
"Ini-"
"Apa hubungannya hal ini dengan Sekte Batu Giok?"
Penjelasan Qin Lienhua dipotong oleh Yang Jian. Qin Lienhua yang mendengar itu tanpa sadar menelan ludah kasar. Nada suara Yang Jian tampak tidak bersahabat ditambah lagi suasana mulai tidak mengenakkan.
"Kami disini berbicara bukan sebagai cultivator maupun Tetua Sekte Naga Awan. Melainkan sebagai keluarga kekaisaran." Melihat suasana mulai tidak kondusif, Tetua Tang mulai angkat bicara.
Yang Jian hanya diam menunggu Tetua Tang menyelesaikan ucapannya setelah sebelumnya menarik auranya.
"Kami tidak bisa menerima begitu saja bantuan tanpa latar belakang yang jelas. Kami ragu akan ada masalah yang tidak diinginkan kedepannya, kami harap Saudara Yang mau bekerjasama."
Sejauh ini Yang Jian mulai mengerti arah pembicaraan. Yang Jian mengangguk perlahan membenarkan ucapan Tetua Tang. Biar bagaiamana pun jumlah bantuan yang diberi Yang Jian tidaklah main-main. Bahkan Tetua Tang sendiri tidak yakin jika dirinya memiliki harta sebanyak itu untuk di serahkan secara cuma-cuma.
Akan ada banyak pihak tak bertanggungjawab yang akan mengambil kesempatan untuk memanipulasi bantuan yang diserahkan Yang Jian apabila mengetahui jika orangnya hanyalah salah satu murid sekte menengah aliran putih yang asal-usulnya tidak jelas.
Jika kabar mengenai Yang Jian membantu Kota Batu sampai ketelinga Sekte Batu Giok maka dapat dipastikan pihak sekte akan mendapat penghargaan dari kekaisaran atas kemurnian hati mereka. Bahkan bukan tidak mungkin jika pihak Sekte Batu Giok memonopoli kekayaan Yang Jian.
Mengingat itu membuat Yang Jian mendengus geli. "Aku mengerti. Manusia adalah jenis makhluk hidup serakah dan egois. Menginginkan milik orang lain sudah menjadi ciri khas manusia." Jawab Yang Jian santai.
Yang Jian menegakkan punggungnya sambil bersedekap dada. Kemudian satu tangannya terangkat dan menyugar surai perak panjangnya yang menyentuh pipi.
"Apa Tetua Tang berpikir jika aku adalah jenis makhluk hidup yang akan diam saja ketika digertak?" Nada suara Yang Jian berubah serius menatap luruh ke arah Tetua Tang.
__ADS_1
"Apa yang kulakukan tidak ada hubungannya dengan sekte manapun, bahkan jika itu pihak kekaisaran sekalipun tidak ada kaitannya dengan segala harta kekayaan yang kumiliki. Silahkan jika Tetua Tang meragukanku dan memanggil pihak Sekte Batu Giok untuk menyelidiki kebenaran yang menurut tetua akan menjadi masalah untuk kedepannya. Tapi satu hal yang harus dan wajib tetua ingat, sesuatu yang dengan mudah aku berikan maka akan sama mudahnya juga untuk ku ambil."
Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Yang Jian ucapkan. Dan disetiap kata yang keluar dari mulut Yang Jian terdengar jelas bahwa tidak ada bantahan sedikitpun. Aura intimidasi yang menguar membuat jika Yang Jian baru saja seolah mengeluarkan titah seorang kaisar.
Kilatan amarah tampak di manik biru Yang Jian, saat dirinya ditendang secara tak terhormat dari Sekte Batu Giok membuat Yang Jian menyimpan perasaan tak suka bahkan hanya mendengar nama sekte itu, jika bukan karena mengingat sosok penting yang menjadi salah satu penghuni sekte tersebut, sudah dapat Yang Jian pastikan untuk mengadakan permusuhan dengan Sekte Batu Giok.
Qin Lienhua tertegun kala mendengar satu persatu kata yang diucapkan Yang Jian. Namun hal itu tidak berlangsung lama saat melihat Yang Jian beranjak dari tempat duduknya kemudian memberikan salam hormat kepada Tetua Tang dan dirinya lalu pergi meninggalkan mereka.
Suasana kembali hening setelah kepergian Yang Jian. Baik Qin Lienhua maupun Tetua Tang masih terdiam di posisi masing-masing.
Menghela napas panjang, Tetua Tang mengusap pelan bahu Qin Lienhua. Tetua Tang melihat jelas tampak guratan kekhawatiran di wajah Qin Lienhua walaupun berusaha disembunyikan serapi mungkin.
"Bukankah kau yang mengatakan jika pemuda itu bukan orang sembarangan. Maka tidak perlu memikirkan sejauh itu."
Mendengar jawaban Qin Lienhua membuat Tetua Tang terkekeh pelan. "Ya ya baiklah. Sebaiknya kau beristirahat, biar guru yang mengaturnya." Ucap Tetua Tang mengakhiri obrolan.
Sementara itu diluar sana, Yang Jian tampak memikirkan kembali ucapan Tetua Tang sebelumnya. Bukan Yang Jian gelisah akan kekhawatiran yang Tetua Tang maksud. Melainkan dia mau tidak mau harus memikirkan resiko apa yang akan terjadi apabila Sekte Batu Giok benar-benar memanfaatkan keadaan.
Tak terasa kini Yang Jian telah tiba di ruang bawah tanah tempat dimana Chang Hongli dan Shing Zhisu berada. Kedua pasang suami istri tersebut tampak sedang berbincang-bincang di meja makan.
"Kau sudah tiba?" Shing Zhisu tersenyum lembut kemudian beranjak berdiri menyambut Yang Jian. Yang Jian merasa sedikit aneh dan kurang nyaman akan perlakuan Shing Zhisu namun diabaikan olehnya.
Yang Jian duduk santai diatas kursi kemudian memandang Chang Hongli,
__ADS_1
"Kau tidak berniat untuk menyembuhkan diri, Tuan Chang?"
"Uhukkk!"
Pertanyaan Yang Jian membuat Chang Hongli terperanjat kaget dan tersedak ludahnya sendiri, Shing Zhisu juga bereaksi yang sama dengan kedua mata yang membola kaget.
"Ba-bagaimana kau bisa-" Seolah tersadar Chang Hongli terdiam, selama ini Yang Jian sudah banyak memberi kejutan bagi mereka, bukan hal yang mengejutkan lagi jika Yang Jian mengetahui hal lain tentang dirinya yang tidak diketahui orang lain.
"Ah ya, aku ingin. Tapi aku tidak bisa. Kau jelas tahu alasannya mengingat bagaimana kondisi kami selama ini."
"Berbaringlah."
Satu kata dari Yang Jian membuat Chang Hongli seolah mendapat secercah cahaya di tengah kegelapan. Setelah sekian lama akhirnya Chang Hongli memiliki harapan untuk menyembuhkan dirinya.
Chang Hongli memiliki kasus yang cukup serius. Dimana dantiannya tertutup akibat racun mematikan yang menyubat aliran qi dalam tubuhnya. Racun tersebut bukan racun mematikan namun jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, maka qi dalam tubuh Chang Hongli akan mengisi di satu titik dan akan meledak dan tentunya akan membahayakan nyawa Chang Hongli.
Memikirkan hal itu membuat Chang Hongli sempat putus asa, namun kini Yang Jian datang dan mengetahui jika dia memiliki kecacatan dantian yang disengaja.
Tubuh Chang Hongli bergetar, bola matanya sedikit memanas. "Apa itu bisa? Maksudku, apa aku masih memiliki waktu?"
Bukan tanpa alasan Chang Hongli berkata demikian, bertahun-tahun lamanya Chang Hongli melakukan pelarian sembari mencari cara untuk memulihkan dantiannya. Namun nihil, tak ada perubahan yang berarti. Melainkan tahun-tahun itu semakin mempersingkat sisa hidup Chang Hongli.
"Tidak ada yang tahu sebelum dicoba." Jawaban Yang Jian tidak serta merta membuat Chang Hongli lega. Apalagi jika melihat raut wajah datar dan tak terbaca miliki Yang Jian membuat Chang Hongli tidak dapat mengetahui isi pikiran pemuda itu.
__ADS_1