
Setelah meminta izin kepada salah satu senior Sekte Naga Awan dan disetujui oleh Tetua Tang, akhirnya Qin Lienhua berhasil keluar dari aula. Sesungguhnya, bukan tindakan yang sopan apabila seseorang keluar ditengah berlangsungnya sebuah pertemuan. Namun pertemuan kali ini bukan pertemuan resmi, jadi tidak ada yang protes atau keberatan akan tindakan Qin Lienhua.
Saat tiba di luar ruangan, Qin Lienhua segera bergegas menulis surat yang dia pinjam dari salah satu pekerja pemerintahan Kota Batu. Tidak lupa mengikat sebuah pita berwarna emas dengan lambang keluarga kerajaan agar mudah dikenali oleh Kaisar Qin.
Qin Lienhua mengirim suratnya melalui seekor burung merpati putih, lebih tepatnya siluman merpati. Siluman burung merpati yang bertugas sebagai alat transportasi pengantar surat di Kekaisaran Qin. Setelah beres dengan suratnya, Qin Lienhua memutuskan untuk menyusuri beberapa tempat lokasi pertarungan terjadi.
Jauh berjalan, akhirnya Qin Lienhua menangkap siluet pemuda berjubah hitam. Pemandangan dari belakang tidak serta merta membuat Qin Lienhua lupa akan sosok di hadapannyanya tersebut. Sosok tersebut yang menyadari kehadiran Qin Lienhua akhirnya berbalik menghadap Qin Lienhua.
Tubuh tinggi tegap yang dibalut jubah berwarna hitam berkibar mengikuti alunan angin, celana hitam yang terbuat dari kain sutera mahal begitu pas memeluk kaki jenjang pemuda itu. Seluruh pakaian yang berwarna hitam membuat pemuda itu tampak misterius dan berbahaya.
"Senang bertemu Anda kembali, Yang Mulia Putri. Mohon maaf atas kelalaian hamba yang kurang berkenan saat menyapa Anda beberapa waktu yang lalu."Pemuda dengan wajah tampan seputih giok, dengan manik biru menatap Qin Lienhua sesaat sebelum menundukkan kepala sebagai bentuk sapaan hormat.
Pemuda itu adalah Yang Jian, pemuda yang menyelamatkan Qin Lienhua dari keganasan racun beberapa tahun silam. Waktu yang cukup lama, namun hingga kini Qin Lienhua tidak pernah lupa akan sosok pemuda penyelamatnya tersebut.
Suara yang dalam dan tenang menyapa indera pendengaran Qin Lienhua saat Yang Jian mengucapkan salam, Qin Lienhua terpaku sejenak namun buru-buru mentralkan ekspresinya. "Menyapa katanya!" Qin Lienhua mendengus pelan, bagaimana bisa tindakan Yang Jian sebelumnya yang tanpa mengucapkan sepatah katapun bisa disebut sebagai bentuk sapaan. Ekspresi Qin Lienhua yang sebelumnya terkejut berubah menjadi kesal.
Yang Jian menangkap perubahan air muka Qin Lienhua, seperempat siku muncul di kening Yang Jian, bingung akan kesalahan apa yang telah dirinya perbuat sehingga membuat sang tuan putri Kekaisaran Qin begitu kesal.
__ADS_1
Tak ingin berdebat, Qin Lienhua tersenyum tipis, "Tidak perlu sungkan, Tuan Yang. Senang bertemu Anda kembali." Balas Qin Lienhua tak kalah hormat.
Yang Jian mengangguk pelan. Jarak antara Qin Lienhua dan Yang Jian berdiri sekitar sepuluh meter. Menyadari hal tersebut, Yang Jian berusaha mempersempit jarak di antara mereka. Yang Jian mulai melangkah pelan, setiap langkah yang diambil tampak tegas dan berwibawa, rambut perak yang bersinar akibat pantulan matahari pagi membuat Yang Jian bagai bulan di malam hari, terang dan bercahaya.
Sorot matanya yang tak memiliki emosi sedikit pun membuat Qin Lienhua tidak mampu memprediksi alasan dibalik mengapa Yang Jian melangkah kehadapannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tetapi yang membuat Qin Lienhua bingung adalah aura yang menguar dari tubuh Yang Jian.
Aura tersebut begitu kuat dan mengintimidasi, seperti aura seorang pemimpin yang kuat dan berkuasa. Qin Lienhua tampak berpikir mengenai aura Yang Jian. Setelih menimbang-ninbang akhirnya Qin Lienhua mengerti. Ya, aura Yang Mulia Kaisar Qin. Aura Yang Jian sama persis dengan aura tirani Kaisar Qin.
Kekaguman mulai muncul pada sorot mata Qin Lienhua, dirinya tidak mengerti alasan dibalik aura Yang Jian. Bagaimana bisa seseorang yang baru berusia dua puluh satu tahun, dan hanya berstatus murid khusus sekte menengah memiliki aura yang menyamai aura kaisar? Qin Lienhua seolah dibohongi.
'Bukan bukan.' Qin Lienhua menggelengkan kepala berulang kali berusaha menepis pemikiran yang mengatakan bahwa dirinya sendiri mungil dan pendek. Pasalnya di Sekte Naga Awan, cultivator wanita seusia Qin Lienhua lebih pendek dari dirinya. Tinggi badan Qin Lienhua sudah termasuk tinggi untuk ukuran wanita seusia Qin Lienhua.
"Aku tidak pendek! Anda yang tumbuh tidak normal." Tegas Qin Lienhua menatap ke atas tepat di wajah Yang Jian. Angin pagi yang berhembus meniup surai hitam lembut sepunggung miliki Qin Lienhua. Jubah putih biru khusus Sekte Naga Awan juga ikut berkibar.
Yang Jian mengernyit bingung. Dirinya bahkan tak mengucapkan sepatah katapun yang menyinggung pertumbuhan seseorang.
"Ekhmmm... Lupakan itu." Saat menyadari kebodohannya, Qin Lienhua berdehem pelan berusaha mentralkan suasana yang begitu canggung. "Aku- Apakah aku pendek?" Tanya Qin Lienhua kemudian sambil membuang muka ke samping.
__ADS_1
Lagi-lagi Qin Lienhua merutuki kebodohannya, apa-apan itu? Sejak kapan seorang Qin Lienhua menjadi bodoh saat berhadapan dengan seseorang. Bahkan saat berhadapan dengan Kaisar Qin sekalipun Qin Lienhua masih mampu untuk bersikap tenang.
Aura kaisar. Ya, mungkin karena Yang Jian yang memiliki aura kaisar. Itu sebabnya Qin Lienhua merasa di intimidasi oleh sosok Yang Jian. Qin Lienhua kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan pemikiran anehnya tersebut.
Tetapi bukan berarti Qin Lienhua bisa bersikap bodoh dan ceroboh seperti ini. Qin Lienhua akhirnya menyadari keanehan dari pertanyaannya. Tak ingin salah paham, Qin Lienhua hendak berbicara namun sudah lebih dulu di potong oleh Yang Jian.
"Anda tidak pendek, Yang Mulai putri." Jawab Yang Jian sopan. Tidak berusaha menyinggung Qin Lienhua.
"Uhuk uhuk!" Qin Lienhua terbatuk pelan mendengar jawaban Yang Jian. 'Apa-apaan pembicaraan ini?' Gerutu Qin Lienhua dalam hati. Sama sekali tidak bermanfaat menurutnya. Namun tidak menampik kenyataan bahwa Qin Lienhua puas akan jawaban Yang Jian.
Sejujurnya Yang Jian tidak mengerti mengapa Qin Lienhua menanyakan perihal tinggi badan kepadanya, pertanyaan yang menurut Yang Jian tidak menarik sama sekali. Namun sebisa mungkin Yang Jian menjawab tanpa menyinggung Qin Lienhua.
Suasa Qin Lienhua dan Yang Jian kembali canggung. Qin Lienhua yang kebingungan memulai topik pembicaraan dan Yang Jian yang tidak memiliki topik pembicaraan. Sungguh kombinasi yang menyeramkan.
Hanya berdiri dalam diam dan bernafas.
Kini Yang Jian dan Qin Lienhua seoalah berkomunikasi lewat nafas saja. Lama dalam posisi tersebut akhirnya Qin Lienhua undur diri karena salah satu saudara seperguruannya memanggil Qin Lienhua untuk masuk kembali keruang pertemuan.
__ADS_1