
Di sisi lain, seorang pemuda berjubah hitam. Jubah yang berbeda dengan orang-orang disekitarnya menghela nafas panjang. Matanya terpejam rapat. Dadanya naik turun, berusaha untuk menstabilkan emosi yang masih membuncah. Hingga tepukan ringan di bahu kiri pemuda tersebut menyadarkannya untuk kembali ke dunianya.
Yang Jian membuka matanya perlahan saat dirinya merasakan seseorang menyentuh bahunya. Sungguh kecerobohan yang mengesalkan saat dirinya mengendurkan kewaspadaan seperti saat ini. Untung saja orang yang menepuk pundaknya tersebut tidak memiliki niat jahat sedikitpun.
Yang Jian menaikkan alisnya sebelah sebagai pertanda bahwa dirinya bertanya apa gerangan kedatangan pemuda tak ia kenal tersebut.
"Mengapa kau masih disini? Ayo ikut rombongan, kita harus menyiapkan energi untuk pertarungan esok hari." Mengabaikan perkataan pemuda tersebut, Yang Jian berlalu pergi tanpa sepatah katapun. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menatap punggung tegap Yang Jian yang mulai menghilang ditelan kegelapan malam.
"Apa dia pihak musuh?"
~~
"Apa maksud perkataanmu?" Ruangan yang semula tenang berubah mencekam, tampak seorang pria dengan jubah berwarna kuning keemasan dan tidak lupa dengan lambang pedang dililit naga terukir indah di pusat jubah tersebut. Pria itu adalah Kaisar Quon.
"Bagaimana bisa organisasi itu berada di Kota Batu?" Lanjut Kaisar Quon membuat seisi ruangan hening. Salah satu pria tampak membungkuk hormat di depan Kaisar Quon, pria itulah yang menyampaikan informasi mengenai keberadaan Organisasi Bunga Mawar di Kota Batu.
Tatapan Kaisar Quon beralih menatap keempat panglima kepercayaannya. "Bagaimana bisa kalian melewatkan informasi sepenting ini?" Tanya Kaisar Quon datar, aura tirani seorang kaisar yang menguar dari tubuhnya membuat panglima Klan Yang tersebut menunduk dalam.
"Mohon maaf atas kelalaian-"
__ADS_1
"Apa kalian pantas disebut panglima tertinggi Klan Yang." Kaisar Quon menyela ucapan Panglima Chen. Raut wajah datarnya digantikan dengan raut wajah yang mulai menggelap, tanda kemarahan yang menguasainya.
"Apa kalian telah menemukannya?" Kali ini Kaisar Quon menatap tajam tetua dihadapannya. Mendengar pertanyaan Kaisar Quon membuat tetua itu menegang. Kaisar Quon yang menyadari gelagat aneh tetua di hadapannya menggeleng pelan. "Sudah kuduga!" Ucap Kaisar Quon sembari duduk di kursi kebesarannya."Anak itu sungguh licik. Bahkan tetua sekelas sekte besar seperti kalian berhasil dikelabui."
"Mohon maafkan kelalaian kami Yang Mulia, kami telah menyelidiki orang yang seperti Yang Mulia maksud, namun tidak ada satupun orang seperti itu di Kota Batu."
"Mata merah dan rambut hitam segelap malam. Tidak ada satupun orang seperti itu Yang Mulia." Lanjut tetua itu dengan hati-hati.
Penjelasan tetua tersebut membuat Kaisar Quon dilanda kegelisahan yang semakin menjadi. Meraih kotak kecil berwarna merah darah, Kaisar Quon menatap kotak itu intens. Di permukaan kotak tersebut tampak ukiran bola mata merah darah, di tengah bola mata itu terdapat lambang Klan Yang terukir indah berwarna keemasan.
Meletakkan telapak tangan di atas permukaan kotak. Sambil menutup mata, Kaisar Quon menyalurkan sedikit qi nya setelah meneteskan setetes darah dari ujung jarinya. Tak lama kemudian muncul sinar keemasan dari kotak tersebut. Tidak butuh waktu lama, sinar tersebut sirna bersamaan dengan Kaisar Quon membuka mata.
"Kau tidak sedang membohongiku?" Tatapan Kaisar Quon menajam, menghunus tetua di hadapannya yang mengernyit bingung. "Kami tidak memiliki keberanian sebesar itu." Jawab tetua tersebut berusaha tenang.
"Kami benar-benar tidak menemukannya. Tetapi kami akan tetap mengerahkan kekuatan kami sebaik mungkin mencari anak itu, Yang Mulia."
Kaisar Quon memijit pelipisnya, berusaha menyingkirkan pikiran mengganggunya yang tak kunjung tenang. "Rasanya mustahil! Dasar makhluk buangan! Jelmaan iblis!" Kaisar Quon mengeram marah dengan suara tertahan, berusaha mengendalikan diri agar tidak menghancurkan ruangan tersebut.
"Beraninya manusia terkutuk itu bermain-main denganku! Oh, keponakanku tersayang, apa kau ingin bermain sembunyi-sembunyi dengan pamanmu ini?" Tiba-tiba saja Kaisar Quon tertawa lantang, membuat kelima orang yang berada satu ruangan dengannya merinding.
__ADS_1
"Apa kau menggunakan sihir iblismu untuk menyamarkan jati diri?" Lagi-lagi Kaisar Quon berbicara sendiri yang diselingi dengan tawa yang terdengar aneh di indera pendengaran.
~~
"Hosh hosh..." Seorang wanita yang tengah terduduk di atas kasur bernafas tersengal-sengal. Dadanya naik turun, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. Bulir-bulir keringat mengalir di antara kulit putih pucatnya. Mata yang melotot menunjukkan sorot ketakutan.
"Kau telah siuman?" Tiba-tiba saja seorang wanita berpakaian lusuh muncul sambil menenteng keranjang kayu berisi sayur dan buah-buahan. "Suamiku, kemarilah! Dia telah siuman." Wanita tersebut berteriak kencang membuat wanita di atas kasur tersadar dan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.
Ruangan tersebut sungguh sederhana, namun di saat bersamaan tampak indah dan elegan. Satu ruangan yang cukup lebar tanpa ada pembatas untuk memisahkan. Dinding yang diukir indah sedemikian rupa berwarna hijau, menunjukkan kehidupan dan kedamaian.
Di ruangan itu terdapat dua kasur, satu kasur yang dirinya tempati. Dan satu kasur yang sedikit lebih besar. Mampu menampung dua orang dewasa. Di sudut ruangan tampak perapian, alat dan bahan memasak. Beberapa langkah kekanan tampak meja yang cukup lebar dengan empat kursi kayu.
"Akhirnya kau sadar juga. Kami sempat putus asa melihat dirimu yang terus tertidur dengan tenang tanpa ada keinginan untuk bangun." Seorang pria muncul dengan topi jerami yang melekat di kepalanya, menghentikan wanita tersebut meneliti ruangan.
"Suamiku benar. Kami bahkan sempat berpikir untuk menguburmu saja jika kau tidak berniat untuk bangun seminggu lagi." Balas istri dari pria bertopi jerami itu sambil tersenyum. Perkataannya sontak mendapat pelototan tajam dari sang suami.
Pasangan suami istri tersebut menghampiri wanita yang masih terdiam di atas kasur. Tersenyum lembut sambil menyentuh punggung tangan wanita itu."Bagaimana perasaanmu?" Tanya sang istri. "Apa kau merasa sakit atau tidak enak di bagian tubuhmu?"
"Yang Jian!" Balas wanita itu mengabaikan pertanyaan sepasang suami istri yang tak ia kenal tersebut. "Aku merasakannya. Ya, aku tidak mungkin salah. Itu dia." Wanita itu tiba-tiba panik dan berteriak histeris berusaha untuk bangun namun dicegah oleh sang istri.
__ADS_1
"Hei! Tenangkan dirimu terlebih dahulu. Kau baru saja bangun dari tidur panjang."
Wanita itu masih terus berontak lemah dan mulai mengeluarkan air mata. "Bagaimana aku bisa tenang. Dia membutuhkanku. Anakku membutuhkanku."