
"Arghhh. Br*ngs*k! Ini tidak bisa dibiarkan. Beraninya dia mempermalukanku!" Seorang pria yang tampak seperti baru berusia pertengahan dua puluhan. Namun tidak tahu pasti berapa usia pria itu. Ruangan yang awalnya rapi dan bersih menjadi kotor dan berantakan. Vas bunga yang terbuat dari keramik kini menjadi serpihan dan menghiasi lantai.
"Pengawal!" Panggil Weng dengan nada menahan amarah. " Tidak peduli apa yang kalian lakukan dan bagaimana caranya. Aku ingin anak itu mati malam ini juga." Sambil menggeretakkan giginya dan mata melotot marah Weng memerintahkan bawahannya agar segera mengatur pembunuh bayaran untuk melenyapkan Yang Jian.
Di sisi lain, tampak Jiji dan Yiyi sedang mondar-mandir di ruangan khusus yang di pesan Yang Jian untuk mereka gunakan selama menyelesaikan misinya di Kota Batu.
"Bagaimana ini Yi'er, kakak benar-benar mengkhawatirkan Kakak Yang." Jiji memdesah berat sambil memijat pelipisnya yang tampak mulai berkedut.
Kini Yang Jian berada di Dunia Surgawi. Tepatnya sedang berada di kediaman Yang Jian dalam kondisi masih tak sadarkan diri.
'Tak tak!'
Tiba-tiba suara seseorang seperti sedang berjalan di atas genteng tampak terdengar samar. Fokus Jiji yang kuat berhasil menangkap pergerakan diam-diam tersebut. Kemudian Jiji memberikan kode terhadap Yiyi agar memperkuat waspadanya.
Jiji bergerak cepat bersembunyi di dalam lemari pakaian yang terletak di sudut kamar serta Yiyi yang memilih bersembunyi di balik gorden dekat jendela.
Enam orang berjubah hitam dengan wajah juga menggunakan penutup mulut berwana hitam berjalan dengan perlahan dari atas genteng, dengan hati-hati mereka membuka pintu jendela. Dalam satu gerakan mereka berhasil memasuki kamar Yang Jian. Kamar tersebut hanya di terangi oleh satu buah lilin, sehingga tampak remang dan minim pencahayaan.
"Dimana mereka bersembunyi?" Bisik salah satu penyusup dengan pedang di tangan kanannya. Salah satu temannya memberi kode seolah dia sudah tahu dimana keberadaan target mereka.
Saat salah satu penyusup yang paling lemah diantara keenam penyusup bergerak mundur membelakangi lemari posisi Jiji berada. Saat posisi penyusup tersebut sudah selangkah dengan posisi lemari. Dengan langkah cepat Jiji mengeluarkan pisau kecil yang sudah dilumuri racun dan menancapkan di leher penyusup tersebut dalam hitungan detik.
'Arghhh'
__ADS_1
Teriakan tertahan keluar dari mulut penyusup itu sebelum meregang nyawa. Racun yang digunakan Jiji adalah racun Raja Kalajengking yang dia pelajari dari raja siluman tersebut, sehingga Jiji mampu dengan lihai menggunakannya tanpa takut efek samping dari racunnya.
Jiji menatap penyusup itu dengan tatapan tak terbaca, ini pertama kalinya Jiji mencabut nyawa seseorang. Tetapi tidak ada sebersit pun rasa bersalah di dalam wajahnya. Hanya tatapan tajam dan raut wajah datar.
"Kurang ajar! Dia selangkah lebih maju. Cepat serang dia, jangan biarkan sampai lolos!"
Perintah salah satu penyusup bertubuh paling besar dan kekar. Kini kelima penyusup tidak lagi menutupi identitas mereka. Kelima penyusup itu secara terang-terangan menguarkan aura pembunuh mereka. Seolah menunjukkam jika yang mereka inginkan adalah kematian Jiji dan Yiyi.
Karena pertarungan tidak bisa lagi dielakkan, Jiji dan Yiyi keluar dari persembunyian mereka dan saling bahu membahu menghadapi kelima penyusup yang tersisa.
'Trang Trang Trang!' Bunyi dentingan pedang dan pisau yang saling beradu menjadi alunan melodi yang mencekam di malam gelap, di bawah sinaran sang rembulan.
"Dengar Yi'er. Di saat kau harus memilih apakah membunuh atau dibunuh. Maka kau harus memilih opsi pertama. Karena untuk mempertahankan nyawamu, maka kau harus mengorbankan nyawa lawan."
"Benar! Dibunuh atau membunuh!" Yiyi memantapkan hatinya, dia masih memiliki tanggung jawab untuk menjaga dragon dan Yang Jian yang masih belum sadarkan diri setelah menghabiskan seluruh qinya demi keselamatan penghuni Dunia Surgawi.
"Ilmu Tarian Pedang." Dengan gerakan pasti, Yiyi mulai memainkan pedangnya. Seolah sedang menari dibawah sinar rembulan. Rambut Yiyi bergerak mengikuti alunan desiran angin malam. Tidak lupa senyum khasnya juga dia terbitkan untuk mengelabui lawannya.
Kelima penyusup yang terbuai oleh hipnotis Yiyi menjadi mengendurkan kewaspadaan mereka dan malah memandang Yiyi lekat.
Tidak ingin membuang kesempatan, Jiji dan Yiyi melesat cepat dan memainkan pedangnya menebas musuh-musuh. Sayatan demi sayatan melintang indah diantara kelima penyusup. Penyusup tersebut berada di tingkat cultivator awal warior star.
Namun tampak jika mereka memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam membunuh sehingga mereka lebih menguasai medan perang. Selama lebih dari dua puluh menit mereka bertukar jurus, bukan hanya kelima penyusup yang mendapat luka. Namun Jiji dan Yiyi juga mendapatkannya. Tampak beberapa goresan luka di antara lengan dan kaki Yiyi. Dan dua goresan di bahu Jiji.
__ADS_1
'Duarrr'
'Arghh!'
Satu serangan telak mendarat mulus di punggung Yiyi sehingga mementalkan Yiyi dan menabrak tembok dengan keras. Tampak darah segar mengalir di bibir mungilnya. Tak ingin kalah, Jiji yang melihat itu melayangkan pisau beracunnya dan menancap indah di dada penyusup itu.
Kemudian dalam hitungan detik, penyusup yang menyerang Yiyi tergeletak tak bernyawa di lantai. Membuat keempat penyusup yang telah terluka parah membulatkan mata sambil mengeluarkan keringat dingin.
"Kerja bagus kakak." Senyum Yiyi sambil mengacungkan jempolnya. Sementara itu, salah satu penyusup berbisik kearah temannya. "Sepertinya dia cultivator aliran hitam." Ucapnya melihat bagaimana cara pertarungan Jiji yang lebih cenderung menggunakan sistem aliran hitam, yaitu menggunakan racun sebagai media tarungnya.
Perkataan penyusup itu masih mampu didengar oleh Jiji dan Yiyi, sehingga menerbitkan sedikit senyum tipis di bibirnya.
"Hitam atau putih tidak menjadi urusan kalian. Yang perlu kalian tahu adalah, kalian tidak akan pernah bisa lagi meninggalkan tempat ini."Bersamaan dengan selesainya ucapan Jiji. Dengan cepat Jiji melemparkan sebuah bungkusan kearah keempat penyusup, kemudian,
"Duarrr!"
Bingkisan yang dilemparkan Jiji seketika meledak dan berubah menjadi serbuk bagai tepung halus dan mengisi ruangan tersebut. Namun, sebelum bingkisan tersebut benar-benar meledak, Jiji terlebih dahulu menarik tangan Yiyi dan membawanya keluar dari kamar Yang Jian dengan melompat dari jendela.
Sedangkan, di kamar Yang Jian tampak enam orang dengan jubah dan penutup muka berwarna serba hitam tergeletak tak bernyawa.
Sementara itu, di seberang penginapan. Di sebuah pohon besar dan rimbun. Tampak seseorang lagi dengan pakaian yang sama dengan para penyusup menelan salivanya. Tangannya bergetar dan punggungnya mengeluarkan sedikit bulir halus.
Saat dirinya melihat sepasang cultivator lompat dari jendela dan melihat rekannya mati mengenaskan. Dengan langkah kilat, dia melompat cepat meninggalkan pohon tersebut dengan langkah tergesa-gesa.
__ADS_1