
Setelah menyelesaikan segala urusannya dengan penduduk desa dan juga dengan Jiji beserta Yiyi, Yang Jian meninggalkan desa dengan dengan berjalan kaki. Langkah tegas Yang Jian santai dan perlahan seolah ada yang sedang dia tunggu di belakang.
Yang Jian sudah meninggalkan desa setengah jam yang lalu. Kini dia berada di hutan rindang tempat penduduk desa biasa menebang kayu untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Hutan tersebut cukup indah, daun yang rimbun menutup sebagian akses cahaya matahari yang masuk menyapa tanah bumi. Tanah hutan tersebut hanya di tumbuhi pohon tinggi dan cukup besar, tidak ada semak belukar sedikitpun. Hal ini yang membuat hutan tersebut tampak nyaman untuk dilalui dan tidak berbahaya.
Bahkan Yang Jian tidak menemukan adanya tanda-tanda hewan buas di hutan tersebut.
Yang Jian berjalan sambil membaca sebuah kitab, namun hal tidak membuat Yang Jian kesulitan karena melakukannya sambil berjalan.
"Aku ingat kau pernah mengatakan bahwa cultivator tidak dapat menyerap darah raja atau ratu siluman secara langsung, namun dapat melakukannya menggunakan teknik dan jurus tertentu bukan?"
Saat dragon menjelaskan mengenai tanda segel yang berada di Dunia Surgawi dan efeknya kepada Yang Jian, dragon mengatakan bahwa ada satu teknik khusus yang bisa digunakan agar mampu menyerap darah raja atau ratu siluman tanpa melakukan kontrak antara tuan dan pengikut terlebih dahulu.
"Lalu?"
"Apa kau mengetahui jurus tersebut, atau apa ada kitab yang menjelaskan tentang jurusnya?"
"Itu tugasmu untuk mencarinya."
Dragon menjawab Yang Jian malas, dia bahkan tidak berniat menjelaskan sedikitpun tentang pengetahuannya mengenai jurus tersebut.
Langkah Yang Jian tiba-tiba berhenti, dia menyimpan kembali kitab di tangannya kedalam cincin dimensi.
"Keluar!" Ucap Yang Jian kemudian.
"Siapa? Aku?" Tanya dragon atas pernyataan tiba-tiba Yang Jian.
Yang Jian menghela nafas pelan, dia membalikkan badannya menghadap sebuah pohon yang batangnya besar dan tua. " Aku tau kalian mengikutiku sejak tadi. Keluarlah!"
__ADS_1
Keluarlah dua bocah kecil dengan wajah yang sangat mirip dan manis dari balik pohon yang ditatap Yang Jian. Mereka adalah Jiji dan Yiyi.
Yang Jian mengalihkan pandangannya, dia melihat bahwa matahari yang tadinya di atas kepala sudah turun perlahan menjejaki langit biru. Sebentar lagi hari akan menjelang sore.
"Biarkan kami ikut dengan mu Kakak Yang, kami tidak akan merepotkanmu, sungguh."
"Benar kak. Kakak sudah menyelamatkan nyawaku maka sudah sepantasnya aku mengabdikan kesetiaan ku padamu kak."
Yiyi dan Jiji bergantian memohon kepada Yang Jian agar dia bersedia menjadikan Jiji dan Yiyi menjadi pengikutnya. Yang Jian sebenarnya heran, sebelum meninggalkan desa, Yang Jian memberi koin dan beberapa hadiah yang akan berguna bagi Jiji dan Yiyi mampu pertahankan kelangsungan hidupnya. Namun mengapa mereka malah memutuskan untuk mengikuti Yang Jian?
"Aku tidak menyelamatkanmu, aku hanya tidak mau tumbuhan berancun tumbuh diantara tanaman bunga yang indah."
"Apapun yang kakak maksud kami tidak peduli, kami berdua sudah memutuskan untuk mengikuti kakak. Kami percaya bahwa kakak adalah orang yang baik." Balas Jiji kembali meyakinkan Yang Jian.
"Baik? Bagaimana kau bisa yakin mengenai hal itu."
"Kata ibu, sebuah kebaikan bukanlah kata-kata melainkan perbuatan, dan kami melihat perbuatan itu dari kakak."
"Ada konsekuensi apabila mengikutiku, aku tidak yakin kalian sanggup."
"Kami yang memutuskan untuk mengikuti kakak, maka kami akan menghadapi apapun itu konsekuensinya. Lagi pula kami tidak memiliki siapa-siapa lagi. Tidak ada yang akan khawatir jika terjadi sesuatu pada kami."
Mendengar itu Yang Jian merasa dilema, disatu sisi dia merasa kasihan terhadap Jiji dan Yiyi. Hati nuraninya mengatakan agar dia membawa sikembar tersebut bersamanya.
Namun disisi lain logika Yang Jian menolak, dia memikirkan betapa singkatnya waktu yang dia miliki hingga sampai ke Kota Batu dan betapa berbahayanya perjalanannya itu. Yang Jian tidak ingin Jiji dan Yiyi menjadi beban baginya.
Yang Jian terdiam mematung, dia berperang dengan pikirannya sendiri. Apakah mengikuti kata hatinya atau malah memilih logikanya. Sungguh dia dibuat dilema terhadap situasinya saat ini.
"Baiklah." Akhirnya setelah berpikir keras selama beberapa saat, logika Yang Jian kalah. Dia lebih memilih membawa dua bocah kembar yang memiliki nasib sama seperti dirinya. Bedanya Yang Jian sendiri dan mereka berdua.
__ADS_1
Untuk memperlancar perjalanannya, Yang Jian berniat untuk memasukkan Jiji dan Yiyi ke dalam Dunia Surgawi. Hal itu juga berguna untuk menjamin keselamatan mereka. Tetapi saat Yang Jian mengaktifkan Dunia Surgawi dan mencoba memasukkan Jiji dan Yiyi ke dalamnya.
Tiba-tiba Jiji dan Yiyi terpental dan tejatuh ketanah, seolah ada energi besar yang menghalangi mereka memasuki Dunia Surgawi. Tampak wajah Jiji dan Yiyi pucat sedang menahan rasa sakit.
"Uhuk uhuk." Suara batuk tersebut bukan keluar dari mulut JiJi dan Yiyi melainkan dari mulut Yang Jian. Yang Jian awalnya merasa sesak di dadanya, namun tiba-tiba dia terbatuk sambil mengeluarkan cairan merah dan kental dari dalam mulutnya.
"Kakak Yang." Teriak Jiji dan Yiyi berlari kearah Yang Jian yang sedang memegang dadanya dengan satu tangan dan tangan lainnya mengelap darah di mulutnya.
"Apa yang terjadi kakak?"
"Aku tidak tahu Yi'er, ayo dudukkan Kakak Yang terlebih dahulu."
Yang Jian tidak menolak saat Jiji dan Yiyi mengkhawatirkannya bahkan menyentuhnya. Setelah duduk, Yang Jian mengambik sikap semedi, dia menormalkan kembali qi di dalam tubuhnya yang sempat bergejolak tak beraturan tadi.
Setelah beberapa saat, raut wajah Yang Jian kembali cerah dan sisa darah di pipinya juga menghilang tanpa meninggalkan jejak.
"Apa yang terjadi kakak, apa kakak baik-baik saja?" Tanya Yiyi dengan raut wajah khawatirnya, walaupun kini Yang Jian tampak seperti tidak pernah terjadi apa-apa padanya tetapi Yiyi masih khawatir.
Yang Jian terdiam, dia juga tidak tahu mengapa Dunia Surgawi menolak kehadiran Jiji dan Yiyi dan mengapa qi di dalam tubuh Yang Jian seolah berontak hingga membuat dadanya sesak.
"Dragon, apa kau mendengarku." Yang Jian menutup matanya sambil bertelepati kepada Dragon. Jiji dan Yiyi yang melihat itu tidak lagi bertanya, mereka berpikir bahwa Yang Jian masih mengobati dirinya sendiri dan tugas mereka adalah menjaga Yang Jian agar tidak ada yang mengganggunya.
"Kau hampir saja membunuh mereka." Jawab dragon singkat.
"Apa maksudmu?"
"Untuk saja aku cepat menyadarinya dan melepaskan sedikit energiku untuk mementalkan bocah itu."
"Bisakah kau berbicara langsung ke intinya?"
__ADS_1
"Segelmu hampir saja menyerap energi kehidupan mereka, sedikit saja terlambat maka mereka akan menjadi tumbal segel Dunia Surgawi."
Yang Jian tersentak kaget mendengar jawaban dragon, dia tidak menyangka bahwa baru saja dia akan membunuh dua bocah tak berdosa tanpa alasan.