
Di sebuah ruangan yang lumayan luas tampak seorang pria paruh baya berjalan mondar mandir dengan gelisah, di depan nya ada sebuah kursi dengan meja kecil di sebelah nya. Di kursi tersebut duduk seorang gadis muda berjubah cokelat.
"Maaf, aku telah membuat kesalahan besar." Gadis muda tersebut menunduk takut, dia meremas jubah nya dengan kuat. Jelas dia sangat ketakutan saat ini.
"Hufttt, bukan itu yang lebih penting sekarang. Fan'er kita harus mencari alasan masuk akal untuk menjelaskan situasi ini kepada tetua maupun pihak kekaisaran. Atau kita akan benar-benar kehilangan segalanya."
"Maafkan aku ayah." Air mata Qin Fanfan menetes hanya kata maaf yang mampu dia ucapkan saat ini.
'Tok tok tok.' Sebelum Qin Fen membuka mulut nya untuk berbicara bunyi pintu di ketuk terdengar, Qin Fen berjalan menuju pintu untuk membuka nya.
"Ada apa?" Tanya Qin Fen saat melihat Liu Changhai lah yang sedang bertamu ke ruangan nya.
"Tetua di suruh menghadap, para tetua lain nya telah menunggu." Jawab Liu Changhai sambil menunduk hormat. Qin Fen memukul-mukul pelan belakang leher nya sambil memejamkan mata, kepala nya terasa pusing.
"Baiklah kau boleh pergi." Liu Changhai mengangguk hormat sebelum berjalan meninggalkan ruangan Qin fen.
"Apa seserius itu ayah?" Qin Fen menghapus sisa air mata di pipi nya sambil mendongak menatap wajah sang ayah dengan sedih.
" Ayah rasa semua ini tidak akan berakhir baik. Sebaiknya kau tunggu disini biar ayah yang menemui para tetua."
"Tidak, aku akan ikut ayah. Ini semua karena ku maka aku akan membantu ayah apapun yang terjadi." Jawab Qin Fanfan cepat sebelum Qin Fen pergi.
"Sudah lah Fan'er, bukan pilihan yang bijak jika kau ikut ke dalam pertemuan ini." Qin Fen langsung beranjak pergi tanpa menunggu Qin Fanfan bicara.
~~
"Kau sudah sadar?" Liu Changhai yang melihat saudara kembar nya membuka mata perlahan mengambil segelas air dan memberikan kepada Liu Xingsheng.
__ADS_1
'Arghhh.' Liu Xingsheng merasakan pedih yang teramat sakit di bahunya. Masih tampak kulit yang melepuh akibat luka bakar yang di beri Yang Jian, Liu Xingsheng menatap kulit bahu nya yang mengkerut.
"Nona Bai sudah memberikan ramuan terbaik nya, rasa sakit di bahumu akan hilang esok hari sementara bekas luka nya mungkin akan menghilang empat sampai lima hari kemudian." Liu Changhai mengolesi bekas luka bakar saudara nya dengan lembut dan hati-hati.
Liu Xingsheng tidak menjawab, dia masih berperang dengan pikirannya sendiri. Masih jelas di otak nya tatapan Yang Jian seolah hendak membunuh nya saat itu juga. Liu Xingsheng meggeleng kepala pelan untuk mengusir bayang-bayang Yang Jian dari pikiran nya.
"Apa kepalamu sakit?" tanya Liu Changhai melihat tingkah saudara kembarnya tersebut.
"Ah bukan aku..." belum selesai Liu Xingsheng bicara sebuah suara menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaan mu Xing'er?"
"Salam guru." si kembar Liu menunduk hormat melihat kedatangan guru nya.
"Sudah lebih baik guru." jawab Liu Xingsheng setelah tetua Fang memberi tanda bahwa dia menerima hormat kedua muridnya tersebut.
Tetua Fang memperhatikan bekas luka Liu Xingsheng, jelas Yang Jian hanya mengeluarkan sedikit kekuatan nya agar tidak menyakiti Liu Xingsheng.
"Dia anak yang unik." Ucapan tetua Fang spontan membuat Liu Changhai dan Liu Xingsheng menoleh menatap guru mereka dengan sorot mata menuntut penjelasan.
"Dia menenangkan sekaligus berbahaya dalam waktu bersamaan. Sebaiknya kau berhati-hati ketika berhadapan dengan nya, dia bukan lawan yang bisa di remehkan." Tetua Fang memperingati Liu Changhai.
Liu Changhai mengerutkan dahi nya, dia bisa melihat kesungguhan dari ucapan gurunya, pasal nya tetua Fang bukan tipe orang yang menilai sesuatu tanpa alasan yang kuat.
Liu Changhai memang sudah melihat pertandingan Yang Jian sebelum nya namun kali ini dia yakin bahwa Yang Jian tidak benar-benar serius ketika berhadapan dengan Liu Xingsheng. Yang Jian masih menyimpan kekuatan besar, itu yang di pikirkan Liu Changhai saat ini.
~~
__ADS_1
Permaisuri Tang Rourou mondar-mandir di depan pintu sebuah ruangan, ruangan tersebut luas dan megah dengan beberapa bagian tembok terbuat dari emas.
Ternyata mereka membawa Qin Lienhua kembali ke istana untuk memastikan keamanan putri mahkota tersebut, kebetulan jarak sekte naga awan dengan istana kekaisaran tidak jauh jadi tidak butuh waktu lama untuk membawa Qin Lienhua pulang menuju istana.
"Bagaimana keadaan Hua'er kakak, bagaimana keadaan putriku?" Tangis permaisuri Tang Rourou mencengkram sisi baju Tetua Tang saat keluar dari ruangan tempat Qin Lienhua di periksa.
Kaisar Qin juga menatap Tetua Tang namun tidak mengucapkan apa-apa, dia mengelus bahu Permaisuri Tang Rourou dengan lembut untuk menyalurkan semangat.
Tetua Tang masih diam dalam posisi berdiri nya, dia bingung harus menjelaskan bagaimana. Dia juga sama terpukul nya melihat keponakannya satu-satunya terbaring lemah tak berdaya.
Permaisuri Tang Rourou semakin menangis histeris saat tidak mendapat jawaban apapun dari Tetua Tang, Kaisar Qin memeluk Permaisuri Tang Rourou. Mata Kaisar Qin mulai berkaca-kaca, dia sekuat mungkin menahan agar air matanya tidak tumpah.
~~
"Apa ada penjelasan atas masalah ini?" Seorang pria berjubah coklat tua menatap tajam pria di hadapan nya, dari wajah dan perawakan nya seperti pria berumur lima puluhan tetapi dia sudah hidup selama ratusan tahun.
Sorot mata nya yang menyala dan rahang nya yang mengeras menandakan bahwa dia sedang menahan amarah, namun dia sebisa mungkin menutupi rasa emosi nya dengan sikap tenangnya.
"Mohon maaf Tetua Lin..." Belum sempat pria itu selesai bicara Tetua Lin memotong ucapan nya dengan nada membentak.
"Apa kata maaf termasuk ke dalam penjelasan?" Tetua Lin semakin merapatkan gigi nya kuat hingga terdengar suara gemeretak. " Seorang cultivator aliran putih menggunakan racun saat pertandingan? Apa kau mencoba membuat peraturan baru?"
"Maaf tetua Lin, saya tidak bermaksud lancang melakukan hal di luar batas kemampuan saya." Ternyata pria yang sedang berhadapan dengan Tetua Lin adalah Tetua Qin. Dia menunduk takut ketika merasakan aura membunuh Tetua Lin yang merembes keluar.
Bahkan tetua lain nya yang juga berada satu ruangan dengan mereka menahan nafas sejenak, aura pembunuh Tetua Lin hitam dan pekat hal ini menunjukkan bahwa dia sudah mencabut banyak nyawa di sepanjang hidupnya.
Tetua Lin merupakan orang kedua yang berpengaruh di sekte setelah patriak Sekte Harimau Merah, dia mengikuti turnamen ini karena undangan khusus dari patriak Sekte Naga Awan.
__ADS_1