Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 43: TCM XVIII


__ADS_3

Awalnya Yang Jian terkejut mendengar ucapan Qin Lienhua, kalau memang Qin Lienhua memanggilnya karena alasan tersebut, itu artinya dia melihat Yang Jian malam itu. Ini bukan pertanda baik bagi Yang Jian.


Sebisa mungkin Yang Jian tidak boleh menunjukkan keahlian pengobatannya karena kedamaian hidupnya akan terancam apabila banyak orang yang tahu.


"Nah kan Hua'er sudah ayah katakan..."


"Kau tidak perlu berbohong, aku masih belum setua itu untuk tidak mengenali orang." Qin Lienhua menyela ucapan sang Kaisar tanpa menoleh sedikitpun dan itu sukses membuat Kaisar Qin meringis kesal merasa diabaikan.


"Saya tidak berbohong tuan putri, lagi pula tidak mungkin orang seperti saya mampu mengobati tuan putri."


Qin Lienhua menoleh ke arah Kaisar Qin dan Permaisuri Tang seolah mencoba mengatakan sesuatu, tampak Kaisar Qin menggelengkan kepalanya, namun permaisuri Tang menyentuh lengan kanan sang Kaisar sambil tersenyum menganggukkan kepalanya.


Entah apa yang coba mereka katakan yang jelas Yang Jian tidak mengerti arti bahasa isyarat keluarga kerajaan tersebut.


Beberapa saat kemudian tampak Kaisar Qin menghela nafas pasrah, dia kemudian mengangguk pelan kearah Qin Lienhua dan selanjutnya menggandeng tangan Permaisuri Tang meninggalkan Yang Jian dan Qin Lienhua di taman.


"Sudah kan, mereka sudah pergi. Sekarang kau boleh berkata jujur kepadaku. Kau yang menyelamatkan ku malam itu kan?" Desak Qin Lienhua setelah mereka sama-sama duduk di atas kursi. Yang Jian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia sungguh di landa di dilema saat ini.


"Sudah saya katakan sebelumnya tuan putri, sungguh saya..."


"Ini milikmu kan?" Qin Lienhua menunjukkan sebuah benda pipih berlambangkan Sekte Batu Giok, sepertinya tanpa sengaja Yang Jian telah meninggalkan tanda bahwa dia lah penyelamat Qin Lienhua.


"Tenang saja, tidak ada yang tahu tentang ini." Ucap putri Qin Lienhua yang melihat sorot mata kegelisahan Yang Jian.


"Aku tidak mengerti mengapa kau harus menyembunyikan semua ini. Tetapi aku mengerti kau pasti punya alasan mengapa harus diam-diam mengobatiku malam itu tanpa harus mengajukan diri kepada ayah. Itu sebabnya aku tidak menunjukkan benda ini kepada siapapun, bahkan ayahanda dan ibunda juga tidak tahu."


Ucap Qin Lienhua meyakinkan. Akhirnya Yang Jian bernafas lega, setidaknya untuk saat ini belum banyak yang mengetahui rahasianya. Untuk saat ini? Ya, untuk saat ini. Dia tidak dapat memprediksi bagaimana nantinya.


"Sekarang katakan padaku, mengapa kau harus merahasiakan hal ini? Apa kau di larang oleh sekte mu? Atau, apa ini perintah gurumu? Ayahmu? Atau ibumu?" Qin Lienhua langsung menghujani Yang Jian dengan berbagai pertanyaan, dia sudah lama menahan diri untuk menanyakan terkait masalah ini.

__ADS_1


Yang Jian menarik nafas dalam, sepertinya tidak ada alasan lain yang dapat dia gunakan untuk mengelabui Qin Lienhua. Jalan satu-satunya bagaimana membuat Qin Lienhua ikut tutup mulut akan rahasianya.


"Ayahku, bahkan guru dan sekteku tidak mengetahui tentang ini. Makanya..."


"Oh jadi karena itu kau tidak mau ada yang tahu tentang kejeniusanmu?" Sela Qin Lienhua menatap binar Yang Jian.


"Kau tenang saja, aku termasuk tipe orang yang pandai menjaga rahasia. Kau bisa menjamin itu." Kali ini suara Qin Lienhua melemah seperti berbisik. Dia menjadi lebih antusias di bandingkan Yang Jian.


"Jadi jadi bagaimana? Apalagi yang harus ku sembunyikan?"


Akhirnya Yang Jian bisa bernafas lega saat Qin Lienhua mau bekerjasama dengannya untuk menjaga rahasianya. Yang Jian menjelaskan sedikit tentang Xiao Ming dan ilmu pengobatannya namun tidak detail. Karena dia tidak maumengambil resiko sekecil apapun itu.


Setelah mengambil kembali medali pengenal Yang Jian serta menerima hadiah pemberian Qin Lienhua, akhirnya Yang Jian pamit undur diri setelah meminta izin kepada Kaisar Qin dan Permaisuri Tang.


~~


Ternyata dia adalah Tetua Shing yang kembali menemui Yang Jian, sepertinya dia telah selesai dengan urusannya mengeluarkan Yang Jian dari sekte.


Yang Jian tidak bergeming, dia masih menatap manik hitam milik Tetua Shing dengan tenang, namun mendengar bahwa semua sudah selesai membuat Yang Jian tidak bisa tidak mengerutkan keningnya.


Secepat itukah? Pikir Yang Jian, dia jelas tahu bahwa untuk keluar sekte harus melewati prosedur yang cukup rumit dan memakan waktu yang tidak sedikit. Kecuali...


'Patriak...' gumam Yang Jian dalam hati, kecuali patriak Sekte Batu Giok juga ikut andil dalam masalah ini, tidak ada yang tidak mungkin. Tapi apa alasan patriak berhubungan dengan masalah ini?


Pertanyaan tersebut membuat Yang Jian sedikit tidak tenang, dia merasa seperti menemukan sesuatu yang lebih rumit dari masalah nya dengan tetua Shing.


Bagaimana pun kalau sampai patriak Sekte Batu Giok juga berhubungan dengan kasus Chang An maka Yang Jian juga akan menetapkan patriak sebagai target yang masuk ke dalam pengawasannya.


"Semoga saat kita bertemu lagi kau sudah menjadi anak yang berguna." Ucap Tetua Shing sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Dan semoga saat kita bertemu lagi aku masih mengenali tetua. Aku khawatir penuaan dan keriput segera menghampiri tetua sehingga sulit untuk ku kenali."


"Mulutmu selalu berbisa, jangan sampai saat kita bertemu kembali dan aku masih menemukanmu selemah ini. Atau kau akan menjadi pencuci tanganku." Ucap Tetua Shing sambil berlalu meninggalkan Yang Jian


~~


Saat Yang Jian tiba di kamarnya, dia melihat Tetua Han Li, guru Chang An, Feng Yu dan Xinxin telah menunggu kedatangannya. Tanpa menunggu Yang Jian untuk duduk dia langsung di serbu oleh berbagai pertanyaan yang membuat kepala Yang Jian sakit.


"Sudah kukatakan sebelumnya, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Bukan masalah penting." Ucap Yang Jian yang tampaknya tidak ingin menjelaskan alasan pertemuannya dengan Qin Lienhua.


"Apa kau pikir kami bodoh. Dia itu Kaisar Qin, dan bukannya tukang sapu di halaman sekte. Tidak mungkin dia sampai menyampaikan titah untuk mengundangmu untuk menemuinya kan?" Kesal Han Li yang merasa tidak puas atas jawaban Yang Jian.


"Sudahlah, kalau Yang Jian mengatakan demikian tidak perlu memaksanya. Sebaiknya kalian kembali ke kediaman masing-masing. Besok pertandingan kembali di mulai persiapkan diri kalian sebaik mungkin." Chang An mencoba menengahi, dia yakin bahwa Yang Jian pasti punya alasan tidak memberitahu mereka.


Akhirnya Han Li mengalah, mereka pun kembali kekediaman masing-masing meninggalkan Chang An yang masih berada di kamar Yang Jian.


"Apa ada sesuatu yang ingin guru tanyakan?" Tanya Yang Jian kemudian karena melihat Chang An masih belum beranjak dari kamarnya.


"Ini. Apa kau bisa menjelaskan tentang ini? Guru merasa tidak pernah melihat benda seperti ini." Han Li menyodorkan benda pipih yang sempat menjadi bahan pertanyaan Chang An sejak kemarin.


"Oh itu, bukan apa-apa guru. Mungkin aku bisa mengatakannya sebagai kenang-kenangan. Atau guru bisa menggunakannya ketika guru benar-benar sedang terdesak dan butuh bantuan secepat mungkin dengan meneteskan darah guru."


"Dan kau masih mengatakan ini bukan apa-apa setelah menjelaskan fungsinya?" Chang An sedikit tidak senang dengan gaya bicara Yang Jian yng sangat santai menjelaskan fungsi benda tersebut.


"Ah maksudnya bukan sesuatu yang berharga guru."


"Apa kau mencoba mengatakan bahwa nyawaku bukan sesuatu yang berharga?"


Yang Jian hampir tersedak ludahnya sendiri, dia tidak mengerti dari mana asal kesensitifan Chang An saat ini.

__ADS_1


__ADS_2