Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 50: Jiji Dan Yiyi


__ADS_3

"Wah wah... Saat aku tidak memberi seekor anjing makanan sisaku dan anjing itu malah mencoba untuk menggigitku? Sungguh keberanian yang luar biasa. Memang, anjing tetaplah anjing. Selalu berada dibawah kaki orang-orang sepertiku."


Seakan tak terima akan ucapan bocah pengemis dihadapannya, wanita paruh baya yang diyakini adalah pemilik kedai makanan tersebut mencibir dengan suara yang lumayan keras sehingga menarik perhatian banyak orang disekitar mereka.


Mendengar hinaan pedas yang terlontar dari mulut wanita dihadapannya tersebut, bocah pria yang masih setia merangkul sang adik tampak menatap tajam sambil mengepalkan tangannya di balik jubah lusuh yang melekat di tubuhnya.


"Sudah lah kakak, tidak perlu memaksanya. Aku tidak apa-apa. Lihatlah, keadaanku baik-baik saja kan? Besok aku pasti sudah sembuh seperti hari-hari sebelumnya. Kakak tidak perlu khawatir. Kit pergi saja dari tempat ini, ayo!"


Sang adik yang melihat perubahan suasana hati saudara nya mencoba meyakinkan agar tidak mencari masalah yang akan mempersulit mereka kedepannya.


"Kau dengar! Hei cepat pergi sebelum aku kehabisan kesabaranku." wanita paruh baya tersebut menatap remeh kedua bocah pengemis dihadapannya sambil berlalu masuk kedalam kedai.


"Ah maaf tuan dan nona sekalian, tadi ada sedikit masalah. Sebagai permintaan maafku aku akan menyediakan hidangan terbaik kedai ini sebagai hadiah dan tentunya tidak dipungut biaya. Silahkan nikmati hari kalian."


Ucapnya kembali dan segera menyuruh pelayannya untuk menyiapkan pesanan pelanggannya yang sempat tertunda sebelumnya.


Wanita pemilik kedai tersebut bahkan memberi pelanggangnya makanan gratis disaat dia tahu bahwa pelanggannya mampu membeli makanan tersebut. Namun, hatinya sedikitpun tidak tergerak untuk memberi sebotol air minum kepada dua anak kecil yang sakit dan lemah.


Memberi dengan tulus dan tepat sasaran itulah yang pantas disebut kebaikan. Namun jika memberi hanya karna motif tertentu dan kepada orang-orang yang mampu, tidak pantas disebut sebagai kebaikan.


"Ayo kakak kita pergi dari sini, hari sudah gelap dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Disana ada gubuk kecil sebaiknya kita pergi kesana saja."


Di ujung jalan terlihat samar gubuk kecil tak berpenghuni, hanya beratap daun-daun yang dijalin sedemikian rupa untuk menghalau tetes air hujan. Dua pasang kayu untuk menyangga atap tersebut dan dinding yang dibalut dengan kain tipis untuk menghalau angin malam yang dingin.


"Yi'er maafkan kakak, untuk malam ini kita beristirahat di tempat ini dulu. Besok kakak akan mencari pekerjaan di desa untuk makanan kita." Bocah wanita yang dipanggi Yi'er tersebut bernama Yiyi. Dia adalah saudara kembar bocah pria dihadapannya yang bernama Jiji.

__ADS_1


"Kakak Jiji tidak perlu khawatir, aku belum lapar dan tubuhku masih sehat. Aku akan membantu kakak mencari pekerjaan besok."


Yiyi mengangkat kedua tangannya kedepan dadanya sambil mengepalkan tinjunya sebagai pertanda bahwa dia sedang bersemangat.


Tetapi sayangnya ekspresinya berbanding terbalik dengan ucapannya. Ucapan semangatnya tidak mampu menutupi wajah pucatnya yang masih dialiri keringat dingin.


'Ctakkk...'


Jiji menyentil lembut kening sang adik yang kemudian dia elus dengan penuh kelembutan.


"Hei bocah sok kuat, sebaiknya kau istirahat saja dan tidak perlu berpikir terlalu banyak." Kemudian Jiji mengumpulkan dedauan yang cukup kering dan lebar di sekitar gubuk. Setelah terkumpul banyak dia menyusun dedauan tersebut di tanah sebagai alas tidur mereka.


"Berbaringlah Yi'er!" pinta Jiji sambil membantu Yiyi untuk berbaring di atas dedauan. Kemudian menyelimutinya dengan sehelai daun pisang.


"Tidak perlu khawatir, kakak akan berjalan-jalam keluar sebentar untuk melihat-lihat agar besok kita tidak terlalu kesulitan untuk mencari pekerjaan. Apa tidak masalah Yiyi menunggu sebentar disini?"


"Kakak tenang saja, Yiyi tidak masalah, pergilah!"


~~


Saat hari mulai gelap, Yang Jian baru sampai di sebuh desa yang tergolong kecil. Lampu-lampu di rumah penduduk bersinar terang untuk menandakan bahwa desa tersebut masih berpenghuni.


Penduduk desa masih tampak berlalu lalang dan beraktivitas, memang hari baru saja gelap. Jadi wajar saja bahwa warga desa masih sibuk dengan segala kegiatannya.


Yang Jian melangkahkan kakinya memasuki desa, di gerbang desa hanya terdapat pagar kayu yang tampak tua dan dijuluri tumbuhan merambat. Tidak ada penjaga atau pengawal desa. Desa yang tidak tersentuh dan jarang pengunjung, sepertinya desa tersebut tidak didatangi tamu beberapa tahun terakhir, pikir Yang Jian.

__ADS_1


"Apa kau berencana untuk menginap di sini malam ini?" Tanya dragon dari Dunia Surgawi. Yang Jian menganggukkan kepalanya pelan untuk menanggapi dragon, dia mulai mengamati situasi dan kondisi desa tersebut.


Lokasi desa tersebut berada setelah dia melewati hutan yang cukup luas. Desa dibalik hutan, wajar saja jika desa tersebut jarang didatangi pengunjung. Bangunan yang terdapat di desa itu juga tidak terlalu mewah dan megah. Begitu juga dengan kedai dan penginapannya yang hanya berlantai satu.


Kedatang Yang Jian menarik perhatian penduduk desa. Jubah biru bercampur putih yang melekat indah ditubuhnya berkibar diterpa angin. Kharisma yang menguar dari tubuhya menandakan bahwa dia adalah anak keturunan bangsawan.


Ditambah lagi surai perak sebahu yang menyempurnakan wajah tampan Yang Jian sangat cocok dengan paduan kulit putih dan mulusnya.


"Oh dewa, apa kita kedatangan orang penting di desa terpencil ini?"


"Anugerah dewa sungguh turun di desa kita."


Bisik-bisik warga desa menjadi pengiring setiap langkah kaki Yang Jian. Tatapan mata mereka melekat sempurna di tubuh Yang Jian seolah tidak mampu untuk dilepas. Tatapan kagum, terkejut, serakah dan memuji memenuhi mata para warga desa.


Namun yang ditatap malah berjalan dengan wajah datarnya. Tidak merasa terganggu sedikitpun, ditatap banyak orang dengan diri sendiri menjadi pusat perhatian selama enam bulan terakhir seakan mampu membuat Yang Jian terbiasa. Dia tidak merasa risih sedikitpun seperti pertama kali keluar dari Lembah Neraka.


"Tuan muda... Tuan muda, apa kau membutuhkan tempat untuk beristirahat? Kebetulan di desa kami hanya terdapat satu penginapan. Jadi, tuan muda boleh mampir ke penginapan saya." seorang wanita paruh baya berlari tergopoh-gopoh menghampiri Yang Jian.


Begitu juga dengan para warga desa di sekitar Yang Jian juga mendekatinya walaupun tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya memandang wajah Yang Jian lekat-lekat seperti melihat pemandangan indah yang tidak mampu untuk dilewatkan.


Yang Jian mengerutkan kening melihat warga desa yang berjumlah kurang dari sepuluh orang tersebut yang terus memandang nya. Dia sedikit bingung, kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah wanita paruh baya yang mengajaknya berbicara.


"Apa nyonya juga menyediakan makanan?" Ucap Yang Jian melihat kearah sebuah bangunan yang bertuliskan kedai dan penginapan di ujung kiri bangunan.


Datar namun lembut, dingin namun hangat dan tenang namun menghanyutkan. Begitulah suara indah yang keluar dari mulut Yang Jian.

__ADS_1


__ADS_2