Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 115: Pemantauan


__ADS_3

"Ga- gadis?" Untuk pertama kalinya seumur hidup Yang Jian berbicara tergagap, dan sialnya bukan ketika menghadapi seorang monster cultivator, atau penguasa dunia cultivator melainkan anak kecil berusia delapan tahun. Mengingat ini membuat harga diri Yang Jian sedikit ternodai.


Kata 'gadis' tersebut sedikit mengganggunya, jika anak itu sebelumnya mengatakan jika dirinya gadis kecil mungkin wajar saja. Namun jika hanya kata gadis membuat Yang Jian merasa aneh.


Yang Jian memandang anak itu sedikit lebih intens menggunakan mata dewa nya untuk memeriksa apakah anak kecil itu sedang menyamar. Namun tidak, anak kecil itu sungguh masih berusia delapan tahun dan tidak menggunakan teknik apapun untuk mempertahankan kemudaannya.


Tak ingin membuang waktu, Yang Jian melangkah mendekati anak itu, menarik leher gaunnya bagian belakang dan mengangkat tinggi-tinggi seperti sedang mengangkat seekor kucing. Kini wajah anak itu tepat berada sejajar dengan wajah Yang Jian. Mata bulat anak itu mengerjap-erjap polos diikuti dengan binar menggemaskan, tidak lupa senyum berlesung pipinya.


Tiba-tiba tangan besar Yang Jian terangkat keudara kemudian terjatuh di tangan anak kecil, sedetik kemudian Yang Jian mengalirkan sedikit qi miliknya untuk menyembuhkan lebam di telapak tangan mulus anak itu.


Hanya satu tarikan nafas, telapak tangan anak itu kembali seperti semula. Setelah dirasa selesai, Yang Jian meletakkan kembali anak itu ketanah dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Kini Yang Jian telah tiba di depan sebuah gerbang tinggi dan besar, gerbang menuju tempat dimana Bangsawan Jingmi berada, Yang Jian tidak melihat satupun pengawal yang berjaga di sekitar gerbang tersebut. Kemudian dia melangkah memasuki bangunan tinggi itu lebih jauh. Tiba-tiba saja jalannya di hadang oleh dua orang berpakaian seragam yang menunjukkan jika identitas mereka adalah pasukan pelindung Kota Batu.


"Kau orang asing, kami tidak pernah melihatmu sebelumnya." Salah satu dari pengawal tersebut mengacungkan pedangnya untuk menghentikan langkah Yang Jian, pengawal itu mengamati Yang Jian dari atas kebawah. Karena pakaian yang digunakan Yang Jian termasuk pakaian biasa dan tidak menunjukkan sedikitpun kesan mewah, kedua pengawal tersebut mulai memandang rendah Yang Jian.

__ADS_1


Yang Jian menyadari pandangan itu, namun mengabaikannya. "Dimana Jingmi?" Tanya Yang Jian tenang. Suara dalam dan beratnya terkesan angkuh dan berkharisma.


Jawaban Yang Jian membuat kedua pengawal tersebut membulatkan mata, "Jingmi?" Ulang keduanya tak percaya. "Kau sungguh bernyali rupanya. Bagaimana bisa kau menyebut pemimpin kota hanya dengan namanya saja?" Geram salah satu pemuda seraya menyodorkan pedangnya lebih dekat ke leher Yang Jian.


"Orang rendah sepertimu tidak layak memanggil nama Tuan Bangsawan Jingmi. Kau hanya manusia biasa tanpa status, jadi sebaiknya agkat kaki dari tempat ini sebelum aku membunuhmu." Sahut pengawal lainnya dengan suara agak keras. Suara pengawal itu rupanya cukup keras untuk mengundang beberapa pengawal lainnya untuk menghampiri mereka, terbukti kini lima pengawal lainnya berjalan menghampiri mereka dengan senjata masing-masing. Yang Jian melihat jika praktik para pengawal tersebut hanya berada di puncak cultivator warior.


Yang Jian masih berdiri dengan tenang, dirinya sungguh tidak ingin membuang waktu lebih banyak hanya untuk meladeni para pengawal tersebut. Akhirnya Yang Jian mengumpulkan sedikit qi di ujung jari telunjuknya, setelah itu Yang Jian mengarahkan jemari telunjuknya yang telah dilapisi qi ke arah pintu besar dimana Bangsawan Jingmi berada.


Sedetik kemudian Yang Jian menembakkan qi seukuran kelereng berwarna kemerahan, melesat cepat dan menghantam pintu besar itu hingga roboh seketika.


"Duarrr!" Bunyi hantaman keras diikuti dengan hancurnya pintu besi tersebut. Sangat cepat, hingga ketujuh pengawal itu tak mampu mencerna apapun dan hanya mampu melongo dan terpaku di tempat.


Bangsawan Jingmi dan para tetua yang baru saja tiba memandang ketujuh pengawal dan Yang Jian. Melihat itu mereka yakin jika pelaku keributan barusan adalah ulah orang asing tersebut, yaitu Yang Jian.


"Ah apa itu kau, Tuan Muda?" Bangsawan Jingmi yang semula marah besar karena seseorang yang berani mengganggu jalannya rapat penting begitu murka, namun setelah melihat kedatangan seseorang yang tak terduga membuat Bangsawan Jingmi sedikit melunakkan ekspresinya.

__ADS_1


Ucapan Bangsawan Jingmi membuat ketujuh pengawal menelan ludah, para tetua juga mengernyit bingung melihat kedatangan Yang Jian yang membuat Bangsawan Jingmi bersikap hormat.


"Apa yang membawamu mengunjungi kediaman ini, Tuan Muda?" Tanya Bangsawan Jingmi kemudian karena tak kunjung mendapat jawaban dari Yang Jian. Sikap Bangsawan Jingmi membuat Yang Jian cukup puas, sepertinya Bangsawan Jingmi adalah orang yang menghargai kebaikan orang lain.


"Hanya bertamu." Jawab Yang Jian dengan santainya. Jawaban Yang Jian membuat para tetua memasang muka tak suka.


"Dengan cara menghancurkan pintu?" Tanya salah satu tetua dengan nada tak ramah.


"Itu lebih baik bukan?" Manik biru Yang Jian menyapu ketujuh pengawal yang menghadangnya sebelumnya, tepat di kedua pengawal yang sebelumnya menghina dirinya, Yang Jian sengaja menatap dalam mata mereka. Tatapan Yang Jian yang begitu tenang entah kenapa begitu mengerikan di mata mereka, sontak saja lutut ketujuh pengawal itu bergetar hebat dan diikuti dengan keringat dingin yang mulai membasahi punggung mereka.


Tatapan Yang Jian seolah mengatakan, 'Itu lebih baik bukan? Menghancurkan pintu daripada menghancurkan tubuh ketujuh pengawal tersebut.' Itulah arti tatapan Yang Jian.


Menyadari arti dari tatapan Yang Jian dan bagaimana perubahan sikap ketujuh pengawal tersebut membuat Bangsawan Jingmi dan para tetua kota tersebut menarik satu kesimpulan, yaitu jika pengawal itu baru saja menyinggung Yang Jian yang membuat Yang Jian berkeinginan untuk membunuh mereka.


"Bagaimana jika Tuan Muda ikut masuk? Kebetulan kami sedang mengadakan rapat." Ajak Bangsawan Jingmi berusaha mencairkan suasana. Bagaimana pun Bangsawan Jingmi tidak boleh menyinggung sosok Yang Jian. Bukan karena Yang Jian pernah menolongnya sebelumnya, tetapi karena Bangsawan Jingmi menyaksikan sendiri bagaimana seorang Yang Jian berubah menjadi monster haus darah ketika di medan tempur beberapa waktu yang lalu. Dan dirinya masih cukup waras untuk tidak membuat Yang Jian merasa tersinggung.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa Anda membawa orang asing memasuki pertemuan, Tuan Bangsawan Jingmi?" Sanggah salah satu tetua yang paling sepuh. Terselip rasa tak suka dari nada bicaranya walaupun tetua kota itu berusaha berbicara hormat. Tampaknya para tetua itu tidak mengikuti pertempuran hingga mereka tak mengenali Yang Jian.


"Itu benar. Sudah menjadi aturan jika orang asing dilarang mengikuti pertemuan penting pemimpin kota." Sahut tetua lainnya tak setuju.


__ADS_2