
"Kurasa inilah tempat yang kita tuju."
Yang Jian, Jiji dan Yiyi telah berdiri di depan pintu masuk perpustakaan terbesar di Kota Batu. Menurut informasi, perpustakaan ini telah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan diyakini sudah melebihi seribu tahun.
Sehingga banyak orang yang mencari perpustakaan ini untuk menggali informasi tentang sejarah yang pernah terjadi sebeluh kelahiran mereka. Atau bahkan informasi tentang berdirinya suatu organisasi, sekte atau klan tertentu. Bahkan informasi umum mengenai kekaisaran juga.
Yang Jian memandang bangunan megah tiga lantai tersebut, kemudian mereka sama-sama memasuki perpustakaan menuju sebuah meja tempat pendaftaran anggota sebelum bisa menggunakan perpustakaan itu.
"Ada yang dapat kami bantu?" Pria penjaga meja bertanya kepada rombongan Yang Jian. Ini kali pertama Yang Jian mengunjungi perputakaan, sehingga dia tidak mengetahui pasti prosedur dalam perpustakaan.
"Kami hendak menggunakan perpustakaan ini untuk membaca buku." Jawab Yang Jian. Pria itu tidak langsung menjawab, dia menatap Yang Jian dan kedua temannya dengan seksama.
Yang Jian yang mengenakan jubah sutera halus berwarna putih bercorak biru, dengan rambut perak sepunggung dan terdapat ikat kepala yang melingkar indah di dahinya. Kini Yang Jian tidak lagi mengenakan topengnya, hingga seluruh wajahnya kini tampak memancarkan kharisma seorang pemimpin.
Jiji dan Yiyi juga mengenakan jubah sutera yang sama seperti Yang Jian, namun dengan warna yang berbeda dari Yang Jian. Jubah mereka berwarna cokelat muda dengan corak bunga dan daun kecil. Sangat pas melekat di tubuh mereka.
"Oh, jarang sekali ada pemuda pemudi seperti kalian yang tertarik menjadi seorang sarjana." Jawab pria itu setelah puas mengamati kelompok Yang Jian. Pria itu berpikir, jika melihat dari penampilan ketiga orang di hadapannya, jelas kalau mereka berasal dari kalangan keluarga bangsawan. Sebab jubah dengan kualitas sutera hanya mampu dibeli oleh para bangsawan dan keluarga kaya raya.
"Kalian hanya perlu membayar dua keping emas perorang sebagai biaya masuk kedalam perpustakaan ini. Setelahnya, kalian akan membayar tiga keping emas lagi saat keluar. Biaya ini beda jika kalian berniat membeli buku. Maka akan ada biaya tambahan untuk setiap pembelian." Jawab pria itu menjelaskan. Dia juga menambahkan bahwa Yang Jian harus mengisi data diri terlebih dahulu sebelum membayar biaya masuk.
__ADS_1
Jiji dan Yiyi sedikit menegang mendengarnya, dua keping emas bukan sesuatu yang perlu dipikirkan bagi Yang Jian. Namun hal itu berbeda bagi Jiji dan Yiyi. Mereka yang awalnya berasal dari keluarga yang berkecukupan di desa juga mengetahui dengan jelas mengenai penggunaan jumlah koin.
Lima koin emas sama dengan biaya hidup mereka sekeluarga selama sebulan penuh. Dan kini, pria di hadapannya meminta mereka membayar lima koin emas untuk membaca buku saja, dan bukan untuk membelinya? Rasanya mereka ingin muntah saat mendengar jumlah koin yang harus mereka bayar.
Yiyi menggenggam ujung jubah Yang Jian sambil menggelengkan kepalanya. " Kakak Yang, kami akan menunggu di luar, kakak bisa masuk sendiri ke dalam."
"Apakah kalain tidak memiliki koin yang cukup untuk membayar biayanya? Maka aku akan melakukannya untuk kalian." Tiba-tiba seorang pemuda menghampiri meja diikuti dengan dua temannya. Ketiga pemuda tersebut mengenakan jubah Sekte Awan Putih.
"Selamat datang Tuan Muda, lama tidak berkunjung." Pria penjaga meja menyapa denga hormat dan senyum menghiasi bibirnya. Dari cara pria tersebut, jelas bahwa pemuda yang baru saja tiba memiliki kedudukan di Kota Batu.
"Belakangan ini ada banyak masalah sekte, rumit untuk dijelaskan." Jawab pemuda itu sambil tertawa kecil.
"Ya. Tuan Muda benar, masalah sekte dan luar sekte pasti selalu ada. Sangat sulit untuk di prediksi." Sahut pria penjaga meja sambil tertawa juga.
Yang Jian merasa sedikit tidak nyaman akan pandangan pemuda itu, bukan tanpa alasan. Saat memandang kelompok Yang Jian, pemuda itu sedikit mengeluarkan energinya untuk mendeteksi apakah mereka seorang cultivator atau bukan.
Dan jelas, dua orang berjubah cokelat muda itu seorang cultivator, cultivator warior star tahap menengah. Sungguh pencapaian yang menakjubkan untuk anak seusia mereka. Jelas mereka merupakan murid jenius di sekte mereka.
Namun ada yang aneh, pemuda berjubah biru di hadapannya sama sekali tidak memiliki tanda-tanda bahwa dirinya seorang cultivator, sedikitpun aura tubuhnya tidak memancarkan energi cultivator. Tetapi yang membuat pemuda itu bingung, mengapa saat dia memandang Yang Jian, dia merasa seolah ada energi besar tak kasat mata yang melingkupi pemuda itu.
__ADS_1
Seolah mengatakan agar berhati-hati dan tidak mencari masalah dengannya. "Perkenalkan, namaku Lin Fan. Aku berasal dari sekte Awan Putih. Kalian..." Lin Fan menjeda bicaranya menunggu kelompok Yang Jian memperkenalkan diri.
"Kami hanya seorang pendatang." Jawab Yiyi dengan datar. Dia tidak mengetahui apakah pria di hadapannya orang baik atau bukan, yang jelas Yiyi tidak ingin bersikap baik untuk orang yang jelas tidak dia kenal.
Lin Fan mengangguk kecil, dia semakin yakin bahwa ketiga orang ini adalah cultivator aliran netral dan mereka tidak memiliki sekte sama sekali. Hal itu membuat senyum terbit di wajah Lin Fan, dia berpikir untuk merekrut mereka menjadi murid Sekte Awan Putih.
"Bagaimana dengan tawaranku tadi?" Tanya Lin Fan kemudian, dirinya tampak semakin tertarik kepada tiga orang di hadapannya. Terkhusus Yang Jian, pemuda misterius itu.
"Terimakasih atas kebaikan Anda Tuan, tetapi kami belum sampai ditahap dimana kami harus meminta koin hanya untuk memasuki perpustakaan." Dingin dan membekukan nada suara Yang Jian.
Awalnya dia tidak mempermasalahkan kelancangan Lin Fan menyela pembicaraan mereka. Walaupun terbilang tidak sopan, namun dia tidak ingin membuang waktu untuk masalah kecil.
Tetapi sejak Lin Fan, mendeteksi Yang Jian, Jiji, dan Yiyi membuat dirinya semakin tidak menyukai sifat Lin Fan. Menjadi hal yang tidak di perkenankan bagi setiap cultivator untuk saling mendeteksi praktik cultivator lainnya dengan terangan-terangan seperti yang Lin Fan lakukan.
Ditambah lagi, jika kebaikan Lin Fan memiliki maksud tersembunyi di baliknya membuat Yang Jian semakin yakin untuk tidak bersikap baik kepada Lin Fan.
"Ini, terimakasih untuk arahannya." Yang Jian meletakkan lima belas koin emas di atas meja dan dengan segera mengisi data diri mereka bertiga. Setelahnya mereka sama-sama meningalkan meja penjaga perpustakaan.
Lin Fan menatap Yang Jian hingga dia menghilang dibalik pintu. Lin Fan tidak tersinggung atas sikap Yang Jian, dia jelas mengetahui bahwa sikapnya memang tidak baik. Dia merasa bahwa ketiga orang dihadapannya hanya anak keluarga kaya yang tidak tahu peraturan dan seluk beluk seorang cultivator, itu sebabnya Lin Fan bersikap demikian.
__ADS_1
Tetapi Lin Fan salah prediksi, ternyata Yang Jian merasa tersiggung. Itu artinya Yang Jian mengetahui seluk beluk seorang cultivator.
"Menarik!"