Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 90: Markas Aliran Sesat


__ADS_3

Ruangan yang cukup luas dan di tengah-tengah ruangan terdapat patung menyerupai naga kecil dengan kepala menengadah ke langit. Tampak beberapa lilin menyala dan taburan bunga mengelilingi patung tersebut. Berwarna hitam pekat dan mata merah menyala seolah patung tersebut adalah makhluk hidup.


Di ruangan itu tampak sekitar ratusan manusia bertudung hitam sedang berlutut dilantai sembari menggumamkan sesuatu. Tepat di depan patung, seorang pria gagah berdiri sambil memegang satu obor besar.


"Dengarlah wahai umat Yang Mulia Raja. Berilah pengurbananmu, tunjukkan sumpah setiamu dan mintalah berkat dari Yang Mulia." Suara berat dan sedikit serak menggema di ruangan. Dari suaranya, tampak bahwa yang sebelumnya berbicara adalah pria paruh baya.


"Hidup Yang Mulia Raja! Hidup Yang Mulia Raja!" Lanjutnya yang diikuti kembali oleh para pengikutnya yang masih setia dengan posisi berlututnya.


Sementara itu, di sudut ruangan, tampak sebuah jeruji besi berukuran kecil. Namun, yang menarik perhatian adalah isi jeruji tersebut adalah tumpukan manusia yang tidak sadarkan diri.


Tanpa seorang menyadari, bahwa jumlah anggota mereka bertambah satu orang dan ikut mengikuti pemujaan. Dia adalah Yang Jian. Dirinya memilih cara aman untuk mengetahui kondisi lebih lanjut mengenai kelompok aliran sesat tersebut.


Setelah melihat sendiri situasinya, rasanya sungguh ironi sekali. Dimana ada banyak nyawa tidak bersalah yang dikorbankan hanya demi keegoisan semata. Melihat hal itu tentu membuat geram Yang Jian, namun sebisa mungkin ia kembali menguasai diri agar tidak menimbulkan kecurigaan dan masalah yang tidak berarti.


Dengan langkah perlahan dan berhati-hati, Yang Jian mulai melancarkan aksinya. Membunuh satu persatu orang-orang dalam jangkauannya dalam diam. Menusukkan jarum racun tingkat tinggi serta dilumuri serbuk pelumpuh tepat di derah vital lawan. Sehingga memudahkan Yang Jian dalam meluncurkan aksinya.


Semetara itu, orang-orang bertudung tersebut masih fokus mengikuti pemujaan hingga tidak menyadari bahwa rekan mereka mulai tumbang satu persatu, hingga tanpa sengaja Yang Jian melakukan kesalahan yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Akhhh." Pekik salah satu manusia bertudung menatap Yang Jian dengan sorot mata tak terbaca dan melihat kebelakang memandang rekannya tergeletak tanpa nyawa di atas lantai. Hal itu sontak membuat dirinya berteriak tak percaya hingga mengundang perhatian orang-orang bertudung lainnya.


"Sial!" Umpat Yang Jian pelan, namun sebisa mungkin dia kembali menguasai dirinya dan kembali tenang.


"Lancang sekali pendosa sepertimu merusak upacara sakral Yang Mulia Raja bahkan mencabut nyawa pengikut setianya!" Pemimpin upacara tersebut mengeram marah. Memerintah bawahannya menyerang Yang Jian berame-rame.


Tindakan yang pengecut memang, namun pemimpin upacara tersebut tidak mau mengambil resiko. Melihat Yang Jian mampu mengetahui tempat persembunyian mereka yang bahkan pihak pemerintahan dan sekte di Kota Batu kesulitan mencarinya, ditambah lagi Yang Jian mampu membunuh beberapa pengikutnya tanpa menimbulkan suara. Jelas, kemampuan Yang Jian tidak dapat diremehkan.


Telah tertangkap basah. Yang Jian mulai menyerang secara terang-terangan. Dengan pedang andalannya, Yang Jian mulai bergerak cepat bagaikan hembusan angin sore menerpa para manusia bertudung tersebut. Setiap hembusan angin yang bergerak melalui mereka, saat itu juga satu nyawa melayang tanpa mampu memberi perlawanan sama sekali.


Sementara itu, pemimpin upacara masih mengamati Yang Jian bertarung dengan bawahannya sambil mengukur kekuatannya. Tangannya terkepal melihat Yang Jian dapat dengan mudahnya menerjang musuh tanpa kesulitan.


Dengan cepat Yang Jian melompat keudara menghindari serangan mendadak dari pemimpin upacara, sehingga kuku panjang pemimpin upacara mengenai bawahannya dan mencabik-cabik tubuhnya dengan ganas. Darah segar berwarna merah kehijau-hijauan membasahi seluruh tubuh manusia bertundung yang terkena cakaran maut pemimpin upacara.


Pemimpian upacara melotot melihat serangannya yang salah sasaran. Dengan cepat dia kembali menarik kuku tangannya kembali. Namun terlambat, sebelum kuku-kuku itu kembali, Yang Jian melempar bola api yang cukup besar hingga menghanguskan sebagian kuku hitam panjang tersebut.


Namun, beberapa detik kemudian, kuku yang hangus tumbuh kembali membuat Yang Jian mendegus. Sungguh merepotkan, pikir Yang Jian.

__ADS_1


"Tidak semudah itu! Pendosa sepertimu tidak akan mampu mengalahkan pengikut setia Yang Mulia Raja." Pemimpin upacara tersebut tersenyum puas melihat raut kebingungan di wajah Yang Jian, dia berpikir bahwa Yang Jian tidak akan menyangka jika pengikut Yang Mulia Raja akan memiliki kekuatan suci miliknya.


Namun salah, yang membingungkan bagi Yang Jian adalah, mengapa orang-orang bertudung dihadapannya selalu menyebut 'Yang Mulia Raja'? Siapa sebenarnya orang tersebut? Apakah dirinya adalah orang dibalik kelompok sesat itu?.


Tetapi, pertanyaan itu ia telan sendiri. Tanpa membuang waktu, Yang Jian mulai melempar berbagai racun mematikan secara acak. Membunuh siapa saja yang terkena racun tersebut. Yang memiliki pondasi lemah tentu berhasil lumpuh dan meregang nyawa.


Namun, banyak diantara mereka yang tidak terpengaruh. Saat ini Yang Jian tengah menghadapi pemimpin upacara dengan dikelilingin bawahannya. Kuku-kuku tajam para manusia bertudung menyerang Yang Jian secara bersamaan tanpa ampun.


Dengan gesit Yang Jian melompat ke udara dan melayang di atas udara membuat para kelompok aliran sesat terperangan tak percaya. "Sepertinya kau memang tidak bisa diremehkan." Ucap pemimpin upacara menatap Yang Jian yang tengah melayang di udara dengan tenang.


Masih dengan posisi di atas udara, secepat kilat Yang Jian meluncurkan bola-bola api berkekuatan tinggi kebawah. Menghantam kuku-kuku tajam manusia bertundung yang masih berusaha menyerang Yang Jian.


Pemimpin upacara tersebut tak mau kalah, dia melompat ke udara dan melayang seperti Yang Jian. Yang Jian dapat melihat jika praktik pria di hadapannya berada di awal cultivator grandmaster. Perbedaan yang cukup signifikan dibanding Yang Jian yang masih berada di puncak cultivator master. Ditambah lagi bawahannya yang berkisar lima puluh orang yang berada di tingkat antara awal hingga puncak master.


"Melihat dari kemampuan meringankan tubuhmu. Sepertinya praktikmu cukup tinggi." Puji pemimpin upacara masih dengan sikap tenangnya. Kemampuan seseorang melayang di udara bergantung dengan kemampuan meringankan tubuh. Biasanya, cultivator yang mampu melayang di udara dengan stabil berada di cultivator grandmaster.


"Apa kau melatih ilmu khusus untuk menyembunyikan tingkat praktikmu?" Tanya pemimpin ucara bingung saat dirinya tidak mampu membaca tingkat praktik Yang Jian. Wajah Yang Jian masih tertutup tudung hitam sebagian. Sehingga hanya sebagian wajahnya yang terlihat.

__ADS_1


"Awalnya aku ingin membunuhmu karena telah dengan lancangnya merusak upacara suci Yang Mulia Raja. Sebagai gantinya, kau harus menyerahkan sumpah setiamu dan mengabdi seumur hidup kepada Yang Mulia."


__ADS_2