
Di sebuah meja panjang dekat dengan jendela, terdapat tiga orang bocah berbeda usia. Di hadapan ketiga bocah itu tepatnya di atas meja telah tersusun rapi berbagai macam makanan dan minuman berbagai jenis, bau dan rasa yang dapat menggugah selera siapa saja.
Yang Jian memandang Jiji dan Yiyi yang duduk manis di hadapannya tanpa menyentuh makanan tersebut sedikitpun.
"Kenapa tidak dimakan? Apa kalian tidak menyukainya?"
"Tidak kak, bukan seperti itu. Kami sudah makan tadi dan kami sedang kelaparan."
'kruyukkk.' Bunyi perut Jiji menghentikan ucapannya, mulut bisa berbohong namun perut tidak. Jiji menggaruk belakang kepalanya merasa malu dengan wajah memerah.
"Sudahlah aku tau kalian lapar. Jika kalian tidak memakannya aku sungguh merasa kecewa." Yang Jian memanyunkan bibir bawahnya yang tampak sangat menggemaskan.
Yiyi melihat manik biru Yang Jian yang menenangkan yang entah mengapa membuatnya tidak mampu menolak Yang Jian.
Ditambah lagi ekspresi Yang Jian yang seolah merajuk jika keinginannya di tolak membuat Yiyi memandang sang kakak dengan manja meminta persetujuannya.
"Baiklah, terimakasih kakak Yang." Setelah itu Jiji dan Yiyi mulai memakan makanan mereka dengan lahap, namun tata cara makan mereka sangat sopan dan tidak belepotan. Yang jian tahu bahwa kedua anak di hadapannya awalnya berasal dari keluarga yang tercukupi.
Ingin rasanya Yang Jian mengetahui lebih jauh mengenai Jiji dan Yiyi, namun Yang Jian tidak ingin melewati batasannya yang mungkin tidak ingin mereka bahas dengan orang asing seperti Yang Jian.
Tidak butuh waktu lama mereka telah menyelesaikan upacara pengisian energi tubuh, tampak sebagian makanan masih utuh di atas meja.
"Apa kalian sudah selesai makan?" Yiyi dan Jiji mengangguk pelan menanggapi perkataan Yang Jian. Kemudian Yang Jian meminta mereka mengikuti nya ke dalam kamar Yang Jian. Walaupun sedikit merasa bingung, namun mereka tetap mengikuti Yang Jian tanpa menunjukkan protes sedikitpun.
"Bibi Meng, tolong bungkuskan makanan ini dan buatkan beberapa makanan sama persis dengan yang sebelumnya, setelah itu antar ke dalam kamar ku!"
__ADS_1
Nyonya Meng mengangguk mengiyakan permintaan Yang Jian, tanpa di minta dua kali Nyonya Meng melaksanakan permintaannya dengan cepat.
Yang Jian dapat melihat perubahan sikap Nyonya Meng kepadanya, Yang Jian jelas mengetahui hal tersebut, namun Yang Jian tidak peduli sama sekali.
Sesampainya di dalam kamar, Yang Jian mengeluarkan dua jubah berwarna cokelat muda dari dalam cincin dimensi yang dia bawa ketika pertama kali menginjakkan kaki di Lembah Neraka. Mungkin cincin tersebut adalah pemberian keluarganya sebelum membuangnya ke lembah tersebut.
Membuang? Entah mengapa kata-kata itu membuat Yang Jian sedikit kecewa, namun di satu sisi merasa bersyukur karena lewat itu dia dipertemukan dengan sosok ayah baik hati dan tulus seperti Xiao Ming.
"Bersihkan diri kalian." Yang Jian menyerahkan jubah tersebut satu persatu kepada Jiji dan Yiyi tanpa melihat mereka. Namun mereka tak kunjung menerima pemberian Yang Jian. Merasa penasaran, Yang Jian mengalihkan pandangannya kepada Jiji dan Yiyi.
Yang Jian mengerutkan keningnya melihat Jiji dan Yiyi yang terus memandangnya tanpa berkedip dengan mulut yang terbuka lebar.
"Ehm!"
Deheman Yang Jian menyadarkan mereka dari rasa terkejut yang menguasai mereka beberapa saat yang lalu.
"Aku tidak melihat apa-apa di atas sana kak." Yiyi mendongakkan kepalanya menatap langit-langit kamar Yang Jian berusa mencari apa ada dewa yang menempel di atas sana.
"Cepat bersihkan diri kalian. Dan tunggu kakak di sini." Tanpa berniat menjelaskan, Yang Jian meletakkan jubah di tangan nya di atas tempat tidur dan berjalan keluar kamar meninggalkan Jiji dan Yiyi yang masih dipenuhi tanda tanya besar.
~~
"Kurang ajar, siapa yang melakukan ini? Siapa yang telah berani membunuh putri kesayanganku?"
Suara keras ayah Jingjing menggema di seluruh ruangan, disana tampak mayat Jingjing yang telah di satukan dengan kepalanya. Di sisi kiri ayah Jingjing, ibu Jingjing menangis meraung sambil memegangi mayat putrinya.
__ADS_1
"Jing'er, kau memang anak nakal dan menyebalkan tapi ibu tetap menyayangimu nak. Jangan tinggalkan ibu." Ibu Jingjing menangis meratapi nasib putrinya.
Hingga 'Brukkk.' Ibu Jingjing terjatuh tak sadarkan diri.
Pengawal ketua desa segera membawa nyonya mereka ke kamarnya untuk diistirahatkan. Putrinya meninggal dan kini istrinya pingsan membuat ayah Jingjing berteriak marah. Matanya memerah dan tangannya mengepal keras hingga tampak urat-urat tua menonjol di kepalan tinjunya.
"Cepat katakan! Siapa yang melakulan ini kepada putriku?"
Semua orang yang berada di ruangan yang sama dengan mayat Jingjing menunduk, tidak ada yang berani angkat bicara dan mengatakan bahwa Yang Jianlah pelakunya.
Setakut-takutnya mereka kepada ketua desa, mereka lebih ngeri melihat Yang Jian membunuh tanpa mengedipkan mata.
"Arghhh, baiklah kalau kalian tidak mau mengatakannya." Ayah Jingjing mengambil cambuk Jingjing yang berada di samping mayatnya. Setelah cambuk tersebut berada di tangan ayah Jingjing, dia berjalan cepat menuju orang-orang yang menunduk takut sambil menggigil gemetaran.
Ayah Jingjing mengangkat cambuknya ke atas bersiap mengeksekusi semua orang yang berada di ruangan tersebut untuk memuaskan gairah emosi yang membakar dadanya. Namun saat jarak cambuk tinggal sejengkal lagi dari sasaran cambuk tersebut berhenti di udara.
Tiba-tiba Ayah Jingjing merasa bobot tubuhnya semakin lama semakin berat hingga tanpa sadar dia melepaskan cambuk dengan sendirinya dan jatuh terduduk dalam posisi lutut menyentuh lantai, seperti sedang bersujud.
Orang-orang desa merasa heran melihat cambuk yang tiba-tiba berhenti di udara, namun lebih mengejudkan lagi melihat ketua desa bersujud di lantai dengan raut wajah pucat dan berat.
Perlahan-lahan keringat dingin keluar membasahi wajah ketua desa, dan wajahnya semakin lama semakin pucat dengan nafas tersenggal-senggal. Matanya melotot antara takut dan terkejud.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang menimpa ketua desa, mereka menyapu pandangannya keseluruh sudut ruangan mencari tahu sumber penyebab perubahan sikap ketua desa. Namun nihil, tidak ada orang lain di dalam ruangan selain mereka.
Ketua desa semakin terkejud, karena seluruh organ dalam tubuhnya seolah di aduk-aduk. Perlahan-lahan cairan merah segar keluar dari sudut bibir ketua desa kemudia diikuti dari lubang hidung, kuping bahkan kini mata ketua desa mengeluarkan air mata darah.
__ADS_1
Orang-orang desa yang melihat penampakan tersebut memalingkan wajah dan mebekap mulut mereka agar isi perutnya tidak keluar. Rasa ngeri dan jijik memenuhi perasaan mereka, seolah paham siapa pelakunya mereka jatuh tersungkur dan meminta maaf sambil menyebut kata 'tuan muda'.
"Duarrr."