Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 88: Ilmu Sesat


__ADS_3

Jiang menatap Yang Jian dan Weng bergantian sebelum mulai tertawa kencang. "Ha ha ha... Kau sungguh pemuda yang menarik." Ucap Jiang sedikit horor. Tidak tahu dia mendapat keberanian dari mana, yang Yang Jian lihat kini Jiang seperti orang yang berbeda dengan yang sebelumnya. Pedang Yang Jian yang sebelumnya telah terulur menggantung di udara.


"Ah! Aku benar-benar membenci situasi ini, dimana kau hanya menatap Weng dang mengabaikan keberadaanku. Kau membuatku sakit hati kawan!" Jiang berdiri dan menatap Yang Jian penuh nafsu. Sekali-kali tampak bola mata Jiang seperti ingin terbalik tanpa Yang Jian ketahui apa penyebabnya.


Weng menghentikan tawanya saat melihat ada perbedaan dari Jiang. Tampak kebingungan terpancar dari wajahnya. Sepertinya Weng juga tidak mengetahui jelas alasan perbedaan Jiang.


"Hmmm segarnya! Sudah lama aku tidak mencium wangi darah semenyegarkan ini." Jiang mengendus-enduskan penciumannya ke udara berusaha mencari kenyamanan indera penciumannya. Saat tatapannya beralih ke Weng, tampak kilatan merah di mata Jiang seraya menjilat bibir bawahnya sendiri.


"Makanan!" Selesai menggumamkan satu kata tersebut, secepat kilat Jiang bergerak menghampiri Weng yang masih tergeletak di lantai. Aura yang menguar dari tubuh Jiang mulai gelap dan menyesakan. Bahkan Weng yang pada awalnya telah kelelahan semakin kesulitan bernafas.


Mata Jiang mulai memerah ketika aroma darah Weng semakin menusuk hidung Jiang. Perlahan-lahan muncul sepasang taring panjang dan rucing di sela gigi Jiang, membuat Yang Jian terkejut namun dengan cepat kembali menetralkan raut wajahnya.


Sementata Weng, seluruh tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin. Dia beringsut mundur saat Jiang menghampirinya dengan tatapan seperti seekor singa menatap mangsa.


Kemudian, Jiang bersiap menancapkan taring tajamnya untuk merobek kulit Weng dan berniat menghisap darahnya. Namun, ketika jarak leher Weng dan taring Jiang tinggal satu centi meter, secepat kilat Yang Jian menghempaskan tubuh Jiang hingga menabrak kursi-kursi di ruangan tersebut.


Namun, Jiang tidak menyerah. Dia kembali bangkit dan melesat cepat menghampiri Weng seolah dia tidak ingin kehilangan mangsanya. Tetapi usahanya selalu gagal, Yang Jian mengumpulkan qi nya di telapak tangannya dan menghempaskan tubuh Jiang dan berkali-kali menghantam tembok.

__ADS_1


Hal itu tentu membuat Yang Jian merasa bingung, Jiang tampak tak sedikitpun merasakan kesakitan walaupun tubuhnya berulang kali menghantam benda kasar. Bahkan tak segan-segan juga Yang Jian melayangkan tapaknya karena Jiang yang tak mau menghentikan aksinya.


"Arghhh sialan! Bocah naif! Apa yang kau lakukan?" Geram Jiang berteriak marah. Dia sungguh merasa kesal saat Yang Jiang yang selalu menjauhkan jaraknya dengan mangsanya.


"Bukankah tujuan kedatanganmu ketempat ini untuk membunuhnya? Lalu apa yang kau lakukan sekarang br*ngs*k? Kau mau menjadi pahlawan untuknya? Cih, Sungguh menjijikkan!" Jiang yang matanya berkilat merah meludah ke lantai. Amarah masih menguasai dirinya, hingga membuatnya ingin mencabik-cabik Yang Jian.


Keinginan membunuh Jiang semakin besar, taring tajamnya semakin panjang seiring dengan amarahnya yang memuncak. Lalu tumbuh cakar-cakar hitam yang panjang. Perubahan fisik Jiang membuat Yang Jian mulai waspada.


Yang Jian pernah membaca buku mengenai cultivator yang menjalankan praktiknya dengan ilmu aliran sesat. Cultivator demikian ditandai dengan perubahan-perubahan fisik seperti, tumbuhnya taring, kuku-kuku tajam, mata merah darah dan aura mengerikan yang membuat lawan sesak.


Sejak awal Yang Jian merasa aneh saat Jiang menganggap Weng sebagai makanannya, dan dugaan Yang Jain semakin kuat saat melihat perubahan-perubahan dari fisik Jiang. Namun yang membuat Yang Jian mengerutkan keningnya yaitu, Jiang yang dengan mudahnya terprovokasi hanya dengan mencium dan melihat darah.


'Sungguh ceroboh.' Gumam Yang Jian dalam hati. Bagaimana bisa anak ayam dibiarkan berkeliaran di kandang musang? Pikir Yang Jian tak habis pikir.


"Terima ini sial*n!" Jiang yang telah dikuasai amarah merentangkan kedua tangannya, kemudian cakar-cakar hitamnya mulai memanjang dan semakin panjang, dan secepat kilat melesat mengincar tubuh Yang Jiang.


"Membiarkanmu hidup hanya akan membuat semakin banyak kesesatan." Yang Jian tidak tinggal diam, pedang yang sebelumnya ingin dia layangkan untuk Weng kini berubah haluan mengincar Jiang. Manik biru Yang Jian semakin tajam menusuk Jiang.

__ADS_1


Pedang yang telah diselubungi bara api melesat menghantam kuku-kuku panjang Jiang. Seperti membelah tahu, kuku-kuku panjang Jiang terpotong hanya dalam sekali tebasan. Namun, kuku yang sudah terpotong kembali tumbuh hanya dalam hitungan detik.


"Kau pikir bisa semudah itu? Sulit bagimu jika ingin memotongnya." Jiang tertawa kencang, seketika angin berhembus kencang melewatinya dengan cepat membuat jantung Jiang berhenti berdetak. ' Tak tak' kedua lengan Jiang terpisah dari bahunya dan terjatuh ke lantai. " A apa yang terjadi?" Tampak keterkejutan yang luar biasa dirasakan Jiang, dirinya hanya tertawa selama dua detik dan saat itu juga dia telah kehilangan kedua tangannya.


"Sulit bukan berarti tidak bisa." Tampak Yang Jian berdiri tenang beberapa meter dari Jiang seraya memegang erat pedangnya.


Darah menetes dari ujung lengan Jiang yang telah terpotong, Jiang berusaha menghentikan pendarahannya menggunakan qi namun bukannya sembuh, bekas tebasan Yang Jain mulai menghitam dan gosong seperti terbakar.


"Sial*n! Beraninya kau! Demi menyelamatkannya kau bahkan memotong kedua lenganku. Kurang aj*r!" Mata Jiang semakin merah, tampak urat-uratnya mulai menonjol.


"Apa yang kau ketahui tentangku?" Yang Jian menatap nyalang Jiang, tangan kirinya yang bebas dia arahkan ke Jiang. Dan dengan satu gerakan muncul bola-bola api yang menyerang Jiang bertubi-tubi. Sesekali bola api Yang Jiang menghantam keras tubuh Jiang dan membakarnya.


Namun, bola-bola api yang melesat mengenai tembok-tembok ruangan hingga menimbulkan ledakan yang cukup kuat, hingga sekilas bangunan itu berguncang. Weng yang masih tergeletak hampir saja terkena bola api Yang Jian.


Susah payah Weng menelan salivanya, mengingat bagaimana bola api yang mengarah padanya dan menghantam tembok di belakang Weng dengan jarak satu jengkal dengan posisi kepalanya.


"Lalu kau mau mengatakan apa br*ngs*ek. Jelas-jelas kau melindungi musuhmu sendiri." Ucap Jiang di sela-sela pertarungan mereka. Mendengar penuturan Jiang membuat Weng mengangkat kepalanya dan menatap Yang Jian. 'Sepertinya dia masih memiliki sisi baiknya.' Gumam Weng dalam hati terharu karena Yang Jian melindunginya.

__ADS_1


"Sejak awal aku tidak pernah melindunginya. Aku hanya tidak menyukai jika ada orang lain yang mengganggu mangsaku." Aura pembunuh Yang Jian semakin menguar pekat membuat seluruh ruangan diselubungi aura pembunuh.


"Tentu aku akan membunuhnya setelah aku membunuhmu!" Lanjut Yang Jian dingin.


__ADS_2