Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 66: Lebah


__ADS_3

Pohon yang sama, tumbuhan dan rumput yang sama menjadi suguhan pertama Yang Jian ketika sampai di Hutan Terlarang, sekilas dia tidak dapat merasakan ada yang aneh dari tanah pijakannya dan merasa seolah orang-orang terlalu melebih-lebihkan cerita mengenai betapa berbahayanya hutan tersebut.


Yang membedakan nya hanyalah ukuran pepohonan yang diluar perkiraan Yang Jian, besar dan tumbuh menjulang tinggi. Hingga Yang Jian tidak dapat merasakan bahwa adanya sinar matahari. Memikirkan sinar Yang Jian menoleh keatas. Dan benar, rimbunnya daun pohon membuat akses masuk sinar matahari menjadi tertutup.


Yang Jian kemudian menoleh kembali kebelakang, namun dia tidak dapat melihat sungai yang dia lewati sebelumnya bahkan dragon juga menghilang dari tempatnya. Hal tersebut membuat Yang Jian sedikit gelisah memikirkan keberadaan dragon.


"Dragon." Panggil Yang Jian karena merasa penasaran. Namun tidak ada sahutan dari dragon yang membuat Yang Jian semakin merasa was-was dan gelisah.


"Apa kau ingin pulang?" Akhirnya suara berat tersebut menyapa indera pendengaran Yang Jian. Yang Jian tidak menjawab, yang dia butuhkan sekarang adalah mengetahui keberadaan makhluk tersebut, bukan ingin berdebat dengannya.


Setelah memastikan keberadaan dragon, Yang Jian juga mengajak dua raja siluman beserta Jiji dan Yiyi berkomunikasi untuk memastikan mereka. Apakah Yang Jian masih bisa menggunakan dimensi miliknya tersebut atau tidak.


Tak lama kemudian Yang Jian melangkahkan kaki memasuki Hutan Terlarang. Sepanjang jalan Yang Jian belum menemukan adanya tanda-tanda keanehan apapun, sampai ketika dia menemukam sebuah gua yang sekeliling dan mulut gua tersebut ditumbuhi lumut dan tanaman dengan warna-warni bunga yang menghiasi pintu masuk gua. Sekilas tampak depan gua tersebut seperti taman bunga.


Karena penasaran, dan karena Yang Jian juga membutuhkan tempat beristirahat selama dia menetap di hutan tersebut. Yang Jian memutuskan untuk memasuki gua, mencari tahu apa isinya.


Saat memasuki gua, Yang Jian melihat dinding-dinding gua dipenuhi oleh tanaman dengan ragam bunga berbagai warna, ada juga tanaman anggrek yang menggelantung di atap gua. Bunga-bunga tersebut mengeluarkan aroma yang sangat harum.


Yang Jian yakin bahwa kupu-kupu dan lebah akan langsung tertarik untuk mencicipinya hanya dengan mencium baunya saja. Namun yang membuat Yang Jian bingung adalah dia tidak menemukan satupun hewan penghisap sari dan madu bunga di sepanjang jalan menuju dalam gua.

__ADS_1


Lama berjalan, Yangg Jian belum menemukan sesuatu yang menarik perhatian. Tetapi Yang Jian tetap melangkahkan kakinya memasuki gua lebih dalam lagi.


Tiba-tiba Yang Jian melangkahkan kakinya, indera pendengarannya menangkap suara dengungan lebah yang cukup kuat. Hal ini manunjukkan bahwa lebah tersebut berjumlah besar. Namun suara dengungan tersebut perlahan-lahan menusuk gendang telinga Yang Jian, semakin lama semakin sakit.


Yang Jian menutup kupingnya menggunakan kedua tangannya karena tidak tahan akan suara bising yang menusuk telinganya. Namun semakin lama suara tersebut semakin menyakiti gendang telinga Yang Jian, hingg akhirnya dia melapisi indera pendengarannya menggunakan qi untuk menghalau rasa sakit yang semakin membuat kupingnya panas.


Setelah dirasa cukup baik, akhirnya Yang Jian mengikuti sumber suara. Dia melihat sebuah lorong kecil yang tampak gelap, dari balik bebatuan gua tersebut dan wangi madu juga semakin menusuk hidung, Yang Jian mencari celah untuk melihat sesuatu yang berada di balik lorong kecil itu.


"Apa itu? Mengapa bisa sebesar itu?" Betapa terkejudnya Yang Jian melihat segerombolan lebah yang sedang mengelilingi sarangnya seperti sedang menari.


Yang membuat Yang Jian tidak bisa menahan rasa kagumnya yaitu ukuran lebah yang diluar ekspektasinya. Bagaimana tidak, ukuran lebah-lebah tersebut hampir lima kali lipat lebih besar dari lebah pada umumnya dan warnanya juga hitam legam.


Yang Jian keluar dari balik tembok tersebut setelah menyembunyikan aromanya, dia mengendap-endap mendekati sarang lebah tersebut. Yang Jian sudah memikirkan cara untuk menaklukkan para lebah, yaitu dengan membakarnya.


Dengan hati-hati, Yang Jian mengumpulkan qi di telapak tangannya dan mengubahnya menjadi bola-bola api berukuran bola pingpong berputar-putar di atas kedua telapak tangannya.


Detik selanjutnya, bola-bola api tersebut meluncur dengan kecepatan tinggi dan menghantam lebah-lebah tersebut.


Para lebah yang terkena bola api Yang Jian langsung terbakar, lebah itu menjadi berterbangan tidak beraturan seiring dengan hantaman serangan api Yang Jian. Ada beberapa lebah yang langsung mati terbakar, namun beberapa lagi masih mampu bertahan hidup.

__ADS_1


Yang Jian dapat melihat bahwa lebah yang nyawanya sudah di ujung tanduk segera terbang cepat kearah sarangnya dan meminum sedikit madu. Setelah itu, dengan cepat lebah tersebut langsung sembuh dan kembali seperti sedia kala.


"Luar biasa, ini lebih ampuh dari pil penyembuhan." Rasa takjub Yang Jian semakin bertambah melihat betapa hebatnya khasiat madu untuk proses penyembuhan. Karena lebah yang mengkonsumsi madu tersebut langsung sembuh dalam hitungan detik.


Tidak seperti pil penyembuhan yang dibuat para alchemi yang proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


"Aku harus mendapatkannya." Ucap Yang Jian sambil tersenyum samar. Yang Jian mulai menutupi tubuhnya dengan herbal agar tidak mudah tersengat oleh lebah.


Namun sebelum Yang Jian sempat melumuri kaki dan tangannya, segerombolan lebah terbang dengan cepat kearah Yang Jian.


Lebah-lebah tersebut dengan ganas menyerang Yang Jian bergantian. Tak ingin tinggal diam, Yang Jian mengelak dari serangan lebah dan melakukan serangan balik menggunakan api yang jauh lebih besar dari sebelumnya


Satu persatu lebah tersebut tergeletak tak berdaya di atas tanah meregang nyawa, panasnya api Yang Jian mampu membakar lebah tersebut dan tidak membiarkannya sempat menyembuhkan diri.


Sudah hampir sejam Yang Jian membakar para lebah, namun Yang Jian baru berhasil menumbangkan sekitar lima puluh ekor lebah, setengah dari jumlah keseluruhannya. Namun belum ada satupun sengatan lebah yang mengenainya. Ratu lebah tersebut juga tampak belum bergerak bahkan setelah melihat setengah dari rakyatnya mati.


"Aku harus segera menyelesaikan ini." Yang Jian dengan gesit bergerak kesana kemari sambil melemparkan bola api. Kali ini bola api tersebut jauh lebih besar dan lebih panas dari sebelumnya.


Bola-bola api tersebut meluncur cepat dn bertabrakan dengan tajamnya bisa lebah. Namun, yang terjadi selanjutnya membuat Yang Jian tidak habis pikir.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ini terjadi?"


__ADS_2