Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 77: Delapan Tahun.


__ADS_3

"Lancang! Hanya karena aku bersikap baik kepadamu bukan berarti kau bisa seenaknya." Amarah pemuda itu memuncak, dia mengeram marah dan hampir saja hendak berdiri untuk menghampiri meja Yang Jian.


Yang Jian masih duduk tenang, sesungguhnya Yang Jian masih bingung memikirkan perbincangan yang dia dengar sebelumnya, jika memang orang yang menyiksa Wang mereka yakini adalah seorang remaja. Bagaimana bisa mereka menetapkan dirinya sebagai tersangka? Bukankah untuk ukuran tubuh Yang Jian seharusnya dia sudah pantas disebut pria dewasa?


Hal itu sedikit mengganggu pikiran Yang Jian. Dia belum tahu sudah berapa lama waktu yang dia habiskan selama di Hutan Terlarang.


"Aku sedikit menyayangkan kekuatan keluarga Mu, bagaimana bisa mereka membutuhkan waktu delapan tahun untuk mencari seorang buronan kecil sepertimu? Cih, sungguh disayangkan sekali."


'Apa? Delapan tahun?' kejut Yang Jian dalam hati. Tubuhnya sampai menegang dan menggelengkan kepala perlahan untuk memastikan bahwa dia sedang tidak bermimpi. Dan tidak mungkin juga jika dirinya salah dengar, jelas bahwa pemuda itu mengatakan delapan tahun. Mengingat kempuan mendengar Yang Jian tidak perlu diragukan lagi bahkan untuk jarak yang jauh.


Awalnya Yang Jian berspekulasi jika dirinya hanya membutuhkan waktu tiga sampai lima tahun di Hutan Terlarang, namun tidak disangka bahwa semua diluar perkiraan Yang Jian. Jika memang benar Yang Jian telah menghabiskan waktu selama itu, itu artinya banyak hal yang sudah dia lewatkan.


Bagaimana perkembangan dunia cultivator saat ini? Sekte Batu Giok, Guru Chang An dan teman seperguruannya. Bagimana kabar mereka sekarang? Memikirkan hal tersebut membuat Yang Jian sedikit merasa buruk.


Yang Jian menghela nafas kasar, dia merasa bahwa dirinya terlalu membuang waktu yang banyak secara sia-sia. Namun jika dipikirkan kembali, tidak ada yang sia-sia. Semua yang dirinya lakukan adalah untuk kelangsungan hidupnya, dan lewat semua itu dirinya bisa mengingat jati diri seorang Yang Jian.


"Mengapa kau diam? Oh aku tahu, apa kau sedang memikirkan akhir hidupmu yang tinggal hitungan hari?" Ucap pemuda itu tersenyum sinis, dan menyadarkan lamunan Yang Jian.


Sesungguhnya pemuda tersebut masih ragu tentang kebenaran pria di meja sudut ruangan adalah buronan keluarga Mu. Dia sengaja memancarkan sedikit energinya untuk memeriksa praktik Yang Jian, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Yang Jian seorang cultivator. Hanya tampilannya saja yang terkesan misterius.

__ADS_1


Pemuda itu dengan sengaja memancing Yang Jian untuk mengungkap sendiri jati dirinya untuk menguatkan dugaannya.


"Aku merasa jika perkataan itu lebih pantas ditujukan kepadamu." Balas Yang Jian setelah kembali menenangkan pikirannya.


"Aku masih memiliki kepentingan lain, kuharap kau mau bekerjasama untuk tidak menghalangi jalanku." Yang Jian bangkit dari tempat duduknya, dengan langkah pasti, dirinya melewati pemuda itu menghampiri pelayan untuk membayar tagihan makannya.


Tidak ada yang menghalangi Yang Jian, bukan karena perkataannya. Namun aura yang di lepaskan Yang Jian selama beberapa detik membuat punggung mereka bergetar dan menegang. Perasaan khawatir menyelimuti hati mereka. Seolah tidak peduli, Yang Jian melangkahkan kakinya menuju kamar yang telah dia pesan sebelumnya.


Di ruangan sudah ada Yang Jian, Jiji dan Yiyi yang sedang duduk melingkar di meja yang disediakan khusus bagi tamu. Tampak mereka sedang bergelut dengan pikiran masing-masing.


Menghela nafas panjang, Yang Jian membuka topeng besinya. 'Apa topeng ini sungguh jimat pelindung? Bukannya melindungi, aku merasa jika topeng ini menghalangi kemampuan berpikirku.' Gumam Yang Jian dalam hati.


Terbukti, sudah lebih setengah jam duduk sambil berperang dengan ide dan pemikirannya sendiri, namun Yang Jian belum mendapatkan titik terangnya. Atau lebih tepatnya, bisa dibilang Yang Jian bahkan tidak mengetahui apa yang sedang dirinya pikirkan.


"Sejujurnya ya, aku tidak terbiasa dan sedikit... Ehm kurang nyaman. Aku tidak ingin menggunakannya lagi." Setelahnya, Yang Jian menyimpan topeng tersebut di ruang dimensinya. Sebagai ucapan terimakasih karena Yiyi pribadilah yang menghadiahi topeng tersebut.


Yiyi tidak protes, lebih tepatnya dirinya sedang tidak bersemangat meminta Yang Jian untuk tetap menggunakannya. Dia lebih memikirkan apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Lalu, apa langkah selanjutnya yang akan Kakak Yang ambil?" Pertanyaan Jiji memecahkan keheningan. Pria dengan kisaran usia lima belas tahun. Berkulit putih namun tidak seputih Yang Jian, memiliki manik mata hitam, sehitam malam gelap dan aura yang sangat dingin.

__ADS_1


"Apa kakak berniat mengunjungi Klan Yang? Dan membalaskan dendam Yang Mulia Ratu Yang Shui?" Timpal Yiyi menatap Yang Jian yang masih terdiam di kursinya.


Pertanyaan Yiyi membuat raut wajah Yang Jian sedikit berubah, jelas di wajahnya kini terpancar rasa amarah, kekecewaan, kesedihan dan ketidakberdayaan yang mendalam. Sinar matanya menunjukkan betapa dirinya ingin secepat mungkin menemui sang Kaisar Quon dan menuntut keadilan atas hidupnya dan ibundanya.


Jiji dan Yiyi memang sudah mengetahui mengenai masa lalu Yang Jian, Yang Jian merasa jika mereka harus mengerahui hal tersebut cepat atau lambat. Biar bagaimanapun langkah Yang Jian kedepannya akan mengikutsertakan mereka.


Namun tidak, bukan itu yang terpenting sekarang. Dragon adalah rencana pertama Yang Jian kedepannya. Yang Jian tidak ingin ada sesuatu yang buruk menimpa dragon jika Yang Jian terlambat sedikit saja.


"Untuk masalah itu, aku akan memikirkannya lebih lanjut. Aku takut jika mengabaikan kondisi dragon lebih lama lagi membuat kondisinya memburuk."


"Tetapi, apa yang harus kita lakukan untuk menolongnya kak? Kita bahkan tidak mengetahui apa yang sedang menimpa dragon." Jawab Yiyi dengan lesu. Mereka jelas tahu, bahwa kondisi dragon tidak sesederhana yang terlihat. Mereka juga tidak memiliki kenalan yang bisa dimintai tolong untuk memeriksa kondisi dragon.


"Aku pernah mendengar jika Kota Batu memiliki sebuah perpustakaan yang cukup terkenal." Yang Jian menjelaskan bahwa perpustakaan tersebut menyediakan berbagai buku obat, racun, kitab tingkat rendah hingga tingkat tinggi, dab buku yang memuat banyak informasi penting bagi dunia cultivator. Yang Jian merasa tidak ada salahnya jika mereka mencoba mencari informasi di perpustakaan tersebut.


"Besok pagi-pagi sekali, kita akan mengunjungi perpustakaan itu." Putus Yang Jian, dan di angguki oleh mereka berdua.


"Apa kakak benar-benar berpikir jika Yang Mulia Ratu Yang Shui benar-benar tewas saat kebakaran malam itu?" Tanya Jiji kemudian mengeluarkan isi pikirannya.


Yang Jian terdiam, diingatannya dia sama sekali tidak melihat bahwa ibundanya meninggal. 'Apa itu artinya jika ibunda masih hidup? Lalu, dimana ibunda sekarang?'

__ADS_1


"Kemungkinan, ada yang menyelamatkan Ibunda malam itu."


Perkataan Yang Jian membuat Jiji dan Yiyi semakin yakin bahwa masih ada kemungkinan jika Ibunda Yang Shui berada di suatu tempat yang mereka tidak ketahui.


__ADS_2