
Cukup lama Yang Jian dan Yang Shui saling berpelukan untuk saling mengobati rasa rindu dan menyalurkan kehangatan masing-masing.
"Maaf, maafkan ibu." Ucap Yang Shui kembali saat keduanya duduk saling berhadapan di meja makan. Entah sudah ke berapa kalinya Yang Shui mengatakan kata yang sama sejak tadi. Yang Shui menunduk dalam dan menggumam kata maaf lagi dengan lirih.
Yang Jian menghela nafas pelan, ibunya sangat keras kepala untuk tidak meminta maaf lagi. "Tidak apa, ibu. Aku senang bertemu ibu kembali." Bukannya merasa lega, Yang Shui justru kembali menangis, namun kali ini tanpa suara. Tak tahan melihat sang ibu menangis, Yang Jian berjalan mengelilingi meja dan berhenti tepat di samping Yang Shui.
"Tenanglah ibu." Yang Jian merengkuh tubuh ringkih Yang Shui kedalam dekapannya hati-hati, menepuk pelan punggung badan Yang Shui dan menenangkannya dengan canggung. Saat itu juga Yang Shui diam dan tubuhnya mulai tenang kembali.
Setelah dirasa tenang, Yang Jian melepaskan pelukannya. "Terimakasih." Ucap Yang Shui menatap Yang Jian sembari tersenyum manis. Senyum penuh kelembutan. Walaupun kondisi tubuh Yang Shui kini jauh dari kata baik, namun aura seorang bangsawan masih melekat dalam dirinya.
Melihat itu Yang Jian membuang kepalanya kesamping, menghindari tatapan ibunya.
"Emmm!" Berdehem singkat, Yang Jian menggaruk lehernya yang tidak gatal dan mengangguk canggung. Setelah itu mereka kembali duduk di kursi masing-masing. Kecanggungan kembali menyelimuti ruangan tersebut beberapa waktu sebelum sebuah serangan mendadak mengarah kepada Yang Jian.
"Sringgg!"
Yang Jian menangkis serangan mendadak tersebut menggunakan tangan kosong. Bertepatan dengan itu muncullah sepasang manusia dari ujung tangga dan menghampiri Yang Jian dan Yang Shui dengan waspada dan mata menajam.
Sebelum kedatangan serangan mendadak tersebut, Yang Jian telah merasakan adanya aura yang berjalan mendekati mereka, namun karena aura tersebut tidak cukup kuat bagi Yang Jian, dia tidak melakukan apa-apa hingga aura tersebut menampakkan diri.
__ADS_1
Sedangkan Yang Shui, dirinya merasakan betul kehadiran dua orang yang dia kenal mendekat, itu sebabnya Yang Shui bersikap biasa aja. Namun tidak menyangka jika dua orang tersebut akan menyerang Yang Jian secara tiba-tiba.
Melihat kehatian-hatian yang di tunjukkan Zhisu dan Hongli saat menatap Yang Jian, Yang Shui segera angkat bicara sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Tenanglah! Dia putraku." Ucap Yang Shui pelan, suaranya mengalun lembut dan segera menyadarkan Hongli untuk mengedurkan kewaspadaannya. Setealah mendengar itu, barulah Hongli bernafas lega, begitu juga dengan Zhisu.
"Maafkan kami, Tuan Muda. Kami hanya bersikap demi pelindungan diri." Ucap Hongli seraya menatap Yang Jian dan diikuti oleh Zhisu, kemudian mereka berjalan menuju meja dan duduk di dua kursi yang tersisa, Hongli duduk bersebelahan dengan Yang Jian dan Zhisu di sisi Yang Shui.
Yang Jian mengerutkan keningnya menatap dua orang itu, saat Hongli menyapanya, Yang Jian hanya diam menatap Hongli dengan intens, bahkan saat Hongli berjalan menghampiri meja dan duduk di sebelahnya Yang Jian mengikuti pergerakannya.
Melihat tingkah Yang Jian, Hongli merasa bingung. 'Apa yang dilakukan anak ini?' Batin Hongli tak suka. "Aku telah meminta maaf, apa ada sesuatu yang mengganggumu, Tuan Muda?" Tanya Hongli kemudian saat Yang Jian masih belum mengalihkan tatapannya dari dirinya.
"Guru Chang An." Gumam Yang Jian pelan, segera setelah Yang Jian mengucapkan tiga kata itu, aura Hongli berubah gelap dan dalam hitungan detik Hongli meraih pedang panjang yang bertengger di samping perapian kemudian mengarahkan mata pedang tepat di leher Yang Jian.
Namun sebelum pedang tersebut berhasil mendekati Yang Jian, secepat kilat Yang Shui membalikkan meja, meraih tangan Yang Jian, menariknya kebelakang dan menjadikan tubuhnya sebagai perisai. Dan dengan gerakan cepat. Yang Shui menahan pedang Hongli menggunakan sebilah pedang.
Semuanya berlalu dengan cepat, pedang Hongli dan pedang Yang Shui bertemu dengan tekanan yang cukup keras, dapat Yang Shui rasakan tangan kanannya sedikit bergetar dan kebas hingga ketulang-tulangnya. Tubuh Yang Shui yang lemah membuat dirinya merasa sakit yang luar biasa hanya untuk menghalau serangan pedang Hongli.
Mata Yang Shui menyipit tajam, aura tubuhnya berubah mencekam. Dapat Hongli rasakan aura kemarahan yang terlihat jelas dari tatapan Yang Shui yang semakin menajam. "Beraninya kau mengacungkan pedangmu kepada putraku!" Ucap Yang Shui penuh penekanan. Suaranya yang semula lembut berubah menjadi dingin dan mencekam.
__ADS_1
Tubuh Hongli tiba-tiba menegang, tidak menyangka perubahan Yang Shui akan sejauh ini hingga mampu mengintimidasinya. Yang Shui yang mereka rawat selama bertahun-tahun begitu lemah dan tak berdaya, bahkan saat Yang Shui membuka mata, Yang Shui tampak seperti manusia biasa yang rapuh.
Namun apa yang ia lihat sekarang, Yang Shui berubah menjadi seekor harimau buas yang berusaha melindungi anaknya dari para pemburu. Hongli menelan ludah kasar, tatapan tajam Yang Shui membuat Hongli semakin waspada, namun tidak sedikitpun Hongli mengurangi aura pembunuh dalam dirinya.
Sementara itu, Yang Jian yang berada di belakang Yang Shui tertegun. Menatap lembut punggung kecil rapuh milik Yang Shui yang berusa melindungi dirinya. Ada perasaan hangat yang menjalar dalam diri Yang Jian.
Sesungguhnya Yang Jian tahu jika Hongli tidak benar-benar berniat menebas pedang tersebut kelehernya, terlihat dari gerakan pedang Hongli yang lambat dan tidaj memiliki keinginan membunuh sama sekali. Yang Jian dapat melihat jika Hongli hanya ingin menggertaknya, namun siapa sangka jika Yang Shui akan bertindak sejauh itu.
Di sisi lain, lebih tepatnya Zhisu, melihat Yang Shui dan Hongli berada dalam suasana yang mencekam membuat dirinya panik. Dengan cepat, Zhisu menghampiri suaminya kemudian meraih tangan Hongli untuk menurunkan pedangnya.
"Apa yang kau lakukan? Segera turunkan pedangmu."
Hongli tersentak, sambil menahan nafas pelan, Hongli menatap Yang Jian yang berdiri di balik tubuh Yang Shui. Karena perbedaan tinggi tubuh Yang Jian dengan Yang Shui satu kepala manusia,Hongli dapat dengan mudah melihat wajah tenang Yang Jian. Tak ada rasa waspada dan takut sekalipun dari raut wajahnya, hal itu membuat Hongli merasa aneh sekaligus penasaran dalam waktu bersamaan.
Mengalihkan pandangan sedikit kebawah Yang Jian, Hongli dapat merasakan aura menakutkan yang semakin menajam dari Yang Shui, bahkan kilatan amarah masih terlihat jelas di mata Yang Shui yang mulai menutup.
"Brukkk!"
Sedetik kemudian tubuh Yang Shui tiba-tiba oleng dan terjatuh, beruntung Yang Jian segera menangkap tubuh Yang Shui dan membawanya ke atas tempat tidur. Melihat Yang Shui terjautuh tak sadarkan diri, buru-buru Hongli menyimpan kembali pedangnya. Terlihat wajah cemas dari Zhisu dan mengikuti Yang Jian ke tempat tidur.
__ADS_1