Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 36: TCM XI


__ADS_3

"Hei, jika kau tidak keberatan kau bisa pergi ke ruang latihan bersama dengan kami." Feng Yu dan Xinxin berjalan menghampiri Yang Jian. Ada tetua Lin yang juga bersama mereka. Namun aneh, Yang Jian tidak melihat Chang An di antara mereka.


"Salam tetua Lin." Sapa Yang Jian sambil sedikit menunduk sebagai tanda penghormatan.


"Dimana guru Chang?" Tanya Yang Jian dengan tatapan menyelidik ke arah dua saudara seperguruannya tersebut saat tetua Lin berbincang dengan salah satu senior Sekte Naga Awan.


"Apa kau tidak tahu?" Bukan nya menjawab, Feng Yu malah bertanya.


"Apa yang tidak ku ketahui?"


"Tetua Shing dan satu tetua wanita datang malam tadi, dan sekarang tetua Chang sedang bersama dengan mereka." Feng Yu bingung melihat sikap Yang Jian. " Apa kau benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak tahu?"


Yang Jian terdiam dan tampak sedang berpikir, dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba ada tetua Shing disini, di Sekte Naga Awan.


Yang Jian tahu betul bahwa hanya tetua Lin dan Tetua Chang An lah yang di tugaskan sebagai pendamping peserta turnamen. Mengingat betapa jauhnya jarak tempuh Sekte Batu Giok dengan Sekte Naga Awan, rasa nya tidak mungkin kalau ini hanya kebetulan saja.


"Maaf kurasa aku punya keperluan lain." Tanpa menunggu tanggapan, Yang Jian segera berbalik meninggalkan Feng Yu dan Xinxin.


Feng Yu menatap Xinxin penuh tanya, seolah tahu maksud tatapan Feng Yu, Xinxin mengangkat bahu nya. "Dia memang unik, tidak perlu heran."


"Dimana Yang Jian?" Tanya tetua Lin setelah selesai berbincang dengan salah satu murid senior sekte naga awan.


"Dia memiliki urusan lain tetua."


"Urusan?" Tetua Lin berkata sambil tersenyum, lucu rasanya ketika mendengar seorang Yang Jian punya urusan disini. Tanpa memikirkan lebih lanjut Tetua Lin mengajak kedua murid nya ke ruang pelatihan.


~~

__ADS_1


Di sebuah taman yang cukup luas tampak tiga orang berbeda generasi berkumpul dengan suasana yang menegangkan saling diam membisu.


Taman tersebut sangat sepi seperti tidak pernah terjamah, tinggal beberapa meter lagi berjalan ke depan maka kita akan sampai di hutan yang masih menjadi kawasan sekte naga awan. Tidak ada bunga, hanya ada rumput kecil dan beberapa kursi panjang yang sudah berdebu.


"Bagaimana Tetua Chang? Ah...atau aku perlu memanggilmu dengan panggilan manisku dulu? Baiklah, baiklah... Bagaimana An'er?"


Seorang pria yang masih tampak berumur enam puluh tahun berbicara dengan nada mengejek, padahal umur pria tersebut sudah mencapai angka ratusan tahun. Dia adalah salah satu tetua senior di Sekte Batu Giok, Tetua Shing.


Chang An yang mendengar itu tampak mengepalkan tangan erat hingga buku-buku jarinya memutih, mata nya melotot tajam memandang Tetua Shing.


"Ah kau menakutiku. Jangan tatap aku dengan penuh nafsu seperti itu, aku merindukan tatapan penuh kasih sayang darimu." Tetua Shing memasang ekspresi berpura-pura takut. Namun ada seringai kecil di sudut bibirnya.


"Tolong...berhenti." Hanya itu yang keluar dari mulut Chang An, nafasnya yang memburu menandakan bahwa kini dia berusaha mati-matian menahan amarah nya.


"Berhenti? Permintaan mu malah membuat ku ingin mencabut nyawa pria dan wanita hina itu." Mendengar itu jantung Chang An serasa di remas-remas, ada rasa sesak yang teramat sakit di dada nya. Kemudian Tetua Shing beralih ke mode seriusnya menatap Chang An rendah.


'Deg...' ucapan tetua Shing sukses membuat jantung Chang An berpacu dua kali lebih cepat.


"Dia hanya anak kecil, dia sebatang kara..."


"Apa aku terlihat peduli? Siapa pun orang terdekatmu ku anggap dia juga siap terlibat denganmu. Apa kau lebih memilih aku mencabut nyawanya sekarang juga. Aku punya seribu satu cara membunuh bocah kecil tanpa rasa sakit. Kau bisa memilih cara mana untuk mengakhiri nyawanya. Anggap saja aku sedang menebar kebaikan."


"Kuharap kau tidak melupakan perjanjian itu, memilih salah satu itu artinya kau rela melepas yang satunya." Ucap Tetua Shing sebelum beranjak keluar kamar meninggalkan Chang An dengan tatapan kosong nya.


"Tapi...tapi ada beberapa peraturan sekte yang tidak bisa di langgar." Ucapan Chang An menghentikan langkah tetua Shing dan wanita di sampingnya.


"Kau tidak perlu pikirkan masalah peraturan, kau hanya perlu memilih salah satu antara mereka." Tetua Shing berlalu meninggalkan Chang An yang masih tidak puas atas jawaban nya.

__ADS_1


'Arghhh...' Chang An menghantam tembok dengan tinjunya sambil mengerang tertahan agar tidak mengundang perhatian orang lain. Raut wajah nya menandakan amarah yang membara. Namun amarah tersebut bukan untuk orang lain tetapi tertuju kepada dirinya sendiri.


"Lagi-lagi, lagi-lagi aku gagal melindungi orang-orang ku." tampak jelas rasa prustasi dari nada bicara Chang An. "Jian'er maaf." ucapan terakhir Chang An terasa pilu. Dia sekuat mungkin untuk menahan rasa sesak di dadanya. Tubuh Chang An merosot ke tanah, dia membenamkan wajahnya di sela-sela antara kedua lututnya.


Tanpa sepengetahuan Chang An, ada sosok yang memperhatikan nya dari jauh lebih tepatnya mengawasi mereka sejak tadi, sejak Tetua Shing dan tetua wanita tersebut masih di taman itu.


Mata biru Yang Jian berkilat sesaat bagaikan petir sebelum hujan. Kedua tangan nya mengepal keras, ini pertama kalinya sejak pertemuan pertama mereka Chang An terlihat lemah dan tidak berdaya.


Yang Jian ingat, gurunya tidak pernah menceritakan tentang asal usul dan masa lalu nya, mendengar pembicaraan Chang An dan tetua Shing, akhirnya Yang Jian sadar dia belum benar-benar mengenal sosok gurunya tersebut. Masih banyak yang tidak di ketahui Yang Jian dan itu membuat Yang Jian merasa bersalah.


"Aku bahkan belum membanggakan guru dengan pencapaian ku, tapi..." Yang Jian tidak mampu menyelesaikan kata-katanya, dia sadar bahwa situasi sulit yang di hadapi Chang An saat ini gara-gara kehadiran Yang Jian.


"Apa kau ingin aku memakannya?" celetuk dragon tiba-tiba.


"Siapa?"


"Pria tua itu."


Yang Jian yang mengetahui orang yang di maksud dragon memutar bola matanya jengah.


"Tidak perlu. Dagingnya tidak enak, kebanyakan kejahatan."


"Ck, apa kau benar-benar berfikir aku akan memakan dagingnya?" tanya dragon berdecak malas.


"Kau yang berkata." ucap Yang Jian sambil berlalu dari taman sebelum Chang An menyadari kehadirannya.


~~

__ADS_1


"Mengapa harus menyingkirkan anak itu? Aku tidak melihat adanya bahaya dari nya." Tetua wanita yang menemani tetua Shing menghentikan langkah nya sambil menatap Tetua Shing penuh tanya. Dia merupakan sekutu Tetua Shing dalam menjalankan setiap rencananya.


__ADS_2