
Ada yang janggal dengan informasi tersebut, kalau memang Shing Zhisu dan Chang Hongli menghilang secara misterius berarti besar kemungkinan bahwa mereka masih hidup dan sedang bersembunyi di suatu tempat.
Kedua, saat Shing Bo ditolak menjadi pemimpin selanjutnya keluarga Shing, siapa yang mengambil kendali atas kepemimpinan keluarga tersebut?
Dan mengapa Chang An selaku putra sah dari Shing Zhisu malah menjadi tetua di Sekte Batu Giok mengikuti Shing Bo dan bukan malah meneruskan usaha keluarga?
Pertanyaan itu membuat kepala Yang Jian berdenyut, dia tidak menyangka bahwa kasus Chang An akan serumit ini. Yang Jian menghela nafas panjang sambil memijat pangkal hidungnya.
Dia memilih berhenti di hutan yang cukup rindang dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di atas kayu yang cukup besar sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.
Kalau memang kasusnya seperti ini, bukan hal mudah bagi Yang Jian untuk membantu Chang An dari balik layar. "Huh, sepertinya butuh waktu yang tidak sebentar sampai aku memecahkan misteri ini." Gumam Yang Jian sambil berbaring di salah satu dahan pohon.
"Aku tidak melarangmu untuk ikut campur masalah siapa namanya? Chang...Chang siapa itu aku tidak peduli. Namun kau harus tahu bahwa kematianmu sudah dekat, jadi lakukan mana yang harus kau lakukan terlebih dahulu." Ucap dragon yang mendengar gumaman Yang Jian.
"Sepertinya kau benar-benar berharap supaya aku cepat mati ya, kau mengatakan kematian seolah-olah mengatakan ingin tidur. Semudah memejamkan kelopak mata." Yang Jian yang merasa kesal membalas ucapan dragon dengan ketus.
"Cih, aku hanya mengingatkanmu. Lihatlah kondisi tubuhmu bagai daun kering yang akan melayang saat tertiup angin."
"Ya, aku mengerti. Tapi apa kau memang harus mengejekku sampai segitunya? Hei aku juga masih mampu memanggang daging siluman-siluman bermulut licin, kau tau?"
"Apa sekarang kau mau mencoba mengatakan bahwa mulutku licin?" Dragon yang merasa tersinggung membuka matanya yang sedari awal terpejam walaupun sedang berdebat dengan Yang Jian.
__ADS_1
"Kau yang mengatakannya."
"Terserah, kita tidak punya waktu banyak. Tujuan kita selanjutnya adalah Kota Batu, disana ada Hutan Terlarang yang menjadi lokasi perburuanmu. Jadi sebaiknya persiapkan dirimu untuk melawan raja atau ratu siluman, atau kau juga boleh mempersiapkan dirimu untuk menyambut kematianmu."
Dragon yang kesal kembali menutup matanya mengabaikan ucapan Yang Jian selanjutnya. Sementara kedua raja siluman yang sedang beristirahat di goa dekat kediaman dragon hanya menonton pertunjukan singkat tersebut.
Mendengar perdebatan Yang Jian dan dragon sudah menjadi makan pokok mereka sehari-hari. Jadi mereka tidak perlu heran lagi. Namun yang membuat mereka bingung mengapa dragon sangat tidak sopan dan tidak patuh kepada tuannya.
"Mana aku tahu, tanyakan saja padanya." ucap raja kingkong kepada raja kalajengking saat ditanyai masalah tersebut.
"Sebelum aku sampai di Dunia Surgawi, dragon sudah terlebih dahulu berada disini jadi aku tidak tahu menahu mengenai dia. Kalau kau penasaran tanyakan saja pada dragon." sambungnya.
"Aku hanya tidak mengerti, dan tuan juga tampak tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bukankah kita bertiga sama-sama raja siluman? Kenapa dia malah bertingkah bahwa dia itu seperti raja dari segala para raja siluman?" ucap raja kalajengking pelan sambil melirik kearah dragon khawatir jika dragon mendengar pembicaraan mereka.
Memang benar, dragon yang kehilangan kekuatannya sekarang tampak tidak berbeda dengan para raja atau ratu siluman pada umumnya. Yang membedakannya hanya ukurannya yang sedikit lebih besar.
Itu sebabnya raja kalajengking dan raja kingkong tidak mengetahui identitas asli dragon ditambah lagi dragon yang tidak pernah menunjukkan kekuatannya dan tidak pernah mengeluarkan aura tiraninya yang hampir membuat Yang Jian celaka.
Sehingga dia hanya tampak seperti raja siluman pemalas yang suka tidur dan bersikap kekanakan dengan berdebat kepada Yang Jian.
"Tua? Siapa yang kalian katakan tua ha? Kau yang tua, seluruh keluargamu tua!"
__ADS_1
Raja kingkong dan raja kalajengking tersentak kaget mendengar bentakan dragon, mereka tidak menyangka bahwa pembicaraan mereka akan dapat didengar oleh dragon.
Kedua raja siluman tersebut ketakutan sambil merinding, bukan karena ketahuan telah membicaraka dragon tetapi karena aura yang dikeluarkan dragon yang sangat mencekam.
Dragon memandang kedua raja siluman tersebut dengan mata merahnya, seluruh tubuhnya seolah diselubungi kabut hitam yang membuat siapapun akan berteriak memohon ampun. Perlahan-lahan darah segar mulai menetes dari mulut kedua raja siluman tersebut, nafas mereka tercekat dengan mata yang melotot kesakitan.
Satu detik, dua detik, tiga detik, bahkan setelah beberapa saat dragon tetap bertahan dengan posisinya sambil menyaksikan kedua raja siluman tersebut semakin kesakitan, hingga darah yang awalnya hanya menetes pelan mulai mengalir membasahi mulut dan wajah kedua raja siluman tersebut.
Bahkan untuk memohon ampun pun mereka tidak di izinkan!
"Sudahlah, hentikan dragon! Apa kau mencoba membunuh pengikutku. Ingat! Aku sudah menjalin kontrak dengan mereka. Selain aku, siapapun tidak ku izinkan menyentuh mereka. Sekalipun itu kau!"
Nada suara Yang Jian yang tegas segera menyadarkan dragon dari emosi yang telah menguasainya. Namun dia tidak segera melepaskan kedua siluman tersebut dan malah menatap tajam. Hal ini membuat kedua raja siluman semakin berkeringat dingin dengan seluruh tubuh dipenuhi rasa sakit yang luar biasa.
"Kali ini, hanya kali ini!" setelah itu dragon menarik kembali auranya, seketika tubuh kedua raja siluman tersebut jatuh ketanah. Mereka menundukkan kepala takut sambil mengucapkan terimakasih atas pengampunan dragon dan pembelaan Yang Jian.
Namun mereka tidak benar-benar takut kepada dragon meski dalam hati mengakui kemampuan dragon berada diatas kemampuan mereka, karena mereka merasa bahwa mereka sama-sama pengikut Yang Jian. Jadi, satu-satunya yang harus mereka takuti dan hormati adalah Yang Jian, tuan mereka.
"Sekedar informasi, jadi dengarkan baik-baik. Aku itu dragon, makhluk suci yang menjadi ras yang paling ditakuti dan di segani dikalangan para siluman seperti kalian, bahkan nenek moyang kalian juga akan tunduk kepadaku. Makhluk lemah seperti bocah itu juga bukan apa-apa bagiku."
Dengan sombongnya dragon mengangkat kepalanya sambil mengumumkan kebesaran rasnya. Dia tidak menyadari bahwa tidak ada satupun yang merasa kagum atas ucapannya barusan.
__ADS_1
Kedua raja siluman yang sedang mengobati diri mereka sendiri akibat ulah dragon segera menghentikan kegiatan mereka dan menatap bingung kearah dragon yang masih mengangkat kepala sambil memejamkan matanya.
'Bukan hanya tua, mungkin dia juga sudah mulai pikun' gumam raja kalajengking dalam hati sambil menatap iba kearah dragon. Begitu juga raja kingkong, dia menghela nafas pelan sambil menggelengkan kepala.