Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 122: Perburuan V


__ADS_3

Suasana pos misi berubah mencekam. Aura kemarahan dari kelompok Lin Fei ditekan oleh aura dingin dari Yang Jian. Dengan langkah tegas pemuda itu menghampiri Lin Fei dan rekannya. Setiap langkah kaki yang pemuda itu ambil membuat jantung Lin Fei berdetak dua kali lebih cepat.


Lin Fei mulai bergetar kala posisi Yang Jian kini tersisa satu langkah dari hadapannya, mengangkat tangan keudara, Lin Fei hendak melayangkan satu pukulan kasar terhadap Yang Jian. Namun dengan mudah Yang Jian menangkap tangan Lin Fei seolah serangan itu tak ada artinya bagi Yang Jian.


Berusaha mentralkan detak jantungnya, Lin Fei berusaha menarik kembali tangannya, namun tetap sia-sia seolah pergelangan tangannya menempel sempurna di telapak tangan besar Yang Jian, Lin Fei mengeram marah dengan suara bergetar. "Le- lepakan tanganku."


Yang Jian terdiam menatap Lin Fei dengan tenang, detik selanjutnya Yang Jian menarik sebelah sudut bibirnya membentuk seringaian. "Tentu, Tuan Lin Fei. Seperti yang Anda harapkan."


Jawaban Yang Jian membuat mata tetua kota yang semula teetutup sontak saja terbuka lebar. Begitu terkejut melihat bagaimana pemuda itu menyetujui ucapan Lin Fei dan melepaskannya dengan mudah. Kelompok Ling juga mendapat reaksi yang tak jauh berbeda dengan tetua kota.


Sedangkan Lin Fei, dia seolah mendapat angin segar dan tubuhnya berhenti bergetar karena mengira Yang Jian tak semenakutkan yang terlihat. Namun hal itu hanya berlangsung sementara sebelum terdengar suara patahan tulang yang memecah keheningan.


"Krakkk!"


Dengan santai Yang Jian menarik tangan kanan Lin Fei hingga terpisah dari tubuhnya. Suara tersebut diiringi dengan teriakan menyakitkan Lin Fei. Membelalakakn mata, Lin Fei menatap tangan kanannya di genggaman Yang Jian. Darah segar mengucur deras dari dua bagian tubuh Lin Fei yang baru saja di lepaskan Yang Jian.


Tak berhenti disitu, Yang Jian melemparkan tangan kanan Lin Fei kesembarang tempat kemudian meraih tangan kirinya. Dengan satu hentakan lengan kiri Lin Fei kembali terlepas dari tubuhnya dan diikuti dengan teriakan nyaring Lin Fei. Kini kedua tangan Lin Fei terlepas dari tubuhnya.


Semua orang ditempat itu mundur selangkah secara bersamaan diikuti dengan mata melotot. Tanpa sadar tubuh mereka mulai bergetar menatap pemandangan yang ditunjukkan Yang Jian. Tetua kota bahkan sampai menutup mata dan menahan napas sejenak berusaha untuk bersikap tenang, walaupun kini lututnya mulai melemas.


Walaupun orang-orang ditempat itu adalah cultivator. Namun bukan berarti mereka semua dapat melakukan apa yang dilakukan Yang Jain dengan mudah.

__ADS_1


"Selesai!" Ucap Yang Jian membuat semua orang tersadar dari rasa keterkejutan.


"Apa ada hal lain yang ingin kulepas? Maka aku akan dengan senang hati melakukannya untukmu." Lanjut Yang Jian tenang menatap Lin Fei yang telah bersimbah darah dari kedua bahunya.


Tubuh Lin Fei bergetar hebat mendengar ucapan Yang Jian. Pikirannya kosong seolah tersedot masuk jauh kedalam perangkap ilusi Yang Jian. Ketakutan yang luar biasa terlihat jelas dari raut wajah Lin Fei, bahkan untuk sekedar berteriak dirinya tidak mampu. Menyesalpun sudah tiada guna. Yang Jian kini bagai malaikat pencabut nyawa yang akan mengeksekusi Lin Fei.


Keterdiaman Lin Fei membuat Yang Jian berdecak malas. Dengan santai Yang Jian mengangkat tangan kanannya dan meraih leher Lin Fei. Sedetik kemudian Yang Jian kembali menekan leher Lin Fei hingga bunyi patah tulang kembali terdengar.


"Krakkk."


Yang Jian mematahkan tulang leher Lin Fei untuk mengakhiri hidupnya membuat semua orang yang melihat itu menahan napas. Rekan se tim Lin Fei merasakan ketakutan yang begitu luar biasa setelah menyadari jika mereka telah mencari lawan yang salah.


Tubuh Lin Fei merosot ketanah kala hidupnya telah berakhir. Yang Jian hanya menatap datar mayat Lin Fei. Kemudian Yang Jian mengalihkan tatapannya kedepan, disana berdiri beberapa cultivator muda lainnya. Tatapan Yang Jian membuat rekan Lin Fei beringsut mundur dengan tubuh bergetar.


Yang Jian mulai melangkah pelan mengikis jarak terhadap target. Dengan santai Yang Jian mematahkan satu persatu tangan para cultivator muda tersebut hingga akhirnya mematahkan tulang leher mereka. Teriakan kesakitan menjadi penggiring aksi pembunuhan Yang Jian.


Ling beserta rekan se timnya menutup mata hingga Yang Jian selesai melakukan aksinya. Tak ada satupun diantara para cultivator tersebut berusaha menghentikan Yang Jian.Bahkan tetua kota hanya bisa mengalihkan pandangannya.


Kini tatapan tetua kota, para senior Sekte Awan Putih, beserta kelompok lainnya yang berada di pos misi mengarah kepada Ling dan timnya. Dipikiran mereka hanya satu, yaitu bagaimana mereka dapat mengenal sosok monster yang dapat membunuh seseorang dengan keji.


"Kuharap kau menepati janjimu, Tetua Sepuh." Ucap Yang Jian menatap tetua kota. Hingga ucapan Yang Jian membuat tetua kota mengalihkan tatapannya mengarah Yang Jian. Tetua kota mengangguk cepat menyetujui ucapan Yang Jian.

__ADS_1


Setelah melihat bagaimana Yang Jian membunuh cultivator lain dengan keji, tetua kota masih cukup waras untuk tidak menyingung monster tersebut. Apalagi kini Yang Jian memiliki posisi yang kuat dalam pembangunan Kota Batu, tentu tanpa diminta sekalipun tetua kota akan memperlakukan Ling dan rekannya dengan sangat baik.


Yang Jian hanya mengangguk ringan kemudian berlalu dari tempat itu. Kepergian Yang Jian membuat suasana berubah baik. Seolah para cultivator itu kembali mendapatkan udara segar.


Melihat kepergian Yang Jian, Ling buru-buru mengajak rekannya untuk mengejar Yang Jian.


"Senior."


Yang Jian menghentikan langkahnya mendengar panggilan Ling hingga Ling dan rekannya tiba di depan Yang Jian.


"Kami tidak memiliki apapun untuk diberi, tetapi kami harus mengatakan ini. Terimakasih atas bantuan Anda, Senior. Kami tidak pernah menyangka akan mendapatkan hadiah ini sebelumnya. Sungguh, ini adalah hadiah paling berharga sepanjang hidup kami."


"Benar Senior, keluarga kami pasti akan sangat bahagia apabila mendengar berita ini."


Satu persatu Ling dan rekannya mengucapkan terimakasih dengan hormat kepada Yang Jian. Rasa bahagia sekaligus haru tampak begitu jelas dari raut wajah mereka. Bahkan mereka sampai meneteskan air mata bahagia, yang membuat Yang Jian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kini Yang Jian mengerti betapa pentingnya status Murid Dalam bagi Ling dan rekannya.


Yang Jian hanya mengangguk ringan menanggapi rasa terimakasih yang diberikan kepadanya.


"Saudara Yang Jian."


Satu panggilan lembut mengalihkan fokus mereka. Seorang gadis muda dengan gaun biru muda berjalan pelan menghampiri Yang Jian. Gadis itu berjalan dibawah sinar rembulan yang membuatnya bagaikan dewi yang begitu murni.

__ADS_1


Ling dan kelompoknya tampak melongo melihat kedatangan gadis itu hingga sebuah suara terdengar membuyarkan keterkejutan mereka.


__ADS_2