Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 49: Percakapan Singkat


__ADS_3

"Apa kau memiliki waktu luang sebentar saja?" Feng Yu yang memasuki kamar Yang Jian langsung menanyainya dengan raut wajah serius.


Yang Jian merasa bingung, sejak kapan mereka sedekat ini? Namun Yang Jian tidak menolak, dia menganggukkan kepalanya pelan dan mempersilahkan Yang Jian duduk di atas tempat tidurnya setelah menutup pintu kamar.


"Aku tau kau tidak menyukaiku dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Namun bukan berarti kau tidak menyukai Tetua Chang An bukan?"


Pertanyaan Yang Jian membuat Feng Yu merasa sedikit tidak nyaman, walaupun sebenarnya tebakan Yang Jian tepat sasaran namun apabila ditanyai langsung oleh yang bersangkutan membuatnya merasa aneh.


"Aku tidak mengerti mengapa kau mengatakan hal itu." balas Feng Yu


"Lupakan saja, apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan? Rasanya aneh jika kau bertamu tanpa ada alasan lain." Yang Jian tampak tidak ingin berbasa-basi.


"Sebenarnya bukan sesuatu hal yang penting, tidak perlu seserius itu. Hanya saja aku ingin mengatakan sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu. Menyerah bukan berarti kalah, mengalah bukan berarti pecundang. Hanya saja kita perlu mundur selangkah untung mengambil ancang-acang untuk berlari."


"Filosofi yang indah dan penuh makna."puji Yang Jian tulus "Namun aku masih belum menemukan maksud dan tujuanmu menyampaikan hal ini kepadaku."


"Kau akan menemukan sendiri maknanya setelah mundur selangkah sebagai persiapan untuk berlari melewati penghalang." Feng Yu masih bermain kata dengan Yang Jian tidak mencoba untuk menjelaskan langsung maksud ucapannya, namun Yang Jian juga sepertinya tidak berkeinginan untuk menanyakan lebih lanjut.


"Jika kau yang berada diposisi ku, apa kau juga akan melakukan hal yang sama? Atau kau akan menentang banyak orang dan mengambil jalanmu sendiri yang menurutmu lebih baik bagimu dan tentunya bagi semua orang juga?"


Pertanyaan Yang Jian tidak langsung di jawab oleh Feng Yu, Feng Yu terlihat membuka tutupkan mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Feng Yu. Dia tampak dilema.

__ADS_1


"Mundur untuk berlari, atau terus berjalan perlahan sampai kau mengumpulkan kekuatan untuk berlari memang tampak tidak jauh berbeda. Hanya masalah waktu saja. Namun, tidak sesederhana itu. Keputusanmu diawal menentukan hasil akhirnya, jadi jangan sampai kau mengambil keputusan yang akan kau sesali di akhir nanti." Suara indah Yang Jian mengalir tenang seperti mata air.


Feng Yu mengangkat pandangannya menatap Yang Jian, dia sungguh di buat kagum dengan bocah aneh dihadapannya ini. Bagaimana mungkin anak sepolos ini untuk dibenci? Sungguh, Feng Yu seperti orang bodoh yang menilai seseorang dari perkataan orang lain yang belum tentu kebenarannya.


"Kau tahu kalau aku sudah mengetahui semuanya? Maksudku rencana Tetua Shing." Feng Yu sebenarnya samar-samar mendengar pembicaraan Tetua Shing yang hendak mengeluarkan Yang Jian dari sekte. Hanya saja dia belum yakin dan tidak punya cukup bukti untuk membenarkan dugaannya.


Yang Jian mengangkat alisnya sebelah, dia memang merasakan kehadiran seseorang siang itu saat bertemu dengan Tetua Shing, namun Yang Jian tidak ambil pusing karena berpikir mungkin orang tersebut adalah tetua wanita yang selalu bersama Tetua Shing.


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu? Menurutku bukan itu yang hendak kau bicarakan padaku. Kau hanya mencoba berkelit sambil memikirkan waktu yang pas sebelum berbicara bukan?" Yang Jian yang sedari tadi melihat kegelisahan Feng Yu selama berbicara dengannya merasa kalau Feng Yu masih memiliki sesuatu yang penting yang ingin disampaikan.


"Ah bukan apa-apa. Malam sudah larut, sebaiknya aku kembali ke kamarku. Besok turnamen kembali dibuka, sebaiknya persiapkan diri." Feng Yu langsung berjalan keluar dari kamar Yang Jian tanpa menunggu responnya.


Yang Jian terus memandang kepergian Feng Yu hingga tubuhnya menghilang di balik pintu. Kemudian Yang Jian menghela nafas panjang sambil menumpukan sikunya di atas meja dengan jemari yang memijit pelan dahi Yang Jian.


~~


"Ah, tidak tetua. Maksudku sebenarnya Yang Jian sedang apa dan dimana? Maksudku, mengapa dia pergi tanpa berpamitan kepada kita terlebih dahulu?"


Feng Yu sedikit tergagap, namun sebisa mungkin dia menetralkan ekspresinya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Apa memang itu yang hendak kau bicarakan? Kau tidak menyembunyikan sesuatu tentang Yang Jian kan? Dengar Yu'er, tetua butuh informasi sekecil apapun mengenai Yang Jian. Jadi tetua mohon, tolong katakan apapun itu tentangnya yang kau ketahui."

__ADS_1


Chang An tampak masih belum terima akan jawaban Feng Yu, dia berbicara dengan suara rendah dan sedikit serak. Terlihat bahwa Chang An sedang menahan emosinya sekarang, raut wajah yang biasanya penuh kehangatan kini mendung, semendung awan hitam.


Apa kepergian Yang Jian harus sampai membuat tetua Chang seperti ini? Bagaimana jika Feng Yu yang pergi, apa Tetua Chang juga akan bersedih seperti sekarang ini? Feng Yu memandang manik mata Chang An yang juga sedang menatapnya, kemudian Feng Yu tersenyum menyembunyikan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya.


"Bagaimana mungkin aku bisa mengetahuinya Tetua Chang. Tetua tentu tahu bahwa aku tidak sedekat itu dengan Yang Jian. Kami juga sepertinya tidak menyukai satu sama lain, jadi mustahil rasanya jika aku mengetahui sesuatu."


Tampak helaan napas putus atas keluar dari mulut Chang An, kemudian Chang An terduduk sambil menundukkan kepalanya. Melihat itu Feng Yu merasa bersalah, dia meremas jubahnya berusaha melawan kata hatinya yang ingin berkata jujur.


'Maafkan aku Tetua Chang.'


~~


"Hei bocah miskin, apa yang kalian lakukan disini? Pergi, cepat pergi! Aku tidak memiliki uang untuk berbagi dengan pengemis sepertimu."


Seorang wanita paruh baya tampak memarahi dua bocah kecil berpakaian kotor dan kusam, rambut mereka tampak acak-acakan tak terurus dan kulit yang sedikit menghitam akibat kotoran dan debu yang sudah bertahan lama tanpa dibasuh. Bau yang keluar dari tubuh mereka tampak tidak sedap, membuat orang-orang segera menjauh dari sekitar mereka.


"Maaf nyonya, adik saya sedang sakit tolong beri kami sisa makanan yang nyonya miliki. Saya akan melakukan pekerjaan apapun asal nyonya mau membantu adik saya." salah satu bocah pria yang terlihat sangat kurus mencoba memohon kepada wanita yang sepertinya adalah pemilik kedai makanan di hadapan mereka.


Di samping bocah pria itu ada satu bocah kecil lagi yang sepertinya adalah perempuan. Bocah perempuan itu jauh lebih kurus dari bocah lelaki disampingnya. Muka nya pucat, dan tampak bulir-bulir keringat membasahi pelipis anak tersebut.


"Apa kau tuli? Sudah kukatakan pergi ya pergi. Lihat, kau membuat pelangganku merasa tidak nyaman. Pergi sebelum aku melemparmu menjadi makanan binatang peliharaanku." bentak wanita tersebut sambil mendorong kedua bocah tersebut hingga terjatuh.

__ADS_1


"Hentikan!"


__ADS_2