Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 37: TCM XII


__ADS_3

"Mungkin sekarang iya tapi nanti?" Tetua Shing mengangkat kedua tangan nya di barengi mengangkat bahu nya.


"Mata-mataku beberapa kali melihat latihan bocah itu di kediaman Chang An, hufttt...awalnya aku tidak percaya tetapi setelah ku pastikan sendiri... Dimasa depan anak ini bisa menjadi halangan terbesarku."


Tetua wanita tersebut mengerutkan keningnya, jelas dia tidak mengerti sepenuh nya perkataan Tetua Shing. "Aku masih belum mengerti, bagian mana yang perlu kau khawatirkan dari anak itu. Siapa namanya? Yang..."


"Yang Jian. Dia memiliki potensi besar. Apabila dia dibiarkan berkembang sepuluh, dua puluh tahun lagi aku yakin dia akan menjadi sorotan sekte besar. Pada akhirnya dia akan memiliki nama sendiri dan otomatis Chang An juga akan mendapat pengaruhnya."


"Oh aku mulai mengerti maksud mu, kau tidak mau Chang An mendapat dukungan besar sehingga berpotensi untuk menggeser posisi mu bukan?"


Tebak tetua wanita tersebut. Namun raut wajah Tetua Shing memerah mendengar nya, dia menatap tetua wanita tersebut dengan tajam.


"Dengar, bukan hal sulit untukku menghapus keberadaan mu dari muka bumi ini. Sekali pun kau rekan setiaku namun bukan berarti kau bebas menggunakan mulutmu sembarangan!" Ancaman tetua Shing sontak membuat tetua wanita tersebut menunduk takut, lidah nya terasa kelu bahkan untuk meminta maaf sekalipun.


~~


Pagi ini istana kekaisaran Qin kedatangan tamu penting kembali, mereka adalah Tetua Lin, Tetua Qin dan beberapa tetua lain nya dari sekte harimau merah. Kedatangan mereka tidak lain adalah untuk mengunjungi putri mahkota Kekaisaran Qin, Putri Qin Lienhua dan untuk menyelesaikan masalah internal mereka yang tertunda.


Kaisar Qin bersama penasihat kerajaan dan Tetua Tang menyambut tetua Sekte Harimau Merah, mereka semua memutuskan untuk berkumpul di taman istana yang terdapat deretan kursi mewah dan meja yang telah di lengkapi dengan makan dan minuman serta beberapa buah-buahan segar.


Mereka duduk dengan posisi melingkar, dengan satu buah meja bundar di hadapan mereka.


"Sebelumnya kami telah melihat dan mendengar sendiri tentang kesembuhan tuan putri, kami turut mengucapkan selamat atas kesembuhannya." Tetua Lin tersenyum hormat kepada Kaisar Qin sembari mengeluarkan satu kotak kayu dengan ukuran sedang dan meletakkannya di atas meja.

__ADS_1


"Mungkin ini tidak seberapa untuk Yang mulia maupun tuan putri Qin Lienhua, tapi kami berharap Yang mulia bersedia menerima sedikit hadiah dari hamba sebagai ucapan selamat." Lanjut tetua Lin, dia tidak mungkin mengatakan bahwa hadiah tersebut merupakan hadiah permohonan maaf mereka.


Itu sama saja dengan merendahkan sang kaisar dan masalah nya sudah dapat di pastikan akan berakhir buruk.


Kaisar Qin masih diam sambil memperhatikan kotak kayu tersebut, dia kemudian memandang penasihat kerajaan untuk memberinya kode.


Dengan sigap sang penasihat kerajaan tersebut meraih kotak kayu dan memeriksanya. Kemudian dia kembali memandang kaisar Qin sambil mengangguk pelan.


"Ampun yang mulia, bagaimana dengan putri hamba?" Dengan hati-hati tetua Qin menanyakan perihal masalah kedatangan mereka.


"Apa ada yang salah dengan putrimu?" Kaisar Qin menjawab tanpa memendang Tetua Qin, seolah dia tidak melihat adanya Tetua Qin ditengah-tengah mereka.


Mendengar itu Tetua Tang mengepalkan tangan nya keras di bawah meja. Tetapi dengan lihai dia berusaha menetralkan ekspresi nya dan kembali memaksakan senyum palsunya.


"Seperti yang sudah di jelaskan tetua Lin sebelumnya, mungkin yang mulia tidak mendengarkan keseluruhan ceritanya. Namun yang pasti, putri saya tidak pernah meracuni putri mahkota. Yang mulia juga sudah melihat sendiri bahwa putri mahkota sudah sembuh hanya dalam hitungan jam sementara racun yang sebelumnya di deteksi Nona Bai belum mendapatkan penawarnya. Itu jelas membuktikan bahwa putri saya tidak bersalah."


"Oh masalah itu. Aku sudah melupakan nya." Kaisar Qin tampak memejamkan matanya dengan santai menikmati pagi hari yang di iringi dengan merdunya kicauan burung di pepohonan taman istana.


Tetua Qin tampak terkejut, jelas dia tidak pernah menyangka bahwa Kaisar Qin akan dengan mudah melupakan masalah tersebut.


"Bukankah sesama keluarga harus saling mengerti kakak?" Kaisar Qin memandang Tetua Tang sambil tersenyum tipis. "Oh, ha ha ha...ya ya sesama keluarga memang harus saling mengerti." teqtua Qin tertawa canggung yang di ikuti dengan tawa juga oleh yang lain.


'Brengsekkk.!" Umpat Tetua Qin dalam hati, dia jelas mengerti maksud keluarga yang di katakan oleh Kaisar Qin yang hanya di ketahui oleh mereka berdua dan penasihat kerajaan.

__ADS_1


~~


Ruang latihan lebih mirip seperti aula kosong namun dengan ukuran lebih kecil, sekeliling ruangan nya di lengkapi formasi pelindung agar tidak mencelakai orang-orang diluar ruangan.


Hanya ada beberapa fasilitas seperti pedang, panah, tombak, pisau kecil, tongkat dan beberapa senjata lainnya dengan berbagai jenis dan ukuran. Namun yang diperbolehkan di pergunakan hanya biasa dan senjata tahap warior.


"Salam tetua." Yang Jian yang memilih pergi ke ruang pelatihan memberi salam hormat saat dia tiba. Tampak ada beberapa cultivator lainnya di ruangan tersebut. Mungkin karena hal ini mendadak jadi pihak dari sekte naga awan belum sempat menyediakan satu ruang pelatihan khusus untuk setiap perwakilan sekte.


"Apa urusanmu sudah selesai?" Tetua Han Li bertanya sambil tersenyum lucu. Mungkin dia belum terima dengan kata 'urusan' yang Yang Jian pakai. Namun Yang Jian tidak melihat nada kegelian dari pertanyaan tetua Han Li, dia hanya kembali menjawab dengan hormat.


Sekalipun Yang Jian sulit berkomunikasi dengan orang lain selain Xiao Ming, Chang An dan baru-baru ini dengan dragon. Namun dia tidak melupakan tata krama nya terhadap orang-orang yang seharusnya dan pantas dia hormati.


Setelah itu Yang Jian mengabaikan semua orang, dia mengambil salah satu pedang polos biasa dari rak khusus penyimpanan pedang. Pedang tersebut kira-kira sepanjang 90 cm, panjang yang cukup ideal bagi Yang Jian karena tinggi badan nya melebihi anak seusianya.


Yang Jian mulai memasang aba-aba, dia berniat memperagakan jurus 'tarian pedang naga' yang telah dia pelajari di salah satu kitab pemberian Xiao Ming.


Setiap ilmu atau jurus dalam kitab memiliki tingkatan yang berbeda. Dimulai dari tingkat rendah, tingkat menengah, dan tingkat tinggi. Namun ada satu tingkatan lagi yang langka dan sulit di temukan yaitu tingkat legenda. Namun hanya orang-orang tertentu yang memiliki ilmu tersebut.


Ilmu 'tarian pedang naga' sendiri merupakan ilmu tingkat menengah, Yang Jian bukan tanpa alasan mempelajari ilmu tersebut. Hal ini karena ilmu tersebut sangat cocok digunakan untuk menyerang lawan walaupun tingkatan nya masih menengah.


Selama ini Chang An lebih memfokuskan Yang Jian terhadap pertahanan diri, dan hanya mengajarkan beberapa tehnik menyerang.


Yang Jian tidak mungkin sembarangan mengeluarkan ilmu-ilmu tingkat tinggi ajaran Xiao Ming. Apalagi ilmu ajaran Xiao Ming merupakan ilmu langka yang dapat menjadi buruan banyak orang.

__ADS_1


Yang Jian sempat berfikir bahwa ilmu tersebut merupakan ilmu legenda karena mengingat tubuh Yang Jian hampir meledak akibat terlalu memaksakan diri mempelajari ilmu tersebut.


Alasan lain Yang Jian mempelajari ilmu tingkat menengah adalah tentu agar tidak menarik perhatian banyak orang yang akan menimbulkan masalah besar untuknya.


__ADS_2