
Cultivator tersebut sempat waspada karena terkejut melihat kedatangan Yang Jian secara tiba-tiba pasal nya mereka tidak merasakan kehadiran orang lain selain mereka.
Kebetulan Yang Jian mengenakan jubah khusus Sekte Batu Giok, melihat itu mereka langsung merubah ekapresi mereka menjadi lunak.
"Kami juga tidak tahu pasti. Tapi dengar-dengar terjadi penyerangan terhadap beberapa desa-desa terpencil. Dan pergerakan nya juga secara besar-besaran. Di yakini dalang dari penyerangan ini ada hubungan nya dengan penyerangan di kota Xemin beberapa tahun lalu."
Salah satu senior tersebut membantu menjelaskan kepada Yang Jian.
Ekspresi Yang Jian berubah, tubuhnya menegang mendengar penuturan senior tersebut. 'Aku bahkan belum cukup kuat untuk ambil bagian' Gumam Yang Jian dalam hati, ekspresinya pun berubah sendu karena menyayangkan kekurangan nya.
"Sebaiknya kau segera kembali ke kamar mu. Bukan pilihan yang bijak berkeliaran larut malam seperti ini." Salah satu senior tersebut mengingatkan Yang Jian yang di balas anggukan kecil oleh Yang Jian.
Yang Jian melangkahkan kaki nya pelan menyusuri jalan kecil menuju kamar-kamar khusus tamu undangan, dia terlihat murung sambil berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Hingga tanpa dia sadari bahwa dia telah sampai di depan pintu.
'Tok tok tok.'
" Apakah guru sudah tidur?" Bukannya kembali ke kamarnya, langkah kaki Yang Jian malah membawanya ke kamar milik Chang An.
Kemudian muncullah seorang pemuda berparas tampan membukakan pintu untuk Yang Jian."Jian'er, ini sudah larut mengapa belum tidur?"
"Boleh aku masuk guru?" Tanya Yang Jian tanpa menjawab pertanyaan gurunya. Yang Jian masih melihat raut wajah Chang An tak secerah biasanya.
"Kakak..." Panggil Yang Jian kemudian saat mereka sudah duduk di atas tempat tidur Chang An. Panggilan Yang Jian sontak membuat Chang An membulatkan matanya sambil menatap Yang Jian dengan raut wajah terkejut. Panggilan yang sudah cukup lama tidak dia dengar.
"Berhenti? Permintaan mu malah membuat ku ingin mencabut nyawa pria dan wanita hina itu."
__ADS_1
"Kau hanya perlu memilih, tetap mendukung Yang Jian untuk memenangkan turnamen atau mengeluarkan nya dari sekte."
"Apa aku terlihat peduli? Siapa pun orang terdekatmu ku anggap dia juga siap terlibat denganmu. Apa kau lebih memilih aku mencabut nyawanya sekarang juga. Aku punya seribu satu cara membunuh bocah kecil tanpa rasa sakit. Kau bisa memilih cara mana untuk mengakhiri nyawanya. Anggap saja aku sedang menebar kebaikan."
Kata-kata itu selalu menghantui Chang An, seolah seperti kaset rusak yang di putar berulang-ulang di kepalanya. Sungguh, hati Chang An serasa di remas-remas saat ini.
"Sudah begitu lama ya?" Tanya Yang Jian kemudian sambil bersandar di bagian kepala kasur Chang An.
"Apapun yang akan terjadi, kakak tetaplah kakakku. Kakak Chang An!" Senyum Yang Jian tidak luntur sedikitpun saat mengucapkan kata tersebut.
Senyum yang terlihat tulus dari anak kecil yang polos. Senyum yang seharusnya tidak di nodai akibat keserakahan orang lain, senyum yang seharusnya selalu di tunjukkan bagi remaja seusia Yang Jian. Yang butuh kasih sayang, kepeduliaan ayah dan ibunya serta rasa untuk di jaga dan dilindungi.
Namun bukan itu yang di rasakan Yang Jian saat ini, di usia yang bahkan belum genap tiga belas tahun dia sudah tidak merasakan kasih sayang orang tua, bahkan dia tidak mengetahui siapa ayah dan ibunya.
Dia harus merasakan kerasnya hidup tanpa ada siapapun tempat untuk kembali pulang. Dan sekarang, dia sudah menjadi korban keserakahan dan keegoisan Tetua Shing.
Dan tanpa aba-aba, Yang Jian mengambil cincin ruang Chang An dan membantunya memasukkan kotak kayu tersebut sebelum Chang An sempat menolaknya.
Cincin ruang Chang An berbeda dengan cincin ruang Yang Jian. Cincin Yang Jian hanya boleh di gunakan oleh Yang Jian sendiri karena Xiao Ming telah menyegel cincin tersebut agar tidak dapat di gunakan orang lain. Sementara cincin milik Chang An tidak memiliki segel sama sekali.
"Aku tidak menerima penolakan kakak!" Ucapan Yang Jian tegas saat melihat reaksi Chang An yang ingin mengembalikan barang pemberian Yang Jian. Melihat tatapan serius Yang Jian, akhirnya Chang An menerima hadiah tersebut sambil mengelus lembut surai perak Yang Jian.
~~
"Apa kau berniat meninggalkan sekte?" Tanya dragon saat Yang Jian telah kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Apa aku punya pilihan?" Yang Jian merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan menyangga kepalanya menggunakan kedua tangannya., dia menatap langit-langit kamar sambil merenung.
"Aku tidak punya siapa-siapa dragon. Ayahku? Aku bahkan tidak tau kapan kami bisa bertemu kembali. Kakak Chang An? Karenaku dia jadi mendapat masalah besar. Aku tidak memiliki rumah untuk kembali pulang."
Ekspresi Yang Jian berubah sendu, dia bukan anak sempurna yang memiliki hati sekuat baja. Dia bukan cultivator legenda yang mengarungi dunia cultivator yang akan kebal atas pahit manisnya hidup. Dia hanya anak remaja yang belum genap tiga belas tahun.
"Apa rencanamu selanjutnya? Kau tidak mungkin meninggalkan sekte begitu saja. Bisa-bisa kau di buru karena telah menjadi penghianat sekte dan kau akan di kucilkan di kalangan masyarakat."
Dragon sudah hidup ribuan tahun, jadi wajar saja dia mengetahui sedikit banyaknya mengenai peraturan yang berlaku di sebuah sekte.
"Aku akan membuat kesepakatan dengan tetua Shing. Besok pagi aku akan menemuinya untuk membicarakan masalah ini."
"Terserah padamu. Aku mendukung."
"Tumben, biasanya kau akan..."
"Diam, aku tidak ingin mendengarkan omongan mu"
Yang Jian tersenyum tipis, sejenak dia melupakan masalahnya karena berdebat dengan dragon. Dia kembali memejamkan matanya untuk berdamai dengan masalah yang dia hadapi saat ini.
"Lagi pula aku harus segera berburu raja atau ratu siluman untuk mempertahankan nyawaku. Aku tidak mungkin pergi meninggalkan sekte tanpa menjalankan misi." Yang Jian mulai teringat mengenai segel di dunia surgawi yang terus membutuhkan ktistal siluman dan energi kehidupan.
"Kau membutuhkan lebih banyak darah raja atau ratu siluman untuk mempertahankan qi dan energi kehidupanmu agar tidak di serap segel tersebut." balas dragon membenarkan ucapan Yang Jian. "Kau tidak mungkin membunuh semua manusia di sektemu untuk mempertahankan nyawamu bukan?"
Yang Jian tampak berpikir merenungkan ucapan dragon. "Kau benar, lagipula bukan hal mudah untuk membunuh mereka satu persatu dengan kekuatanku sekarang." ucap Yang Jian sambil mengetuk-ngetuk jarinya di dagunya seolah sedang memikirkan cara yang tepat untuk membunuh seluruh manusia di Sekte Batu Giok dengan mudah.
__ADS_1
Dragon yang mendengar jawaban Yang Jian tersedak ludah nya sendiri, dia sedikit meringis begitu juga dengan dua raja siluman lainnya. "Aku bahkan belum pernah bertemu dengan induk hewan yang memangsa anaknya sendiri."
Yang Jian yang mengerti tujuan perkataan dragon tersenyum geli karena berhasil membuat dragon kesal. Dia kemudian memutuskan untuk tidur karena hari sudah mulai pagi.