Legenda Cultivator Pedang Suci

Legenda Cultivator Pedang Suci
Ch 42: TCM XVII


__ADS_3

Yang Jian mengerutkan keningnya melihat siluet seorang pria sedang berdiri di kamar Tetua Han Li. Pria tersebut mengenakan pakaian khusus panglima kerajaan lengkap dengan sebuah pedang tersarung rapi yang menggantung di pinggang pria tersebut.


Selain Tetua Han Li, di sana juga ada Feng Yu dan Xinxin sedang duduk di kursi sebelah tempat tidur Han Li. Mereka berdua tampak menatap pria tersebut dengan sorot mata penuh tanya, tak terkecuali untuk Han Li sendiri.


"Yang Jian, salam tetua Chang." Ucap Han Li, Feng Yu dan Xinxin bersamaan saat pasangan murid dan guru tersebut telah sampai di ambang pintu. Pria yang awalnya membelakangi Chang An dan Yang Jian kemudian membalikkan badannya saat mengetahui orang yang di tunggu telah tiba.


Pria tersebut sedikit membungkuk sebagai bentuk sapaan yang formal. Namun tidak ada senyum ataupun sapaan ramah darinya. Mungkin kerasnya hidup di istana dan di medan perang membuat pria tersebut lupa akan seni kehidupan.


Kemudian pria itupun menyerahkan sebuah gulungan kulit kepada Yang Jian. "Titah Yang Mulia kaisar Qin."


"Apa Yang Jian mencari masalah dengan Yang mulia kaisar?" Bisik Xinxin kepada Feng Yu. Feng Yu hanya mengedikkan bahu pertanda dia juga tidak tahu perihal kedatangan salah satu abdi kaisar tersebut mencari Yang Jian.


"Kita akan tahu setelah melihat apa isi gulungan tersebut." Ucap Feng Yu sambil menyipitkan matanya ke arah gulungan yang masih berada di tangan sang panglima.


"Maaf tuan, saya tidak pernah merasa bahwa murid saya mempunyai keperluan terhadap Yang mulia kaisar." Chang An yang melihat keraguan di mata Yang Jian akhirnya angkat bicara. Walaupun dia tidak tahu apa isi gulungan tersebut, tetapi entah kenapa firasatnya tidak baik dan itu membuat Chang An sedikit waspada.


Panglima tersebut mengabaikan ucapan Chang An, dia masih menatap intens Yang Jian yang tidak menerima gulungan tersebut. Akhirnya panglima tersebut meraih salah satu tangan Yang Jian dan meletakkannya di genggaman Yang Jian. "Ini titah Kaisar!" Ucap panglima tersebut tegas.


Dengan ragu Yang Jian mencoba membuka gulungan tersebut dengan perlahan. Tetua Han Li, Tetua Chang An, Feng Yu dan Xinxin menahan nafas ketika Yang Jian mulai membaca isi gulungan tersebut kata perkata. Ekspresi mereka tampak berubah saat mengetahui apa isi titah sang kaisar untuk Yang Jian.


Yang Jian kemudian menutup gulungan tersebut dan menyapu pandangan nya kepada orang-orang yang berada di ruangan tersebut. "Apa ini baik atau apakah justru sebaliknya?" Han Li mencoba menerka-nerka apa alasan kaisar Qin meminta Yang Jian untuk menemuinya segera.

__ADS_1


"Jian'er apapun yang terjadi guru pasti akan membelamu." Chang An menggenggam tangan Yang Jian dengan sorot mata menyala. Mungkin dia benar-benar berfikir bahwa ini pertanda buruk.


"Aku juga, aku akan mendukungmu." Kali ini Feng Yu yang berbicara, Xinxin yang mendengar itu menatap Feng Yu dan tersenyum penuh makna. Chang An dan Han Li juga melakukan hal yang sama dengan Xinxin. Feng Yu yang menyadari hal itu menunduk malu sambil menautkan kedua tangannya.


Sementara Yang Jian? Yah, seperti biasa, dia tidak akan menunjukkan ekspresi apapun. "Tenang saja, ini bukan masalah yang perlu di khawatirkan. Aku akan menemui kaisar Qin sekarang."


"Seorang diri?" Tanya Chang An


Yang Jian mengangguk pelan dan memberi kode kepada sang panglima untuk menuntunnya menemui kaisar Qin.


~~


Di taman tersebut terdapat beberapa kursi dan meja bundar. Sepertinya sudah menjadi ciri khas Sekte Naga Awan memiliki taman tempat untuk menenangkan pikiran atau memanjakan diri.


"Hormat Yang Mulia." Ucap sang panglima yang membawa Yang Jian setibanya di taman tersebut. Kaisar Qin, Permaisuri Tang dan Putri Qin Lienhua tampak sedang menikmati secangkir teh hangat yang tersaji di atas meja yang tersusun dengan rapi.


"Hamba telah membawa Yang Jian kehadapan Yang Mulia. Apa ada hal lain yang perlu saya kerjakan?" Ucap panglima tersebut masih dengan sikap hormat nya.


Kaisar Qin mengibaskan kan tangannya sebagai tanda untuk mempersilahkan panglima tersebut meninggalkan mereka.


"Salam hormat Yang Mulia, hamba Yang Jian dari Sekte Batu Giok." Suara yang manis dan lembut namun tegas keluar dari bibir mungil Yang Jian. Membuat siapa saja yang mendengarnya merasa sejuk dan tenang bagai di padang rumput yang hijau nan segar.

__ADS_1


Kaisar Qin mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan mengarah ke arah Yang Jian sebagai tanda bahwa dia menerima hormat Yang Jian. Kaisar Qin tampak mengamati Yang Jian intens yang masih terlihat tenang dan tidak terganggu sedikit pun dengan aura tirani milik Kaisar Qin.


Sorot mata elang Kaisar Qin seolah mampu menembus tubuh Yang Jian, namun yang di tatap tidak bergeming sedikit pun dan masih berdiri tegak.


"Ehemmm!"


Deheman Permaisuri Tang menghentikan aksi Kaisar Qin yang sedang mengintimidasi Yang Jian.


"Silahkan duduk nak, namamu Yang Jian kan? Tidak perlu sungkan, kemarilah!" Permaisuri Tang merasa tenang ketika menatap manik biru Yang Jian. Ada perasaan yang tidak terlukiskan dari pancaran matanya dan Permaisuri Tang tidak menemukan adanya tanda-tanda bahaya yang keluar dalam diri Yang Jian.


"Terimakasih Permaisuri." Tanpa sungkan Yang Jian langsung berjalan menuju kursi yang sebelumnya telah di tunjuk permaisuri. Kalau sudah di izinkan mengapa tidak? Pikir Yang Jian.


"Yang Jian!" Panggil Qin Lienhua sebelum Yang Jian mencapai kursi tersebut. Yang Jian yang merasa di panggil pun segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Qin Lienhua kemudian berjalan menghampiri Yang Jian.


"Qin Lienhua." Ucapnya lagi sambil menyodorkan tangan kanan nya sebagai tanda perkenalan.


"Salam kenal Putri Mahkota, nama hamba Yang Jian." Dengan sopan Yang Jian membalas uluran tangan Qin Lienhua. Walaupun selama ini tinggal tertutup di Lembah Neraka, namun Xiao Ming tidak pernah lupa untuk mengajarkan tentang etika berkomunikasi dan tata krama kepada Yang Jian. Jadi tidak heran apabila Yang Jian memiliki sikap yang sopan dan beretika.


"Terimakasih karena telah menyelamatkan ku malam itu. Aku tidak dapat membayangkan apabila tidak ada kau. Mungkin aku tidak dapat berdiri seperti sekarang ini. Ini ada sedikit hadiah dariku untukmu, semoga kau menyukainya." Qin Lienhua menyerahkan kotak emas yang dia pangku sejak di kereta pagi tadi.


"Mohon maaf tuan putri. Tapi, mungkin tuan putri salah orang karena saya tidak pernah merasa mengobati siapapun."

__ADS_1


__ADS_2