
Lanjut berlatih, Yang Jian menutup matanya, Yang Jian mampu melihat gelombang-gelombang energi yang bertebaran. Perlahan dia mulai merasakan kehadiran ketiga makhluk yang menjadi teman sekaligus pengikutnya tersebut.
Makhluk-makhluk tersebut memiliki energi yang berbeda, Yang Jian melihat sebuah energi yang sangat kuat dengan warna yang agak pekat. Yang Jian yakin bahwa itu adalah pancaran energi dragon.
'Bersatu dengan alam! Mungkin ini yang dimaksud ayah kala itu.' Pikir Yang Jian.
Tiba-tiba perasaan Yang Jian mulai was-was, dia mempertajam instingnya untuk mencari tahu ancaman apa yang hendak menghampirinya.
Yang Jian mulai merasakan ada energi dingin yang hendak mendakatinya.
Masih dengan menutup mata, samar-samar Yang Jian melihat energi berwarna merah melaju dengan kencang ke arahnya. Yang Jian yakin, itu adalah energi dingin yang dia rasakan sebelumnya.
Yang Jian menggenggam erat pedangnya, mengalirkan qi ke dalam pedang. Sedetik kemudian Yang Jian menghantam energi merah tersebut menggunakan pedangnya.
"Duar"
Yang Jian mundur dua langkah akibat dorongan energi kuat tersebut.
'Kuat.' Gumam Yang Jian, dia akui energi yang dia halau barusan sangat kuat, apabila Yang Jian menerima energi tersebut, mungkin Yang Jian sudah muntah darah kali ini.
"Sedikit lebih kuat."
Suara berat itu menyadarkan Yang Jian dari lamunannya, dia kemudian membuka kelopak matanya dan menoleh ke sumber suara.
"Itu perbuatanmu dragon?"
"Fisikmu lebih kuat dari pertama kali kita bertemu. Dan kau juga bertambah hebat. Yah, walaupun belum bisa dianggap hebat."
Yang Jian tersenyum, ini pertama kalinya dragon mengakuinya. Yang Jian semakin percaya diri dan bertekad akan semakin kuat untuk mewujudkan impiannya.
"Masih banyak yang harus di perbaiki. Menghadapi kematian dua kali membuatku menyadari betapa lemahnya diriku. Aku hanya tidak ingin bergantung kepada siapapun. Hanya diri sendirilah yang dapat dipercaya untuk menolong nyawa kita."
Yang Jian menyimpan kembali kitab dan pedang kayunya. Kemudian Yang Jian memasuki kediamannya, kediaman Yang Jian cukup sederhana. Yang Jian sengaja membuat kediamannya sama persis seperti kediamannya dengan Xiao Ming di Lembah Neraka.
__ADS_1
Dii dalam kediaman Yang Jian terdapat sebuh kolam yang kecil yang hanya mampu menampung satu orang untuk berendam. Berbentuk mangkuk dimana bagian tengahnya lebih dalam daripada pinggirnya.
Ternyata Yang Jian sengaja membuat kolam dengan air yang dia bawa dari Lembah Neraka. Karena Yang Jian membawa air tersebut dalam jumlah yang terbatas, Yang Jian hanya dapat membuat kolam dengan ukuran kecil.
Setelah menanggalkan seluruh pakaiannya, Yang Jian memasuki kolam dan mulai duduk di batu untukbersemedi. Perlahan-lahan Yang Jian mulai merasakan energi qi yang murni mulai memasuki tubuhnya hingga berkumpul di dantiannya.
~~
"Kondisimu belum pulih Yi'er, tolong jangan buat kakak cemas. Tunggulah sebentar disini kakak akan segera kembali."
Jiji berusaha membujuk Yiyi agar mau tinggal di gubuk, dia tidak ingin Yiyi mengikutinya bekerja dalam kondisi yang sakit.
"Mengertilah Yi'er, kakak harus pergi dan bekerja untuk makan malam kita."
"Baiklah, tapi jaga diri kakak baik-baik. Tidak perlu melakukan pekerjaan berat atau aku akan marah pada kakak."
"Kakak janji."
Tidak menunggu waktu lama, akhirnya Jiji meninggalkan gubuk menuju rumah ketua desa.
"Kau sudah datang nak?" seorang nenek tua menghampiri Jiji saat melihat kedatangannya.
"Sudah nek, apa aku terlambat datang?"
"Oh tidak, kemarilah kami baru saja mulai bekerja."
Jiji mengikuti nenek tersebut masuk ke dalam kediaman ketua desa melalui pintu belakang hingga sampai ke halaman belakang.
" Siapa anak ini nenek Po, mengapa kau memungut pengemis kedalam kediaman ketua desa. Kau tahu bagaimana karakter Nona Jing, bisa-bisa kau dipecat kalau dia tahu kau membawa anak ini."
Seorang wanita tua lainnya memandang Jiji dengan tatapan risih.
"Dia Jiji, dia hanya membantu kita untuk membersihkan hadiah Nona Jing."
__ADS_1
"Membantu kita? Apa kau pikir gaji kita cukup besar hingga dapat dibagi kepada seorang lagi?" bentak wanita tersebut tak terima hingga mengundang wanita pekerja lainnya yang sedang mencuci pakaian juga.
"Benar Nenek Po, kita hanya mendapatkan gaji yang sedikit, apa kau berniat membaginya?" sahut salah satu wanita pekerja tersebut.
"Kalian tenang saja, aku tidak akan mengurangi gaji kalian. Aku akan memberi bagianku kepadanya. Jadi tolong jangan memberitahunya kepada Nona Jing."
Jiji yang merasa bersalah melihat Nenek Po disudutkan karenanya semakin sedih saat mendengar bahwa Nenek rela memberi bagiannya untuk Jiji.
Jiji memandang Nenek Po sambil menggelengkan kepalanya. Sesulit apapun keadaannya dia tidak akan pernah mengambil hak orang lain.
"Tidak apa-apa nak, bekerjalah dengan baik. Nenek masih punya tabungan lain jadi kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu."
Mendengar itu Jiji tidak punya pilihan lain, mencari pekerjaan sangat sulit karena tidak ada yang mau mempekerjakan dirinya dengan tubuh sekecil itu. Sementara Jiji harus memberi Yiyi dan dirinya makan atau mereka akan mati kelaparan.
~~
"Siapa yang merusak pakaianku?" seorang gadis muda berteriak marah sambil memegang sebuah selendang berwarna putih yang tampak robek sedikit di bagian ujungnya.
Dihadapan wanita muda itu tampak lima wanita berpakaian pelayan sedang berlutus sambil menangis.
"Maafkan kami Nona Jing, kami telah lalai melakukan tugas kami." Nenek Po menjawab dengan kepala yang masih setia menunduk.
"Maaf, apa kau pikir kata maafmu dapat mengembalikan selendangku. Apa kata maafmu cukup untuk membayar kerusakan ini!"
Pelayan! Ambilkan aku cambuk." perintah Jingjing kepada pelayan pria yang berdiri di sebelahnya. Tidak butuh waktu lama sebuah cambuk dengan ukuran besar dan cukup panjang telah berada di genggaman Jingjing.
"Kalian masih tidak mau mengaku siapa pelakunya?" Jingjing menatap satu persatu pelayan di hadapannya yang menangis ketakutan. Jingjing kemudian tersenyum misterius.
"Baiklah kalau kalian tidak mau. Aku akan menghukum kalian berlima karena berusaha untuk menipu nona ini."
Jingjing mengangkat cambuknya keatas, selanjutnya mengayunkan cambuk tersebut bersiap untuk melecut pelayannya satu persatu. Namun sebelum cambuk tersebut benar-benar mengenai tubuh mereka, sebuah suara menghentikan gerakan Jingjing.
"Tunggu, tunggu nona. Hamba tahu siapa pelakunya. Dia, dia adalah anak pengemis yang Nenek Po bawa pagi tadi. Dialah yang merusak selendang berharga nona."
__ADS_1
Seorang pelayan wanita yang berusia lebih muda angkat bicara, dia menuduh bahwa Jijilah yang telah merusak selendangnya.
"Bohong nona, Jiji bukan pelakunya. Hamba, hambalah yang telah merusak pakaian nona. Hukum hamba saja nona." Nenek Po tidak terima jika Jiji yang harus dihukum. Dia mengetahui bahwa wanita muda tersebut berusaha membuat Jiji sebagai tameng.