Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 91: Penyerangan


__ADS_3

Yang Jian mengernyit tak suka, para manusia bertudung di bawahnya juga menghentikan serangan saat pemimpin upara bernegosiasi kepada Yang Jian.


"Yang Mulai akan menyucikanmu dari dosa. Dan kau akan di anugerahi kekuatan suci sama seperti kami. Kau akan menjadi salah satu..."


"Kau..." Ucapan Yang Jian menghentikan pemimpin upacara. "Terlalu banyak bicara." Lanjutnya membuat pemimpin upacara tertohok.


"Wah wah... Kau sungguh lancang! Sepertinya aku terlalu lembut. Baiklah jika itu yang kau inginkan!" Tanpa berbasa-basi lagi, seolah mengerti, para bawahan pria itu menyerang Yang Jian secara membabi buta dan ganas. Membuat Yang Jian sedikit repot. Namun belum sampai hingga ketahap menyulitkannya.


Menghadapi kematian dua kali membuat Yang Jian belajar banyak hal. Dia tidak mungkin semudah itu disudutkan oleh orang-orang hina di hadapannya. Walaupun ruangan tersebut cukup besar dan luas, namun tetap saja membatasi pergerakan Yang Jian. Apalagi dirinya tidak ingin ada serangan menyasar ke arah jeruji di sudut ruangan.


Sambil bergerak lincah menangkis serangan dan sesekali meluncurkan bola-bola apinya. Yang Jian mulai menggiring para manusia bertudung keluar ruangan. Hingga tak sadar mereka telah tiba di halaman rumah besar itu.


Yang Jian tersenyum menyeringai, kini dirinya tidak perlu lagi menahan kekuatan dahsyatnya. Yang Jian mulai menajamkan matanya, seketika seluruh tubuh Yang Jian di selubungi aliran-aliran petir kecil berwarna biru muda yang tampak indah di tengah kegelapan malam. Aura pekat yang mencekam menguar dari tubuhnya, membuat para manusia bertudung mundur beberapa langkah menyadari bahaya dari depan.


Tudung kepala Yang Jian tersingkap kebelakang menampilkan surai peraknya yang indah melambai-lambai diterpa angin. Wajah dingin serta sorot mata tajam menusuk setiap manusia di bawahnya.


Manusia bertudung itu seketika melotot, memandang pria yang telah mengacaukan upacara sakral serta membunuh sebagian rekannya. Mereka tidak menyangka bahwa pelakunya masih semuda itu.


"Cukup memandangiku! Aku pria normal." Sentak Yang Jian penuh penekanan membuyarkan lamunan manusia bertudung yang terus menatap intens wajahnya.

__ADS_1


Pedang Suci yang berwarna putih ditangan Yang Jian perlahan mulai berubah semerah bara. Aura pembunuh Yang Jian menguar begitu saja, tanda dirinya sudah tidak sabar menumpah darah malam ini juga.


Dengan posisi melayang di udara, Yang Jian bergerak gesit menyerang kerumunan. Suara decitan pedang beradu dengan kuku tajam menggema di udara. Bau amis darah semakin tercium jelas kala semakin lama pertarungan berlangsung.


Tampak orang-orang bertundung mulai tumbang satu persatu, disertai dengan jeritan kesakitan. Saat pemimpin upacara tiba di halaman lokasi pertempuran, dia melihat Yang Jian berdiri dengan sebilah pedang yang dirinya tancapkan di atas tanah. Sekeliling Yang Jian berceceran darah dan mayat orang-orang bertudung menyisakan Yang Jian seorang diri.


"Kur*ng aj*r. Berani-beraninya kau!" Tunjuk pemimpin upacara geram. Namun yang ditunjuk menarik sebelah sudut bibirnya seraya menatap tajam pemimpin upacara.


"Dengan kehadiranku di tempat ini seorang diri, bukankah telah menunjukkan keberanian?" Perkataan Yang Jian semakin menyulut emosi pemimpin upacara. Mata pria paruh baya tersebut berubah sejurus dengan auranya yang kian lama kian pekat. Nafsu pembunuh yang kuat kini terarah pada Yang Jian.


Yang Jian masih dengan sikap tenangnya. Dia menerima serangan pemimpin upacara dengan serangan api mematikan dan disusul dengan aliran petir bertegangan tinggi. Pertemuan kedua elemen tersebut sama-sama memiliki daya rusak yang tinggi. Hingga beberapa kali mampu menyudutkan pemimpin upacara.


Namun, Yang Jian juga sedikit kewalahan. Perbedaan praktik serta jurus-jurus pemimpin upacara yang sedikit aneh membuat Yang Jian harus lebih berhati-hati. Tidak sedikit juga Yang Jian menggunakan qi nya demi melancarkan satu jurus mematikan.


"Aku tidak akan membiarkanmu merusak kehormatan Yang Mulia Raja." Geram pemimpin upacara. Kuku hitam panjangnya kembali meluncur secepat kilat menyerang Yang Jian tanpa ampun. Namun selalu berhasil digagalkan.


Yang Jian tampak berpikir sebelum menyerang, dia harus sesegera mungkin menghakhiri pertarungan atau dia tidak memiliki waktu sama sekali. Qi Yang Jian tinggal sesikit lagi, mengharuskan dirinya menyelesaikan pemimpin upacara dalam satu serangan terakhir.


Kini Yang Jian mengubah posisi kuda-kudanya, kuda-kuda penyerangan jurus Pedang Naga Langit warisan Xiao Ming yang telah dirinya pelajari beberapa level. Aura Yang Jian seketika berubah mencekam, sekilas tampak sinar emas menyelubungi tubuh Yang Jian. Namun tidak berhasil ditangkap oleh pengelihatan pemimpin upacara.

__ADS_1


Pemimpin upacara mundur selangkah kebelakang tanpa sadar, dia merasakan aura bahaya yang terpancar dari tubuh Yang Jian. Kini dia mulai waspada karena dia tidak mampu menangkap kejangkalan apapun dari pemuda misterius di hadapannya. Hanya ada rasa takut agar berhati-hati.


'Jlebbb!'


Belum sempat pemimpin upacara bergerak, sebilah pedang kini bersarang tepat di dadanya, lebih tepat di jantungnya. Matanya melotot tajam dengan raut wajah kebingungan. Dia bahkan tidak melihat kapan dan bagaimana Yang Jian bergerak. Namun bukan itu yang membuat pemimpin upacara terkejut. Rasa sakit yang luar biasa seakan mencabik-cabik organ dalamnya.


Setiap kali pemimpin upacara menggunakan qi demi mengurangi rasa sakit dan menyembuhkan lukanya, maka qinya akan terserap begitu saja tanpa tahu kemana perginya. Hal itu tentu membuat ketakutan pemimpin upacara semakin ketakutan.


Sorot mata elang Yang Jian seakan menguliti seluruh tubuh pemimpin upacara. Dengan satu gerakan, Yang Jian kembali mencabut pedangnya dan meluncurkan satu serangan terakhir menumbangkan pemimpin upacara.


~~


Kini Yang Jian telah kembali ke penginapan. Setelah membereskan seluruh orang-orang bertudung. Dia menyelamatkan masyarakat yang disekap di balik jeruji dan mengirimnya kedepan kediaman pemerintahan Kota Batu.


Bukan niat menggemparkan seisi kota, namun Yang Jian tidak memiliki pilihan lain kemana Yang Jian harus mengantar mereka. Tanpa sepengetahuan Yang Jian, beberapa pengawal kota melihat aksi Yang Jian dan melaporkan kepada pemimpin mereka.


Yang Jian juga telah mendengar perihal kedatangan beberapa perwakilan sekte dan tujuannya. Dari laporan Jiji, Yang Jian menangkap bahwa masih banyak kelompok aliran sesat yang masih berkeliaran di Kota Batu. Dan tidak menutup kemungkinan jika masih ada markas tersembunyi milik mereka.


Mungkin besok akan menjadi hari bersejarah dan hari pertumpahan darah di Kota Batu.

__ADS_1


"Sebiasa mungkin kalian harus menghindari pertarungan utama dan hanya membantu dari belakang saja." Perintah Yang Jian kepada Jiji dan Yiyi.


Entah mengapa firasat Yang Jian tidak baik mengenai esok hari. Jiji dan Yiyi juga menyadari hal tersebut, dan hanya menganggukkan kepala mengiyakan.


__ADS_2