
Aura di kamar tersebut berubah gelap, tidak tahu apa penyebabnya. Namun seketika tubuh sang pria terlempar beberapa langkah kesamping karena sebuah energi yang kuat menghantam tubuhnya. Pria itu kemudian mencoba bangkit untuk mencari penyebabnya.
"Siapa kau?"
Yang Jian menatap pria yang sedang mengajaknya bicara, kemudian tatapannya beralih kepada seorang wanita muda yang meringkuk ketakutan di ujung tembok kamar sambil membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Tampak rambutnya acak-acakan dan baju depannya sudah robek hingga menampilkan dada dan lengan mulusnya.
Kemudian Yang Jian membuka jubah luarnya dan menutupi tubuh wanita tersebut. "Jangan takut kakak." Hanya kata itu yang keluar dari bibir tipis Yang Jian namun tubuh menggigil wanita tersebut berhenti, dia mendongakkan kepalanya menangkap wajah Yang Jian yang sedang menutupi tubuhnya.
"To tolong aku." Air matanya terus mengalir meski tak terdengar lagi suara isak tangis, wajah pucatnya menandakan bahwa betapa takutnya dirinya saat ini.
"Semua akan baik-baik saja." Yang Jian membantu wanita tersebut untuk bangkit dari duduknya dan menuntunnya untuk keluar ruangan, namun baru beberapa langkah tangan wanita tersebut dicekal oleh pria yang sama yang hampir monodainya.
"Kau mau pergi kemana sayang, urusan kita belum selesai." Ucap pria tersebut dengan seringai kejamnya. Tatapan penuh nafsu dia layangkan untuk wanita itu, Yang Jian tahu bahwa pria tersebut berada di bawah pengaruh minuman keras.
Yang Jian mengangkat tangannya keudara kemudian mengibaskan pelan kearah pria tersebut, seketika angin kencang menghantam tubuh pria itu dan terlempar dua meter mengenai tempat tidur.
"Apa kakak keberatan?" Tanya Yang Jian kepada wanita muda di sampingnya yang kini masih dipenuhi ketakutan. Awalnya wanita tersebut tidak mengerti arah dan tujuan pembicaraannya Yang Jian, namun saat melihat arah pandangannya dia baru mengerti bahwa Yang Jian sedang meminta persetujuannya.
"Tidak, dia pantas mendapatkannya." Ucap wanita itu mantap.
Kemudian Yang Jian mengangguk pelan. "Keluar!" Tanpa menunggu perintah Yang Jian dua kali, wanita tersebut segera keluar kamar dan kembali menutup pintu. Tak lama setelah itu, Yang Jian mengaktifkan Dunia Surgawi, dalam hitungan detik pria di hadapannya menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Dan ya, pria itu menjadi manusia pertama tumbal segel Dunia Surgawi. Raut wajah Yang Jian masih sama datarnya seperti sebelumnya, seolah dia sama sekali tidak sedang melakukan pembunuhan. Sesuai janjinya, dia akan menghapus kejahatan.
Setelah melakukan tugasnya, Yang Jian keluar kamar dan mendapati wanita yang dia tolong menunggunya di luar. Yang Jian meminta wanita tersebut untuk beristirahat di kamarnya sebelum kembali kerumahnya.
__ADS_1
Wanita tersebut mengangguk tanpa menolak, dia masih belum pulih dari rasa syok dan ketakutannya. Bahkan pandangannya kosong tak terbaca.
~~
Keesokan harinya, Yang Jian dan Meimei telah turun ke lantai dua dan memesan satu ruangan pribadi untuk mereka sarapan pagi. Sebelumnya wanita yang di tolong Yang Jian malam tadi telah memperkenalkan dirinya sebagai Meimei.
"Ehm Yang Jian, apa kau kesini tidak..." Saat menyadari tatapan dingin Yang jian, Meimei menghentikan ucapannya. Meimei sebenarnya ingin tahu mengapa Yang Jian berada sendiri di Kota Batu dan apa tujuannya. Namun itu urung dia lakukan karena takut dianggap terlalu ikut campur masalah pribadi orang lain.
"Ada hal yang mengganggu pikiran kakak?"
"Ah tidak, aku hanya ingin berterimakasih kepadamu. Aku berencana menjamumu ke kediamanku, apakah kau bersedia?"
"Terimakasih, tetapi aku masih memiliki urusan lain."
Meimei berusaha agar Yang Jian mau datang ke kediamannya, dia beralasan masih takut agar Yang Jian mau mengikutinya. Yang Jian tidak menjawab Meimei, dia masih menunggu hal apa yang diinginkan Meimei darinya. Apakah ada niat terselubung dibalik rasa takutnya atau tidak.
"Bisakah aku meminta pertolonganmu untuk mengantarku kerumah orangtuaku?"
"Baiklah."
Jawaban Yang Jian membuat Meimei tersenyum puas, dia berterimakasih kepada Yang Jian karena telah bersedia menerima undangannya.
~~
Sekitar dua jam melakukan perjalanan menggunakan kereta kuda kini Yang Jian telah sampai di depan gerbang sebuah kediaman yang cukup mewah. Terdapat dua pengawal yang menjaga pintu gerbang. Yang Jian melihat bahwa Meimei bukan berasal dari keluarga sembarang. Logikanya, jika Meimei memiliki keluarga berpengaruh di kota tersebut lalu mengapa dia membutuhkan Yang Jian untuk mengantarnya.
__ADS_1
Saat Yang Jian dan Meimei melewati gerbang, kedua pengawal tersebut menundukkan kepala sebelum membuka pintu gerbang.
"Ikut denganku Yang Jian. Kita akan menemui ayahku." Meimei mengajak Yang Jian menuju ruang keluarganya.
Saat Meimei membuka pintu ruang keluarga, ternyata seluruh keluarganya telah menunggu Meimei. Dengan cepat Meimei berlari dan menghamburkan dirinya kepelukan ayah dan ibunya. Suara tangisan terdengar dari kedua belah pihak. Di satu sisi Yang Jian masih berdiri tegak tanpa sepatah katapun. Dia memandang kedua orangtua Meimei, bagaimana mereka begitu mengkhawatirkan Meimei yang menghilang sejak semalam.
"Syukurlah Mei'er kau tidak apa-apa. Kau tidak tahu betapa ayah dan ibu sangat mengkhawatirkanmu. Maafkan ayah dan ibumu nak karena kami gagal melindungimu." Tangis ayah dan ibu Meimei.
"Mei'er." Seorang pria muda menghampiri Meimei dan memeluknya penuh kasih. "Terimakasih telah kembali dengan selamat, maafkan aku. Aku merasa gagal sebagai priamu." Ucap pria tersebut sambil menitikkan air matanya. Yang Jian paham bahwa pria tersebut merupakan calon suami Meimei yang sebelumnya Meimei ceritakan.
Setelah beberapa saat saling menenangkan, kemudian ayah Meimei menyadari bahwa ada orang asing yang ikut bersama putrinya. Dia melihat seorang bocah lekaki yang tampak berusia dua belas tahun. Sangat tampan, namun auranya membuat ayah Meimei sedikit merasa sungkan. Instingnya mengatakan bahwa bocah lelaki di hadapannya bukan orang sembarangan.
"Apa kita kedatangan tamu?" Pertanyaan ayah Meimei sontak membuat Meimei tersadar bahwa dia melupakan sesosok penting yang dia bawa ke kediamannya.
"Ayah, ibu perkenalkan, ini Yang Jian dialah yang telah menyelamatkan ku dari Zong. Yang Jian, ini ayah dan ibuku."
"Terimakasih nak, terimakasih banyak telah menolong putriku. Katakan, apa yang kau inginkan sebagai imbalannya? Jika kami mampu kami akan berusaha untuk mengabulkannya."
Ibu Memei menghampiri Yang Jian sambil menggenggam tangannya. Yang Jian yang diperlakukan demikian hanya menganggukan kepalanya pelan dan memberi salam hormat perkenalan kepada kedua orang tua Meimei.
Namun saat mendengar penuturan ibu Yang Jian membuat perasaan Yang Jian sedikit terusik. Dia paling membenci seseorang yang bersembunyi dibalik kata kebaikan untuk mengincar sesuatu.
"Terimakasih, tetapi aku tidak membutuhkan apapun. Tugasku sudah selesai, kalau begitu aku permisi paman, bibi." Pamit Yang Jian.
"kur*ng aj*r, apa kau tidak punya telinga?" Pria yang berstatus calon suami Meimei yang sedari tadi memeluk Meimei berteriak kearah Yang Jian.
__ADS_1