyebab putusnya perjanjian nikah Wang dan Meimei. Hal itu juga yang menjadi penyebab retaknya hubungan dua keluarga tersebut.


Kabar yang mengatakan seorang remaja lelaki bersurai perak yang bernama Yang Jian memotong kedua tangan Wang dan menyiksanya hingga berada di antara hidup dan mati membuat keluarga Meimei memutuskan pertunangan secara sepihak. Alasan utamanya adalah jika keluarga Meimei tidak terima jika menantu dikeluarganya cacat fisik.


Weng yang tidak terima harga diri keluarganya di injak-injak melakukan pemeriksaan untuk mencari tahu siapa orang dibalik semua insiden yang menimpa Wang. Mengandalkan pengaruhnya sebagai salah satu murid luar Sekte Awan Putih, Weng menekan perekonomian keluarga Meimei dan membayar cultivator untuk menangkap Yang Jian.


Seperti saat ini, orang suruhan Weng sedang menahan Yang Jian di depan gerbang kota karena salah satu ciri-ciri yang di jelaskan Weng ada pada dirinya, yaitu rambut perak Yang Jian yang berbeda dari yang lainnya.


"Tuan muda, bukan maksud lancang mengganggu waktu penting anda. Tetapi kami harus menahan anda sejenak sebelum tuan kami tiba." Salah satu pemuda yang berpakaian layaknya pengawal mengajak Yang Jian berbincang untuk mengulur waktu.


Pemuda tersebut tanpak berhati-hati saat berbicara dengan Yang Jian, hal itu dikarenakan dirinya tidak mampu membaca praktik Yang Jian, namun aura yang keluar dari tubuhnya sungguh tidak biasa dan menandakan bahwa Yang Jian bukan orang sembarangan.


Yang Jian tidak protes saat dua orang pengawal meninggalkan gerbang utama, yang diyakini adalah orang yang akan memanggil tuan mereka. Saat Yang Jian menoleh kesekeliling, dia mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini?" Nada suara Yang Jian dalam dan dingin, pertanda bahwa dia tidak suka cara pengawal tersebut memperlakukannya.


Mendengar bahwa orang-orang di depannya sampai harus memanggil tuannya untuk memeriksa Yang Jian sudah membuat tanda tanya besar di benaknya. Dan kini, para pengawal tersebut membiarkan setiap orang lewat dan menjaga Yang Jian layaknya seorang tersangka.


Di depan gerbang tersebut ada empat pengawal yang tersisa, dua diantaranya berada di depan Yang Jian dan dua lagi berdiri agak jauh di samping kiri dan kanan Yang Jian. Tetapi jelas sekali bahwa mereka sedang waspada jika Yang Jian berniat melarikan diri.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini tuan muda, tetapi ada hal penting yang tidak bisa kami jelaskan. Mohon bersabar sebentar lagi menunggu tuan kami tiba." Pemuda yang sebelumnya berbicara dengan Yang Jian mencoba bersikap tenang, namun sebenarnya punggungnya sudah bergetar hanya mendengar suara Yang Jian saja.


"Apa aku harus menunggu saat kau memerintahkanku untuk menunggu?" Sorot mata Yang Jian berubah tajam, setajam mata elang. Keempat pria tersebut sontak mundur satu langkah dengan punggung gemetar.


Mereka seolah meresakan ada energi kuat yang menguar selama satu detik yang membuat lutut mereka melemas. Namun tidak dapat mendeteksi dari mana arah datangnya energi tersebut.


"Kami sudah berbicara baik-baik tetapi kau tidak mau mengerti, sepertinya kekerasan lebih cocok untukmu" Sambil menatap Yang Jian dengan tatapan tanpa rasa takut dan menantang, pemuda yang sama kembali menguatkan hatinya untuk memperingati Yang Jian.


"Kau bukan di posisi dimana kau berhak mengaturku." Bersamaan dengan itu, Yang Jian mengaktifkan ilmu guanghannya dan menekan para pengawal. Tiba-tiba mata keempat pengawal tersebut melotot lebar, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Perlahan-lahan tubuh mereka merosot ketanah seperti ada bebatuan ratusan kilo yang menimpa tubuh mereka.


"Apa yang terjadi? Mengapa mereka berlutut?"


Terdengar bisikan orang-orang yang masih setia mengamati Yang Jian dan keempat pengawal.


"Mereka sedang menghitung jumlah semut di tanah." Tandas Yang Jian sambil berlalu meninggalkan gerbang kota. Para warga yang mendengar jawaban Yang Jian serentak menatap ketanah dan mencari semut yang Yang Jian katakan, namun tidak menemukan apapun.

__ADS_1


Tak berapa lama seorang pemuda datang bersama dua orang lainnya di belakangnya, pria itu mengenakan jubah bermotif awan putih, pria tersebut adalah Weng dan dua pengawal yang sebelumnya menjemputnya.


"Dimana dia? Dan apa yang sedang kalian lakukan disitu?" Weng merasa heran melihat bawahannya sedang berlutut di atas tanah dengan posisi kepala tertunduk.


"Mereka sedang menghitung jumlah semut di tanah." Seorang pria tua yang masih berdiri di depan gerbang kota menjawab persis dengan jawaban Yang Jian.


"Apa aku memintamu berbicara?" Sahut Weng dengan angkuhnya, dia kemudian menghampiri keempat bawahannya. Saat Weng mengangkat salah satu pengawal, betapa terkejutnya dia saat melihat darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya ditambah lagi keringat dingin yang membasahi seluruh wajah mereka.


"Beraninya! Jadi kau mencoba bermain-main denganku? Baiklah, aku ikuti cara mainmu." Sambil menatap jauh, Weng mengepalkan erat tangannya.


~~


Kini Yang Jian sedang makan di sebuah kedai makan berlantai dua yang cukup besar. Yang Jian memesan sepiring roti berisi daging panggang, secangkir susu murni dan beberapa kudapan lainnya. Duduk selama kurang lebih setengah jam sambil menikmati sajian di hadapannya membuat Yang Jian akhirnya paham mengapa dia ditahan di gerbang kota sebelumnya.


Kini seluruh tatapan pengunjung kedai mengarah ke meja Yang Jian, Yang Jian sengaja memilih meja paling sudut dekat jendela. Hingga saat dirinya menjadi pusat perhatian, dia seolah sedang di dorong lebih jauh kesudut ruangan.


"Hei, apakah kau buronan keluarga Mu?" Seorang pria yang sedang makan bersama seorang wanita yang sepertinya adalah kekasih wanita tersebut terang-terangan menuduh Yang Jian. Membuat semua pengunjung semakin menatap tak suka terhadap dirinya.


Yang Jian terus melanjutkan memakan cemilannya, bahkan dia tidak menoleh sedikitpun.


"Wah, ternyata kau sungguh berani. Pantas saja kau menjadi buronan." Tambah pemuda itu, hingga mengundang tawa sinis dari yang lain.

__ADS_1


"Kau bisa memilih, menutup mulutmu sendiri atau aku yang menutupnya." Ucap Yang Jian tanpa sedikitpun menatap pemuda tersebut.


__ADS_2