Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 101: Kota Batu


__ADS_3

Total tenda tersebut ada sepuluh buah dengan masing-masing ukuran mampu menampung ratusan orang. Tidak pantas disebut tenda mengingat ukurannya, namun mereka mendirikannya persis seperti tenda. Yang Jian mulai menggeledah isi tenda tersebut satu persatu hingga tenda kelima, namun Yang Jian tidak menemukan hal yang berarti.


Tak ingin membuang waktu, Yang Jian mengangkat tangan kanannya keudara, seketika saja qi yang cukup besar perlahan muncul dari telapak tangan Yang Jian, berwarna oren kemerah-merahan. Saat qi yang terkumpul sudah cukup, Yang Jian mengarahkan tangannya tepat kearah tenda-tenda tersebut.


Api merah menyala melesat cepat menghampiri kesepuluh tenda tersebut, melahap tenda sedikit demi sedikit. Kemudian dari tangan kiri Yang Jian muncul angin yang cukup besar mengarah kepada api yang mulai membesar. Angin mendukung api,sedetik kemudian, api bertambah besar hingga berkobar. Menghanguskan tenda-tenda dalam jangka waktu beberapa menit.


"Tenda panggang yang malang." Gumam Yang Jian dengan nada dramatis. Puas dengan acara panggang memanggangnya Yang Jian membalikkan badan meninggalkan lokasi. Dalam hati Yang Jian menyeringai puas membayangkan bagaimana reaksi para cultivator aliran hitam tersebut melihat tenda mereka yang telah hangus.


Melesat cepat membelah udara dan menghampiri lokasi pertarungan. Yang Jian seakan lupa tujuan awalnya menuju timur Kota Batu. Tidak bisa Yang Jian bayangkan berapa banyak nyawa manusia tak berdosa yang akan melayang hari ini.


Walaupun tidak dapat membantu banyak, setidaknya Yang Jian mampu mengurangi angka kematian bukan?


~~


"Dimana kita berada? Ini tampak bukan seperti rumah?" Yang Shui mengamati ruangan itu kembali setelah dirinya tak lagi merasakan keberadaan Yang Jian. Ingin rasanya Yang Shui berlari menemui Yang Jian, namun mengingat kondisinya yang bahkan tak mampu berjalan mengurungkan niat Yang Shui dan memutuskan untuk memulihkan diri terlebih dahulu.


"Ini ruangan bawah tanah, Nyonya Yang." Sahut Hongli. Hongli mulai menjelaskan bahwa tempat mereka berada sekarang tidak terlalu jauh dari darat. Sekitar lima belas meter. Hongli menambahkan jika ruangan ini mereka bangun tepat di bawah bangunan tua dan memiliki akses rahasia jika ingin memasuki ruang bawah tanah tersebut. Dan mereka menggunakan ruangan ini sebagai tempat persembunyian mereka selama bertahun-tahun lamanya, serta tempat dimana Yang Shui tertidur.


Yang Shui manggut-manggut mendengar penjelasan Hongli. Dirinya tidak bertanya lebih lanjut mengenai mengapa sepasang suami istri tersebut bersembunyi. "Setelah Nyonya pulih, kami akan membantu sebisa mungkin untuk menemukan putramu." Ucap Zhisu pada akhirnya.


Sama seperti Yang Shui, baik Zhisu maupun Hongli tidak menanyakan mengenai latar belakang Yang Shui, mengapa dirinya tertidur cukup lama seperti orang mati. Mereka merasa jika setiap orang memiliki rahasia sendiri yang harus di simpan rapat.


~~

__ADS_1


Kembali ke Kota Batu. Yang Jian yang telah tiba di sisi pertarungan disambut oleh beberapa cultivator Sekte Naga Awan yang tengah terdesak, bahkan beberapa diantara mereka terluka parah dengan banyak bercak darah menodai pakaian mereka.


'Swushhh!'


Tiba-tiba saja angin kencang bergerak cepat menghantam beberapa cultivator aliran hitam yang berusaha membunuh cultivator Sekte Naga Awan.


'Bruk...bruk.'


Bunyi hantaman tubuh para cultivator aliran hitam dengan tanah diiringi dengan semburan darah segar. Semua terjadi secara tiba-tiba, hanya dalam hitungan detik.


Kini Yang Jian berdiri dengan gagahnya membelakangi empat cultivator Sekte Naga Awan yang tengah terdesak. Seolah menjadikan dirinya perisai. Keempat cultivator yang sebelumnya memejamkan mata dan pasrah menerima serangan kemudian membuka mata mereka saat dirasa tidak ada serangan yang menghampiri.


Siluet pemuda berjubah hitam dengan surai perak yang melambai di terpa angin menjadi pemandangan pertama yang menyambut pengelihatan mereka.


"Bisakah kalian mundur sebentar, Tuan dan Nona?" Tanya Yang Jian tegas.


"Hei pria cantik, kau sungguh bernyali mengganggu mangsaku." Salah seorang diantara cultivator aliran hitam tertawa remeh ke arah Yang Jian. Mentap intens Yang Jian dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau bukan seorang cultivator?" Pria yang sama kembali bertanya, mengernyit bingung ketika menyadari tidak ada pancaran qi dari dalam tubuh Yang Jian.


"Kau-" Yang Jian sengaja menggantung kata-katanya. Menatap santai beberapa pemuda yang berdiri angkuh dengan tatapan meremehkan di hadapan Yang Jian. Dua belas pemuda dengan praktik cultivator awal master.


"Ya kami-" Pria yang sama menjawab perkataan Yang Jian masih dengan senyum sinisnya. Namun, perkataan Yang Jian selanjutnya membuat kedua belas cultivator tersebut meresa geram sekaligus emosi.


"Terlalu banyak bicara!" Ucap Yang Jian santai membungkam mereka. "Si*lan! Aku akan membunuhmu." Ucap pemuda yang sebelumnya menghina Yang Jian. Raut mukanya menggelap, berlari cepat ke arah Yang Jian sambil mengacungkan mata pedangnya tepat ke wajah Yang Jian.

__ADS_1


"Wah, pemuda itu benar-benar bosan hidup!"


"Dia tidak tahu bahwa pedang Senior Leng telah mencabut ratusan nyawa."


Saat jarak ujung pedang tersebut tinggal satu inchi dengan wajah Yang Jian. Masih dengan posisi berdirinya, dengan santai Yang Jian menanghalau serangan Senior Leng, mengapit pedang tersebut dengan dua jarinya. Sontak saja perlakuan Yang Jian mengangetkan para cultivator yang berada di lokasi tersebut.


"Bukankah dia hanya manusia biasa?"


"Ya, mengapa pemuda itu dapat dengan mudahnya menangkap pedang Senior Leng?"


Senior Leng sendiri membatu, tidak bergerak barang sedikitpun. Menatap pedangnya yang masih menempel dengan kedua jari Yang Jian. Kemudian Senior Leng mengalihkan tatapannya ke wajah Yang Jian. Manik hitam Senior Leng bertubrukan dengan manik biru Yang Jian.


Manik biru yang selalu menyorot datar, namun sialnya terlihat dalam dan mematikan bagi Senior Leng. Susah payah dirinya berusaha mengalihkan pandangannya dari manik biru mematikan milik Yang Jian. Namun mata Yang Jian bagai magnet yang menarik Senior Leng jatuh kedalam dasar lautan.


Susah payah Senior Leng menelan salivanya, keringat dingin mulai tampak di pelipis dengan tubuh yang membeku. Raut wajah Seior Leng tampak dikuasai ketakutan dan kecemasan.


"Mati!" Gumam Yang Jian pelan, sehingga suaranya tampak seperti berbisik.


Seiring dengan ucapan Yang Jian, tiba-tiba saja tubuh Senior Leng perlahan luruh ketanah. Sedikit demi sedikit darah segar keluar dari kedua sisi mulut Senior Leng.


Tidak berhenti disitu, secepat kilat Yang Jian meraih sebilah pisau pendek berwarna putih dari balik jubah hitamnya.


'Jlebbb!'

__ADS_1


Kini pisau pendek tersebut menancap indah tepat di dada Senior Leng diikuti dengan ambruknya tubuhnya ketanah. Pertanda bahwa perjalan kehidupan Senior Leng baru saja selesai. Tak ada sedikitpun rasa takut dari raut wajah Yang Jian.


Kini pandangan Yang Jian beralih menuju sebelas cultivator aliran hitam lainnya yang masih membeku menatap saudara seperguruan mereka yang telah meregang nyawa. Yang Jian Menyapu pandangan seolah tengah mengabsen peserta penghuni alam baka selanjutnya.


__ADS_2