
"Duarrr!"
Guncangan dahsyat dan suara ledakan menimbulkan gelombang kejut yang tinggi. Bahkan tanah tempat mereka berpijak sedikit bergetar. Dan sasaran serangan mereka menimbulkan kabut asap hijau kehitam-hitaman menyelimuti tempat dimana Yang Jian berdiri.
Gelak tawa puas terdengar dari mulut manusia tersebut. "Cihh, lemah! Sudah kukatakan, dia telah kehabisan banyak energi. Rasanya aku hanya membuang waktu berhargaku melawan dia."
"Ya, kau benar. Sia-sia aku mengeluarkan jurus terbaikku untuk sampah sepertinya."
Namun tawa puas mereka hanya bersifat sementara, kabut asap yang menyelimuti tanah pijakan Yang Jian perlahan-lahan memudar. Menampilkan siluet pemuda tampan berjubah hitam dengan surai peraknya yang melambai indah mengikuti alunan angin.
"Apa itu?" Orang-orang tersebut menatap tak percaya. Orang yang mereka prediksi telah hancur berdiri tegak di tengah-tengah kubah. Jubah tanpa noda dan kondisi tubuh yang masih bersih. Seolah Yang Jian tidak terkena serangan tersebut sebelumnya.
"Bagaimana bisa?"
"Dimana kedua manusia itu?" Ada kejanggalan, kedua manusia biasa yang bersama Yang Jian tidak di tempat. Meneliti ke segala arah, namun nihil. Tidak ada jejak kedua manusia tersebut. Mereka seolah hilang ditelan bumi.
Orang-orang yang sebelumnya tertawa puas berubah tegang. Menatap Yang Jian dengan sorot mata tak terbaca. Bahkan beberapa orang di antaranya mulai mundur perlahan. Tiba-tiba saja aura di sekeliling Yang Jian berubah mencekam.
Energi kuat dan mengintimidasi menguar dari tubuh Yang Jian. Membuat orang-orang tersebut merasa sesak akibat pasokan udara yang mulai menipis. Bahkan beberapa diantara mereka berlutut lemas, seolah ada ratusan kilo bebatuan yang menimpa kepala mereka.
"Berani-beraninya kalian menggangguku!" Ucap Yang Jian penuh penekanan. Sorot matanya setajam elang. Menghunus orang-orang dihadapannya dengan tatapan ingin membunuh.
"A-apa yang coba kau lakukan?" salah satu orang dengan jubah Sekte Ular Sembilan berbicara terbata sambil menekan dadanya. Punggung yang bergetar disertai dengan keringat dingin mulai menetes dari dahi orang-orang tersebut.
__ADS_1
Yang Jian mulai berjalan perlahan, setiap langkah kakinya seolah menjadi mesin penghitung waktu kematian. Detak jantung orang-orang tersebut semakin berdetak tak karuan kala Yang Jian mempersempit jarak di antara mereka.
Seolah terhipnotis, tidak ada satupun diantara mereka mencoba melarikan diri. Seakan pasrah menyambut kedatang malaikat pencabut nyawa, Yang Jian. Satu pedang digenggaman Yang Jian menjadi media penyaluran nafsu membunuhnya yang kental.
"Crashhh!"
Bunyi sayatan demi sayatan menjadi pengiring kematian cultivator aliran hitam tersebut. Yang Jian memenggal kepala mereka satu persatu dengan tenang. Tidak ada ketakutan di sorot matanya saat membunuh. Hanya ada kekosongan dan nafsu membunuh yang tinggi. Bahkan satu sudut bibir Yang Jian tertarik ke atas, membentuk seringai kejam bagai iblis.
Hingga sampai kepada manusia terakhir telah selesai ia bantai. Merasa tidak ada lagi sasaran lainnya, Yang Jian menghela nafas gusar. "Kurang!" Gumamnya tampak prustasi.
Bertepatan dengan itu, satu kelompok dengan jumlah yang jauh lebih besar lagi memasuki gerbang kota. Dengan mudah kelompok tersebut menghancurkan segel pelindung kota dan menerobos masuk. Mereka adalah kelompok yang sama dengan kelompok dari Sekte Cakar Iblis dan Sekte Ular Sembilan dengan jumlah tiga sampai lima kali lipat dari sebelumnya.
"Apa mereka benar-benar ingin meratakan kota ini dengan tanah?" Pihak Kota Batu tampak prustasi. Lawan muncul dengan jumlah ribuan, menghancurkan semua bangunan dan membakar apapun yang berada di sekitar mereka.
Namun tidak semua orang merasa prustasi, ada satu orang yang menatap kerumunan musuh dengan mata berbinar, seolah baru mendapatkan mainan baru. Kobaran api menyulut nafsu membunuh Yang Jia semakin tinggi.
Dipikirannya hanya ada bagaimana membunuh dan membunuh. Tangisan Yang Shui yang berputar-putar dikepala Yang Jian membuat dirinya lepas kendali.
"Arghhhh!" Yang Jian mengerang marah.
"Berani-beraninya manusia hina itu menyakiti ibuku!" Tubuh Yang Jian dikelilingi nafsu membunuh yang pekat, sorot matanya yang tajam dan diikuti dengan jubahnya yang berkibar-kibar menambah aura menakutkan dalam dirinya.
Melihat lautan musuh seolah melihat mangsa yang harus dia bantai. Bahkan tanpa sadar Yang Jian telah melayang di atas udara. Aura Yang Jian ternyata tidak bisa di abaikan. Kini atensi semua orang disekitarnya beralih menatap Yang Jian.
__ADS_1
Yang Jian tampak seperti dewa pencabut nyawa yang mengingginkan kematian bangsanya. Bahkan tidak ada yang mampu menatap manik biru yang tajam tersebut.
Sedetik kemudian, Yang Jian bergerak cepat memasuki lautan musuh. Pedang Suci yang telah berubah menjadi merah, semerah bara api di kegelapan malam terhunus kedepan. Menantang orang-orang yang mulai bersiaga menyambut kedatangan Yang Jian.
'Tranggg Tranggg! Cringgg!'
Bunyi denting pedang yang saling beradu. Dan bunyi sayatan pedang yang bersentuhan dengan tubuh manusia mulai menggema. Yang Jian mulai menggila menyerang siapaun yang berada pada jarak pandangnya.
Darah segar mulai membasahi tanah, dan jubah Yang Jian mulai terkena bercak darah. Bukan darahnya, melainkan darah musuh yang dirinya tumbangkan.
Pihak Kota Batu yang semula kehilangan semangat mulai bangkit kembali. Seolah ada secercah cahaya harapan bagi mereka. Bukan, mereka bukan optimis untuk menang. Namun, melihat orang asing sedang bertarung membela tanah mereka membuat rasa malu itu menguar begitu saja.
"Ayo! Jangan menyerah! Mari pertahankan tanah ini walau dengan darah kita!" Teriakan Bangsawan Jingmi semakin membakar kobaran api semangat dalam diri mereka.
"Serang!!!" Pertarungan kembali berlanjut. Tidak peduli jika nyawa mereka akan hilang saat itu juga, yang terpenting mereka akan membela tanah kelahiran apapun resiko.
Tak lama kemudian, dari arah selatan muncul satu kelompok dari dalam hutan. Kedatangan mereka menambah kobaran semangat pihak Kota Batu. Ya, mereka adalah kelompok sekte aliran putih netral.
"Belum terlambat! Ayo habisi mereka!" Tetua Tang dan Tetua Fang membagi kelompok menjadi dua. Masing-masing dari mereka akan menyerang musuh dari bagian selatan dan dan barat. Walaupun pihak mereka masih kalah jumlah. Namun pertambahan kekuatan tersebut pasti memberikan sedikit efek yang berbeda.
"Jangan senang dulu! Ada dengan tidak adanya mereka tidak akan pernah merubah hasil akhir pertarungan ini. Kalian akan mati di tempat ini." Tiba-tiba seorang pria berjenggot datang dengan posisi melayang diatas udara. Dia adalah Tetua Kaibo. Tetua dari Sekte Cakar Iblis yang memimpin mereka.
Tawa meremehkan keluar dari mulut Tetua Kaibo, dan diikuti oleh pengikutnya. Tawa tersebut mengundang rasa geram dari pihak lawan. Namun satu kesalahan mereka, tidak ada satupun dari mereka yang mengenali Yang Jian. Payah!
__ADS_1