Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 80: Weng


__ADS_3

"Jika tidak salah, kita hanya perlu memastikan dragon melewati siklus ini dengan selamat."


Kini Yang Jian, Jiji dan Yiyi berada di depan kediaman dragon, tempat dimana kristal air berwarna merah menyelubungi seluruh tubuh dragon dan membekukannya. Ada sedikit ada aliran-aliran listrik yang sesekali tampak di permukaan kristal tersebut.


"Tetapi aku tidak mengerti, berapa lama kita harus menunggu sampai siklus ini berakhir. Berapa lama dragon harus merasakan pahitnya dalam siksaan di dalam sini." Yang Jian mencoba meraih kristal yang di selimuti aliran listrik itu, ada perasaan familiar di hatinya. Seolah ini bukan kali pertama melihat dan merasakannya.


"Apa ada hal tertentu yang harus kita lakukan kakak? Atau adakah sesuatu yang dibutuhkan dragon untuk melewati siklusnya?" Tanya Jiji dengan raut wajah serius. Selama ini, pembawaan Jiji memang selalu serius, tetapi kali ini tampak murni bahwa dirinya juga begitu mengkhawatirkan kondisi dragon.


"Saat dimana puncak siklus terjadi, akan ada tanda-tanda tertentu sama seperti ketika dragon mengkristal. Dan saat itulah kita harus ikut andil menyalurkan energi kita untuk membantu proses penyelesaiannya dan mengurangi rasa sakit dragon." Ucap Yang Jian panjang lebar.


"Apakah kita hanya akan menunggu dan tidak melakukan apa-apa?" Timpal Yiyi.


"Untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu. Kita hanya perlu memastikan kondisi dragon baik-baik saja, dan selalu memantaunya. Laporkan perkembangan apa saja yang terjadi pada dragon, bahkan hal kecil sekalipun tidak boleh terlewatka." Tegas Yang Jian memberi perintah terhadap pengikutnya.


Yang Jian, Jiji dan Yiyi keluar dari Dunia Surgawi dan kembali ke penginapan. Tetapi belum sempat mereka bernafas dengan benar, suara ribut-ribut terdengar dari depan pintu penginapan. Dan Yang Jian jelas sudah mengetahui dengan jelas apa alasannya.


"Sepertinya mereka sedang mencari kakak." Ucap Yiyi. Yang Jian tidak menjawab ucapan Yiyi, dengan kedua tangan tersilang di belakang punggungnya, dengan santai Yang Jian melangkah turun dari lantai dua menuju lantai pertama untuk menyelesaikan masalahnya.


"Keluar kau b*jing*n! Tidakkah kau malu akan dirimu sendiri. Bersembunyi dibalik bangunan tua dan menghindariku? Kau sungguh memalukan dan menyedihkan. Sampah seperti dirimu memang pantas untuk dibunuh."


Dengan suara lantang dan dipenuhi amarah, Weng berteriak memaki Yang Jian di depan pintu penginapan, disana dia diikuti oleh empat pria yang masing-masing dua orang berdiri disebelah kiri dan kanannya. Serta beberapa pemuda yang mengenakan jubah Sekte Awan putih dan jubah khusus keluaraga Mu berdiri tegak di belakang Weng.


Suara keras Weng menarik perhatian banyak orang, Weng sengaja mengulang-ulangi ucapannya dengan keras. Dirinya sengaja berbicara menggunakan qinya agar terdengar oleh orang yang jaraknya cukup jauh dari penginapan. Entah apa yang Weng rencanakan, tentunya ini bukan hal baik bagi Yang Jian.

__ADS_1


"Jangan sampai aku menghancurkan penginapan ini baru kau keluar!" Weng sungguh telah kehilangan kesabarannya. Dia bahkan tidak memperdulikan pria pemilik penginapan beserta pelayannya memohon agar tidak mencari keributan di penginapan mereka.


"Tolong jangan lakukan itu Tuan Weng, urusan Anda tidak berhubungan dengan penginapan milik hamba. Anda tidak bisa begitu saja menghancurkan penginapan ini."


Seorang pria dengan perawakan sama dengan Weng berbicara hormat. Badannya tegap dan gagah, pakaian yang dia kenakan cukup tipis sehingga tampak menonjol bayangan otot-otot keras dibalik baju tersebut.


"Berani sekali kau menentang perkataan Senior Weng! Kau tidak mengenalnya? Dia bahkan mampu membeli nyawamu jika dia mau." Seorang pria berjubah yang sama dengan Weng membentak pemilik penginapan.


Weng yang mendengar pujian akan dirinya semakin menegakkan badannya dan mengangkat tinggi dagunya dengan sombong.


"Hanya tiga detik. Aku hanya akan memberi waktu tiga detik sampai b*jing*n itu keluar dari tempat persembunyiannya. Jika tidak..."


"Jika tidak?" Dengan langkah pasti dan sorot mata tajam, Yang Jian melangkahkan kakinya melewati pemilik penginapan dan berhenti lima meter dari jarak Weng berdiri.


"Anda tidak sampai harus dengan repot membawa begitu banyak pengawal dan bawahan hanya untuk menemuiku. Apa aku begitu berharganya bagimu? Atau, kau takut jika datang kemari hanya seorang diri? Ah, hanya seginikah keberanian seorang Tuan Muda Weng?"


Jiji dan Yiyi yang baru saja turun menatap Weng dan pengikutnya satu persatu, kemudian tatapan mereka beralih ke beberapa pengunjung, pemilik penginapan dan pelayannya. Mereka sedikit menyunggingkan senyum saat Yang Jian berhasil menjatuhkan reputasi Weng di depan umum.


"Mulutmu sungguh berbisa. Pantas saja, perbuatanmu juga tak kalah liciknya."


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Yang Jian tanpa berbasa-basi.


"Kepalamu! Aku menginginkan kepalamu."

__ADS_1


"Lalu?"


"Lalu?" Weng mengerutkan keningnya, apakah permintaanya tidak cukup jelas. Dirinya sudah dengan jelas mengatakan bahwa dia menginginkan kepala Yang Jian sebagai ganti karena telah melukai adik kembarnya, sehingga Wang lumpuh dan hanya bisa berbaring di atas tempat tidur dari tahun ke tahun.


"Kau menyakiti adikku dan membuatnya lumpuh. Kau juga yang menjadi penyebab harga diri keluargaku di injak-injak. Maka sebagai gantinya kau harus membayar atas semua ini."


"Dan kau menginginkan kepalaku sebagai gantinya?"


"Ya dan bukan. Karena kau menyebabkan dua kerugian maka kau juga harus membayar dua kerugian itu. Pertama, kau harus membayar kerugian atas penghinaan keluargaku yaitu lima ribu koin emas dan lima jenis sumber daya bagi cultivator. Dan kedua, kau harus menyerahkan kepalamu sebagai ganti karena telah melumpuhkan adikku."


"Aku mengerti." Setelah itu Yang Jian memutar tubuhnya, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Weng yang menatap bingung Yang Jian.


"Brengsek!" Tangan kiri Weng meraih gagang pedang yang terselip rapi di pinggngnya, kemudian dengan mengalirkan sedikit qi ke dalam pedangnya, dan dalam hitungan detik pedang tersebut terayun mengincar leher Yang Jian.


'Wushh...Tap.'


Saat jarak pedang dan belakang leher Yang Jian tinggal satu inchi lagi. Dua jari terbuka Yang Jian menangkap dan menghimpit ujung pedang Weng tanpa sedikitpun Yang Jian membalikkan kepalanya.


'Takkk.' Kemudian dengan satu tarikan tangan, Yang Jian berhasil melepaskan pedang Weng dari tangan Weng.


Aksi Yang Jian sontak membuat Weng dan pengikutnya mundur satu langkah. Dengan Yang Jian menangkap pedangnya menggunakan jari sudah membuat tangan weng bergetar, apalagi sekarang dengan mudah Yang Jian mampu melepaskan pedang dari tangannya.


"Tidak sepantasnya jika cultivator aliran putih menyerang secara diam-diam."

__ADS_1


"Apa bedanya denganmu? Kau juga menyerang bahkan melumpuhkan adikku. Lalu sebutan apa yang pantas untukmu?" Sambil menguatkan kembali hatinya, Weng menegakkan badannya dan membalas tatapan Yang Jian yang sudah berbalik melihat ke arahnya dengan tatapan dingin.


__ADS_2