Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 127: Kakak Tampan


__ADS_3

"Aku tidak pernah khawatir, Tuan Putri."


Qin Lienhua tidak pernah menyangka akan mendaparkan reaksi demikian dari Yang Jian. Dirinya berharap dengan kepedulian Qin Lienhua sebelumnya cukup membayar ketersinggungan Yang Jian akan ucapannya serta Tetua Tang beberapa waktu lalu. Namun tampaknya kekhawatiran Qin Lienhua tidak memiliki arti apa-apa.


Yang Jian tampak sama sekali tidak keberatan jika harus berurusan dengan Sekte Batu Giok. Qin Lienhua akhirnya mengerti, melihat ketenangan Yang Jain mungkin saja jika Sekte Batu Giok telah mengetahui niat baik Yang Jian sebelumnya. Jadi Yang Jian tidak perlu memikirkan apapun.


Namun asumsi Qin Lienhua kembali disangkal beberapa detik kemudian, Qin Linehua ingat jika Sekte Batu Giok adalah salah satu sekte yang menolak memberi bantuan dana kepada Kota Batu.


Memikirkan kedua hal tersebut membuat Qin Lienhua merasa pusing sendiri. Apa mungkin Yang Jian diam-diam meninggalkan sekte dan berakhir membantu Kota Batu. Atau Yang Jian tengah menjalankan misi rahasia. Ekpresi Qin Lienhua berubah-ubah kala memikirkan hal tersebut satu persatu.


"Jangan pikirkan apapun yang mengganggumu."


Ucapan Yang Jian akhirnya mampu membawa Qin Lienhua dari lamunannya. Akhirnya Qin Lienhua hanya mengangguk singkat dan memutuskan untuk tidak berpikir macam-macam.


"Kakak Tampan!"


Seruan kecil mengalihkan atensi Qin Lienhua dan Yang Jian. Dengan jarak kurang lebih sepuluh meter, tampak seorang perempuan kecil berusia delapan tahun mamandang tajam dan lembut secara bergantian ke arah mereka. Anak kecil tersebut mengenakan gaun ungu dibawah lutut dan menampilkan betis kecil dan putih miliknya.


Rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang ke kiri dan kekanan saat anak itu berlari kecil kearah Yang Jian dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibir mungilnya. Melihat anak itu akhirnya Yang Jian mengingatnya, dia adalah anak kecil yang meminta pertolongkan beberapa waktu lalu. Anak kecil yang tanpa sopan mengangumi ketampanannya.


Kini anak kecil itu berdiri tepat di hadapan Qin Lienhua, menatap tak bersahabat dirinya dengan posisi membelakangi Yang Jian. Anak kecil itu memandang Qin Lienhua dari atas kebawah berulang kali seolah sedang menilai sang Putri Mahkota tersebut. Ukuran tubuh yang begitu ideal ditambah dengan kecantikan yang anggung membuat Qin Lienhua tampak bagaikan seorang dewi.


Sementara Qin Lienhua yang ditatap tak suka dari anak kecil itu memasang wajah bingung, dirinya ingat bahwa ini adalah pertemuan pertama diantara mereka. Namun tampaknya anak kecil itu tengah mengadakan permusuhan dengan Qin Lienhua.


Grabbb!


Dengan santai anak kecil itu meraih ujung jubah hitam milik Yang Jian kemudin menariknya untuk menjauh. Namun gerakan anak kecil itu terhenti karena Yang Jian tidak beranjak dari posisinya barang sedikitpun.


Berdecak kesal, anak kecil itu memandang Yang Jian dengan bola mata jernihnya. "Jauhi anak kecil itu kakak." Ucapnya seraya melirik Qin Lienhua dengan ekor matanya.

__ADS_1


Mata Qin Lienhua membola mendengar penuturan anak kecil dihadapannya. Sontak saja dia menunduk kebawah dan mulai memeriksa tubuhnya kemudian secara bergantian menatap intens anak kecil dihadapannya.


"Kau sedang membicarakan dirimu sendiri?" Ucap Qin Lienhua datar.


"Aku gadis muda, dan aku sudah besar."


"Tidak ada yang menyebutmu gadis tua."


"Kau menyebalkan."


"Terimakasih pujiannya."


Qin Lienhua menjawab tenang setiap ucapan anak kecil dihadapannya. Qin Lienhua akui jika anak kecil itu begitu menggemaskan, namun sikapnya membuat penilaian bagus Qin Lienhua luntur seketika.


Anak kecik itu tampak mengeram marah sambil menggembungkan pipinya, namun bukan terlihat menyeramkan, melainkan membuatnya tampak begitu menggemaskan. Qin Lienhua hampir saja kelepasan untuk mencubit pipi anak kecil itu.


"Siapa namamu?"


"Kakak tampan bertanya padaku?" Ucapnya antusias, suara khas anak kecilnya yang begitu lucu membuat Qin Lienhua benar-benar melupak sikap tak sopan anak itu sebelumnya.


Yang Jian tidak menjawab, dirinya masih terus memandang anak kecil dihadapannya, bagi Yang Jian, pertanyaan yang dia lontarkan tadi begitu jelas dan tidak memerlukan pengulangan atau penegasan kembali.


"Chen Tianzy."


Yang Jian mengangguk singkat setelah mendengar jawaban anak kecil yang bernama Chen Tianzy tersebut. Nama yang indah menurut Yang Jian. Tianzy yang berarti Mulia. Namun anak kecil dihadapannya terlihat lebih menyebalkan daripada disebut mulia.


Qin Lienhua juga tampak mengangguk singkat mendengar nama Chen Tianzy.


"Biarkan Zy'er juga mengetahui siapa nama kakak tampan."

__ADS_1


"Yang Jian."


"Wah mengapa nama kakak begitu tampan." Ucap Chen Tianzy tersenyum lebar. Qin Lienhua yang mendengar itu mengerutkan kening, 'Sejak kapan sebuah nama bisa disebut tampan?' Pikir Qin Lienhua.


Melirik kebelakang, Chen Tianzy menatap Qin Lienhua kemudian bertanya, "Ehm, la- lalu siapa nama kakak?" Tanya Chen Tianzy tampak kaku.


"Qin Lienhua." Suara yang lembut dan anggun keluar dari bibir tipis merah ceri milik Qin Lienhua. Nada suaranya yang lembut dan tegas secara bersamaan menunjukkan aura kebangsawanan miliknya yang kental.


Chen Tianzy hanya membungkuk singkat dan menyapa Qin Lienhua sebagai salam bentuk perkenalan. Chen Tianzy tampak tidak menunjukkan reaksi berlebihan ketika tahu nama gadis dihadapannya.


'Mungkin dia tidak mengetahui siapa aku. Yah dia masih begitu muda.' Pikir Qin Lienhua tak ambil pusing.


Pada akhirnya, acara pribadi milik Yang Jian dan Qin Lienhua tertunda akibat kedatangan gadis kecil itu, kini mereka bertiga tampak berjalan di sepanjang jalan yang dikelilingi pepohonan tanpa ada tampak manusia seorang.


Beberapa saat sebelumnya Chen Tianzy memaksa Yang Jian dan Qin Lienhua untuk mengajaknya berjalan-jalan. Qin Lienhua tidak keberatan, dan pada akhirnya membawa Chen Tianzy ikut serta. Yang Jian juga tidak menunjukakn reaksi penolakan maupun menerima.


Ketiga orang tersebut langsung menjadi pusat perhatian ketika memasuki lokasi dimana terdapat banyak warga Kota Batu yang bekerja sama untuk membangun rumah.


"Apa itu Tuan Putri Qin Lienhua?"


"Dia begitu cantik seperti yang dirumorkan."


"Lalu siapa pemuda dan anak kecil yang sedang bersamanya."


Ucapan-ucapan kecil dari para warga menyambut ketiga orang tersebut. Yang Jian hanya memasang wajah datar andalanya tanpa terganggu akan sekitar.


Qin Lienhua sendiri mengangguk dan tersenyum ramah membalas sapaan para warga yang mengenalinya. Qin Lienhua juga tidak menegur para warga yang membicarakannya, walaupun pada hukumnya hal itu tidak sopan.


Berbeda dengan Yang Jian dan Qin Lienhua. Chen Tianzy yang mendengar para warga menyebut Qin Lienhua sebagai putri mahkota mendadak terkejut, kemudian Chen Tianzy menatap Qin Lienhua yang tengah membalas sapaan para warga.

__ADS_1


'Aku tidak pernah menyangka jika dia...'


__ADS_2