
"Adakah seseorang diantara kalian yang bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi?"
Kini semua orang menatap bodoh pemandangan di hadapan mereka, mengalihkan tatapan ke masing-masing di antara mereka yang menampilkan raut wajah kebingungan. "Siapa yang berani melakukan ini?" Geram Tetua Kaibo menatap nyalang tenda-tenda yang sebelumnya berdiri kokoh kini tinggal mayat. Amarah Tetua Kaibo semakin memuncak ketika tak ada satupun di antara mereka yang berani menyahut.
Kini sisa cultivator Sekte Ular Sembilan dan Sekte Cakar Iblis hanya mencapai seratus orang. Jelas ini kekalahan telak jika dibandingkan dengan jumlah anggota yang mereka bawa sebelumnya. Bahkan beberapa cultivator tersebut mengalami cedera ringan hingga cedera yang cukup parah.
Hal itu pasti akan berpengaruh terhadap nama besar Tetua Kaibo beserta sepuluh cultivator legenda lainnya. Dimana mereka akan dianggap remeh dan dipandang sebelah mata karena ketidakmampuan mereka dalam memimpin sebuah pasukan.
Terlebih lagi memikirkan bagaimana cara mereka menghadapi kemarahan Pemimpin mereka nanti saat mengetahui kegagalannya. Penderitaan Tetua Kaibo tidak berhenti disitu, saat tiba di bagian Timur Kota Batu, lokasi dimana mereka mendirikan tenda sebagai lokasi peristirahatan sementara membuat amarah Tetua Kaibo kian memuncak.
Sepuluh tenda megah itu kini telah hancur dan gosong. Tetua Kaibo memijit pelan pelipisnya yang mulai berdenyut, bahkan air mukanya tampak muram dan gelap. "Cari mati!" Desis Tetua Kaibo diikuti aura pembunuhnya yang pekat menguar memenuhi udara.
"Menilik situasi saat ini, hanya satu sosok yang masuk akal." Ucap salah satu pria paruh baya dengan tubuh tinggi tegap. Mengenakan jubah khusus Sekte Ular Sembilan, dirinya adalah salah satu dari sebelas cultivator legenda itu.
Kini fokus orang tertuju pada sosok misterius itu. Siapa lagi kalau bukan orang yang sama dengan orang yang mengendalikan para raja dan ratu siluman. Orang yang secara langsung menoreh luka harga diri yang begitu mendalam bagi mereka.
__ADS_1
"Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskan siapapun orang di balik semua ini. Aku akan membuatnya merasakan bagaimana penderitaan di alam baka." Tetua Kaibo berteriak marah. Teriakannya diikuti dengan merembesnya energi yang cukup besar.
Energi tiba-tiba dari tubuh Tetua Kaibo mementalkan beberapa cultivator aliran hitam yang tidak siap. Bahkan beberapa di antara mereka yang sebelumnya terluka parah terjatuh tak sadarkan diri akibat gejolak qi yang mulai tak beraturan.
Tak berhenti disitu, aura pembunuh yang pekat yang menguar dari tubuh Tetua Kaibo membuat beberapa cultivator dengan praktik awal grandmaster menahan nafas sesak. Hingga sebuah suara menginterupsi Tetua Kaibo untuk menghentikan aksinya lebih lama.
"Apa yang kau lakukan, Tetua Kaibo?" Dua orang pria jangkung dengan tubuh tegap perlah muncul dari balik kegelapan malam. Sinar rembulan yang memantul membuat mereka tampak seperti bercahaya di malam hari. Berjalan dengan angkuh namun tegas, menatap dingin sekitar serta aura mengintimidasi menguar begitu saja dari kedua pria tersebut.
"Apa kau tahu apa yang selanjutnya akan terjadi jika kami tidak tiba lebih awal?" Pria yang sama kembali berbicara dengan tegas. Pria dengan tato sayap putih di seluruh lengan kiri yang sudah menjadi ciri khas dalam dirinya. Di sebelah pria itu, berdiri pria dengan wajah datar dan sorot mata tak terbaca, wajahnya seolah menegaskan bahwa dirinya adalalah orang yang dingin dan cuek.
Siapa lagi jika bukan dua orang panglima kepercayaan Kaisar Quon. Dua dari empat panglima utama Klan Yang. Pria dengan tato sayap putih, Panglima Wun. Serta Pria dengan wajah dingin dan Cuek, Panglima Chen.
Bagaimanapun juga, prestasinya sebagai cultivator besar aliran hitam dengan tingkat praktik cultivator legenda tahap menengah tidak sebanding dengan status serta dukungan kuat di belakang dua panglima di hadapannya.
Dirinya dapat dengan mudah kehilangan kebesaran jika berani meremehkan dua orang tersebut. Itu sebabnya Tetua Kaibo yang terkenal angkuh dan tidak mau mengalah dengan terpaksa menundukkan kepala di depan Panglima Wun dan Panglima Chen.
__ADS_1
Tindakan Tetua Kaibo membuat semua orang yang berada di tempat yang sama mengerutkan kening kebingungan. Pasalnya diantara mereka, hanya Tetua Kaibo lah yang mengenali Panglima Wun dan Panglima Chen. Sungguh mengejutkan bagi mereka melihat secara langsung seorang Tetua Kaibo mau menundukkan kepala di hadapan orang lain selain patriak sekte.
Hal ini secara tidak langsung membuktikan jika dua orang asing yang baru muncul itu bukan orang sembarang.
"Tidak hanya pulang membawa kekalahan, tetapi kau juga berniat membunuh semua bawahanmu." Ucapan Panglima Wun terkesan meremehkan, membuat Tetua Kaibo mengepalkan tangannya menahan amarah. Tindakan Tetua Kaibo tentu diawasi oleh Panglima Wun, namun dirinya tidak peduli bahkan menambah api untuk membakar rasa amarah Tetua Kaibo.
"Sepertinya Yang Mulia Kaisar telah salah memilihmu untuk memimpin pasukan ini. Kini kau tidak lebih dari anak kecil yang kehilangan mainannya." Lanjut Panglima Wun tajam membuat muka Tetua Kaibo menggelap. Tetua Kaibo ingin menjawab, namun sudah terlebih dahulu dicela oleh Panglima Chen.
"Temui Kaisar segera dan jelaskan semuanya!" Ucap Panglima Chen menghentikan mulut tajam rekannya tersebut. Sesudah mengatakan hal tersebut, tiba-tiba saja kabut putih menyelimuti kedua panglima itu hingga menutupi seluruh tubuh, dalam hitungan detik kemudian kabut putih perlahan memudar yang diikuti dengan lenyapnya sosok Panglima Wun dan Panglima Chen dari pandangan.
Semua orang yang melihat itu terperangah tidak percaya, hari ini adalah hari langka bagi mereka. Dimana tidak henti-hentinya mereka melihat pemandangan tak masuk akal. Begitu juga dengan Tetua Kaibo, meskipun telah melihat sebelumnya, namun tetap saja dirinya tidak hentinya dibuat kagum.
Menghilang dengan kabut putih adalah ciri khas dari Klan Yang. Dan tentunya hanya orang tertentu saja yang dapat melakukan hal tersebut. Tidak semua orang mengetahui hal tersebut, itu karena ketertutupan Klan Yang dari publik membuat klan tersebut selalu misterius dengan caranya. Itulah persamaan dari Klan Yang dan Organisasi Bunga Mawar. Sama-sama berdiri sendiri, kuat, misterius dan tak tersentuh bahkan oleh kekaisaran sekalipun.
~~
__ADS_1
Pihak Kota Batu, sekte netral dan putih serta kelompok Organisasi Bunga Mawar mulai membubarkan diri dan bekerjasama demi mengatasi kekacauan tersebut. Di mulai dari mengumpulkan mayat-mayat untuk di amankan ke tempat semestinya. Menyelamatkan beberapa bangunan yang tersisa dan mengamankan masyarakat yang masih berada di tempat persembunyian.
Walupun Kota Batu nyaris bisa disebut dengan Kota Mati, namun masih ada beberapa bangunan yang masih berdiri, terutama kediaman kedua dari Bangsawan Jingmi yang jauh dari pusat kota dan bangunan kokoh Sekte Awan Putih. Dan disinilah mereka berada, di ruangan bawah tanah menemui orang yang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan rakyat biasa yang sempat di selamatkan.