
Yang Jian menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk berbincang-bincang, awalnya baik Shing Zhisu maupun Chang Hongli masih meragukan akan kebenaran identitas Yang Jian, namun stelah Yang Jian menunjukkan beberapa benda pemberian gurunya, akhirnya Shing Zhisu dan Chang Hongli mampu menerima kebenaran tersebut walaupun dengan hati terluka. Ya terluka, mengingat bagaimana putra mereka memelihara monster mengerikan di balik wajah tampannya.
Perasaan keduanya juga menjadi sedikit lebih baik ketika memandang Yang Jian. Mengenai bagaimana Yang Jian mengetahui tentang mereka, saat di tanya Yang Jian hanya menjawab,
"Kebetulan." Jawaban yang tidak masuk akal dan tidak memuaskan sama sekali.
Lalu perihal bagaimana Yang Jian berada di Kota Batu tanpa satupun cultivator Sekte Batu Giok di sisinya hanya dibalas tatapan datar oleh Yang Jian. Tatapan yang mengisyaratkan, 'Jangan bertanya atau kau akan mati.' Tatapan itu membuat sepasang suami istri tersebut bergidik ngeri dan memilih untuk bungkam.
Saat ini Yang Jian memutuskan untuk keluar dari ruangan bawah tanah dan memantau bagaimana perkembangan kondisi Kota Batu. Terselip sedikit perasaan bersalah dalam dirinya ketika mengingat jika masalah ini terjadi secara tidak langsung karena Yang Jian sendiri.
Suasana kota tampak riuh, terdapat dua titik lokasi yang berdekatan sebagai pos pembangunan, semua masyarakat bergotong royong ikut serta dalam pemulihan kota. Baik cultivator maupun manusia biasa. Pihak pemerintahan Kota Batu dan Sekte Awan Putih menjadi pengendali jalan berlangsungnya pembangunan tersebut.
Terdapat dua pos besar tempat dimana berdirinya kemah besar yang digunakan sebagai tempat pengambilan makanan. Karena kehancuran kota menyebabkan keterbatasan pangan. Untuk memeratakan bahan pangan bagi semua masyarakat, Bangsawan Jingmi mengumpulkan semua bahan makan dan meminta ibu-ibu untuk memasak agar dibagi untuk semua masyarakat biasa.
Pihak Sekte Awan Putih juga membuat misi sekte yaitu perburuan hewan biasa maupun siluman. Misi tersebut diperintahkan langsung oleh Patriak Sekte, misi tanpa hadiah koin seperti biasa, melainkan pelatihan langsung dari para Tetua selama satu hari penuh, yang tentunya lebih menggiurkan daripada seribu koin emas. Misi ini bertujuan untuk mengumpulkan lebih banyak bahan pangan untuk menghidupi seluruh masyarakat Kota Batu.
Yang Jian mengamati prosesnya dengan seksama, berjalan tenang jauh dari kerumunan untuk menghindari keramaian yang berpotensi untuk menarik perhatian masyarakat. Saat melakukan pengawasan samar-samar Yang Jian mendengar beberapa orang yang tengah bergosip.
Dari pembicaraan yang dirinya dengar, dikatakan bahwa saat ini Bangsawan Jingmi tengah putus asa, hal tersebut karena pihak kekaisaran yang menolak untuk memberikan bantuan dana lebih. Kekaisaran hanya memberi sekotak koin emas dan dua kotak koin perunggu. Bahkan beberapa sekte terangan-terangan menolak memberi bantuan karena tidak memiliki aset yang cukup banyak.
Hal ini tentu membuat Bangsawan Jingmi kecewa, namun ketika mengetahui alasan dibaliknya akhirnya dia mulai mengerti. Hal ini dikarenakan beberapa tahun belakangan ini pihak sekte aliran hitam sedang gencar-gencarnya melakukan penyerangan di berbagai tempat.
__ADS_1
Yang Jian ingat, bahwa kejadian ini juga pernah terjadi saat dirinya mengikuti Turnamen Cultivatir Muda beberapa tahun yang silam. Hingga kini Yang Jian tidak mengerti apa motif sebenarnya dari pihak aliran hitam.
Jika alasannya adalah hanya ingin memonopoli dan memperluas daerah kekuasan tentu tidak sesederhana itu.
"Mereka kekurangan dana yang cukup banyak." Gumam Yang Jian menghela napas panjang. Tak berselang lama, Yang Jian melihat seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun tengah berlari ke arahnya diikuti dua lelaki bertubuh kurus yang tampak berusia lima belas tahun.
Kedua lelaki itu mengejarnya sambil sesekali berteriak memintanya untuk berhenti. Anak perempuan itu terus berlari menggunakan kaki-kaki kecilnya, hingga tanpa sadar dirinya menabrak sesuatu yang keras dan terjatuh ketanah.
"Aaww!"
Ringis anak kecil itu seraya memegang jidatnya yang tampak kemerahan terkena benturan keras, kemudian anak itu mendongak ke atas guna menatap batu keras apa yang dirinya tabrak barusan. Sesaat kemudian bola matanya membulat sempurna di ikuti dengan mulut menganga lebar dengan tidak elitnya. "Ba- bagaimana bisa seseorang bisa begitu tampan."
"Nah, akhirnya ketemu." Bersamaan dengan kebingungan Yang Jian, dua lelaki yang sebelumnya mengejar si anak kecil sampai di hadapan Yang Jian dengan napas terputus-putus. Sontak saja si anak kecil bangkit berdiri kemudian berdiri di balik tubuh Yang Jian.
"Kau harus menolongku, kak." Ucap anak itu seraya mengintip dari balik jubah hitam Yang Jian. Mendengar itu, Yang Jian memutar kepalanya melihat si anak kecil seraya mengangkat sebelah alisnya, "Mengapa aku harus menolongmu?"
"Karena kakak tampan." Jawab sang anak kecil dengan polosnya.
Yang Jian masih memasang muka datarnya, menatap gadis kecil yang tengah tersenyum lebar menampilkan gigi susu yang putih, tingginya hanya sebatas paha Yang Jian saja. Pipi bulat berlesung pipi dengan sedikit rona merah. Kulit putih halus, rambut hitam legam yang terurai sepunggung dan poni yang menutupi seluruh alisnya. Tampak manis dan imut.
"Bisakah kau menyerahkan anak itu kepada kami?" Ucap salah satu pemuda berkulit cokelat seraya menatap tajam Yang Jian sesaat, namun hanya satu detik sebelum pemuda itu memutus kontak mata mereka.
__ADS_1
Yang Jian terdiam masih dengan wajah tenangnya tanpa terpengaruh sama sekali. Hanya dengan menatap manik biru Yang Jian sudah mampu membuat lawan merasa tertekan dan merinding.
"Ku harap kau tidak ikut campur urusan kami. Masalah ini tidak ada hubungannya denganmu." Sahut salah satu pemuda itu dengan suara sedikit bergetar.
"Ya kau benar, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian dan tidak seharusnya bagiku untuk ikut campur." Jawab Yang Jian tenang.
Jawaban Yang Jian membuat anak kecil itu tersentak dan membulatkan mata sempurna, dia menatap Yang Jian dengan sorot mata tidak percaya. Berbeda dengan anak kecil, kedua pria itu malah tersenyum lebar. Namun sedetik kemudian wajah mereka membeku mendengar jawaban Yang Jian selanjutnya.
"Tetapi anak ini meminta tolong padaku. Itu artinya dia memintaku untuk ikut campur." Lanjut Yang Jian tanpa rasa bersalah. Bersamaan dengan itu Yang Jian mengeluarkan aura guanghuannya menekan kedua pria itu.
Tiba-tiba saja kedua pria yang sebelumnya membeku mulai berkeringat dingin, lutut mereka melemas tanpa tahu penyebabnya. Sedetik kemudian roboh di atas tanah tidak sadarkan diri.
"Wah hebat." Anak kecil tersebut tersenyum bahagia. Setelah itu Yang Jian berlalu tanpa peduli terhadap gadis kecil di kakinya.
"Tunggu, tunggu kak."
Gadis kecil itu berlari seraya memanggil Yang Jian berulang kali. Namun seolah tuli, Yang Jian terus melangkahkan kakinya lebar mengabaikan panggilan di belakangnya.
"Aww." Anak kecil itu merintih kesakitan saat dirinya terjatuh di atas tanah. Mendengar itu Yang Jian akhirnya berhenti melangkah dan memutar badannya menatap anak kecil tengah memegang telapak tangannya.
"Bagaimana bisa kakak begitu tega terhadap seorang gadis?" Ucap anak kecil itu sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1