
"A-apa yang ka-kau lakukan kepada Senior Leng?" Salah satu dari kesebelas cultivator aliran hitam tersebut bertanya terbata-bata. Tampak lututnya gemetar. Namun sebisa mungkin dirinya menguatkan diri menatap mata Yang Jian selama dua detik sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apa kau tidak bisa melihatnya sendiri?" Tanya Yang Jian seraya memiringkan kepalanya.
"Kau tidak tahu identitas Senior Leng? Kau akan di buru oleh pihak Sekte Ular Sembilan. Senior Leng adalah-..."
"Tidak tahu dan tidak mau tahu!" Jawab Yang Jain memotong ucapan pemuda tersebut. Mendengar ketidakpedulian Yang Jian mengikis rasa takut kesebelas cultivator itu dan berganti dengan rasa kesal dan amarah.
'Mengapa orang-orang suka sekali berkenalan sebelum bertarung? Membuang waktu!' Batin Yang Jian merasa aneh. Mungkin saja sudah menjadi aturan berkenalan sebelum bertarung agar mengenal siapa pembunuhya! Pikir Yang Jian tak mengerti.
"Maka enyahlah ke neraka!" Geram cultivator Sekte Ular Sembilan. Pertarungan pun kembali dimulai, lebih tepatnya dikatakan pembantainya. Karena, meski sebelas lawan satu, Yang Jian tampak dengan mudah mengecoh permainan dan menumbangkan cultivator Sekte Ular sembilan dengan mudah.
'Srekkk!'
Tebasan terakhir Yang Jian layangkan. Semua cultivator telah tumbang dalam waktu singkat, menyisakan empat cultivator Sekte Naga Awan yang tengah menghentikan proses mengobati luka satu sama lain. Rasa takut dan terkejut terpampang nyata dalam raut wajah mereka.
Menelan ludah susah payah dengan mata melotot, tak pernah sebelumnya melihat cultivator membunuh begitu tenang tanpa ragu sedikitpun seperti Yang Jian. Terlebih Yang Jian masih tampak muda.
Yang Jian berbalik, menoleh ke empat cultivator tersebut dengan tatapan tak terbaca. Seketika sebotol madu muncul di telapak tangan Yang Jian, melempar botol tersebut kepada keempat cultivator tersebut yang spontan diterima oleh salah satu diantara mereka. Tanpa berkata apa-apa, Yang Jian pergi meninggalkan mereka yang tengah kebingungan.
__ADS_1
"Cairan apa yang diberikan oleh pemuda itu, Sudara Pertama?" Setelah menerima botol dari Yang Jian, ke empat pemuda yang tampak bersaudara tersebut mengamatinya dengan seksama, mengendus aroma yang menguar dan mencoba membolak-balikkan botol guna mencari tahu isinya.
"Dia tidak berniat meracuni kita bukan?"
"Apa kau mencoba mengatakan jika racun memiliki aroma sesedap ini? Lagipula jika dia ingin, sudah sedari tadi dia melakukannya!" Jawab saudara pertama.
"Kita tidak boleh gegabah. Sebaiknya kita menyimpan cairan ini terlebih dahulu dan memberinya kepada Tetua Tang untuk di teliti lebih lanjut." Lanjut saudara pertama yang masih meragukan Yang Jian, dan diiyakan oleh ketiga saudaranya.
Pertempuran di Kota Batu masih memanas, hanya saja banyak anggota dari setiap kelompok yang berkurang. Terlebih lagi dengan kehadiran sebelas cultivator legenda dari pihak aliran hitam mampu di imbangi oleh Tetua Tang, Tetua Fang beserta tujuh anggota Organisasi Bunga Mawar dan beberapa cultivator lainnya yang memiliki kemampuan serta praktik yang tinggi.
Tampaknya Kota Batu sebentar lagi akan hancur dan akan rata dengan tanah. Karena, sampai saat ini belum ada bala bantuan dari pihak kekaisaran yang tiba di Kota Batu mengingat betapa jauh jarak antara Kota Xemin dengan Kota Batu.
Para cultivator ternama tersebut sengaja memilih lokasi pertarungan udara dan jauh dari kelompok yang memiliki praktik yang lebih rendah di banding mereka. Tujuannya agar mereka dapat bertarung dengan serius tanpa harus memikirkan banyak nyawa yang akan melayang jika terkena jurus menyasar.
Tampak gadis muda tersebut sedang kewalahan, sebab praktiknya masih berada di cultivator master tahap menengah dan kedua lawannya juga pada ranah yang sama. Membuat pertandingan menjadi tidak seimbang, ditambah lagi cultivator aliran hitam tersebut menggunakan serbuk racun walau dalam dosis rendah. Membuat gadis muda tersebut semakin terpojok.
"Kalian menyebut diri kalian seorang cultivator dengan pertarungan menjijikkan ini?" Gadis muda tersebut mengeram marah dengan mata melotot tajam. Rambut yang tergulung setengah dan setengahnya lagi yang dia biarkan terurai tampak acak-acakan di tambah lagi beberapa bercak darah yang menodai jubahnya.
"Kalian para cultivator aliran putih terlalu munafik!" Decih salah satu pemuda cultivator aliran hitam, namun tatapan nakalnya mengarah kejubah gadis muda tersebut yang tergores pedang hingga menampilkan lengan mulus tanpa noda miliknya.
__ADS_1
Seringai penuh nafsu muncul di wajah kedua cultivator tersebut membuat sang gadis muda bergerak tidak nyaman. Seolah tatapan mereka mampu melucuti pakaian gadis itu.
"Turunkan pandanganmu siala*n!"
Yang Jian yang awalnya tak ingin ikut campur berubah pikiran, dirinya merasa harus ikut campur ke dalam pertarungan mereka sebab harga diri seorang gadis tengah di pertaruhkan. Sebagai lelaki sejati, tentu Yang Jian tidak boleh membiarkan hal tersebut terjadi.
Kedua cultivator tersebut sontak mengalihkan tatapannya, memandang seorang pemuda dengan sebilah pedang di tangan kiri, berjalan pelan dengan dagu terangkat tinggi serta sorot mata yang tajam. Penuh intimidasi!
Sang gadis muda mengernyit sekilas melihat Yang Jian.
Langkah Yang Jian terhenti lima langkah dari sang gadis muda, kemudian Yang Jian membuka jubah kebesarannya menyisakan kain tipis berwarna hitam gelap yang sedikit longgar, namun tidak menutup kemungkinan penampakan lekuk tubuh proporsional milik Yang Jian.
Dengan satu gerakan tangan, Yang Jian melempar jubahnya ke pada gadis muda tersebut tanpa memandangnya, seolah mengerti, gadis itu segera menangkap jubah Yang Jian dan segera mengenakannya.
"Mundur!" Suara Yang Jian dingin dan dalam, membuat sang gadis sontak mundur menjauhi Yang Jian.
"Apa kami pernah bertemu sebelumnya?" Gumam gadis tersebut pelan masih dengan memandang tubuh tegap Yang Jian dari belakang. Pasalnya dirinya merasa tidak asing dengan sosok pemuda bersurai perak itu.
Gadis tersebut larut dalam lamunannya, namun tiba-tiba sebuah benda menghantam pelan keningnya membuat gadis tersebut meringis pelan. Sebuah botol kecil terguling pelan di atas tanah, gadis itu yakin jika botol itulah yang mengenai keningnya barusan.
__ADS_1
Mengalihkan tatapan kedepan setelah meraih botol, gadis itu melihat jika pelaku pelemparan keningnya ialah pemuda yang sama dengan yang meminjamkan jubahnya. Dibawah kaki pemuda itu tampak dua mayat yang tergeletak tanpa kepala. Gadis itu merinding, bukan karena melihat mayat tanpa kepala melainkan karena pemuda di hadapannya membunuh kedua cultivator tersebut dengan mudah dalam waktu singkat. Sementara dirinya butuh waktu yang cukup lama hanya untuk mengimbangi pertarungan.
Jelas. Jika pemuda di hadapannya sangat kuat walaupun dari tubuhnya tidak memancarkan qi sama sekali. Namun sorot mata elangnya mampu mengintimidasi lawan seolah dirinya bukan seseorang yang pantas dianggap remeh.