Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 57: Siapa Dia?


__ADS_3

"Yi'er apa kau melihat Kakak Yang?" Saat Jiji keluar kamar mandi dia melihat Yiyi yang duduk di tepi ranjang. Seluruh pakaian nya telah berubah menjadi baru dan bersih.


Raut wajah Yiyi juga jauh lebih segar dan bersih. Kulit putihnya yang mulus masih sama seperti dulu, saat mereka masih bersama dengan orang tua mereka.


Yiyi memandang Jiji sambil tersenyum yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Jiji melangkahkan kakinya menuju ranjang, kemudian dia menempelkan telapak tangannya di kening Yiyi.


"Tubuhmu masih hangat Yi'er." Ucapnya seraya menarik nafas pelan.


"Tidak apa-apa kakak. Aku akan segera sembuh setelah beristirahat beberapa saat. Lihatlah, tubuhku jauh lebih baik setelah Kakak Yang memberi kita makan dan mengijinkan kita membersihkan diri di kamarnya."


"Kau benar, dan kita berutang budi padanya."


"Oh benar. Sepertinya kakak jauh lebih baik dari sebelumnya, apa ini juga karena Kakak Yang?"


"Apa kau ingat Yi'er, setiap kali ada kesempatan ayah selalu membicarakan sebuah kisah pemuda cultivator yang menyelamatkan nyawa ayah?"


"Huft, bagaimana bisa aku melupakannya kakak. Ayah membuat kisah itu seperti sebuah sejarah perjuangan yang harus di kenang sepanjang masa. Aku bahkan mengingat setiap detail cerita ayah."


Yiyi berpura-pura cemberut sambil memainkan ujung baju yang dia kenakan, kemudia terdiam di ruang sepi seolah mencari tahu apa maksud perkataan sang kakak.


"Aku tidak mengerti, apa hubungannya cerita ayah dengan Kakak Yang." Tanya Yiyi kemudian kerena masih belum mengerti arah dan tujuan perkataan Jiji.


"Dan apakah kau masih mengingat bagaimana kisah mereka dan juga setiap keajaiban yang pemuda cultivator itu lakukan?"


"Tentu saja kakak, pemuda cultivator itu..."


Seolah tersadar akan sesuatu hal tiba-tiba Yiyi memandang Jiji dengan mata bulatnya. Jiji membalas tatapan Yiyi sambil tersenyum. " Apa kau sudah mengerti apa maksud kakak Yi'er?"

__ADS_1


"Awalnya kakak tidak yakin, tetapi setelah melihat keajaiban-keajaiban yang Kakak Yang lakukan, tidak ada alasan bagi kita untuk menolak kenyataan tersebut."


"Itu artinya kita harus berhati-hati kakak, kita tidak tahu apakah Kakak Yang orang yang dapat dipercaya atau tidak. Apakah dia sama dengan cultivator yang menyelamatkan nyawa ayah atau malah sama dengan cultivator yang merenggut nyawa ayah dan ibu."


"Stt, perhatikan perkataan mu Yi'er. Jangan mengatakan hal yang tidak perlu atau nyawa mu nyawa kita berdua akan dalam bahaya."


Jiji menutup mulut Yiyi sambil berbicara dengan pelan. Dia menoleh ke arah pintu dengan hati-hati berharap agar Yang Jian tidak mendengar perkataan mereka.


Setelah memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain. Baru Jiji merasa lega dan menghela nafas pelan. "Maafkan aku kakak, aku akan lebih berhati-hati lagi." Ucap Yiyi merasa bersalah.


Tanpa Yiyi dan Jiji ketahui, Yang Jian mampu mendengar perkataan mereka dalam jarak yang jauh dengan jelas tanpa ada satu katapun terlewatkan. Kemudian Yang Jian memandang kedepan, manik biru nya seketika berkilat selama satu detik.


Kemudian detik selanjutnya,


'Duarrr'. Dengan satu kedipan mata, seorang pria paruh baya meledak dan tubuhnya hancur berkeping-keping. Darah berceceran di sembarang tempat, suara terikan yang memekakan telinga terdengar menyayat di ruangan tersebut.


~~


"Apa kalian sudah selesai?" Sore harinya setelah menyelesaikan segala urusannya dengan ketua desa dan orang-orangnya, Yang Jian kembali ke penginapan dan mendapati Yiyi sedang beristirahat di atas tempat tidur dan Jiji yang sedang khawatir. Dengan berbagai hidangan telah tersusun rapuli di atas nakas tepat di samping jendela kamar.


"Kakak Yang bolehkan kami menginap satu malam di tempatmu? Adik ku sedang sakit, setelah membersihkan diri siang tadi badannya panas dan kini dia tertidur tetapi..."


Jiji memandang Yiyi yang masih tertidur di atas tempat tidur, Yiyi tampak menutup matanya namun seluruh tubuhnya menggigil hebat hingga membuat selimut yang dia pakai ikut bergetar. Dahi dan seluruh wajah Yiyi bahkan basah seperti baru selesai mandi.


Yang Jian menghampiri Yiyi dan meletakkan telapak tangannya di atas kening Yiyi. Sesaat kemudian tampak samar sinar emas diantara telapak tangan Yang Jian dan kening Yiyi. Namun kejadian itu berlangsung dalam hitungan detik sehingga Jiji sama sekali tidak menyadarinya.


Raut wajah Yiyi perlahan-lahan berubah warna, kondisi tubuhnya berangsung-angsur pulih. Dan kini Yiyi tampak tidak menggigil sedikitpun. Saat Yiyi mulai membuka kelopak matanya, dia mengerjap-erjapkan matanya perlahan berusaha memandang wajah Yang Jian di hadapannya.

__ADS_1


"Kakak Yang." Yiyi berusaha berdiri, dengan cekatan Jiji membantu Yiyi untuk duduk. Jiji memeriksa kondisi Yiyi, dengan senyum yang merekah Jiji memandang Yang Jian yang masih berdiri tenang di samping mereka.


"Terimakasih banyak kakak Yang, kakak sudah banyak membantu kami. Biarkan aku bekerja pada kakak untuk membalas semua ini."


Jiji bersujud di kaki Yang Jian sambil menangis. Setelah kepergian kedua orang tua mereka, ini kali pertama ada orang baik yang mereka temui setelah Nenek Po.


Hal ini membuat Jiji sangat tersentuh dan tidak mampu membalas kebaikan Yang Jian. Jiji memohon agar Yang Jian mengangkatnya sebagai budaknya dan membiarkannya melayani Yang Jian seumur hidup.


Tentu hal itu ditentang keras oleh Yang Jian karena dia merasa hal itu terlalu berlebihan dan tidak pantas.


" Aku membantumu bukan untuk mengharapkan imbalan." Yang Jian mengatakan bahwa dia masih punya kesibukan lain yang sangat penting. Dia tidak bisa berlama-lama untuk tinggal di desa tersebut.


"Tinggallah disini selama yang kalian mau, Nyonya Meng akan memperlakukan kalian dengan baik. Percayalah!"


Yang Jian menambahkan bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkan masalah Nenek Po dan Ketua desa beserta orang-orangnya. Yang Jian telah menyelesaikan segalanya sebelum pergi ke tempat tujuannya. Dan mereka dapat bekerja di desa dimana pun mereka mau.


"Terimakasih Kakak Yang, Yiyi janji akan selalu mengingat kebaikan kakak." Kali ini Yiyi yang berkata seraya menangis, kemudian Yiyi beranjak dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Yang Jian.


"Bolehkah aku memeluk kakak?" Tanyanya dengan senyum manis yang sungguh menawan.


Yang Jian awalnya terkejud mendengar permintaan Yiyi, sebab ini kali pertama ada seseorang yang meminta untuk di peluk. Awalnya Yang Jian ingin menolak, namun setelah melihat wajah polos Yiyi yang memandangnya dengan tulus membuat hati Yang Jian melunak.


Kemudian Yang Jian mengangguk pelan sebagai pertanda bahwa dia mengijinkan Yiyi untuk memeluknya. Senyum Yiyi semakin lebar, dia berbalik sebentar memandang Jiji yang masih duduk di atas tempat tidur yang juga sedang tersenyum.


Setalah itu Yiyi langsung memeluk Yang Jian dengan lembut, tinggi Jiji hanya sebatas dada Yang Jian, sehingga Yiyi tampak seperti adik kecil manis Yang Jian yang manja.


"Terimakasih kakak Yang."

__ADS_1


__ADS_2