Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 73: Yang Shui


__ADS_3

"Jangan membuang waktuku Yang Shui." Belum sempat gadis itu berbicara lanjut, sang permaisuri membentak dengan nada keras. Tongkat yang dia pegang di tangan kanannya dia arahkan kesebuah guci di atas meja. Seketika guci tersebut hancur berkeping-keping dan membuat seisi aula istana beringsut mundur dua langkah, kecuali Yang Shui yang semakin menunduk ketakutan.


"Dia, dia adalah seekor naga yang tinggal di kaki gunung, Ibunda." Jawab Yang Shui pelan tanpa berani memandang wajah sang permaisuri.


"Lelucon macam apa ini, apa kau pikir kau sedang berbicara dengan bocah?" Amarah sang permaisuri tampak semakin memuncak, giginya bergemeretak menahan emosi.


"Aku tidak berbohong ibu, memang dialah yang telah melakukannya. Bukan, kami melakukannya."


"Bocah sekalipun tahu jika tidak ada perkawinan antara manusia dengan binatang. Dan kau juga tahu betul tentang itu." Ucap permaisuri sambil menunjuk Yang Shui menggunakan tongkatnya.


Yang Shui tidak menjawab, dia terdiam dengan tubuh lemah. Rambutnya sudah acak-acakan. Bahkan mahkota ratu yang selalu ia kenakan juga telah terjatuh di lantai.


"Kau sudah kotor, kau sudah ternodai. Dan akibat ulahmu, Klan Yang sudah kotor dan ternodai." Suara permaisuri lebih pelan dari sebelumnya, namun katanya-katanya tampak menekankan kekecewaan yang mendalam.


"Kau mengecewakan Ibunda Shui'er." Setetes kristal bening jatuh dari sudut mata permaisuri. Melihat itu Yang Shui semakin menangis. Dia beranjak kearah sang ibunda dan memeluk kakinya sambil mengucapkan kata maaf.


"Percuma, kau meminta maaf seribu kalipun tidak akan mampu mengembalikan semuanya. Kau tidak akan bisa memutar waktu dan memperbaiki kesalahanmu." Permaisuri melepaskan kakinya dari pelukan Yang Shui. Dia mengangkat tongkatnya keudara kemudian berseru.


"Dengan ini, aku permaisuri Klan Yang, akan menjatuhi hukuman kepada Yang Mulia Ratu Yang Shui akibat perbuatannya yang telah menodai Klan. Dia kuhukum..."


"Tunggu permaisuri." Tiba-tiba seorang pria berpakaian pengawal khusus Klan Yang menghentikan ucapan sang ratu sambil berlari tergopoh-gopoh ke arah Yang Shui.


"Lancang sekali kau!" Seorang petinggi Klan Yang telah siap menarik pedangnya, namun di tahan oleh permaisuri.


"Berikan satu alasan kenapa aku harus mengampunimu." Dingin dan membukan, begitulah suara yang keluar dari mulut permaisuri.


Pria tersebut adalah Yong Yelu, pengawal pribadi Yang Shui. Dia berlutut di lantai dengan kedua tangan mengatup seperti sedang memohon.

__ADS_1


"Mohon maafkan kelancangan hamba permaisuri, tolong jangan hukum Yang Mulia Ratu. Dia tidak bersalah, jika ada orang yang seharusnya dihukum, orangnya adalah hamba. Tolong hukum hamba, permaisuri."


Perkataan Yong Yelu sontak membuat semua orang mengkerutkan kening, begitu juga dengan Ratu Yang Shui, mata memerahnya menatap Yong Yelu dengan tatapan menuntut penjelasan. Namun hanya di balas anggukan seolah sedang mengisyaratkan 'semua akan baik-baik saja'.


"Apa maksudmu?" Tanya permaisuri dengan raut wajah penasaran.


" Hamba orangnya. Hambalah yang telah menodai Yang Mulia Ratu Yang Shui."


Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Yong Yelu, tubuhnya terhempas kuat kebelakang seolah ada energi besar yang menghantam tubuhnya, hingga dia terpental lima meter dan jatuh menghantam kursi-kursi petinggi Klan.


Seteguk darah segar keluar dari mulutnya. Tidak berhenti disitu, tongkat permaisuri melayang dang bergerak cepat menghantam dada Yong Yelu, membuat semakin banyak darah yang keluar dari mulutnya.


"Ibunda, hentikan! Ibu bisa membunuhnya jika seperti itu."


Tiba-tiba gerakan permaisuri terhenti dia menatap nyalang Yong Yelu yang sedang menahan sakit.


"Ibu..." Suara Yang Shui memelas penuh permohonan.


Namun sang permaisuri sama sekali tidak mendengarkan, dia menghilang meninggalkan Yang Shui yang masih terus memohon.


Yang Jian kembali mengerang, dia berusaha menggapai pria yang sedang kesakitan tersebut. Namun usahanya nihil, seolah ada ruang kosong yang menjadi pembatas dunia mereka. Tidak berhenti disitu, gambaran lain berputar dikepala Yang Jian seperti CD yang sedang dimainkan.


Lokasi nya kini gelap, dengan tanah yang basah dan hanya ada beberapa obor yang menjadi penerangan. Tampak Yang Shui sedang terduduk di lantai tanah sambil memegang jemari Yong Yelu. Namun tempat merek dipisahkan oleh jeruji besi yang kuat dan tebal.


"Mengapa? Mengapa kau melakukan ini?" Suara Yang Shui sangat pelan, kini dia tidak lagi menangis namun suaranya serak karena terlalu banyak menangis dan tubuhnya tampak sangat lemah.


"Itu semua karna hamba menyukai anda Yang Mulia, tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini ketika berhasil menolong orang yang dicintainya dan melihatnya hidup bahagia." Sambil menahan rasa sakit, Yong Yelu berusaha tersenyum untuk meyakinkan Yang Shui.

__ADS_1


"Bodoh, kau benar-benar bodoh. Untuk apa kau mengorbankan nyawamu untuk sesuatu yang tidak kau lakukan. Mengapa kau sampai rela dihukum penggal untuk kesalahan orang lain? Mengapa kau mengorbankan nyawamu hanya demi sebuah kata cinta? Mengapa?" Teriak Yang Shui marah, dia menarik tangannya dari tangan Yong Yelu dan menutup wajahnya yang mulai mengeluarkan air mata.


"Itu adalah berkah, Yang Mulai. Apa Anda ingin jika hamba mengatakan yang sebenarnya dan kembali ke kaki gunung?"


Yang Shui menggelengkan kepala pelan. " Cerita cinta kami sudah berakhir, tidak akan ada yang akan percaya ceritaku. Tidak akan ada yang mampu melihat seekor naga berubah wujud layaknya manusia tanpa ada keyakinan di hatinya." Yang Shui tersenyum, dia berusaha menguatkan hatinya.


"Lagipula, tidak mungkin aku pergi menemuinya dan meninggalkan Ibunda sendiri, apalagi aku adalah satu-satunya penerus Klan Yang. Aku tidak mungkin mengabaikan statusku."


Yang Shui mengubah posisi duduknya menjadi membelakangi Yong Yelu dan Bersandar di jeruji besi sambil mendongak menatap langit-langit ruangan gelap tersebut.


"Dan cerita cinta kami akan berakhir mulai saat ini. Tidak ada aku maupun dia, hanya ada Yang Shui dan juga... Bayi ini." Tangan putih dan ramping Yang Shui mengusap lembut perutnya yang masih rata, dan air matanya kembali bercucuran.


"Aku kembali ke rutinitasku, menjalani kehidupan sebagai ratu pemimpin klan, dan sebagai ibu untuk calon bayiku. Kembali kesisinya tidak akan merubah semua yang telah terjadi. Malah, akan memperburuk situasi."


Yang Shui membalikkan badannya dan kembali menatap Yong Yelu.


"Aku berjanji, akan menjamin kehidupan keluargamu. Dan aku juga berjanji tidak akan pernah melupakanmu, Yong Yelu. Maaf karena telah menjadi manusia egois. Dan terimakasih untuk cintamu." Ucapan Yang Shui disertai dengan senyum manisnya.


"Memang ini sedikit tidak sopan, tetapi... Maukah Yang Mulia menuruti keinginan terakhir hamba?"


"Apapun. Apapun itu yang kau inginkan, aku berjanji, aku akan menepatinya."


"Terimakasih atas kemurahan hati Yang Mulia, permintaan hamba yaitu, bolehkah hamba yang memberi nama anak yang sedang dikandung Yang Mulia?" Pinta Yong Yelu hati-hati.


Tanpa diduga, Yang Shui mengangguk mempersilahkan Yong Yelu.


"Namanya adalah, Yang Jian."

__ADS_1


__ADS_2