
"Tidak penasaran?" Mendapati raut kebingungan Bangsawan Jingmi dan para tetua kota membuat Yang Jian kembali bertanya.
Namun bukan mendapat jawaban Yang Jian kembali mendapati raut kebingung di wajah orang-orang tersebut. Yang Jian mengangkat sebelah alisnya seolah berpikir bagaimana orang-orang tersebut bisa begitu bodoh hingga sulit memahami pertanyaan Yang Jian. Menghela napas singkat Yang Jian kembali berucap dengan tenang.
"Dana."
Bangsawan Jingmi dan para tetua sama-sama melongo hingga satu detik kemudian mereka sama-sama menggumamkan kata 'Oh' pertanda mereka akhirnya mengerti maksud pertanyaan Yang Jian.
"Walaupun penasaran, sejujurnya kami tidak terlalu penasaran akan hal itu Tuan Muda. Kau tidak perlu memikirkan apapun." Bangsawan Jingmi tersenyum canggung. Mereka tidak menyangka akan mendapat pertanyaan demikian dari Yang Jian. Mereka jelas penasaran akan asal muasal seluruh harta Yang Jian, namun mereka tidak ingin mempertanyakannya atau lebih tepatnya tidak berhak bertanya.
Yang Jian mengangguk ringan, setelah berbasa-basi sejenak. Yang Jian berserta Bangsawan Jingmi yang diikuti dengan para tetua memutuskan untuk meninjau langsung ke lapangan.
Kondisi kota tampak mulai ramai. Tidak ada satupun dari warga yang menunjukan ekspresi prustasi seperti sebelumnya. Hal itu karena bertepatan dengan kunjungan Yang Jain terakhir kali. Bangsawan Jingmi yang dibantu oleh para tetua kota segera menyebarkan berita suka cita jika seoarang dermawan sejati dan berhati mulia rela memberikan sejumlah besar harta kekayaannya untuk disumbangkan ke Kota Batu.
Berita itu seolah menjadi angin segar ditengah panasnya api bagi masyarakat Kota Batu, tak terkecuali Sekte Awan Putih juga merasa bersyukur akan berita tersebut. Hanya dalam waktu semalam nama Yang Jian telah tersebar sebagai penyelamat Kota Batu. Walaupun hanya beberapa orang tertentu yang mengenali sosok Yang Jian tersebut, namun masyarakat tampak antusias menerka-nerka bagaimana sosok sang penyelamat kota.
Disepanjang jalan, Yang Jian mendengar dengan jelas bagaimana namanya begitu di elukan. Bangsawan Jingmi dan para tetua kota hanya tersenyum canggung menanggapi. Mereka melihat sesekali ke arah Yang Jian untuk melihat bagaimana ekpresi Yang Jian. Namun orang yang dimaksud hanya berjalan tenang dengan aura gagahnya tanpa menampilkan raut wajah apapun. Seolah Yang Jian tidak mendengar gosip terhangat di kota tersebut.
__ADS_1
Melihat itu membuat Bangsawan Jingmi dan para tetua kota menghela napas singkat. Mereka seharusnya tahu jika pemuda itu akan bersikap demikian sekalipun dirinya dinobatkan sebagai Kaisar di alam semesta ini.
Beberapa titik jalur menuju Kota Batu tampaknya mulai dibuka demi memudahkan akses pihak Kota Batu denga pihak luar. Yang Jian mengerti jika hal tersebu seharusnya terjadi cepat atau lambat.
Kelompok Yang Jian perlahan menyisiri satu persatu posko, tidak lupa Yang Jian meneliti detail sekecil apapun mengenai biaya yang digunakan para pemimpin kota dan mencocokkannya dengan bukti fisik. Setelah memeriksa dengan cermat, Yang Jian cukup puas akan hasilnya. Walaupaun masih awal namun mereka tampaknya menjalani tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin.
Di perjalan pulang, tanpa sengaja kelompok Yang Jian bertemu dengan Tetua Tang dan Qin Lienhua. Sebagai salam formal, Bangsawan Jingmi beserta para tetua menunduk hormat ke arah Qin Lienhua dan Tetua Tang, dan tentunya dibalas tak kalah hormat dari sepasang guru dan murid tersebut. Sementara Yang Jian hanya membungkuk singkat tanpa membuka mulutnya.
"Terimakasih atas kesediaan Yang Mulia Putri dan Tetua Tang untuk meluangkan waktu berharganya demi membantu kami yang tidak seberapa ini." Nada suara Bangsawan Jingmi cukup sopan dan hormat sambil tersenyum. Namun jika diteliti lebih dalam, dapat dilihat jika terdapat kekecewaan dan ketidakpuasan dari ucapan pemimpin Kota Batu tersebut.
Tentunya selain Tetua Tang ada satu orang lainnya yang mampu menyadari ucapan Bangsawan Jingmi. Namun orang tersebut hanya diam tenang dan menyaksikan.
Basa-basi singkat tetap berlanjut, namun Qin Lienhua sesekali melirik Yang Jian yang berdiri di sebelah Bangsawan Jingmi. Sedari tadi Yang Jian tidak berbicara, hal itu membuat Qin Lienhua merasa jika Yang Jian tersinggung akan ucapannya semalam.
"Bagaimana jika Saudara Yang memutuskan untuk menunjukkan bagaimana perkembangan pemulihan Kota Batu, apakah bersedia?" Qin Lienhua berbicara pelan menginterupsi basa-basi Tetua Tang dan pemimpin Kota Batu tersebut.
Qin Lienhua memberi pandangan berarti kepada Tetua Tang, akhirnya tetua tersebut mengangguk pelan. "Ada beberapa hal yang hendak kudiskusikan dengan Tetua Tang. Dan tampaknya pembicaraan kita ini tidak cocok untuk pemuda pemudi seperti mereka, bagaimana jika kita mengambil ruangan yang tepat, Bangsawan Jingmi?"
__ADS_1
Bangsawan Jingmi mengangkat alis sebelah, dirinya jelas tahu jika tidak adal hal penting yang pantas mereka bicarakan. Dan Bangsawan Jingmi juga menyadari tatapan berulang kali Qin Lienhua kepada Yang Jian. Tetua Tang jelas hanya memberi alasan agar meninggakan Qin Lienhua berdua dengan Yang Jian atas dasar keinginan Qin Lienhua.
Menyadari hal tersebut membuat Bangsawan Jingmi dan para tetua kota semakin penasan akan sosok Yang Jian. Bahkan keluarga kekisaranpun mengenalinya, bahkan dapt diaimpulkan jika mereka memiliki hubungan yang tidak sederhana.
Secara sadar Bangsawan Jingmi menoleh kesamping untuk memoerhatikan reaksi Yang Jian, dirinya jelas tidak mau gegabah mengambil keputusan yang menyebabkan kerugian besar bagi Kota Batu apabila membuat Yang Jian tersinggung, itu sebabnya Bangsawan Jingmi perlu izin dari Yang Jian secara langsung.
Namun Yang Jian tidak menunjukkan reaksi apapun, apakah Yang Jian keberan atau tidak. Hal itu membuat Bangsawan Jingmi merasa prustasi. Berpikir sejenak akhirnya Bangsawan Jingmi mengangguk pelan dan menggiring Tetua Tang menuju kediamannya dan meninggalkan Yang Jian beserta Qin Lienhua.
Yang Jian yang ditinggalkan dengan Qin Lienhua tampak canggung satu sama lain. Pada akhirnya Qin Lienhua memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk menatap tepat ke manik biru Yang Jian.
Manik biru Yang Jian bertubrukan dengan manik gelap Qin Lienhua. Qin Lienhua sempat terpaku selama beberapa detik untuk menyelam manik Yang Jian yang bersinar terang namun dalam bagaikan kolam sumur yang tak berujung.
"Aku dan guru akan memastikan jika Sekte Batu Giok tidak akan berani membuat masalah terhadap Kota Batu jika mendengar bantuan yang kau berikan. Kota Batu berada dibawah dukungan Kekaisaran Qin dan Sekte Naga Awan. Jadi pihak Sekte Batu Giok akan berpikir sepuluh kali untuk memulai masalah. Kau tidak perlu khawatir."
Ucap Qin Lienhua tenang. Dia tidak ingin jika pengorbanan Yang Jian akan sia-sia apabila Sekte Batu Giok memutuskan untuk ikut campur akan bantuan Yang Jain.
Namun jawaban Yang Jian selanjutnya membuat Qin Lienhua terdiam membeku dan menyesali ucapannya.
__ADS_1