
Kenangan itu memudar, dan kini digantikan dengan suasana yang heboh, sebuah ruangan mewah sedang dilahap oleh si jago merah, api-api menyebar hampir keseluruh ruangan dan asap menghitam membumbung tinggi menyapa langit.
Masih dengan wanita yang sama dengan tubuh melemah sedang memangku seorang bocah, sambil menangis.
"Maaf. Maafkan ibunda Jian'er. Ibunda selalu membuat masalah padamu." Isak tangis Yang Shui semaking kencang ketika api semakin lama semakin membesar dam melahap lemari pakaian Yang Shui.
"Ini yang terbaik buat mu nak, tolong jangan pernah membenci ibundamu." Yang Shui mengeluarkan sebuah medali dan sebuah cincin dari ruang dimensinya.
"Tolong selamatkan puteraku." Yang Shui menatap seorang pemuda yang berdiri tegak di hadapannya, pemuda tersebut mengenakan jubah hitam dengan topeng besi yang melekat indah di area mata dan hidungnya.
"Yang Mulai, jangan bilang..."
"Tolong. Ini perintahku, apa kau tidak merasa kasihan kepada puteraku?" Air mata Yang Shui menangis deras, dia semakin mendekap Yang Jian.
"Ibu... Aku takut, disini panas. Bawa aku keluar ibu" Yang Jian kecil membalas pelukan sang ibu sambil membenamkan kepalanya lebih dalam. Tangan mungilnya menggenggam erat jubah Yang Shui sambil menangis sesenggukan.
Mendengar rintihan kecil Yang Jian, membuat hati Yang Shui seolah teriris pisau, dan bekas lukanya disiram perasan air jeruk, sakit dan pedih. "Tolong, kita tidak punya waktu banyak."
"Bawa dia pergi sejauh mungkin. Dan tolong pastikan dia tidak kembali ketempat terkutuk ini." Ucapan Yang Shui diakhiri dengan telapak tangan sang ratu memegang dahi Yang Jian, seketika muncullah seberkas cahaya merah, tidak lama setelah itu Yang Jian terjatuh pingsan bersamaan dengan lenyapnya cahaya tersebut.
"Apa yang anda lakukan, Yang Mulia."
"Aku tidak punya pilihan lain, ini satu-satunya cara agar puteraku tetap hidup."
"Tetapi dia akan melupakan segalanya Yang Mulia, bahkan dia juga akan melupakan Anda."
__ADS_1
"Melupakanku lebih baik daripada terus hidup dengan nyawa terancam."
Kilasan-kilasan peristiwa tersebut terus berputar dikepala Yang Jian seolah memaksanya untuk mengetahui segalanya. Memaksa Yang Jian mengintip peristiwa menyedihkan itu.
Masih dilokasi yang sama, seorang pria berjalan dengan gagahnya diikuti beberapa pengawal dibelakangnya. Tidak lama setelah itu, permaisuri Klan Yang berlari cepat sambil berderai air mata ingin menerjang masuk ke dalam kobaran api. Namun ditahan oleh pria dengan jubah kuning keemasan.
"Cukup ibu, jangan melukai dirimu sendiri. Kakak Yang Shui sudah meninggal. Lihatlah, bahkan seekor kucingpun tidak ada yang selamat." Pria itu berusaha menenangkan sang permaisuri. Dia memasang raut wajah sesedih mungkin sambil mengelus lembut punggungnya.
"Tidak, itu tidak mungkin. Putriku masih hidup, tolong... Tolong selamatkan kakakmu Quon'er, dia masih hidup." Permaisuri berteriak histeris, dia mengabaikan status permaisurinya yang harus menjaga tata krama dan perilaku elegan.
"Pengawal, tolong antarkan permaisuri ke kediamannya." Perintah pria yang dipanggil Quon'er tersebut kepada pengawalnya. Dua orang pengawal maju dan membawa permaisuri yang berontak.
Sepeninggal permaisuri, pria yang dipanggil Quon'er tersenyum samar selama beberapa detik.
"Selamat tinggal kakak, aku akan selalu mengingatkanmu." Nada suara pria tersebut terdengar sedih namun raut wajahnya tidak menunjukkan adanya simpati sedikitpun, hanya ada senyun licik.
"Arghhhh." Rasa sakit itu meledak di dalam kepala Yang Jian. Dia menjerit keras bersamaan dengan tubuhnya yang semakin memancarkan cahaya kuning keemasan dan membuat seluruh Dunia Surgawi menjadi terang. Tidak ada lagi langit malam.
Tak lama setelah itu tubuh Yang Jian melayang-layang di udara dengan posisi terlentang. Setelah itu, pepohonan yang sebelumnya hangus terbakar mulai tumbuh, bahkan tanah gersang di dunia tersebut perlahan menghitam pertanda kesuburan tanah tersebut.
Dari sela-sela tanah, tumbuhlah tumbuh-tumbuhan dengan berbagai jenis dari tanah tersebut, buah-buahan dengan berbagai ragam dan juga bunga-bunga yang indah dan mengeluarkan aroma yang sangat harum.
Lokasi yang sebelumnya menjadi tempat berdirinya segel kini perlahan mengeluarkan air yang sangat jernih, kini air tersebut semakin lama semakin besar hingga menciptakan sebuah kolam besar dan mata air yang mengundang siapapun untuk membasuh diri.
Tidak berhenti disitu, kini Dunia Surgawi mulai diisi qi yang semakin lama semakin tebal. Semua penghuni Dunia Surgawi dapat merasakan murninya qi di dunia tersebut.
__ADS_1
Dunia Surgawi seolah terlukis dengan indah dan hati-hati, seolah bangkit kembali setelah kematian ribuan tahun. Dunia ini sekarang menjadi tempat yang indah dan tidak ada duanya dimanapun.
Tubuh Yang Jian perlahan turun hingga kembali menyentuh batu kristal, semua penghuni Dunia Surgawi masih terdiam mengamati Yang Jian dan menanti hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kelopak mata Yang Jian bergerak, perlahan dia membuka matanya sambil mengerang sakit di kepala. Beberapa kali Yang Jian mengerjapkan matanya untuk memperjelas pandangannya. Yang Jian menyapu pandangannya keseluruh penjuru Dunia Surawi. Tampak, Yang Jian sedikit terkejud melihat dunia baru yang terpampang indah di hadapannya.
Kemudian Yang Jian bangkit berdiri dari batu kristal, menatap kembali penghuni Dunia Surgawi satu persatu. Sorot matanya setajam elang. Tiba-tiba aura Yang Jian berubah dingin, sedingin es. Diikuti dengan raut wajahnya yang mengerikan. Membuat bulu kuduk siapa saja meremang.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba sorot mata Yang Jian berubah sedih, dan wajahnya kelam. Yang Jian menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata rapat.
"Ibu." Setitik kristal bening jatuh dari sudut mata Yang Jian, mengalir pelan di pipi putih dan mulusnya. Hingga jatuh menyentuh tanah. Dia mengepal tangan keras, hingga menunjulkan buku-buku jarinya yang memutih. Rahang Yang Jian mengeras, diikuti dengan sorot matanya yang dapat menghujam siapapun.
Tanpa mengalihkan pandangannya, Yang Jian melompat tinggi di udara, seketika tubuh Yang Jian melayang di udara dan berdiri dengan stabil.
"Apa? Kakak Yang bisa terbang?"
"Ini luar biasa kak, ini pertama kalinya aku melihat seseorang terbang. Ternyata ayah tidak pernah membohongi kita."
Tatapan kagum Jiji dan Yiyi seolah mendambakan Yang Jian. Begitu juga dengan penghuni lainnya.
Tubuh Yang Jian yang sedang melayang di udara melesat cepat dalam hitungan detik menuju arah bukit di Dunia Surgawi.
Saat sampai di bukit, Yang Jian duduk di atas bebatuan di puncak bukit. Dia mendongakkan kepala menatap langit yang kembali cerah setelah sebelumnya gelap.
"Ibu... Setelah sekian lama ini pertama kalinya aku menyebut kata 'ibu'."
__ADS_1
"Aku mengingat ibu, aku mengingat yang seharusnya aku lupakan. Aku mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak aku ketahui. Aku harus bagaimana ibu..."
Suara Yang Jian terdengar dalam dan pilu. setelah beberapa lama, ini pertama kalinya dia merasa membutuhkan seseorang yang mau memegang tangannya dan berkata 'semua akan baik-baik saja'.